I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 113



Mohon maaf yah semuanya, aku baru up. Bukan karena malas tapi karena di sini jaringan lagi ada gangguan. Jadi baru bisa up. Dan untuk seminggu belakangan ini aku hanya bisa up 1 episode/harinya karena aku lagi di sibukkan oleh beberapa hal. Jadi maafin aku yah semuanya.


Tapi kalian jangan khawatir yah, mulai hari ini dan seterusnya aku akan berusaha up lebih dari 1 episode.


Terimakasih buat kalian yang selalu setia sama Jihan dan Alviro. Aku selalu baca kok komentar kalian semua😘


________


Jihan dan Alviro sedang memilah mila sayur mayur di sebuah supermarket. Persedian si apartemen mereka juga sudah habis, jadi Jihan meminta Alviro untuk mampir ke supermarket.


"Nah ini ni bagus buat dedek" Alviro mengambil buah buahan dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Ini juga bagus"


"Baiklah, ambil semuanya yang bagus untuk dedek bayi" kekeh Alviro memeluk Jihan dari belakang.


Jihan melirik ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihat mereka. Orang orang pasti akan berpikir yang tidak tidak tentang Jihan, karena mereka masih mengenakan seragam SmA.


"Malu tahu" sungut Jihan mendorong Alviro sedikit lebih jauh darinya.


Alviro cemberut.


Setelah selesai membayar semuanya, Alviro dan Jihan langsung menuju ke mobil. Semua belanjaan Alviro yang menenteng nya. Jihan tinggal berjalan bak seorang ratu di depan.


"Masuk lah tuan putri" ucapan Alviro membukakan pintu mobil setelah memasukkan semua barang belanjaan mereka ke bagasi.


"Terimakasih." Jihan tersenyum senang.


Ketika hendak menutup pintu mobil, Alviro teringat dengan sesuatu yang mereka lupakan.


"Sayang, tunggu di mobil sebentar. Kita lupa membeli Susu untuk mu! "


Tanpa sempat Jihan jawab Alviro sudah belari masuk ke dalam supermarket tadi.


"Yah, padahalkan aku sudah membelinya! " lirih Jihan melirik kantong plastik yang berisi 2 kotak susu.


Cukup lama Jihan menunggu di dalam mobil, sampai ia merasa bosan duduk sendiri. Alviro pergi terlalu lama, mungkin antrian kasir terlalu panjang. Pikir Jihan, karena memang ada banyak orang yang belanja di sana.


Tiba-tiba pintu mobil kembali terbuka, Jihan pikir itu adalah Alviro.


"Kok la-" Mata Jihan membola, dia bukan Alviro melainkan seorang pria dengan wajah yang di tutupi oleh masker.


"Lepas!!! " berontak Jihan ketika orang itu menarik nya keluar dari dalam mobil.


"Alviro!!!!! "


"Alviro!!! " Teriak Jihan memanggil suaminya. Namun Alviro tak kunjung datang. Orang orang yang berada di parkiran pun tidak terlihat.


"Tolong!!!!! "


"Tolong!!! "


Pria itu mendorong tubuh Jihan masuk ke dalam mobilnya, lalu memberikan kode pada seseorang yang ternyata sudah stanby di bangku kemudi.


"Tolong!!!! "


"Tolong!!! "


Jihan terus berteriak, ia mengendor gedor kaca jendela mobil orang itu. Air mata sudah merembes keluar dari sudut matanya. Ketakutan mulai menyerang hati dan pikirannya.


Jihan berharap Alviro datang dan menyelamatkan nya. Ia menatap mobilnya dan Alviro yang semakin tak terlihat lagi.


"Kau tidak perlu tahu! kami akan membawa mu pada seseorang buang sudah lama menunggu mu! " ucap pria itu.


"Gak! Aku gak mau. Lepasin aku sekarang juga!!! Berhenti gak!!! " Jihan malah bergerak cepat, menarik tangan supir yang dengan tawa mengerikan mengemudi. Pria itu kaget, dan sempat mobil yang ia bawa oleng.


"Atasi dia!! Jangan sampai membuat kita celaka! " Bentak pria yang mengemudi itu sembari menepis tangan Jihan.


