
Semua orang sudah berkumpul di rumah Fela, gadis itu masih terbaring di pangkuan Babas. Sejak pingsan di taman belakang, Fela belum ada sadarkan diri.
Mayat mama Fela juga sudah di bawa masuk dan sudah di bersihkan dan di siapkan pemakamannya. Seluruh keluarga besar Fela sudah berada di sana. Jihan dan Ria juga sudah ada disana.
"Fela... " Lirih Jihan dan Ria, mereka sejak tadi tak henti henti nya menangisi nasib Fela yang sangat memilukan.
"Engg... " Fela mulai melenguh, ia mulai sadar dari pingsan nya. Mata Fela mengerjap ngerjap melihat sudah banyak orang berkumpul di rumah nya.
"Babas.. " lirih Fela.
"Iya sayang" sahut Babas menahan tangisnya. Jihan dan Ria terisak keras, mereka benar-benar tidak sanggup menahan tangisnya.
"Kenapa kalian menangis? " tanya Fela bingung, membuat Jihan dan Ria semakin terisak.
"Babas... Kenapa mereka menangis?. Umm.. Dimana mama? aku tadi mimpi buruk. Mama ku mana bas? " Fela mulai mencari cari mamanya, namun di tahan oleh Babas dan langsung di peluknya erat.
"Sayang, tenang lah" lirih Babas lembut.
"Bas, lo kenapa malah ikut menangis. Sebenarnya ini ada apa!! " teriak Fela semakin bingung. Ia mulai teringat dengan mimpinya. Bukan, itu bukan mimpi.
"Mama!!!! " Teriak Fela kuat. Ia mendorong tubuh Babas kuat hingga pelukan Babas terlepas. Fela berlari ke ruang depan, ia kaget melihat banyaknya orang orang berkumpul di rumah nya. Langkah kaki Fela melan, bahkan matanya tak sanggup lagi mengeluarkan air mata.
"Mama.. " tubuh Fela luruh di lantai, kakinya tak sanggup lagi menahan tubuhnya.
Salah satu kerabat dekat Fela langsung menghampiri Fela dan memeluknya erat.
"Bi... Tolong katakan sama Fela. Ini bercanda kan. Kalian lagi ngeprank Fela kan? "
Wanita yang di panggil bibi oleh Fela menggeleng pelan, ia tak sanggup lagi berkata apapun pada Fela.
"Nenek... " Fela beralih mendekati nenek dari mamanya. Ia menggoyang goyangkan tubuh neneknya yang hanya menunduk menahan tangis.
"Nek.. Katakan sama Fela ini. Ini hanya mimpikan? "
"Nek!!!! "
"Kenapa sih, kalian semua hanya diam dan menangis!! " teriak Fela marah pada semua orang.
"Fela... " Lirih Jihan memeluk suaminya, ia tidak tega melihat kerapuhan sahabatnya.
"Siapapun tolong!!! bangunkan aku!!! " teriak Fela histeris.
"Fela, lo harus kuat. Lo gak boleh seperti ini" Ria mendekati Fela dan memeluknya erat. Namun Fela malah mendorong Ria kuat, beruntung Albi dengan sigap menangkap Ria.
Fela mendekati tubuh yang terbujur kaku,
"Mama.... Bangun ma... Gak lucu tahu, jangan becanda yang seperti ini yah. Fela gak suka ma. "
"Ma.... Udah dong. Jangan becanda terus. Fela nyerah mah, Fela gak bakalan akting lagi. " lirih Fela. Membuat mereka yang melihat dan mendengar ucapan Fela hanya bisa menahan tangisnya.
"Mama... Bangunlah, dan katakan pada mereka semua kalau mama lagi prank aku"
"Mama.... hikss... Ma.. "
"Jika mama seperti ini terus, Fela akan marah sama mama!! " ancam Fela.
"Fela sayang, jangan bersikap seperti ini" lirih bibinya.
