I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 44



Jihan tiba di sekolah bersama Alviro, ia tidak bisa menolak ketika Alviro memaksanya untuk berangkat ke sekolah bersama.


"Makasih" ucap Jihan datar, kemudian membuka pintu mobil.


"Loh kok gak bisa di buka? " gumam Jihan bingung, pintu mobil Alviro tidak bisa di buka.


"Heh! lo ngunci pintu nya? " Jihan menoleh pada Alviro yang terlihat biasa saja.


"Alviro!! " panggil Jihan lagi.


"Gue mau bukain pintunya, asal ada satu syarat! " ujar Alviro tersenyum penuh arti.


"Loh gila apa? udah mau bel, dan lo masih mau bermain seperti ini! " Jihan tak habis pikir dengan Alviro, 5 menit lagi bel akan segera berbunyi.


"Yaudah, kalo lo gak mau. Kita tetap di sini aja! "


Jihan mendesah pelan, ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tetap melawan Alviro, maka ia akan terlambat masuk kelas. Mereka pasti di hukum lagi oleh Arvan.


"Ihh Yaudah iya, apa syarat nya! "


Alviro tersenyum lebar, ia memperbaiki posisi duduknya jadi menghadap ke Jihan.


"Bilang sama gue, kalo lo, suka sama gue! "


"What?? " mata Jihan membulat, Alviro terlihat seperti anak SMP sekarang.


"Kenapa? gak mau? " potong Alviro.


"Lo udah kaya anak SMP Tahu gak, gak malu apa? umur dah tua juga, masih aja kek anak kecil"


"Yaudah, kita di sini aja sampe pulang" Gumam Alviro dengan nada suara merajuk, ia melipat, kedua tangannya di depan dada.


Hufff..... Jihan menarik nafas dalam, kemudian menatap Alviro malas.


"gue suka sama lo" ucap Jihan hampir tak terdengar oleh Alviro. 5


"Apa? gue gak denger"


Rahang Jihan mengeras, ia benar-benar merasa jengkel pada Alviro.


Hufffff....


"Alviro, gue suka sama lo! " ulang Jihan dengan nada yang lebih keras.


"Nah baru deh gue bukain" kekeh Alviro tersenyum menang. Ia membuka kunci pintu mobilnya.


Jihan memutar bola matanya, ia sudah jengah dengan kelakuan Alviro yang semakin ke sini, semakin menyebalkan.


"Jihan tunggu" cegat Alviro menahan lengan Jihan.


"Aduh apa lagi si Al!!! "


Cup.


Seketika tubuh Jihan menegang, Alviro mengambil kesempatan ketika Jihan menoleh pada nya, Alviro langsung menciumnya.


Bruk~


"Lo ini keterlaluan!!! " maki Jihan setelah mendorong tubuh Alviro keras. Kemudian ia langsung keluar dari mobil Alviro.


Kringggg!!!!!!!!!


Jihan semakin mempercepat langkahnya, ia sudah sangat kesal dan ingin sekali menghancurkan wajah menyebalkan Alviro.


Ketika Jihan melewati Lorong sekolah, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Mirna.


"Pagi bu" sapa Jihan sopan, kemudian melanjutkan langkah nya.


"Jihan! " panggil Mirna.


"Ibu manggil saya? " balas Jihan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pada Mirna. Wanita itu tersenyum hangat, menutupi segala kebusukan di hatinya.


"Iya Jihan, ibu mau minta tolong sama kamu. Bisa? " tanya Mirna dengan senyum kepalsuan.


"Hmm... Minta tolong apa bu? harus sekarang kah? soalnya bel sudah bunyi" ujar Jihan.


Mirna menggeleng pelan, ia tidak akan melancarkan aksinya sekarang.


"Tidak Jihan, saya butuh bantuan kamu nanti setelah jam istirahat"


"Oh baiklah bu, Saya ke kelas dulu" pamit Jihan.


"Silahkan, nanti datang saja ke ruangan saya" balas Mirna. Ia tersenyum miring menatap kepergian Jihan.


Sementara tak jauh dari sana Alviro melihat Mirna mengajak Jihan mengobrol, dengan langkah cepat Alviro hendak menghairankan Tapi sayang Jihan sudah ke buru pergi. Entah apa yang Mirna katakan pada Jihan.


"Wahhh Alviro, kamu banyak berubah yah. Sekarang sudah tidak telat lagi" ujar Mirna pura-pura ramah pada Alviro.


"Gak usah akting di depan saya" balas Alviro ketus, kemudian berlaku begitu saja.


Air muka Mirna berubah seketika, tatapan kebencian terpancar di matanya.


Mirna kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas satu, ia masuk di kelas satu IPA sekarang.


Jihan memasuki kelasnya, ia melihat salah satu teman sekelas nya penuh dengan luka memar di wajahnya. Dahi Jihan mengerut, cowo itu akhir akhir ini terlihat aneh. Jihan masih sangat xingat, beberapa kali ia melihat Cio selalu ada di sekitar nya. Karena ia pikir itu hanya sebuah kebetulan. Namun, setelah di pikir pikir cukup aneh juga.


"Eh ngapain ji? " tanya Ria yang baru saja memasuki kelas, ia mengikuti arah pandang mata Jihan. Seketika mata Ria melebar, ia tidak habis pikir dengan wajah Cio, si cowo cupu.


