
"Ini untuk Jihan, dan ini untuk Ria" Fela meletakkan dua mangkuk bakso di atas meja, satu di depan Jihan dan satu lagi di depan Ria.
"Makasih, " gumam Jihan dan Ria tersenyum lebar, mereka mulai mengaduk aduk baksonya.
"Lah, beb. Kok cuma buat Ria sama Jihan doang. Buat babas ganteng mana? " ucap Babas dengan suara di buat buat seperti anak kecil.
"Lah, kalo lo mau. Yah pesan sendirian lah" ketus Fela.
Babas memanyunkan bibirnya, di tembah lagi ditertawakan oleh Albi dan Eldi. Babas dan Ringgo menggelengkan kepala melihat tingkah Babas.
Sementara Alviro duduk sembari berpangku dagu memperhatikan jihan yang sedang asik menikmati baksonya. Namun tiba-tiba Jihan tersedak oleh kuah bakso pedas.
Uhuk uhuk...
"Minum Ji" ucap Alviro dan Liem secara bersamaan memberikan gelas air minum pada Jihan.
Jihan menatap kedua gelas yang berada di depan wajahnya, ia bingung mau ambil yang mana.
Alviro menatap heran pada Liem, ia sedikit kaget melihat Liem yang juga memberikan minum pada Jihan.
"Waw... " decak Babas dan yang lain kaget.
Fela dan Ria saling melirik, kemudian mengambil inisiatif untuk memberikan minuman fela kepada Jihan.
"Minum ini Ji" ujar Fela.
"Terimakasih" balas Jihan menerima gelas Fela, kemudian meneguk habis air minum Fela. Bukan karena pedas lagi, melainkan karena sikap Alviro dan Liem yang entah sejak kapan menjadi aneh seperti ini.
"Seperti nya bakalan ada pertarungan yang seru bas" bisik Albi pada Babas.
"Bener Bi, ini akan menjadi sesuatu yang menarik " sahut Babas.
Alviro dan Liem saling melirik, kemudian saling mengalihkan wajah, Alviro menarik menarik gelas minumannya, kemudian menegurnya habis. Sementara Liem tetap membiarkan gelasnya di situ, ia lebih memilih untuk diam.
"Ekhem! " dehem Ringgo mencairkan suasana yang mulai terasa canggung.
"Em, nanti malam kita jadi kan, nongkrong di Cafe Cuanlo? " tanya Ria mencairkan suasana.
"Oh tentu, kenapa tidak jadi" sahut Albi tersenyum canggung.
"Gue.. Ke toilet dulu" ujar Jihan seraya bangkit dan berlalu pergi ke toilet.
"Jihan tungu!!! " teriak Fela dan Ria ikut bangkit dan menyusul Jihan.
Kini tinggal anak anak Wolf yang duduk di meja kantin. Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.
"Ayo masuk" ujar Babas.
Alviro dan Liem mengangguk bersamaan, kini mereka tidak pernah memikirkan bagaimana cara nya untuk bolos lagi.
Jihan masuk ke dalam toilet, rasa takut mulai memasuki pikiran nya. Namun karena desakan alam di bawah sana, Jihan terpaksa harus masuk ke dalam toilet itu.
"Aduhhh, gak tahan" gumam Jihan mempercepat langkahnya masuk ke dalam bilik toilet.
"Zoya, lo di dalam? " panggil Ria ketika masuk ke dalam toilet, hanya ada satu bilik yang tertutup.
"Iya, gue di dalem. Tolong tunggu gue di situ" balas Jihan, ia bernafas lega karena temannya datang. Jihan tidak perlu merasa takut kejadian yang sama terulang kembali.
Ria dan Fela menunggu Jihan di luar, mereka tersenyum lega ketika Jihan keluar dari bilik toilet.
"Terimakasih" ucap Jihan pada kedua sahabat nya sudah mau menunggu nya.
"Hey yoo... Kenapa harus makasih, sudah jadi kewajiban kita saling membantu kan" sahut Fela, ia merangkul bahu Jihan dan Ria.
"Kita adalah sahabat guys, tidak ada kata makasih di antara kita, karena apapun itu, kita akan selalu bersama! " ujar Fela. Mereka pergi ke luar dari toilet menuju ke kelas.
Sementara itu, Alviro dan anak anak Wolf menyeret Cio dari kelas menuju ke parkiran Mereka akan menginterogasi Cio.
Sebenarnya, belum saatnya ini di lakukan. Tetap, karena mereka memergoki Cio kembali ingin mencelakai Jihan. Ringgo tanpa sengaja melihat Cio mendekati meja Jihan dengan sebuah pisau di tangannya. Kebetulan saat itu kelas sedang Sepi. Dengan cepat, Ringgo memanggil teman temannya dan berlari menangkap Cio yang berusaha untuk kabur.