"Kamu diem!! Kalau masih sayang dengan nyawa mu dan juga nyawa bayi yang ada di salam perut mu itu! " ancam pria itu. Seketika itu nyali Jihan menciut, tangannya langsung memeluk perutnya yang terlihat masih sangat rata.


Melihat ketakutan Jihan, kedua pria itu kembali tertawa. Jihan hanya bisa menangis dalam diam, ia hanya bisa berdoa di dalam hatinya agar Alviro datang dan menyelamatkan nya.


Alviro kembali ke mobilnya, ia langsung masuk ke bangku kemudi.


"Ini sayang, aku lupa buat beliin kamu susu tadi! " Alviro terdiam, ia tidak melihat Jihan di dalam mobilnya. Ia mencari Jihan ke kursi belakang, bepikir jika Jihan bersembunyi di bangku belakang. Namun tetap tidak ada.


"Jihan, kamu di mana? " gumam Alviro. Jantung nya langsung berdegup kencang merasakan kekhawatiran yang langsung menyerang hatinya.


Alviro kembali turun dari mobil, ia berjalan mengitari mobilnya ke sisi sebelah pintu mobil tempat Jihan masuk.


Tuk!


Tanpa sengaja Alviro menendang permen yang tadi Jihan minta kepada dirinya. Semua permen itu berserakan di jalan.


Deg.


Jantung Alviro semakin berpacu, ia mulai panik. Seseorang pasti sudah membawa Jihan secara paksa pergi.


"Tidak mungkin, Jihan tidak mungkin di culik! " Alviro menggeleng, ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa sesi yang buruk tidak akan menimpa istri.


Alviro berlari menuju ke pos security untuk menanyakan perihal istri nya. Jika mereka tidak tahu, maka Alviro akan meminta mereka untuk melihat CCTV.


Sementara di sebuah Cafe Rasya mengumpulkan anak anak wolf termasuk Fela dan Ria. Rasya sebenarnya juga meminta Jihan untuk ikut berkumpul. Namun Jihan tidak bisa karena harus belanja bahan bahan dapur.


"Jadi, lo di peralatan oleh mirna? " tanya Ringgo setelah mendengar semua penuturan Raysa.


Awalnya mereka tidak mau mendengar nya, namun di sini ada Zidan yang datang meyakinkan mereka. Zidan juga


Memberikan semua bukti agar mereka percaya.


"Ternyata hidup lo malang juga yah" Lirih Ria.


"Gue gak tahu harus bilang apa sama kalian, terutama lo Fela. Gue berani bersumpah. Gue gak pernah ngapa ngapain sama bokap lo. Semua itu editan Mirna. "ucap Lidia meyakinkan Fela. Namun gadis itu seperti bisa, ia masih tidak mau menatap wajah Lidia. Kilasan mamanya yang tergantung masih sangat jelas.


" udah Lidia, jangan paksa istri gue. Dia masih sangat syok. Apalagi mamanya bunuh diri karena melihat foto lo" Babas memeluk tubuh istrinya.


Lidia menghela nafas, benar kata Babas, semua ini pasti sangat sulit bagi Fela. Ia harus mengerti akan hal itu.


"Sekarang kita harus bersatu, kita harus menangkap Mirna. Karna jika tidak, kejahatan terus akan terjadi pada keluarga kita. " Seru Zidan.


"Gue setuju sama lo kak, gue sudah muak melihat perusahaan perusahaan yang di rebut secara paksa oleh dirinya! " Sahut Ringgo. Ia sedikit banyaknya tahu soal perbisnisan gelap.


"Gue bisa bantu kalian, setidaknya gue bisa membaca gerak gerik Mirna "


"Ya, lo memang harus membantu" Zidan mengusap kepala Lidia penuh kasih sayang.


Rasya pun merasa sangat ke ga, akhirnya mereka bisa menerima Lidia dengan sikap dan sisi yang baik. Bukan Lidia yang jahat dan Sekutu Mirna lagi.


Akhirnya lo bisa bahagia juga yah Lidia. Semoga ini jadi yang terbaik untuk lo dan semua orang.