I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 92



Sepulang dari sekolah Fela langsung pulang ke rumah, ia mendapati mamanya duduk di sofa dengan wajah menunduk. Bahu mamanya terlihat bergetar, Fela yakin mamanya sedang menangis.


"Mama... "


Mama Fela pun mengangkat wajahnya, pipinya basah karena linangan air mata. Fela langsung memeluk tubuh yang hampir menua.


Fela merenggangkan pelukannya, ia menatap wajah mamanya lekat. Ada jejak jari memerah di pipi sebelah kanan mamanya.


"Papa nampar mama? "


Mama Fela menggeleng kuat, ia tidak mau putrinya membenci papanya.


"Gak Fela, ini karena mama salah pake make up" ucap mama Fela beralasan.


"Sudahlah ma, mama gak usah bela pria tua bangka itu! " Fela membuang wajahnya, ia tidak sanggup menatap mata mamanya.


"Stop Fela! kamu tidak boleh berbicara seperti itu!! kamu harus sadar, dia itu papa kamu Fela"


"Gak ma! Fela tida mau punya papa seperti dia!!! " tolak Fela kuat, ia sudah tidak mau mengakui papanya. Fela terlanjur sakit hati.


"Kamu tidak boleh seperti itu nak, hiks... Walau bagaimana pun, dia tetap papa kamu" tangis mama Fela semakin pecah. Sesakit apapun yang ia rasakan, ia tetap tidak mau Fela membenci papanya.


"Ma, papa selalu seperti ini kan? papa selalu buat mama nangis karena sering main di belakang mama! " Fela menatap wajah mamanya, ia mengusap air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata indah mamanya.


"Ma, Fela sudah tahu semua kebusukan papa. Mama tidak perlu menyimpan semuanya sendiri. Mama jangan takut yah, sekarang Fela akan jagain mama. Mama jangan nangis lagi"


Mama Fela mengangguk pelan, ia memeluk putrinya erat. Harta satu satunya yang ia miliki di dunia ini adalah anak.


Di dalam hati, Fela bertekat akan menghancurkan siapapun yang sudah membuat mamanya menderita. Fela baru sadar, selama ini ia meninggalkan mamanya sendiri dalam penderitaan seperti ini.


Setelah merasa baikan, Fela membawa mamanya ke dalam kamar. Menuntun mamanya agar berbaring di atas ranjang dan menyelimuti nya dengan selimut tebal.


...----------------...


"Gue kasihan banget sama Fela, dia pasti tertekan dengan kondisi seperti ini" gumam Ria.


"Gadis malang, dia sangat ceria, seakan hidup tanpa beban. Sekali dapat beban, malah seberat ini" sahut Babas menatap foto kebersamaan nya dengan Fela di layar ponsel nya.


"Gue penasaran deh, kok bisa sih Lidia dan kakaknya mau deket sama om om gitu. Kalo Mirna sih gak papa, kan udah tua juga. Ini Lidia loh, masih muda, masih sangat belia" ujar Eldi tak habis pikir. Ia merasa ada sesuatu di balik semua ini, tetapi apa?? Eldi merasa sangat frustasi memecahkan apa sebenarnya motif dari keluar Lidia.


"Gue juga penasaran, apalagi sampai sekarang Mirna masih belum bisa di tangkep. Licin bener tu wanita " sambung Liem.


Mereka mendesah bingung, rasa penasaran terhadap Lidia dan kakanya membuat itak mereka berjalan sepenuhnya.


"Lah, udah ngumpul semua? " tanya Jihan. Ia baru saja datang ke basecamp bersama Alviro.


"Tau kok yang udah punya suami, kemana mana sama suami" sindir Albi.


"Apaan sih, gaje banget" balas Jihan melempar botol minuman kaleng pada Albi.


Jihan duduk di samping Fela, di depannya ada Liem yang terpaku melihat kemolekan wajah natural Jihan. Jika tidak mengingat suami Jihan adalah sahabat nya, mungkin Liem akan merebut Jihan.


