I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 104



"Jihan!!!! " Teriak Zidan, mata nya melotot melihat Jihan tergeletak di lantai. Wajahnya pucat pasi seperti mayat, tubuhnya di penuhi dengan keringat dingin.


"Ya ampun, Jihan. Bangun!! "


Zidan mengangkat tubuh lemah Jihan dan memindahkannya ke atas ranjang yang terlihat berantakan.


"Jihan!!! bangun Jihan" menepuk nepuk pipi Jihan agar segera membuka matanya. Namun Jihan tetap tidak merespon, membuat Zidan semakin panik.


"Dokter, iya. Gue harus memanggil dokter! "


Cepat cepat Zidan menghubungi sekretaris nya untuk membawa seorang dokter secepatnya ke hotel ini. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi adik nya.


Setelah menghubungi sekretaris nya, Zidan kembali mendekati Jihan, di gosok gosok nya telapak tangan Jihan agar kehangatan tersalur pada Jihan.


"Jihan, bangun dong Jihan. Lo kenapa?? " gumam Jihan khawatir, ia sempat berpikir jika Jihan melakukan percobaan bunuh diri. Namun, Zidan tidak menemukan luka apapun di pergelangan tangan atau di bagian tubuh Jihan lainnya.


"Jihan... "


"Bangun sayang" panggil Zidan berharap Jihan menyahuti nya.


Tak lama kemudian pintu kamar Jihan di ketuk dari luar. Dengan gerak cepat Zidan langsung membuka pintu. Ia melihat Seorang pria asing berdiri di samping Jodi Sekretaris nya.


"Bos, dia dokter yang akan memeriksa Jihan" ucap Jodi memperkenalkan sang dokter.


"Baiklah, silakan masuk, periksa adik ku. Tolong bantu sadarkan dia " ucap Zidan.


"Baik Pak" balas Dokter itu, kemudian ia langsung meletakkan tas nya yang berisi berbagai alat untuk memeriksa pasien.


Sang dokter hendak memeriksa detak jantung Jihan, namun tiba-tiba Jihan membuka matanya dan menepis tangan dokter yang memegang alat. Sehingga alat pendeteksi detak jantung itu terjatuh.


"Jihan" kaget Zidan. Ia mendekati Jihan.


"Sayang, dia seorang dokter. Biarkan dia memeriksa Lo yah. Tadi lo pingsan Jihan" bujuk Zidan.


Jihan menggeleng cepat, ia berusaha mendudukkan tubuh lemahnya dan bersandar di kepala ranjang.


"Gue gak papa kok, gak perlu di periksa" tolak Jihan.


"Tapi nona, tubuh anda terlihat sangat lemah. Biarkan saya memeriksa anda sebentar" ucap sang dokter yang seperti nya berusia sama seperti Zidan.


Sekertaris Zidan hanya bisa menghela nafas melihat tingkah sepupu bos nya, ini bukan pertama kalinya Jodi melihat kejadian seperti ini. Jihan memang gadis yang manja dan juga jutek,ia sempat bingung melihat tingkah Jihan.


Menurut cerita dari bosnya, Jihan merupakan gadis yang baik, hanya saja karena sedikit permasalahan sakit hati yang membuatnya sangat kecewa. Gadis itu berubah menjadi gadis yang tidak bisa di tebak dan sulit di kendalikan kecuali oleh orang orang tertentu.


"Gue gak mau kak, gue gak papa kok"


"Tapi kamu pucat banget ji"


"Gue gak papa kak!!! gue gak mau di periksa!! " tolak Jihan tegas, entah mengapa ia tidak mau di sentuh oleh sang dokter.


Hufffd...


Tidak bisa berbuat apa apa lagi, Zidan terpaksa membiarkan sang dokter pergi dari kamar Jihan tanpa memeriksa Jihan terlebih dulu.


"Maaf dokter, saya tidak bisa memaksa adik saya" lirih Zidan, ia benar-benar merasa sangat khawatir.


"Tidak masalah pak, jika di lihat dari kondisi fisik nya. Nona seperti nya hanya kurang tidur dan asupan makanan. Tolong bujuk dia untuk makan. Kemungkinan terbesar dia hanya kelelahan dan perutnya kosong" jelas sang Dokter.


"Baiklah dokter, terimakasih sudah mau membantu" balas Zidan.


"Mari ikut saya" ucap Jodi menuntun dokter keluar dari kamar Jihan.


Zidan menatap Jihan, adiknya terlihat sangat pucat dan lemes. "Kamu kenapa dek? "


"Makan juga tidak, istirahat juga tidak"


"Sebenarnya apa yang kamu ingin kan? apa kamu ingin melihat bunda dan ayah menderita? " Zidan sedikit meninggikan suaranya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi adiknya. Jihan harus makan, dan ia tidak bisa memaksanya begitu saja.


