
Setelah jam pelajaran selesai, Jihan pergi ke ruangan bu Mirna. Ia hanya sendirian, awalnya Ria dan Fela ingin menemani Jihan yang mengatakan akan ke ruang guru saja. Namun Jihan menolak dan menyuruh kedua sahabat nya pergi ke kantin lebih dulu bersama anak Wolf.
Jihan terus melangkah memasuki ruang guru, mencari Pamplate nama Mirna di setiap sudut atas pintu di ruangan guru.
"Cari siapa Jihan? " tanya pak Burhan.
Jihan menoleh kesamping, ia tersenyum pada pak Johan. "Saya lagi cari ruangan bu Mirna pak"
"Oh, ruangan bu Mirna ada di sebelah ruangan pak Kepala sekolah" tunjuk pak Johan pada lorong yang mengarah ke ruangan kepala sekolah.
"Makasih yah pak" Jihan menunduk sopan, kemudian berlalu menuju ke arah yang di tunjuk pak johan tadi.
Apa bedanya bu Mirna sama guru yang lainya? kok Bu Mirna bisa menempati ruangan yang harusnya hanya wakil kepala sekolah dan sekertaris sekolah saja yang menempatinya.
Jihan menatap lama pintu ruangan Mirna, ada keraguan di hatinya untuk masuk ke dalamnya.
Baru hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu ruang Mirna terbuka.
"Cio? " gumam Jihan. Ia kaget melihat seorang siswa keluar dari dalam ruangan Mirna dengan keadaan yang lebih parah dari yang ia lihat tadi di kelas.
Cio juga sama terkejutnya dengan Jihan, ia cepat cepat menguasai dirinya dan berlalu begitu saja dari hadapan Jihan.
"Jihan? Apa kau di sana? " suara Mirna dari dalam.
"Iya bu, saya" sahut Jihan melangkah masuk ke dalam.
Mirna tersenyum lembut, ia bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian berjalan mendekati Jihan.
"Kebetulan sekali kamu datang, tadi saya sudah meminta bantuan pada Cio" ucap Mirna.
Oh jadi bu Mirna minta bantuan cio? tapi..
"Kamu sudah makan siang? apa mau makan bersama ku? " ucap Mirna membuat pikiran Jihan teralihkan.
"Tidak usah bu, aaya sudah janji dengan teman teman saya di kantin" tolak Jihan secara halus.
"Oh sayang sekali" lirih Mirna pura-pura sedih.
"Kalau begitu, saya permisi dulu bu" pamit Jihan seraya berbalik hendak pergi meninggalkan ruangan Mirna. Tiba-tiba langkah Jihan melambat, matanya menatap foto yang tidak asing di matanya. Foto itu di penuhi oleh tusukan anak panah mini.
Apa sebenarnya yang di sembunyikan wanita ini.
Jihan berjalan sembari melamun, setelah keluar dari ruangan Mirna, Jihan langsung menuju ke kantin.
"Kenapa muka lo seperti itu? " tanya Ria memperhatikan wajah Jihan dengan seksama.
"Ada apa? " Fela yang baru saja kembali dari mesan makanan.
"Ini, si Jihan datang datang, malah melamun. Lihat tu, dia saja tidak sadar jika kita sedang membicarakan nya" ujar Ria melirik Jihan yang masih sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Jihan! "
"Jihan!! "
Sudah berkali kali Ria dan Fela memanggil Jihan bergantian, namun Jihan masih belum sadar juga. Fela dan Ria saling melirik, mereka semakin penasaran dengan apa yang sedang Jihan pikir kan.
"Jihan!!!!!!!!!! " panggil Fela sembari menjentikan tangan yang sengaja ia basahi, agar Jihan sadar.
"Eh, Fela!! lo apaan sih, basah tahu! " sungut Jihan mengambil tisu dan membersihkan wajahnya dari air yang Fela jentik kan.
"Apaan apaan, lo yang aneh. Di panggil panggil Dari tadi juga, tapi gak nyahut nyahut" ucap Ria.
Jihan tak membalas lagi, ia malah merebut bakso yang di bawa Fela tadi.
"Eh eh, Jihan. Itu punya gue, punya lo yang itu" tunjuk Fela pada, mangkok bakso yang belum di kasih apa apa.
"Udah, lo makan yang itu aja" balas Jihan. Mereka hanya duduk bertiga di meja anak anak Wolf. Seharus nya mereka makan di kantin bareng anak anak Wolf, tetapi mereka mengatakan jika mereka ada urusan yang sangat penting.
"Oh iya, kok tumben gak ada geng curut? " tanya Jihan setelah menghabiskan bakso nya.