"Matanya tolong di kondisikan yah, dia istri gue! " ketus Alviro. Mendadak suasana menjadi hening, Liem pun langsung salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.


"Maklum lah, cinta pertama emang sulit untuk di lupakan" goda Ringgo mencolek pinggang Liem.


"Apaan sih" tepis Liem.


"Gimana? apa ada kabar dari Fela? apa dia masih murung di rumah? " tanya Jihan pada Ria. Gadis itu pun menggalang pelan.


"Tadi gue udah coba chat Fela, ajak dia nongkrong. Tapi Fela menolaknya, ia ingin menemani mamanya yang masih sangat sedih" jelas Ria.


"Kasian banget yah dia" lirih Jihan sedih. Ia tidak pernah membayangkan jika dirinya di posisi Fela. Berada di titik ini saja sudah membuat Jihan melarikan diri.


Ting~ Tong~


Bel basecamp pun tiba-tiba berbunyi. Mereka semua kaget dan saling melempar tatapan bingung.


"Siapa yang datang? " ujar Ria.


"Ada yang nerima tamu? " tanya Alviro. Mereka semua menggeleng, tidak ada yang merasa menerima tamu.


"Oh iya, gue" ucap Jihan tiba-tiba, ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari kearah pintu.


"Jihan mengundang siapa? " tanya Liem.


"Gak tahu" jawab Ria mengangkat bahu.


Tak berapa lama kemudian, Jihan kembali dengan seorang pria bersamanya. Wajah Alviro mengeras, tangannya mengepal, sorot matanya menajam ketika dengan sengaja Zidan menggandeng tangan Jihan.


"Mati lah" Gumam Babas.


"Perang lagi nih" sahut Albi.


"Siapa dia? " tanya Eldi pada ringgo. Mereka semua menatap Jihan dan Alviro secara bergantian. Mereka menunggu tragedi apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Selamat malam semuanya" sapa Zidan Rama.


"Hai Kak Zidan" sahut Ria tersenyum lebar.


"Lo kenal dia beb? " tanya Albi. Ria mengangguk cepat.


"Kamu duduk sama gue! " Alviro menarik kuat Jihan, sehingga gadis itu terhuyung di pangkuannya.


"Kok lo narik dia sih. Kalo tangan Jihan sakit gimana! " protes Zidan.


"Gue lebih tahu soal isu gue ketus Alviro.


" Gue lebih kenal dengan Jihan, lo hanya beberapa bulan saja! " bantah Zidan, suaranya sudah mengeras dan penuh penekanan.


"Dia istri gue!! " balas Alviro penuh penekanan.


"Ahh!! Alviro!! Zidan!!! stop! " teriak Jihan berdiri di antara keduanya yang duduk dengan posisi saling menatap tajam.


"Sayang, kamu membela dia? " ucap Alviro tak habis pikir.


"Tentu saja dia belain gue! Lo itu cuma Suami. dan bisa Cerai! " ucap Zidan sengaja memancing emosi Alviro.


Anak anak wolf lainnya tak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka tiba-tiba bungkam dan menjadi penonton setia. Hanya Ria yang menutupi mulutnya karena tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Lo kalau ngomong, yang bener yah!!! jangan mancing emosi gue!! " ucap Alviro menunjuk wajah Zidan, ia sudah berdiri dengan emosi memuncak di ubun ubun.


Zidan ikut berdiri, ia merasa puas melihat reaksi Alviro. Semuanya sesuai dengan bayangan Zidan.


"Gue gak mancing emosi lo kok, Adik ipar! "


Huh?


Alviro mengerut, apa yang sedang pria ini rencanakan. Alviro menatap tangan Zidan yang terulur di depannya.


"Bentar bentar, Adik ipar??? Maksud nya, dia abang Jihan? " ujar Babas.