"Muka lo kenapa Cio, abis di unboxing? " tanya Fela yang juga sangat kaget.


"Lo habis berantem sama siapa? " tanya Jihan penasaran, mereka sudah berada di depan meja Cio.


"Bukan urusan lo! " balas Cio menatap Jihan tajam, kemudian ia beranjak keluar dari kelas.


"Aneh gak sih tu cowok? " Gumam Ria pada kedua temannya.


"Tau ih, orang cuma nanya doang" sahut Fela.


Jihan hanya diam saja, ia semakin penasaran. Kenapa sikap cowo itu sangat ketus dan seakan membenci dirinya. Padahal Jihan merasa tidak pernah berbuat salah padanya.


"Jihan!!!! " teriak seseorang dari depan kelas.


Jihan memutar bola matanya, ia sudah bosan dengan suara yang melengking dan membuat telinga menjadi sakit.


"Aduh nenek lampir, lo bisa gak sih, gak teriak teriak! " serba Ria.


"Diem lo! "


Lika berjalan ke hadapan Jihan, ia sudah benar-benar muak dengan Jihan.


"Mau lo apa sih, kenapa lo malah datang bereng Alviro ke sekolah? " tanya Lika dengan nada tajam.


Bukannya takut, Jihan malah berdecih.


"Memangnya, apa masalah nya bagi lo. Jika gue jalan atau mau ngapain sama Alvaro" balas Jihan tersenyum miring.


"Tentu aja lo salah, bego! " celetuk Lilie.


"Gak ada tuh larangan buat siapapun deketin Alviro. Lagi pula, lo bukan siapa siapa nya Alviro" sahut Fela.


"Gue gak suka liat nya!!! " bentak Lika keras.


"Yah itu urusan loh, mau gue ciuman, pelukan atau bahkan menikah dengan Alviro. Itu bukan urusan lo! " balas Jihan lagi, ia sudah terlalu jengkel pada Lika, rasa kesalnya dengan Alviro semakin besar karena sikap Lika yang semakin memuakkan. Sehingga membuat Jihan tidak menyadari apa yang ia ucapkan.


Bertepatan ketika Jihan mengucapkan hal itu tanpa sadar, saat itu pula Alviro dan anak anak wolf memasuki kelas. Mendengar ucapan Jihan, membuat Alviro semakin tersenyum lebar. Hari ini benar benar jari yang beruntung bagi Alviro.


"Alviro" gumam Lika.


Jihan menggigit bibir bawahnya, ia merutuki dirinya yang sudah mengucapkan kata kata yang membuat dirinya semakin tersudut kan oleh Alviro nantinya.


"Baby Alviro, lihat anak baru itu!!! " adu Lika manja. Ia berjalan mendekati Alviro yang terlihat biasa biasa aja, bahkan mata Alviro hanya tertuju pada Jihan.


"Lo masuk aja Lika, udah bel tuh. Ajak semua teman temen lo" ujar Alviro.


"Tapi Baby, gadis itu membuat gue kesel"


"Susah kah Lika, jangan bersikap seperti anak kecil! " bentak Alviro.


"Huuuuu ngadu sama orang yang gak mungkin belain lo" ledek Fela. Membuat Lika melirik tajam ke arahnya. Dengan hentakan kako kesal, Lika keluar dari kelas IPA 1.


"Dasar nenek lampir" sorak Fela lagi.


Jihan tak bergeming lagi, ia beranjak ke kursinya. Dengan sengaja Jihan menendang kursi kosong di samping nya ke belakang. Sehingga kursi itu terjungkal ke belakang.


"Kode keras!!! " ujar Babas yang menyaksikan aksi Jihan.


Bukannya menyerah, Alviro malah mengambil kursi itu, kemudian meletakkan ke samping Jihan.


"Benar benar bukan Alviro yang dulu" bibir Eldi pada Liem. Pria itu hanya menatap Alviro sebentar kemudian kembali menatap lurus ke depan. Ia tidak sanggup melihat tingkah Alviro yang terus berusaha untuk mendekati Jihan.


Semoga lo bahagia sama Alviro Ji, Gue rela jika itu adalah Alviro. Namun gue akan merebut lo jika pria lain yang mencoba melarikan lo dari gue..


Ringgo menarik nafas dalam, ia kasian pada Liem, dan di sisi lain Alviro juga butuh memperjuangkan cintanya yang sempat hilang. Tinggi sudah tidak tahu lagi, ia bingung dengan cinta segitiga sahabatnya.


Gue harap lo baik baik aja Liem. Dan buat lo Alviro, semoga semua ini berada di jalan yang benar.


"Lo kok duduk di sini sih! " bentak Jihan tak suka dengan Alviro yang malah kembali duduk di samping nya.


"Kenapa? kan gue udah pindah duduk ke sini! " balas Alviro pura-pura tidak merasa bersalah


"Tempat duduk lo itu di sini, ini kosong dan gue gak mau lo duduk di sini! " balas Jihan menatap Alviro sinis.


"Kenapa? apa lo takut jatuh kedalam pesona gue? "


Jihan mencebik, Alviro benar benar konyol. Jawaban demi jawaban sungguh tidak nyambung. Ia berpikir jika Alviro sudah sangat gila.


"Terserah lo deh, gila gue lama lama hadepin cowo seperti lo, Stres!! "


...----------------...