"Lepaskan aku!!! bajingan!! " teriak Cio berusaha untuk melepaskan diri, ia berusaha memberontak, Cio tidak mau di bawah oleh geng Wolf.
"Diam dan tetap diam!!! " ucap Babas sinis, Ia semakin menekan tubuh Cio agar masuk ke dalam mobil ringgo.
Mereka semua masuk dan melaju keluar dari sekolah. Pak satpam tidak menghalangi mobil Ringgo, ia sudah mendapat informasi dari Arvan.
"Anak orang kaya"
Pak satpam kembali masuk ke dalam pos mya, ia kembali memperhatikan CCTV, ia di perintah kan oleh Arvan untuk menghapus beberapa adegan, agar ketika Mirna meminta pak Satpam memeriksa rekaman CCTV, ia tidak melihat anak anak wolf membawa kaki tangan nya.
Brak~
Tubuh Cio terhempas di lantai gudang. Mereka membawa pria cupu itu ke gudang markas anak wolf menginterogasi lawannya.
"Katakan!!! kenapa lo melakukan semua ini pada Jihan?!! " bentak Alviro, ia mencengkram dagu Cio kuat. Membuat Cio memejamkan mata menahan sakit.
"Gue tidak melakukan apa apa! "
Bug~
Tubuh Cio kembali terhempas ke lantai gudang, sedikit memar terlihat di tulang pipinya bekas pukulan dari Alviro.
"Udah deh cowo cupu, ngaku aja. Sebelum nyawa lo melayang" ujar Babas. Anak anak wolf hanya berdiri memperhatikan Alviro menginterogasi Cio. Biasanya ini adalah tugas Babas dan Albi, tetapi Alviro meminta ingin menginterogasi sendiri.
Cio gemetar ketakutan, ia tidak berani menatap mata Alviro. Namun, Alviro malah kembali mencengkram dagu Cio dan memaksa Cio untuk menatap ke arah nya.
"Lo sengaja kan! Buat Jihan terluka? "
"Jawab gue bajingan!!! "
"Gu-gue gak tahu Alviro"jawab Cio, ia masih kekuh dengan pendirian nya.
Bug!
Bug!
Bug!
Sreekkkkk
Setelah memukul Cio bertubi tubi, Alviro menyeret kerah baju Cio menuju ke jendela kaca gudang. Dari jendela itu, Cio bisa melihat betapa tinggi nya gedung itu. Tubuhnya semakin gemetaran, di tambah lagi Alviro mendorong hingga Cio seakan akan jatuh.
"Lo gak ngaku!, Tubuh lo akan jatuh! "
"Udah, lempar aja Al, gak ada gunanya juga tuh" pancing Albi.
"Katakan sekarang!!!!! " Tekan Alviro sembari mendorong tubuh Cio, dan hanya memegangi kerah baju Cio saja.
"I-ya gue bakal kasih tahu!! "
Bruk~
Alviro kembali melempar tubuh Cio ke lantai, membuat pria tak berdaya tu tersungkur di lantai. Dengan tertatih Cio berusaha untuk bangkit. Namun tubuhnya terlalu lemah, hingga dirinya hanya bisa membalikkan tubuhnya saja.
"Cepat katakan! " kini ringgo yang menginterogasi, sejak tadi ia sudah geram melihat Cio yang tak kunjung menjawab apa yang mereka inginkan.
"Gue... Gu-gue cuma menerima perintah! " ucap Cio terbatah.
"Siapa yang nyuruh lo! " Liem menginjak kaki Cio, membuat pria cupu itu mengerang ke sakitan.
"Akk... Bu.. Mirna! " Teriak Cio lagi.
"Mirna" gumam Alviro. Seperti yang mereka duga, Ini pasti ulah wanita ular itu.
Gue tidak akan membiarkan wanita ****** seperti lo, membuat Icha gue pergi lagi.
"Lo mau mati huh?. Lo tahu kan siapa Jihan! kenapa lo mau melakukannya!!! " teriak Liem, ia tidak bisa mengendalikan emosinya, tanpa sadar Liem sudah mengangkat kerah baju Cio tinggi.
"Lo akan Terima Akibatnya! " geram Liem, ia kembali menghantam tubuh Cio yang sudah babak belur oleh Alviro.
Melihat Cio tak bisa bergerak lagi, Babas dan Albi menarik Liem. Beginilah jika Liem sudah terlanjur emosi.
"Udah Boy, kasian anak cupu itu" ujar Babas.
Alviro cukup kaget melihat reaksi Liem, tidak biasanya sahabat nya ini terpancing oleh musuh. Alviro semakin yakin, Liem memiliki rasa kepada Jihan.
"Urus mereka, gue mau cabut dulu" ujar Alviro seraya berlalu pergi.