Alviro masih tak bergeming, ia menatap wajah Zidan yang tersenyum lebar padanya.


"Gue Zidan, abang sepupu Jihan yang berada di Amerika. Gue tahu segalanya tentang Jihan" ujar Zidan.


Glek.


"Mampuss... Alviro mendapatkan masalah besar" Gumam Babas.


"Abang ipar di ajak berantem boss... " balas Eldi dan Liem. Mereka semua kaget mendengar pengakuan Zidan.


"Iya, Dia abang sepupu gue.Dia mulai menatap di negara kita karena sedang mengurus perusahaan nya di sini" jelas Jihan.


"Lo tahu Ria? " tanya Albi, Ria mengangguk pelan dan tersenyum kikuk. Ia merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Gue sengaja nyuruh Jihan dan kedua sahabat untuk tetap diam, gue pengen tahu bagaimana reaksi lo ketika seseorang mendekati adik gue. Dan juga, seberapa besar kasih sayang lo sama Jihan" ujar Zidan.


"Kenapa gue gak pernah kepikiran yah, mampus, abang ipar malah gue ajak berantem" pikir Alviro.


"Lo gak mau menyambut uluran tangan gue? " tanya Zidan.


"Alviro! " kaget Alviro langsung menyambut uluran tangan Zidan, ia merasa sedikit gugup.


"Santai saja Alviro, lo udah lulus tes kok. Dari dulu hingga sekarang" ujar Zidan menepuk bahu Alviro.


"Dari dulu gimana? " tanya Jihan bingung.


"Lo kan tahu, gue peramal" kila Zidan mengalihkan ucapannya, ia tidak mungkin mengatakan pada Jihan bahwa Alviro adalah pria yang udah nyakitin dirinya.


"Seperti nya Zidan sudah mengetahui semuanya" pikir Alviro.


"Gue bingung sendiri" gumam Babas.


"Itu karena lo bego" celetuk Liem.


"Sembarangan lo! " Bantah Babas. "Ini karena gue mikirin kondisi ayang gue" sambung Babas.


"Alah, mau ada Fela ataupun tidak, lo tetap bego" sahut Eldi. Babas membalas dengan dnegusan kesal.


Jihan menghela nafas lega, akhirnya Zidan mengaku pada suaminya. Jika tidak, entah sampai kapan Jihan akan terus di cuekin oleh Alviro setiap kali membahas Zidan.


Malam pun terus berlalu, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Babas dan Ringgo, mereka berdua memutuskan untuk menginap di Basecamp.


Sesampainya di basement apartemen, Alviro melirik istrinya yang sudah terkapar di kursi sebelah nya. Sebuah lengkungan sabit terbit di bibir Alviro.


"Lo manis ketika diem dan tidur gini" gumam Alviro seraya membelai pipi istrinya. Tidur Jihan tak terganggu sedikitpun, ia malah semakin nyenyak ketika tangan hangat Alviro menangkup pipinya.


"Gemes banget aku sama kamu Jihan, mungil mungil imut" kekeh Alviro pelan.


Alviro pun keluar dari mobilnya, ia menggendong Jihan keluar dari mobil menuju ke apartemen. Ia mengangkat Jihan dengan sangat pelan, agar tidur Jihan tidak terganggu. Hingga tiba di dalam kamar, Alviro membaringkan tubuh Jihan dengan sangat hati hati.


"Tidur yang nyenyak sayang" gumam Alviro setelah membuka sepatu dan menyelimuti tubuh istrinya.


Cup. Alviro mengecup kening istrinya, kemudian berlalu ke kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Alviro bersiap untuk tidur. Ia naik dan berbaring di samping istrinya. Dari samping Alviro memeluk tubuh sintal Jihan.


Engg.... Lenguh Jihan ketika Alviro mengendus lehernya dan beberapa kali mendarat kecupan kecil di sana. Lalu setelah nya Alviro ikut terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.