
Sekembalinya Jihan ke rumah, ia mendapati ayah bunda dan juga Lea sudah menunggunya di ruang tamu.
Jihan cukup kaget, namun ia pura-pura acuh dan berjalan santai melewati ruang tamu. Hingga suara bariton ayahnya menghentikan langkah nya.
"Jihan! berhenti kamu! " tegas Burhan, ia beranjak mendekati putrinya yang membelakangi nya.
Tia menggenggam tangan Lea, ia tidak tahan melihat Jihan dan suaminya bertengkar lagi. Lea mengusap tangan bundanya, agar lebih tenang dan semuanya akan baik baik saja.
"Cepat, ganti baju kamu. Kita akan pergi ke rumah om Brian dan tante Leni" ular Burhan.
"Jihan gak ikut" tolak Jihan datar, ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Jihan!!! Kalo kamu dalam 20 menit gak turun dan bersiap, ayah akan menyeret kamu dari kamar ke dalam mobil! " ancam Burhan.
Jihan tetap melangkah menaiki anak tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya. Perasaan Jihan sedang tidak menentu, ayahnya terus memaksanya untuk datang ke rumah keluarga Nugrah. Tapi Jihan, tidak mau hadir. ia benar-benar tidak mau menikah sekarang.
Tuk!!
Tuk!!
"Gue gak mau pergi!!! " teriak Jihan dari dalam. Ia tahu, siapapun yang mengetuk pintu nya saat ini, pasti untuk membujuknya.
"Lo harus ikut Jihan, jika lo gak ikut, bunda mengancam tidak mau makan hingga lo mau turun dan ikut ke rumah Alviro" sahut Lea dari luar. Lalu terdengar langkah kaki menjauh dari pintu kamar Jihan. Mungkin Lea langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
Jihan duduk di tepi ranjang nya, ia mulai merasa resah. Dirinya benar-benar tidak mau ikut, namun bundanya? tidak mau makan jika dirinya tidak ikut.
"Aduhhh, kenapa sih. Hidup gue begini amat" kesal Jihan.
Sementara di ruang tamu, Burhan, Tia dan Lea menunggu dengan tidak sabar.
"Apa rencana ini akan berhasil? " gumam Tia ragu.
"Bunda tenang aja, Lea yakin. Jihan bakalan ikut kok"
"Tapi Lea, ini udah 20 menit. Tapi adik kamu masih belum turun juga" balas Tia semakin merasa khawatir.
"Kalau begitu, ayah akan menyeretnya" ujar Burhan beranjak dari duduknya hendak ke kamar Jihan. Namun, belum sempat ia melangkah, matanya sudah menangkap sosok wanita cantik yang sedang menuruni anak tangga.
"Lea betul kan" Gumam Lea bangga.
"Putri ayah sangat cantik" Gumam Burhan memuji penampilan Jihan.
"Bunda seneng, akhirnya kamu turun juga" ujar Tia langsung memeluk Jihan.
Penampilan Jihan sore itu, persis seperti penampilan nya waktu kecil. Jihan mengenakan dress putih selutut, dengan rambut panjang nya di gerai lurus. Rambutnya di hiasi oleh bando hitam dengan pita yang lucu, hal itu menambah kecantikan Jihan.
"Gak usah gitu juga liatinnya" ketus Jihan, sebenarnya ia merasa gugup di liatin oleh keluarga nya seperti itu. Jihan mulai bertanya tanya pada dirinya, apa ada yang salah dengan penampilan nya hari ini?.
"Gue merasa adik gue, kembali" Gumam Lea sumringah
"Udah ah, Jihan tunggu di mobil aja" Jihan berjalan lebih dulu keluar dari rumah. Ia sudah tidak tahan dengan tingkah keluarga nya yang terus menatap aneh padanya.
"Dia pasti malu" kekeh Burhan.
Mereka pun berangkat menuju ke rumah keluarga Nugra. Lea suda memberi informasi kepada Arvan, bahwa mereka sudah di perjalanan.
"Ma!!! Pa!!! " teriak Arvan keluar dari kamarnya. Ia merasa sangat senang ketika mendapati pesan dari kekasihnya.
"Aduhhh Arvan, kamu kok teriak teriak sih. Ini rumah sayang, bukan hutan" tegur Leni.