"Baru sadar lo? dari tadi juga" cibir Fela dengan nada kesal.
"Emang apa yang lo pikirin? "tanya Ria penasaran.
"Jangan bilang lo gak mau ngasih tahu! " tebak Fela.
Jihan hanya nyengir, ia memang belum ingin memberi tahu kedua sahabat nya, karena semua ini hanya dugaannya. Kilasan foto keluarga Alviro terbayang di matanya. Jihan semakin penasaran, ia yakin Mirna sangat membenci keluarga Alviro. Terlihat dari dari anak panah yang menancap di foto itu.
"Lah, melamun lagi! " seru Fela.
"Hehe sorry sorry, " kekeh Jihan.
"Ji, kasih tahu lah, Ap- -"
Kring!!!!!!!!
"Eh udah bel tuh, yuk cabut! " ucap Jihan mengalihkan pembicaraan, ia langsung berdiri dan beranjak dari sana.
"Huuh, Jihan selalu begitu. Entar tahu tahunya, masalah udah besar baru kita tahu" gerutu Fela.
"Udah, yuk cabut. Jihan pasti punya alasan tersendiri" ujar Ria seraya menarik Fela menyusul Jihan.
Mereka berjalan beriringan di lorong sekolah, semua pembicaraan tak lepas dari materi materi pembelajaran yang sudah mereka lewati kemarin. Jihan sengaja melakukannya agar teman temannya tidak kembali mengungkit persoalan yang di kantin.
Sementara itu, anak anak wolf melancarkan aksinya. Eldi dan Liem sedang mengalihkan perhatian Mirna, agar Babas dan Albi bisa masuk ke dalam ruangan Mirna dan melancarkan aksinya.
"Bu, saya mau minta materi tentang soal soal ini. Saya merasa kesulitan" jelas Eldi menunjuk beberapa soal yang sudah ia print.
"Iya Bu, saya juga merasa kesulitan, Apa ibu bisa memberikan kami sedikit penjelasan agar kami bisa mengerjakan soal soal ini? " sambung Liem.
"Apa ini Liem, Eldi? kalian benar-benar sangat bodoh" cibir Mirna menatap anak anak murid tampannya, ia tidak merasa sedikit pun ada yang aneh pada kedua muridnya ini. Mirna sengaja di tahan oleh Eldi dan Liem di depan kelas satu.
"Karena itu Bu, kami meminta ibu untuk menjelaskan kepada kami, agar kami mengerti" bujuk Eldi dengan nada suara yang menggoda Mirna.
"Kamu ini, ya sudah ibu akan mengajari kalian besok! " balas Mirna, ia hendak melangkah meninggal kedua cowo itu.
"Tidak Bu, kami ingin menjawab soal ini sekarang"
"Tapi, saya harus ke ruangan dulu" tolak Mirna, ia mulai curiga.
Anak anak ini seperti nya sengaja menahan ku di sini, apa sebenarnya yang mereka coba lakukan?.
"Tapi kami pengen tahu sekarang Bu" sahut Liem.
"Maaf saya permisi, jika kalian ingin mempelajari nya, besok akan saya jelaskan di kelas! " tegas Mirna, ia pergi begitu saja dari hadapan Liem dan Eldi. Mirna segara ke ruangannya, ia merasa ada yang tidak beres.
"Aduh gimana ini Liem? apa Albi dan Babas sudah selesai? " gumam Eldi khawatir, sementara Liem hanya menghela nafas berat.
Mirna melewati lorong kelas, sebentar lagi ia akan sampai ke ruangannya. Ia terus melangkah cepat, perasaan nya mengatakan ada sesuatu yang terjadi di ruangan nya.
Bruk!!
"Maaf Bu, saya tidak sengaja" ucap Ringgo, ia segera membantu Mirna berdiri.
"Aduhh, kamu itu jalan kenapa tidak lihat lihat sih! " gerutu Mirna sembari membersihkan bajunya.
"Ini Bu, buku bukunya" Ringgo memberikan buku pelajaran yang Mirna bawa, ia sudah memungutinya di lantai.
"Maaf Bu" sesal Ringgo.
" Dasar" gerutu Mirna, andai saja Dirinya tidak sedang buru buru, akan Mirna pastikan Ringgo akan ia hukum.
"Eh Bu!! " panggil Ringgo menghentikan langkah Mirna.
"Ada apa lagi sih!! " bentak Mirna kehabisan ke sabaran.
Apa dia juga melakukan hal yang sama dengan dua siswa tadi?. Batin Mirna. Ia segera pergi tanpa menghiraukan ringgo yang terus memanggilnya.
...----------------...