I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 29



2 bulan sudah Jihan, Ria dan Fela berada di Indonesia. Selama itu pula Zidan, sepupu Jihan tidak pulang ke rumah. Hari ini, ia kembali dari pertukaran mahasiswa antar negara. Zidane membawa 2 buah koper. Satu koper berisi dengan baju bajunya, dan yang satu lagi berisi dengan oleh oleh yang khusus ia siapkan untuk adik sepupu tersayang nya.


"Mom...... Jihan!!!!! "


Dengan wajah berseri Zidan masuk ke dalam rumah sembari berteriak memanggil mommynya dan juga adik sepupunya. Zidan sengaja tidak memberi kabar tentang kelupulangannya, ia bahkan tidak menghubungi mommynya ataupun Jihan.


"Ehhh Anak Momy udah pulang? " Rima tersenyum lebar, akhirnya kesepian nya akan terobati.


"Momy" ujar Zidan. Ia memeluk mommynya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini ia tabung.


Mata Zidan melirik kesana kemari mencari ke berapaan Jihan. Seharusnya jam segini Jihan sudah berada di rumah. Zidan melepaskan pelukan momynya pelan, kemudian menoleh ke sana kemari.


"Kamu cari Jihan? " tebak Rima.


"Iya ma, kok Jihan gak keliatan? apa karena Jihan pergi sama teman temannya? "


"Tidak sayang, Jihan sudah balik ke Indonesia " jelas Rima.


"Huh? kok bisa. Bukannya Jihan udah menetap di sini? kenapa tiba-tiba udah balik. Kapan dia balik mom? kok gak bilang bilang sama Zidan"


Rima menghela nafas, ia memijat pelipisnya merasa pusing mendengar pertanyaan bertubi tubi dari putranya. Bahkan Rima tidak tau mau jawab yang mana, pertanyaannya saja ia tidak bisa mengingatnya.


"Sayang, duduk dulu" Rima menuntun putranya duduk di sofa.


"Nah kan enak ng plotnya, kalo udah duduk"


"Mom, kok bisa sih Jihan pulang? " tanya Zidan, kini ia mulai tenang Tidak seperti tadi.


"Uncle Burhan memaksa Jihan untuk pulang, ia merasa jika Jihan sudah terlalu lama berpisah dari nya. Jadi yah, dia ingin putri nya kembali tinggal bersamanya" jelas Rima.


"Yahhhh tapi kok Jihan pulangnya gak nunggu Zidan pulang" kelu Zidan kecewa. Ia sangat menyayangi Jihan, apalagi Zidan merupakan anak satu satunya dari Rima dan suaminya juga sudah meninggal.


"Momy, gak kesepian tinggal di sini sendirian? "


Rima menghela nafas, kemudian menatap manik coklat putranya. Sejujurnya ia sangat kesepian, namun mau bagaimana lagi. Perusahaan peninggalan suaminya ada di Amerika, bahkan butik miliknya juga ada di Amerika. Kalau dirinya pindah ke Indonesia, siapa yang akan mengurus ini semua.


"Yah mau gimana lagi sayang, kehidupan kita di sini" jawab Rima membelai lembut pipi putranya. Meskipun sudah berumur 21 tahu, Zidan tetap lah anak manja yang selalu haus akan kasih sayang dari momynya.


...----------------...


Rapat OSIS pun telah selesai, Jihan dan Alviro yang duduk di sudut ruangan tampak menjadi pusat perhatian. Mereka sejak tadi hampir mati ke bosanan menunggu Arvan selesai.


Lea yang juga ada di dalam ruangan itu menutup wajahnya, ia merasa malu karena Jihan kembali membuat ulah. Sudah tersebar di seluruh penjuru sekolah jika Jihan adalah adik dari Lea Rafier dan kekasih baru Alviro.


"Eh mau kemana? " cegat Arvan ketika Lea juga ikut keluar bersama Mutia.


