I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 36



Seorang siswa berjalan menyusuri lorong belakang sekolah, ia terlihat was was dengan melirik ke kiri dan kanan. Ia takut ada orang yang melihat nya.


Terlihat sekolah sudah sepi, hanya tersisa dirinya saja yang ada di sana.


Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, siswa itu melempar kantong plastik yang ia tenteng ke dalam drum pembakaran sampah. Lalu, ia menghidupkan api untuk membakar plastik yang entah apa isinya.


Setelah api menyala dan membakar kantong plastik, siswa itu segera pergi dari sana.


Eldi yang kembali ke kelasnya untuk mengambil gitar Ringgo yang ketinggalan di dalam kelas. Ia tidak sengaja melihat seorang siswa yang sedang membakar sesuatu di dalam drum. Awalnya Eldi tidak berminat untuk melihatnya. Akan tetapi, ia teringat dengan wajah siswa yang menyelinap keluar dari ruangan bu Mirna.


Akhirnya, Eldi pun mengendap endap memperhatikan apa yang siswa yang menduduki kelas yang sama dengannya. Akhir akhir ini, Eldi memang sedang memperhatikannya Tingkah alnya sangat mencurigakan.


Setelah teman sekelas nya itu pergi, Eldi langsung mendekati drum yang di penuhi api. Eldi mengedarkan pandangannya ke area sekitar, ia mencari air untuk memadamkan api. Eldi sangat, penasaran, apa yang sudah di bakar oleh siswa yang bernama Cio.


Cio terkenal dengan siswa pintar di kelas nya. Namun, karena sikapnya yang pendiam, membuat dirinya terisolir dari siswa siswi lain. Cio berasal dari keluarga yang berlatar belakang tidak mampu. Ia bisa masuk ke sekolah ini karena mendapat beasiswa karena kepintaran nya.


Eldi mendapatkan ember yang berisi air, ia langsung membawanya ke drum, kemudian langsung menuangkan air itu hingga apinya padam.


Setengah dari barang barang di dalam kantong plastik sudah habis terbakar, tersisa beberapa gunting dan pisau.


Eldi cukup kaget, mengapa Cio membakar semua alat ini. Apa yang sebenarnya Cio sembunyikan.


Eldi memfoto gunting dan pisau itu, kemudian berlalu dari sana. Ia akan mendiskusikan hal ini dengan anak anak Wolf.


Setelah mengambil gitar di dalam kelas, Eldi langsung menuju ke parkiran.


"Lama banget sih lo, ambil gitar doang hampir setengah jam" gerutu babas.


"Gue ke toilet dulu bentar" sahut Eldi beralasan, ia tidak akan memberitahu nya sekarang. Ini tidak bisa di diskusikan pada tempat yang terbuka.


"Yaudah yuk cabut" ujar Ringgo. Eldi dan babas langsung masuk ke dalam mobil ringgo. Mereka melaju meninggalkan area parkir. Hanya tersisa mereka bertiga yang belum pulang, anak anak lain sudah duluan ke basecamp.


Tidak menunggu waktu lama, mereka bertiga tiba di basecamp. Alviro juga sudah ada di sana. Eldi merasa beruntung, semua anak Wolf berkumpul.


"Guys, gue ada sesuatu yang ingin gue bicarain sama kalian" ujar Eldi berdiri di hadapan mereka semua. Liem yang memutar mutar bola basket di tangannya langsung meletakkan bola nya. Albi yang sibuk main game, langsung meletakkan ponselnya. Babas dan ringgo seketika langsung duduk di samping Albi.


Sementara Alviro duduk dengan santai menatap lurus ke arah Eldi. Seperti yang sudah di sepakati oleh seluruh anggota wolf. Mereka harus fokus pada satu titik ketika membicarakan atau mendiskusikan sesuatu.


"Apa yang mau lo bicarain? " tanya Alviro.


Eldi mengeluarkan ponselnya, ia membuka foto yang tadi ia sengaja ambil. Kemudian mengirimnya ke dalam grup chat anak Wolf.


"Lihat ponsel kalian" ujar eldi. Mereka segera meraih ponsel masing-masing.


"Gunting dan Pisau? " gumam Albi bingung.


Anak wolf yang lain juga ikut bingung, ada apa dengan gunting dan pisau?.


"Gue tadi tidak sengaja melihat Cio membakar benda benda ini. Tingkah cio juga mencurigakan" jelas Eldi.


Alviro menatap foto yang eldi kirim dengan teliti. Mata Alviro melebar, ia teringat dengan baju sekolah Jihan yang di gunting oleh seseorang.


"Kalian merasa aneh gak sih? buat apa Cio membakar gunting sama pisau? " ujar Liem.


Eldi menjentikkan jarinya di udara. "Nah, lo berpikiran sama dengan gue"


"Apa dia berusaha untuk menghapus jejak? "gumam Babas.


" Tapi jejak apa? apa yang dia lakukan? " sahut Albi.