"Aduh ma, ini darurat dan membahagiakan" balas Arvan tersenyum lebar. Kena yang sedang, menyiapkan makanan untuk acara perkumpulan keluarga, langsung mencuci tangannya. Lalu mendekati putra sulungnya.
"Ada apa? " tanya Leni penasaran.
"Lea baru aja ngirim pesan sama Arvan ma, dia bilang mereka dalam perjalanan ke sini. Bareng Jihan"
"Yang bener kamu? " ujar Leni tak percaya, namun ia merasa sangat senang.
"Apa? Jihan bakal menghadiri acara ini? " Alvido yang baru masuk ke dalam rumah langsung berjalan cepat mendekati Arvan, untuk memastikan kebenaran yang ide baru tadi.
"Iya Al, Jihan seperti nya udah menerima perjodohan ini" ujar Arvan ikut senang.
"Mama harus segera mempersiapkan semuanya. Ayo ayo semuanya, kita harus lebih cepat lagi" titah Leni kepada asisten rumah tangga yang sengaja ia panggil sedikit lebih banyak datang ke rumah.
"Lo akhirnya menerima nya ji, gue merasa sangat senang. Apapun yang menjadi alasan lo, gue gak peduli. Yang penting, gue tidak akan membuang buang kesempatan untuk melindungi lo ji, mencintai lo setulus hati gue"
"Woy!! Alviro!! " panggil Arvan.
"Eh apa" kaget Alviro tersadar dari lamunannya.
"Lo kenapa melamun? senyum senyum sendiri lagi " tanya Arvan heran. Alviro menggeleng cepat, ia merubah ekspresi nya menjadi datar kembali.
"Kepo lo! " dengus Alviro, kemudian berlalu pergi dari hadapan Arvan.
"Dasar, adik durhaka! " cibir Arvan.
Alviro masuk ke dalam kamar nya, ia harus membersihkan dirinya. Alviro ingin tampil seperti seorang pangeran di hadapan Jihan. Ia ingin Jihan terkesima melihat penampilan wajah tampannya. "Lihat saja nanti, lo akan mengagumi gue"
Satu jam berlalu, keluarga Rafier akhir nya tiba di kediaman keluarga Nugrah. Bukan jaraknya yang membuat mereka terlambat datang. Namun, karena suasana jalanan yang sangat macet, membuat mereka menghabiskan waktu 1 jam di perjalanan.
Keluarga Nugrah menyambut hangat, kedatangan keluarga sahabat karib mereka.
"Tia!! "
Kedua wanita berkepala 4 itu, saling berpelukan. Mereka terlihat seperti sudah tidak bertemu bertahun tahun.
"Baru juga kemarin jumpa" decak Burhan dan Brian bersamaan.
"Ih, sewot aja" balas mereka.
"Ayo masuk" ajak Leni. Brian membawa Burhan masuk, dan Leni membawa Tia. sementara Arvan, ia langsung, menggandeng tangan Lea masuk ke dalam rumah.
"Huh, suasana menyebalkan kembali menghantui gue" gerutu Jihan. Ia seperti tidak di anggap di sini. Mereka masuk begitu saja, tanpa menghiraukan dirinya yang baru saja ke luar dari dalam mobil.
"Yuk masuk! " ajak Alviro tiba-tiba. Jihan yang tidak tahu ke hadharani Alviro langsung terlonjak kaget dan hampir jatuh kesandung kakinya sendiri.
"Jihan!! " pekik Alviro. Ia langsung bergerak untuk menangkap tubuh Jihan. Beruntung Alviro masih sempat menangkap nya.
"Lo gak papa? " tanya Alviro khawatir. Jihan tidak menjawab nya, ia terdiam menatap lurus ke wajah Alviro.
Untuk beberapa saat, Jihan terpana melihat penampilan Alviro. Wajah nya yang tampan, terlihat mempesona ketika memakai stelan casual seperti saat ini.
Deg dig dug...
Apa ini? kenapa jantung gue berdetak sangat kencang. Tidak, tidak mungkin karena cowo gila ini. Batin Jihan, matanya tak berkedip menatap Alviro. Begitu juga sebaliknya, Alviro pun ikut terpesona dengan penampilan Jihan yang sangat mempesona hari ini. Alviro merasa seperti melihat Jihan yang dulu.
Icha? apa ini benar-benar lo? gue akhir nya melihat lo kembali. batin Alviro.
