
Jihan menatap pantulan tubuhnya di cermin. Kilasan bayangan Anji melecehkan dirinya terbayang di benak nya.
"AAAAA!!!!!! " Jihan marah, Jihan membenci dirinya sendiri. Ia merasa sangat jijik dengan tubuhnya sendiri.
Di ruang tamu, Suara Jihan terdengar sangat, melengking. Lea dan bunda nya langsung berlari ke kamar Jihan.
"Jihan, lo kenapa? " Lea dan bundanya langsung mendekati Jihan yang terduduk di lantai. Tubuhnya sudah memerah akibat cakaran tangan nya sendiri.
"Ya ampun sayang, kamu kenapa? " Tia mulai menangis.
"Jangan lakuin ini nak, kasian bayi kamu... "
"Ada apa ini tante.. Ya ampun. " Ria dan Fela yang baru saja masuk ke dalam kamar Jihan langsung menutup mulutnya setelah melihat kondisi Jihan.
"Bunda.. Jihan kotor bunda, Jihan kotor!!? " Jihan kembali histeris.
"Jihan... " Lirih Fela memeluk Ria. Mereka tidak tega melihat kondisi Jihan yang seperti ini.
"Dek, lo gak boleh berpikir seperti itu. Lo itu gak di apa apaan sama si brensek itu" bujuk Lea, meskipun ia tidak tahu seperti apa cerita yang sebenarnya, tapi Lea yakin jika adiknya tidak apa apa.
"Gak kak, gue kotor!! "
"Aaaaa,, Tubuh ini kotor, Kotor!! "
"Gak sayang, cukup. Jangan sakiti diri kamu lagi" Tia memegang kedua tangan Jihan, kemudian memeluk putri nya erat.
Membiarkan putrinya menangis di dalam pelukan nya. Jihan masih sangat syok dengan apa yang menimpa dirinya.
"Jihan, lo gak boleh kek gini terus. Nanti anak lo bisa terpengaruh" ujar Lea.
"Iya Jihan, lo harus tenang. Kita ada di sini kok bersama lo" sahut Fela.
Jihan tak bergeming, ia masih menangis di dalam pelukan bundanya.
Cukup lama Jihan menangis di dalam pelukan bundanya, kini ia sudah mulai temang dan tertidur.
"Kasian Jihan" kata Lea.
"Dia pasti sangat syok kak, semua yang menimpa dirinya sangat berat" sahut Ria, Fela mengangguk setuju. Jihan benar-benar drop.
Lea menghela nafas berat, ia melirik pada Rasya yang sejak tadi hanya diam melihat keadaan Jihan.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar dari zidan dan yang lainnya? "
Rasya menggeleng, belum ada satu pun yang memberi kabar kepadanya. Ia sangat mengkhawatirkan sepupunya.
"Semoga mereka baik baik saja" gumam Lea. Rasya mengangguk pelan. Ia juga mengharapkan hal itu.
Sementara di lain tempat, Alviro dan yang lainnya berpacu menuju ke rumah sakit. Lidia mulai tidak sadarkan diri.
"Lidia bangun sayang, bertahan lah. Aku mohon"
"Lidia... "
"Lebih cepat lagi!!! " teriak Zidan pada Alviro yang membawa mobil seperti orang kesetanan. Ia sengaja mengambil alih mengemudi agar segera tiba di rumah sakit.
"Ini sudah cepat kak! " jawab Alviro.
Zidan kembali menatap wajah pucat Lidia, ia sangat takut sekarang. Demi dirinya lidia rela mengorbankan nyawanya. Apalagi Alviro, ia merasa sangat berhutang budi kepada Lidia.
Berkat Lidia, Jihan selamat dan terbebas dari penculikan. Lidia harus selamat, Alviro ingin mengucapkan kata terimakasih dan permohonan maaf pada Lidia.
Cukup lama mereka mengemudi, akhirnya mereka tiba di kota. Alviro membawa Lidia ke rumah sakit yang pertama kali mereka jumpai.
Zidan langsung menggendong Lidia masuk ke ruang UGD. Langkahnya menggema di setiap lorong yang ia lewati.
"Dokter!!!
Dokter!!!
Dokter!!!! "
Zidan berteriak memanggil manggil dokter yang tak kunjung terlihat.
Dari arah ujung, terlihat 3 orang suster berlari mendekat pada mereka.