"Diam!!! jangan ada yang berbicara!! " teriak Fela mengancam, ia menunjuk semua yang ada di sana.
"Mama... Lihat, betapa bodoh nya mereka menangis, padahal kita lagi main" ujar Fela menyedihkan. Ia terus meyakinkan dirinya jika mamanya sedang bermain dengannya.
"Ma... Kenapa mama gak bangun bangun sih," air mata terus mengalir deras di pipi nya.
"Mama!!!! jangan tinggalin Fela ma!!! jika mama pergi, siapa yang akan jagain Fela. Siapa yang akan nemani Fela. Fela janji gak akan nakal lagi, fela janji tidak akan ninggalin mama sendiri lagi. Mama!!! aku mohon... "
"Mama.... Please.. "
Petugas pemakaman datang, dan memberitahu pada bibi Fela bahwa pemakaman sudah siap. Setelah bibi Fela memberi persetujuan untuk melakukan pemakaman sekarang.
"Jangan!! Jangan sentuh mama ku!! mama ku mau di bawa kemana!! " teriak Fela histeris. Ia menarik dan mendorong setiap petugas mendekat pada mamanya.
"Fela, kamu yang tabah yah sayang. Kita harus segara melakukannya sayang, ini demi mama kamu juga! " bujuk tante Fela.
"Tidak tante, gimana nanti mama bangun. Fela belum siap kehilangan mama tante.. Tolong mengertilah" mohon Fela agar mereka tidak memisahkan dirinya dan mamanya.
"Sayang, kamu harus ikhlas. Jika tidak mama kamu akan tersiksa di alam sana" bujuk tantenya memberi pengertian pada Fela. Lalu tantenya pun memberi isyarat pada petugas untuk melakukan acara pemakaman dengan segera.
"Mama!! " teriak Fela histeris, ia berusaha untuk mengejar para petugas, namun Babas dan anak anak wolf lainnya membantu tante Fela untuk menahan Fela agar tidak menghentikan para petugas.
Setelah acara pemandian selesai, jasad mama Fela di bawa ke pemakaman umum. Fela tidak sanggup berdiri, Babas menahan tubuh Fela agar tidak ambruk di tanah. Mata Fela tak lagi terlihat, tertutup oleh pelipis matanya yang sudah membengkak.
"Mama... " lirih Fela melihat petugas petugas pemakaman melakukan proses pengukuran mamanya.
"Mama... " lirih Fela lagi.
Setelah proses pemakaman selesai, berangsur angsur para tetangga dan yang lainnya mulai bubar. Kini yang tertinggal di sana hanya beberapa kerabat dekat Fela dan sahabat dekat Fela termasuk semua anak Wolf.
Fela memeluk batu nisan mamanya, air mata tak sanggup lagi ke luar dari matanya. Fela merasa langitnya sudah runtuh. Ia merasa sudah tidak memiliki siapapun lagi. Bahkan papanya tidak datang melihat mamanya untuk terakhir kalinya.
"Fela... Kita balik yuk, lo harus istirahat" bujuk Jihan dan Ria.
"Gak Ji, Ria. Gue masih mau di sini" tolak Fela.
"Sayang, ini udah hampir sore, kita harus segera pulang. Tubuh lo pasti lelah Sayang" bujuk Babas. Fela hanya menggeleng menolak bujukan Babas. Namun, Babas tidak berhenti di situ, ia terus membujuk Fela untuk pulang.
"Fela... Mama lo udah tenang di sana. Tidak ada rasa sakit di hatinya. Tolong jangan membuat mama lo menahan sakit dan sedih melihat lo yang terus terusan seperti ini! " ucap Babas.
"Tapi Bas, bagaimana dengan hati gue yang sangat sakit. Gue belum bisa membahagiakan mama. Tapi mama malah memilih jalan ini"
"Maka dari itu sayang, kamu harus ikhlas menerima semua ini. Bangkitlah sayang, agar mama bisa tersenyum melihat putrinya yang bahagia" bujuk Babas lagi. Jihan dan Ria mengangguk menyetujui ucapan Babas.