Mereka masih dalam posisi yang sama. Alviro masih setia memeluk tubuh Jihan yang hampir terjatuh.
"Ekhem... " Dehem Lea.
Jihan dan Alviro langsung saling melepaskan, mereka salah tingkah.
"Bunda sama tante Leni manggil kalian! " kata Lea, ia menutup mulutnya menahan tawa melihat wajah lucu Alviro dan Jihan yang salah tingkah dan juga memerah.
Jihan pergi lebih dulu mengikuti Lea ke dalam, kemudian, di susul oleh Alviro di belakang nya.
Acara perkumpulan keluarga, diadakan di taman belakang kediaman keluarga Nugrah. Taman yang penuh dengan bunga itu, sudah di sulap menjadi lokasi pesta pertunangan keempat putra dan putri mereka. Meskipun acaranya hanya di hadiri oleh mereka saja, namun terlihat seperti pesta elegan ala ala orang kaya.
"Alviro! Jihan!, ayo sini" panggil Leni menarik ke duanya ikut bergabung bersama mereka.
"Nah, semuanya sudah berkumpul di sini kan? " ujar Brian. Ia akan memulai acara pertunangan ini, selagi mereka mau hadir.
"Lea, Arvan, Alviro dan Jihan. Kalian sudah tahu kan, maksud dari acara ini di lakukan" kata Brian membuka acara.
"Sudah Pa"
"Sudah om"
Jawab Lea dan Arvan bergantian, sementara Jihan dan Alviro hanya diam membisu.
Leni dan Tia saling melempar pandangan, mereka sedikit khawatir sekarang.
"Alviro, Jihan! kalian kenapa diam saja? " tegur Burhan.
Alviro dan Jihan saling melempar tatapan, kemudian sama sama saling membuang muka.
"Apa kalian sudah tahu? apa harus di jelaskan kembali? " ucap Brian menatap keduanya.
"Tidak perlu" jawab Alviro dan Jihan bersamaan. Entah apa penyebabnya, mereka menjadi dingin dan saling menatap sinis.
Kemungkinan terbesar, mereka sama sama terbawa suasana penampilan masa lalunya. Alviro perasaannya penuh dengan rasa bersalah, sementara Jihan penuh dengan rasa kebencian.
"Baiklah, kita lanjutkan acara ini. Sesuai yang kalian tahu, kami selalu sebagai orang tua kalian. Ingin menjodohkan kalian dan menikahkan kalian secepatnya. " jelas Brian.
"Kami melakukan ini demi kebaikan kalian! jadi, kami mohon untuk kerja sama nya. Kalian harus percaya, ini keputusan yang terbaik untuk kalian" sambung Burhan.
"Kenapa harus menikah secepat ini? " Jihan mengeluarkan suara. Seluruh perhatian tertuju padanya.
"Hanya dengan begini, kalian bisa saling melindungi" jawab Brian.
"Tidak harus menikah, ayah bunda, dan om tante. Bisa melindungi tanpa harus menikah" bantah Jihan lagi.
"Jihan! " bentak Burhan, ia sudah tidak tahan lagi melihat sikap putrinya yang memprotes tidak sopan.
"Kenapa yah? Jihan hanya butuh kejelasan " balas Jihan.
"Sudah Burhan, biarkan saja" tahan Brian pada Burhan yang hendak membentak putrinya lagi.
"Memang benar nak, kami sudah tua. Kami tidak bisa melindungi kalian. " jelas Leni lembut.
"Sebenarnya siapa sih murah kita, kenapa kita harus hidup dalam ketakutan seperti ini! " Jihan sudah tidak tahan lagi, ia harus mengetahui segalanya.
Tia bergerak mendekati putri nya, ia hendak menenangkan Jihan.
"Kehidupan memang selalu seperti itu nak, tidak semua orang yang menyikapi kita. Tapi, percayalah. Semua yang kami putuskan ini, demi kebaikan kalian semua nak"
Lea hanya bisa menghela nafas pasrah melihat protesan adiknya. Sementara Alviro menhan diri untuk tidak mengatakan semuanya.
"Keluarga kita yang memiliki segalanya, tentu tidak semua orang yang menyukainya. Mereka ingin melakukan sesuatu untuk menjatuhkan kita. Seperti mirna, salah satunya" ucap Arvan menjelaskan. Jihan menjadi terdiam, ia tidak berani menjawab lagi.
...----------------...