"Ada apa ini pak? " tanya Suster itu, ia langsung mengambil brankar ketika melihat kondisi wanita yang ada di pelukan pria yang berteriak pada mereka.
"Selamat kan dia Sus!! " mohon Zidan.
"Baik Pak, kita serahkan kepada dokter yah pak" kata suster, lalu mendorong brankar itu masuk ke ruang UGD. Seorang dokter berlari memasuki ruangan itu.
"Maaf yah pak, silakan tunggu di luar. Kak akan melakukan yang terbaik untuk pasien " kata Suster menahan Zidan yang hendak masuk bersama Lidia.
"Saya mau melihatnya sus"
"Tapi bapak tidak boleh masuk, dokter akan melakukan yang terbaik. Bapak silahkan tunggu di kursi tunggu" tunjuk Dokter pada kursi yang berderet tak jauh dari sana.
"Udah kak, kita serahkan kepada Dokter" bujuk Alviro menuntun Zidan duduk ke kursi.
Tak lama kemudian, tibalah rombongan yang lain.
"Bagaimana? " tanya Brian.
"Dokter sedang menangani nya pa" jawab Alviro.
Mereka semua menghela nafas, menatap iba kepada Zidan yang seperti orang kehilangan akal sehat.
Baju yang Zidan pake sudah berlumuran darah.
"Ganti baju lo" Arvan menyerahkan paperback yang di perjalanan tadi Arvan menyempatkan diri untuk membeli pakaian untuk Zidan.
"Gue gak butuh" tolak Zidan.
"Kak, lo harus membasuh pakaian lo, tubuh lo yang terkena darah" ujar Alviro. Namun Zidan masih tetap tidak bergeming.
Burhan pun mengambil tindakan, ia mendekati zidan dan memeluknya.
"Paman tahu apa yang kamu rasakan, tapi kamu juga harus memperhatikan diri kamu sendiri" ujar Burhan.
"Tapi paman, semua ini karena Zidan. Jika bukan karena menyelamatkan Zidan. Lidia gak akan seperti ini Paman" Zidan mulai terisak, ia tidak peduli jika orang orang menganggap ia cengeng.
Hatinya benar-benar rapuh saat ini, Kondisi Lidia adalah karena dirinya.
"Kak, lebih baik lo bersihin diri lo dulu" ujar Liem.
"Nak, kami sayang kan sama Lidia? " tanya Burhan. Zidan mengangguk cepat.
"Maka dari itu, kamu harus membersihkan diri kamu. Lidia melakukan semua ini untuk kamu, agar kamu selamat.
Sementara sekarang, kamu malah menyia nyiakan diri kamu. Emang nya kamu mau, ketika Lidia bangun dia kecewa melihat kamu seperti ini? "
"Tapi paman. Aku mau di sini menunggu hingga Lidia selesai di periksa" Zidan masih menolak.
"Tidak Sayang, kamu harus membersihkan diri dulu, setelah itu baru kembali lagi" bujuk Burhan.
Arvan kembali mendekat.
"Semakin banyak omongan lo, tidak akan membuat tubuh lo bersih. " ucap Arvan tajam.
"Kak Arvan tajam bener" babas.
"Tau tuh, orang lagi sedih" sahut Albi.
"Jika tidak seperti itu, Zidan tidak akan paham" jelas Ringgo yang mendengar bisikan kedua couple super dodol di antara anak wolf. Liem dan Eldi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.
Perlahan Zidan bangkit, sungguh berat hati nya untuk meninggalkan ruang UGD itu. Matanya masih menatap lurus pada daun pintu yang tertutup rapat.
"Segeralah bersih bersih di toilet. Kami akan menjaga di sini" seru Arvan.
Zidan pun akhirnya mengangguk, kemudian berlalu dari sama dengan Alviro yang menemaninya.
"Wah kak Zidan gak marah mendengar ucapan pedas mantan ketos! " bisik Albi pada babas. Mereka merasa sangat heran.
"Karena kak zidan tidak sebodoh kalian! " balas Arvan.
"Sekarang baru panggil kakak" decak Liem.
Sementara Anonim masih tetap bertahan mengunci mulutnya. Ia merasa asing berada di antara pria pria ini. Tidak satu pun yang Anonim kenal dari mereka.
Anonim hanya berdiam diri dan berdiri di sebelah Ringgo. Pria itu tidak sedikit pun membiarkan Anonim jauh darinya.