"Nah, itu dia. Gue menjadi lebih penasaran lagi ketika 2 hari yang lalu, gue melihat Cio keluar dari ruangan bu Mirna. Gerakannya sangat mencurigakan. " jelas Eldi.


Alviro masih terdiam, ia semakin yakin jika Cio ada hubungan nya dengan kejadian kejadian aneh yang menimpa Jihan. Namun, ia tidak bisa memastikan hal itu. Apa alasan Cio melakukannya, mengapa dia ingin mencelakai Jihan.


"Kalian ingat gak? Lea hampir di celaka oleh seseorang ketika masuk ke dalam lab sendirian? " ujar Eldi lagi. Mereka semua mengangguk.


"Nah, seperti keterangan kak Lea, pisaunya sangat mirip dengan pisau ini" jelas Eldi.


"What? " anak wolf berdecak tidak percaya. Orang selugu Cio bisa melakukan hal itu.


"Gue rasa ini ada hubungan nya dengan bu Mirna" Alviro buka suara, membuat teman temannya langsung menoleh padanya.


"Tapi apa alasan Cio melakukan hal itu? dan mengapa Bu Mirna malah ingin mencelakai Lea? " tanya Babas.


Alviro tidak menjawab, Permasalah nya dengan bu Mirna hanya di dan Ringgo yang tahu. Jadi, ia tidak bisa mendiskusikan ini dengan mereka.


"Al, mau kemana? " tanya Albi. Namun Alviro tidak menjawab, ia terus melangkah keluar dari basecamp.


"Aneh tu anak" gerutu Babas.


"Udah biarin aja, kita lanjut aja" sahut Ringgo.


Eldi mengangguk pelan, kemudian melanjutkan memberikan penjelasan tentang pemikiran nya dan dugaannya tentang Cio.


...----------------...


Setelah tiba di rumah, Lea langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Arvan.


Lea tidak masuk ke kamarnya, melainkan masuk ke kamar Jihan. Ketika sudah di dalam kamar Jihan Lea langsung berteriak histeris.


"AkhHhhhh... Jihan, Huaaaaaa... "


"Ihhhh Kak Lea, apaan sih. Kok teriak teriak di kamar Gue!!!! " Jihan yang tengah membaca novel langsung melempar novelnya ke sembarang arah. Kemudian menatap kakanya dengan tatapan kesal.


Lea tidak memperdulikan tatapan Jihan, ia masih saja mencak mencak dan menangis sejadi jadinya.


"Jihan!!!! gue kesal banget!!!! "


"Gue lebih kesal kak!!!! " balas Jihan tak kalah kerasnya.


Lea duduk di samping Jihan, ia memeluk Jihan erat. Lalu menggoyang goyangkan tubuh Jihan seperti memeluk boneka beruangnya.


"Aaaa kak Lea, Jihan masih sakit tahu!! "


Lea terkekeh pelan, lalu melepaskan pelukan erat pada tubuh Jihan.


"sorry" cicit nya.


Jihan merapikan baju tidurnya, lalu menatap kakaknya. Entah apa yang merasuki kakaknya, hingga bersikap seperti orang kesurupan seperti ini.


"Lo kenapa sih kak? " tanya Jihan.


"Lo tau gak sih, Arvan itu sangat menyebalkan! " ujar Lea sembari mengekspresikan kekesalannya pada Arvan.


"Emang dia apain kakak? di perkosa? di bawa nikah muda? " cibir Jihan.


"Ihhh Jihan, gue serius tahu. Lagi kesal ini" gerutu Lea merengut karena Jihan tidak menanggapinya dengan serius.


"Lah trus kenapa coba? "


"Dia ambil First kiss gue Jihan!!!!! hikss hikss"


Deg.


Deg


Jantung Jihan berdegup kencang, pada jadi teringat dengan kelakuan Alviro tadi pagi pada nya. Seketika pipi Jihan berubah menjadi merah.


Lea mengerutkan keningnya, ia menatap Jihan yang mendadak diam ketika ia mengatakan first kiss.


"Jihan! lo kok diam sih. Gak kaget gitu? " heran Lea.


"Eh, apa? kok bisa? " tanya Jihan berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai terasa panas.


"Eh bentar, kok lo jadi blushing gitu sih? apa jangan jangan.... " Lea menutup mulut mulutnya, matanya melebar menatap adiknya.


"Lo juga udah di ambil sama Alviro?? " teriak Lea histeris


.


"Ihhh Kak Lea apaan sih, mana mungkin! Gue gak bakal biarin hal itu terjadi" sangkal Jihan, ia mengalihkan pandangan matanya, tidak berani menatap mata kakanya. Namun, Lea memegangi wajah Jihan agar menatap ke matanya.


"Lo gak bisa boong sama gue, kapan dia ngambilnya? " desak Lea.


"Ih kak Lea apaan sih, udah deh cepat keluar sana!! " usir Jihan menepis tangan Lea dari pipinya. Kemudian beranjak menjauhi kakaknya.


"Awas aja kalo lo sampai boong! " tekan Lea sembari keluar dari kamar Jihan.


...----------------...