"Kamu memang paling suka yah, melihat ayah dan bunda. Bahkan orang orang di sekitar mu menderita! " Zidan sudah tidak memakai gaya bahasa Lo gue lagi. Jihan mengerti, Zidan sudah sangat marah sekarang.


"Apanya yang enggak hum... Menyiksa diri mu seperti ini? apa kamu kira hanya dirimu yang tersiksa? apa kamu tidak pernah memikirkan keluarga mu juga tersiksa?? bunda menangis, Ayah khawatir. Mertua mu!!"


"Mereka semua ikut menangis, mengkhawatirkan bagaimana keadaan mu sekarang. Kamu sudah menjadi seorang istri. Kamu seharusnya tidak se egois ini Jihan!! "


"Bangkit lah Jihan!!! Jangan ke kanak kanakan lagi!! "


Hikss... Hikss...


Hanya isak tangis yang terdengar dari bibir Jihan. Ia tidak sanggup mengeluarkan kata kata apapun lagi.


Zidan meraih tangan lemah Jihan, di genggamnya erat, seolah olah menyalurkan kekuatan agar Jihan merasa kuat.


"Tolong Jihan, jangan terus terusan seperti ini" lirih Zidan dengan nada memohon.


"Kak... Aku tidak seperti itu" ucap Jihan di sela sela tangisnya. Zidan langsung memeluk nya, ia tidak tahan melihat Jihan menangis, namun ia harus melakukan nya. Jika tidak, Jihan akan seperti ini terus menerus. Zidan hanya ingin adiknya berani melawan kenyataan dunia, ia tidak mau adiknya terus menerus lari dari kepahitan kehidupan yang ia lalui.


Cukup lama Jihan menangis di pelukan Zidan, akhirnya tangis nya pun mereda. Jihan merenggangkan pelukan nya dengan Zidan.


"Kak, gue mau bakso" cicit Jihan sembari mengelap ingusnya ke kemeja Zidan.


"Ihhh jorok banget! " decak Zidan jijik.


"Sedikit doang" gerutu Jihan.


Zidan menghela nafas, setidaknya Jihan sudah menjadi lebih baik. Ia merasa sangat senang karena hal itu.


"Ya sudah, gue bakalan suruh Jodi cariin lo bakso" kata Zidan.


Zidan bangkit dari duduknya, ia hendak keluar dari kamar Jihan. Bau amis dari ingus Jihan menyeruak ke hidungnya. Untung ingus Jihan, kalo ingus orang lain, mungkin sudah di tebas dan membuat hidung itu tak berani lagi mengeluarkan ingus.


"Kak! " Zidan berhenti dan berbalik menatap Jihan yang memanggilnya.


"Ada apa? "


"Aku ingin mencari baksonya sendiri. Aku tidak mau di bungkus" lirih Jihan menunduk, ia merasa tidak enak karena sudah menyusahkan kakaknya.


"Baiklah, ganti baju lo. Gue tunggu di lobi" ujar Zidan.


"Baikla" sahut Jihan.


Zidan pun kembali ke kamarnya, ia mengganti kemejanya dengan kemeja yang baru.


"Gue harap lo kembali seperti dulu Jihan, semangat" gumam Zidan. Lalu ia berlalu keluar dari kamar hotel nya menuju lobi.


...----------------...


Sementara di sisi lain, di waktu yang sama. Alviro bergerak gelisah. Pikirannya tertuju hanya kepada Istrinya. Alviro sangat merindukan istri nya.


Lo di mana ji? gue sangat merindukan lo. Apa lo semarah itu sama gue? apa kasih sayang yang gue beri sama lo tidak bisa membuat lo berpikir jika gue sangat menyayangi lo.


Alviro berjalan keluar dari kamar Jihan. Ia akan berjalan jalan sebentar, ia merasa menginginkan sesuatu untuk di makan.


"Gue kepengen bakso" gumam Alviro.


"Loh, nak alviro mau kemana? ini sudah jam 7.Sebentar lagi kita akan makan malam" kata Tia.


"Lanjut aja dulu Bun, Alviro ingin berjalan jalan sebentar" kata Alviro, lalu berlalu dari hadapan mertuanya.


Kasian Alviro, ia harus jauh dari istri nya. Pasti dia sangat sedih. Semoga saja Jihan segera sadar dan mau memaafkan Alviro. Suaminya.


Tia kembali menghela nafas berat, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang ingin menuju ke kamarnya.


Semua orang merasa sangat sedih, di tambah lagi melihat kondisi kacau alviro. Anak anak Wolf juga ikut sedih. Semenjak Jihan pergi, alviro tidak mau menemui siapapun. Ia hanya mengurung diri dan menyendiri dengan barang barang milik Jihan.


...BERSAMBUNG...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...