
Siang itu, Jihan dan Alviro memutuskan untuk berjalan jalan sore. Alviro ingin menghabiskan waktu dengan istri nya, membuat kenangan yang indah.
"Sayang, kita mau kemana? " tanya Jihan, saat ini mereka berada di sebuah mall.
Alviro menoleh dan menghentikan langkahnya. Senyum manis terbit di bibirnya.
"Aku ingin, kita menghabiskan setiap waktu bersama"
"Lah, kita kan udah nikah. Yah pasti bersama lah" jawab Jihan heran.
"Intinya, aku ingin kita mengukir kenangan bersama"
Alviro menarik tangan Jihan, mereka kembali berjalan beriringan menuju ke sebuah cafe. Jihan menarik tangannya, ia tidak mau masuk ke dalam cafe itu, Alviro pun heran.
"Kenapa gak mau masuk sayang? aku mau ajak kamu minum jus dulu. Kamu pasti capek kan? "
"Gak sayang, aku gak mau di cafe ini. Aku maunya di cafe Rendi! " tolak Jihan, ia berbalik dan melangkah pergi dari sana.
"Sayang, kamu kenapa. Gak biasa kamu menolak seperti ini" Alviro mengejar istrinya dan membujuk nya agar tidak marah kepadanya.
"Aku mau ke Cuanlo, gak mau yang lain" rengek Jihan.
"Oke baiklah, kita akan ke sana sekarang Kamu jangan marah lagi yah" pinta Alviro, akhirnya ia menuruti keinginan istrinya. Yang terpenting baginya istri nya tidak marah dan merajuk padanya.
Setiba nya di cafe Cuanlo, Jihan terlihat sangat senang. Ia keluar dari mobil penuh semangat.
"Ayo sayang, kita masuk" Jihan menarik tangan Alviro.
"Iya sayang" sahut Alviro, ia mengikuti istrinya masuk ke dalam. Sejak mereka berhubungan di hotel setelah pernikahan Fela dan Babas. Jihan semakin manja dan manis kepada Alviro. Hal itu membuat Alviro merasa sangat senang. Ia berharap hubungan nya dengan Jihan selalu seperti ini.
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam cafe, mereka mengambil tempat duduk di dekat kaca. Sehingga dari tempat duduk, mereka bisa melihat pemandangan taman Cafe Cuanlo.
"Mau pesan apa sayang? " Alviro memberikan buku menu pada istrinya agar bisa melihat menu apa yang tersedia hati ini.
Jihan pun menerima buku menu dari Alvaro, Kemudian Jihan menunjuk beberapa menu kesukaan nya dan juga kesukaan Alviro.
Mata Alviro seketika membulat, Jihan memesan makanan yang cukup banyak. Bukan soal membayar, tetapi apakah Jihan bisa menghabiskan makanan sebanyak itu?.
"Sayang.Kamu yakin akan menghabiskan makanan sebanyak, itu? "
"Bukan aku yang akan menghabiskannya, tapi.. "
Perasaan Alviro mulai terasa tidak enak. Ia merasa sesuatu akan menimpa hidup nya hari ini.
"Kamu akan membantu ku untuk menghabiskannya kan?" lanjut Jihan.
Tuhkan benar, perasaan seorang Alviro tidak pernah salah.
"Kalo kamu gak bisa habiskan, kenapa harus pesan makanannya banyak banyak sayang" Ucap Alviro mencoba untuk menjelaskan kepada istri nya. Namun, bukannya mengerti Jihan malah menangis keras.
"Eh eh, kok kamu menangis?? " tangan Alviro langsung membekap bibir Jihan, ia menatap orang orang sekeliling nya langsung memperhatikan mereka.
"Jangan menangis sayang" bujuk Alviro.
Jihan tetap tidak mau berhenti hingga Alviro memohon memintanya untuk berhenti menangis. Alviro melepaskan tangannya dari mulut istri nya setelah Jihan menyetujui untuk tidak menangis lagi.
"Kamu kok marahin aku?" Cicit Jihan dengan suara manja seperti anak kecil habis menangis.
Mata Alviro melebar, mana mungkin dirinya memarahi istrinya Ia hanya mencoba membujuk istrinya agar tidak memesan makanan yang banyak. Karena dirinya atau pun istrinya tidak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Aku gak marahin kamu sayang.... Aku cuma"
"Tuh kan, kamu marah,,, Huwaaaa"
"Ehhh Iya Iya, aku minta maaf Aku akan habiskan semua yang kamu pesan" Desah Alviro, ia akhir nya pasrah menerima permintaan istrinya.