"Gue mau keluar lah, ketos lebay! " jawab Lea ketus.


"Lo ada urusan di sini, jadi tetap berdiri di sini" ucap Arvan tegas.


"Yaudah, gue duluan yah" ucap Mutia.


"Eh...Mut, akhhh Arvan..." Lea ingin protes, tapi Arvan sudah berlalu mendekati adik nya dan juga Adik Lea.


"Jihan... Kok lo buat ulah lagi sih" gerutu Lea melototi Jihan.


"Kak, bukan gue yang salah. Tu si ketos alay yang cari masalah. Ngapain coba cegat cegat gue tadi"


"Sttt!!!! Diam! " bentak Arvan dengan suara bariton nya, membuat Jihan dan Lea seketika menunduk dan membisu.


"Santai dong! " protes Alviro, ia kasihan pada Jihan yang mulai ketakutan.


Arvan menghela nafas, ia juga merasa menyesal sudah membuat Lea kaget.


"Sorry" cicit Arvan. Jihan dan Lea tidak menjawab.


"Oke, sebagai hukuman karena kalian terlambat hari ini. Gue memutuskan untuk menunjuk kalian sebagai penanggung jawab kelas 2 IPA 1 ketika acara bansos di lakukan" jelas Arvan.


"What? gue gak mau ikut. Pasti acaranya di lakukan di desa terpencil. Gak ada jaringan, gak ada rumah. Ihh gak gak " tolak Jihan.


"Tidak ada penolakan" tegas Arvan.


"Tapi.... " Jihan mendekati Lea, ia meminta Lea agar meminta Arvan membatalkannya.


"kak, bantuin dong"


"Adek gue gak bisa ikut, dia takut gelap. Gue gak bisa jamin dia akan baik baik saja nanti" ucap Lea tanpa menatap Arvan. Ia terlalu gondok pada pria itu.


"Tidak bisa, Jihan tetap akan pergi. Kelas 2 dan Kelas 3 di wajibkan untuk ikut. So, lo harus mempersiapkan diri dari sekarang"


"Eh gak bisa gitu dong! " protes Jihan, namun Arvan tidak mendengarkannya. Pria itu hanya melirik Jihan sebentar, kemudian beralih pada adik sepupunya.


"Kondisikan teman teman sekelas lo nanti"


Arvan keluar dari ruangan OSIS, tak lupa ia menarik Lea ikut bersama nya.


"Eh eh, lo mau bawa gue kemana lagi" berontak Lea. Ia sudah lelah mengikuti apa yang pria ini inginkan. Lea tidak mau di tindas lagi. Tapi, ia juga tidak kuasa menolaknya.


"Lo di sana buat apa? lo gak bakal bisa hilangin fobia gue" gerutu Jihan, ia pergi begitu saja meninggalkan Alviro yang masih termenung menatap ke pergian Jihan.


Setelah dari ruang OSIS, Jihan memutuskan untuk ke toilet. Ia ingin membasuh wajahnya dan kembali menata ulang rambut nya.


Toilet tampak sepi, mungkin karena anak anak pada fokus ke kantin. Jadi, tidak ada yang mau ke toilet 😅.


"Sialan tu Ketos, liat aja nanti. Gue gak akan ngasih lo restu sama kak Lea" gerutu Jihan, ia menatap pantulan wajahnya yang sudah ia basuh dengan air pada cermin besar yang menggantung di dinding dekat wastafel.


"Awas saja lo Arvan!!!!! " geram Jihan


Teg..


Seketika toilet menjadi gelap, tubuh Jihan langsung menegang. Ia tidak bisa melihat apapun sekarang. Nafasnya seketika mulai terasa sesak.


"Kak Lea!!!!! " teriak Jihan kuat.


Blam!!!


Jihan semakin ketakutan, terdengar suara hempasan pintu toilet tertutup, kemudian terkunci.


Jihan tak bisa bergerak, ia memejamkan matanya. Kaki nya mulai gemetaran.