Perlahan Fela pun mau di bawa pulang, dengan berat hati ia harus meninggalkan makam mamanya. Baru saja kemarin Fela bersama mamanya. Paginya ia sudah tak bertemu dengan mamanya lagi.
Mereka pun bernafas lega, Babas berhasil membujuk kekasihnya untuk ikut pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, banyak yang mengucapkan belasungkawa untuk Fela. Termasuk para orang tua dari sahabat sahabat nya.
"Nak Fela, yang sabar yah. Kamu jangan pernah berpikir jika kamu sendiri. Kamu punya tante dan juga semua orang yang ada di sini" ucap Tia.
"Makasih tante" balas Fela pelan, ia berusaha untuk tersenyum, meskipun itu sangat tipis.
Di saat mereka berusaha menegarkan Fela, tiba-tiba papa Fela datang dan memanggil putrinya.
"Fela"lirih papanya. Ia datang dengan ekspresi sedihnya, Fela yakin itu hanya akting.
" Jangan sebut nama ku!!! " teriak Fela histeris. Ia menatap marah pada papanya.
"Fela, maafin papa yang baru datang" lirih Papa Fela berusaha untuk membujuk putrinya. Namun hati Fela sudah sangat terluka, apalagi mamanya pergi karena melihat foto papanya yang selalu menyakitkan mamanya.
"Pergi!!!! apa kamu belum puas menghancurkan kehidupan ku!!! mama sudah pergi!! mama sudah pergi meninggalkan aku!? dan semua itu karena ANDA! " teriak Fela, ia mendorong tubuh papanya dan memukul mulutnya kuat.
"Fela, dengerin papa dulu nak! "
"Aku tidak mau mendengar apapun lagi!! Aku sudah muak!!! " balas Fela semakin histeris. Babas langsung memeluk kekasihnya. Sementara Ringgo Liem dan Eldi membawa papa Fela agara segera pergi.
Hal yang mengejutkan kembali terjadi. Nenek Fela dengan ekspresi yang sulit di artikan menghampiri papa Fela.
PLAK!!!!
"mama.. " lirih papah Fela kaget.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku tidak sudi kain panggil mama! " bentak nenek Fela.
Sementara papa Fela masih belum menyadari apa yang terjadi. Ia tidak sadar jika mereka semua sudah tahu bahwa semua ini terjadi karena perbuatannya yang selalu menyakiti istrinya.
"Pergi?? " usir bibi Fela.
Mau tidak mau papa Fela pun pergi dari sana. Mungkin setelah semuanya tenang, ia baru bisa berbicara dengan Fela dan keluarga yang lain.
Fela pun kembali meraung raung, ia masih belum bisa melepas kepergian mamanya yang begitu cepat.
"Mama... " lirih Fela dalam tangisnya.
Mereka semuanha ikut merasakan betapa hancur nya Fela saat ini. Namun, mereka hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa apa selain menguatkan Fela dan memberi dukungan motivasi padanya.
...----------------...
Fela, maafin gue. Bukan maksud untuk menghancurkan kehidupan lo. gue tidak tahu jika mama lo bakalan pergi seperti ini. Sejak tahu itu papa lo, gue tidak lagi melakukannya Fela.
Lidia memperhatikan dari jauh, ia tidak berani masuk dan menemui Fela. Ia takut jika kedatangannya akan memancing keributan di sana.
Lidia menghela nafas dalam, entahlah. Ia merasa hidupnya mulai salah. Apalagi Ia belum menemukan kebenaran tentang kedua orang tuanya. Sejak nasihat Rasya tersengeh di telinganya dan menyentuh batinnya. Lidia mulai mencari kebenaran tentang semua kehidupan nya yang semakin kelam di penuhi oleh dendam.