Mendengar kepasrahan suaminya, Jihan pun merasa senang. Ia bangkit dari duduknya untuk pergi memesan semua makanan yang ia tunjuk tadi. Alviro heran, mengapa istri nya sekarang malah berdiri.
"Mau kemana sayang? " tanya Alviro.
"Aku mau memesan makanannya dululah, pelayannya lagi sibuk kek nya" jawab Jihan, lalu ia beranjak ke dapur, bukan ke pelayan yang ada di depan kasir. Menurutnya, memesan langsung ke dapur akan lebih cepat di bandingkan melalui pelayan di depan.
Sementara Jihan ke dapur, Alviro memutuskan untuk memainkan ponselnya.
"Mau ngapain lagi lo hah! " Alviro membentak, ia berdiri.
"Ups, jangan marah dong Gue cuma mau lihat aja, kalo Jihan tahu siapa lo sebenarnya, apakah dia akan mau menerima lo? "
"Atau, dia malah kabur lagi" Lidia tertawa senang, apalagi melihat wajah kesal Alviro.
"Kenapa? takut? hahaha.... Seperti nya akan seru jika Jihan mengetahuinya" Lidia tersenyum penuh arti.
Alviro semakin marah, ia mendekat pada Lidia dan menarik tangannya kasar, keluar dari Cafe.
Dari arah dapur Cafe, Jihan menatap bingung pada Alviro yang menarik tangan Lidia pergi keluar. Karena merasa sangat penasaran, akhirnya Jihan mengikuti mereka.
Tiba di luar, Alviro menghempas kan tangan Lidia kasar, membuat gadis itu mengusapnya pelan.
"Lo! jangan pernah membuat kehidupan gue kacau lagi!! " tangan Alviro menunjuk ke wajah Lidia.
"Kenapa? lo takut, Jihan benci lagi sama lo? "
"Atau, lo bakalan takut jihan kabur lagi? "
Lidia tertawa keras, wajah kesal dan khawatir Alviro sangat menghibur nya.
"Awas aja yah, jika jihan sampai tahu siapa gue sebenarnya!! " ancam Alviro.
"Emang kamu siapa? "
Deg.
Alviro langsung menoleh ke arah samping kanannya, terlihat jihan melangkah mendekat ke arah mereka. Lidia semakin tersenyum lebar.
"Sayang, kenapa kamu keluar. Yuk masuk, pesanan kita pasti sudah datang" Alviro menarik tangan istri nya untuk masuk kembali ke dalam cafe, namun Jihan menolak.
"Kenapa lo ada di sini? dan apa maksud lo bilang Alviro bakalan gue benci jika gue tahu siapa dia! " matanya menatap tajam pada Lidia.
"Yakin, lo mau tahu? "
"Gak usah banyak bacot lo! " bentak Jihan.
"Baiklah baiklah, gue akan bilang semua nya sama lo. Tapi... Lo harus minta dulu tuh, persetujuan suami lo" Lidia menyeringai.
"Gak usah bicara omong kosong lo!! " bentak Alviro, ia menarik Jihan pergi dari sana, tapi tetap Jihan tidak mau.
"Katakan sama gue!!!! " teriak Jihan menatap Alviro.
"Jihan, lo bego apa? gak nyadar atau emang lo bego. Alviro yang sangat dingin dan membenci lo tiba-tiba dia baik sama lo, apa lo gak curiga? " Lidia mulai.
"Sayang, kita masuk yu, gak usah dengerin gadis gila ini" bujuk Alviro.
"Lihat saja Jihan, suami lo ketakutan hahahaha" Lidia tertawa senang. Inilah yang paling ia suka.
Jihan semakin penasaran, ia menatap Alviro meminta penjelasan.
"Yaudah deh yah, gue mau cabut dulu. Bye Jihan.. IYAN, ups.. Alviro" Lidia langsung berlalu dari hadapan mereka.
Kini tinggal Jihan yang mencerna apa yang baru saja Lidia katakan padanya.
"Kak Iyan? jadi... "
"Sayang... Gue bisa jelasin"
Jihan menepis tangan Alviro, matanya menatap nanar pada pria yang mulai ia cinta.
"Jadi, lo kak Iyan.? dan lo tahu jika gue adalah Icha? "gumam Jihan mulai menerka nerka.
Alviro menggeleng, ia berusaha mendekati Jihan yang berjalan mundur menjauhinya.
" Lo tega!!! gue gak nyangka lo tega sama gue!!!!! " teriak Jihan, air mata mulai membanjiri pipinya.
"Jihan!!!! " Alviro berteriak mengejar Jihan yang berlari menjauh darinya.
...----------------...