"Bunda!!!!!, Ayah!!!! "


"Tolong!!!!! " teriak Jihan. Ia berusaha meraba rabakan tangannya mencari jalan keluar di dalam gelapnya toilet saat ini. Menggunakan instingnya, Jihan berjalan ke arah pintu.


"Siapa yang sudah mematikan lampunya!!! " teriak Jihan terdengar mulai terisak.


Seseorang dari luar tersenyum manatap kunci toilet di tangannya. Ia juga meletakkan palang toilet rusak di depan pintu toilet. Sehingga tidak ada seorang pun yang datang ke sana. Karena di sekolah ini ada dua tempat toilet. Ada di lantai atas dan Lantai dasar.


Orang itu semakin tersenyum lebar mendengar suara ketakutan Jihan dari dalam. Kemudian ia pergi begitu saja, setelah memastikan tidak ada seorang pun yang melewati toilet.


Sementara itu, Alviro masuk ke dalam kelas dengan tas Jihan di pundaknya. Jihan meninggalkan tas nya di ruang OSIS, jadi Alviro berinisiatif untuk membawakannya ke kelas.


"Loh, kok tas Jihan sama lo. Jihan nya mana? " tanya Ria.


"Gue pikir Jihan gak masuk" timpal Fela. Anak anak wolf yang tadinya sibuk dengan ponsel masing-masing ikut menoleh pada Alviro.


"Jihan belum masuk? " tanya Alviro kaget.


"Belum, sejak jam pertama" jawab Ria.


"Mungkin Jihan ke kantin" celetuk Ringgo. Ia sudah hafal betul, setelah menyelesaikan hukuman dari Arvan, Jihan akan langsung ke kantin.


Babas dan Albi memasuki kelas, mereka baru saja dari kantin.


"Nah buat ayang beb" ucap Babas memberikan botol minuman dingin pada Fela.


Albi juga melakukan hal yang sama, ia sengaja membeli roti bakar untuk Ria.


"Kalian dari kantin? " tanya Alviro.


"Iya, kenapa emang? " jawab Albi santai.


"Kalian lihat Jihan di kantin gak? "


"Gak ada, bukannya Jihan gak masuk? " balas Bahwa Bingung.


"Jihan masuk, kita tadi di ruang OSIS." Jelas Alviro.


Ringgo, Liem dan Eldi menyimpan ponselnya. Mereka fokus ke informasi yang Alviro berikan.


"Trus Jihan nya mana, kenapa lo gak bareng dia? "


"Tadi Jihan keluar lebih dulu, trus gue ngomong sama pak johan sebentar tadi. Gue pikir Jihan udah ke kelas" jelas Alviro bingung.


"Huh, Jihan kemana? " fela dan Ria mulai panik. Mereka takut ada yang berniat mau celana Jihan. Sejak awal mereka masuk ke sekolah ini, musuh sudah memperlihatkan taringnya.


"Gimana ini? " ujar Ria.


"Gue akan cari Jihan" ujar Alviro. Ia meletakkan tasnya dan juga tas Jihan ke atas mejanya. Kemudian Alviro segera keluar dari kelas untuk mencari Jihan.


"Gue ikut! " teriak Liem, di ikuti oleh Eldi dan Ringgo.


Sementara Fela dan Ria mencoba menghubungi nomor ponsel Jihan.


Drrtttt.... Drtttt....


"Ponselnya ada di dalam tas" gumam Albi, ia membuka tas Jihan ketika mendengar sesuatu bergetar di dalam sana.


"Ya ampun Jihan!!! lo ceroboh banget" gerutunya Fela panik. Fela sudah sering mengingatkan pada kedua sahabat nya untuk selalu membawa ponsel nya kemana pun mereka berada, meskipun pergi ke toilet.


"Fela kita ikut nyari yuk" ajak Ria menarik tangan Fela. Mereka berlari keluar dari kelas, di susul oleh Albi dan babas ikut berlari.


...----------------...