
Seperti yang sudah di janjikan, Jihan dan kedua sahabat nya bertemu di cafe Cuanlo. Mereka duduk di meja sudut tempat biasa Jihan tempati.
"Gue baru tahu, ada cafe unik seperti cafe ini" gumam Fela menatap setiap sudut ruang Cafe. Ia merasa kagum banget sama cafe yang terlihat kuno, tapi tidak ketinggalan zaman.
"Dulu waktu kecil, gue sering datang ke sini" ujar Jihan.
"Wahh kenapa lo baru ajak kita ke sini"
"Yah, kan kita baru balik. Belum juga sampai satu bulan" balas Jihan, ia melirik Ria yang sejak tadi fokus dengan ponselnya. Tidak biasanya Ria seperti ini ketika ngumpul. Biasa nya, Ria lah yang paling heboh dan paling aktif mengobrol.
"Sstt" Jihan memberikan kode pada Fela, ia menunjuk Ria dengan lirikan matanya saat Fela menatap ke arahnya.
Fela melirik pada Ria, ia sedikit mencondongkan tubunya mengintip ke layar, ponsel Ria.
"Ria" panggil Jihan. Namun Ria tidak mendengar nya. Fela dan Jihan kembali saling melempar tatapan. Lalu keduanya menatap lekat Ria.
"Albi_Wolf? " ucap Fela membaca nama akun instagram yang sedang DM man sama Ria.
"Ehh... Fela!!! gak sopan tahu. Itu privasi" gerutu Ria cemberut menyadari Fela melihat ke ponselnya. Ria langsung menutup ponselnya dan menyimpan ke dalam saku switer nya.
"Lo DM man, sama Albi teman kelas kita? " tanya Jihan.
Pipi Ria merona, ia mengangguk pelan. Mau tidak mau iya harus jujur. Karena persahabatan mereka tidak boleh ada yang berbohong.
"What??? " pekik Fela kaget.
"Kenapa kaget? dia tampan. Baik lagi" ujar Ria memuji Albi.
"Tapi, mereka terkenal playboy Ria" ujar Fela memperingatkan.
"Yah jangan sampai baper lah, deket kan gak papa" sahut Ria lagi.
"Terserah lo lah, tapi awas aja kalo lo sampe sakit karena dia! "
"Uuuuuu, Fela ku sayang" ujar Ria mencubit kedua pipi sahabat nya. Mereka terkekeh pelan, kemudian melirik ke arah Jihan yang terdiam sembari menatap telapak tangannya.
Tadi Ria, sekarang malah Jihan. Fela menepuk jidatnya pelan. Kedua sahabat nya seperti kesambet setan cinta.
"Ji... "
"Jihan!!!! " panggil Fela dan Ria bersamaan.
"Ihhh Fela!!! kenapa teriak teriak sih!! gue gak tuli tau" Jihan mengusap telinganya yang terasa berdengung.
"Lo sih, melamun! "
"Dah jam 8.30 nih, balik yuk" ajak Jihan mengalihkan pembicaraan.
"Ai baru juga 8.30 ji. Masa dah pulang"
"Aduh Fela, ini tu Indonesia, bukan Amerika" gerutu Jihan, sembari bangkit dari duduknya.
"Eh Jihan tunggu!!! " teriak Ria segera menyusul Jihan. Fela pun ikut berlari menyusul kedua sahabat nya, ia sedikit tertinggal karena membayar bil nya.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, Fela ikut dengan Ria. Karena di rumah Fela tidak ada orang, jadi Fela menginap di rumah Ria.
"Hati-hati Jihan!!!! " teriak Fela pada Jihan yang sudah laju lebih dulu.
"Ihhh tu anak, kenapa sih! "
"Udah ah, yuk cabut" ajak Ria. Keduanya masuk ke dalam mobil, lalu melaju meninggalkan cafe.
...----------------...
Ke esokan hari nya, Jihan bangun terlambat. Lea tidak sempat menunggu nya, karena Lea ada jadwal ujian pagi, jadi Lea harus pergi ke perpus terlebih dahulu untuk mengembalikan buku. Jika tidak, maka Lea tidak akan di beri ijin mengikuti ujian.
"Aduh duhh!!!! Telat!! telat!!! " teriak Jihan, ia terburu buru memasang sepatu dan meminum susu yang sudah di siapkan oleh bundanya.
"Gak sarapan sayang? " tanya Tia.
"Gak bisa bun, Jihan udah telat ini!!! "
"Nah, sekarang baru terasa kan. Kalo kakaknya gak ada. Beneran telat jadinya" ucap Burhan.
"Ihhh ayah, kok malah mengomel sih. Jihan merasa jadi anak tiri" cemberut Jihan. Ia mengecup kedua punggung tangan kedua orang tuanya, kemudian berlari keluar rumah. Jihan meminta supir untuk mengantarnya, ia masih belum mau mengendarai mobil sendiri ke sekolah.
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya Jihan tiba di sekolah. Ia terlambat 5 menit. Untung gerbang masih terbuka.
Tap Tap Tap.
Deru langkah Jihan di lorong kelas terdengar terburu buru. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan mengamati lokasi sekitar, ia takut jika ada anak OSIS yang memergokinya. Setelah semua di pastikan aman, Jihan langsung berlari kencang.
Bruk!
Tubuh Jihan terpental, ia beradu dengan seseorang yang berlari dari arah yang berlawanan dengannya.
"Aduhhhh bokong Gue" pekik Jihan.
"Nah lo, mau kabur kemana kalian? "ucap seseorang. Jihan merasa asing dengan suara itu, sementara Alviro mendengus kesal. Ia sudah hafal dengan semua suara anak OSIS.
Alviro dan Jihan mendongak keatas. Arvan dan Rio menatap penuh arti pada keduanya. Mereka yang tadinya tidak sengaja lewat di lorong itu, malah mendapati dua orang murid terlambat. Memang, insting seorang Arvan tidak pernah meleset.
"Kak Arvan" gumam Jihan kaget. Ia menelan salivanya susah payah. Jika sudah ketahuan begini, apa yang hendak di kata. Jihan sudah pasti mendapatkan hukuman lagi.
"Ini semua gara gara lo! "
"Lah kok gue" sangkal Alviro tidak terima, Jihan malah menyalahkan dirinya.
"Ya siapa lagi. Jika lo tadi gak nabrak gue. Mungkin curut berdua ini tidak akan menangkap gue!! " gerutu Jihan.
"Sudah sudah!. Sekarang ikut ke ruang OSIS! " titah Arvan. Rio langsung bergerak menggiring keduanya menuju ke ruang OSIS. Sementara Arvan kembali berpatroli.
"Eh santai dong, ini manusia, bukan kucing! " tegas Jihan ketika Rio yang dengan santai memukul mereka dengan ranting pohon Matoa. Persis seperti pengembala kambing.
Bukannya berhenti, Rio malah semakin melakukannya. Ia ikut melotot ketika Alviro melotot kepadanya.
Sementara di kelas, pak johan sudah kembali memulai pembelajaran nya. Ia tidak peduli dengan siswa dan siswi yang tidak masuk sekolah. Yang terpenting bagi pak johan, mereka mengumpulkan tugas setiap kali ia memintanya.
"Eh, Jihan kemana yah? kok jam segini belum masuk juga? " gumam Ria.
"Tau ih Ria. Biasanya tu anak gak pernah telat" balas Fela.
"Eh Alviro juga belum masuk" ujar Ria lagi, ia melirik ke arah meja Ringgo.
Peletak!!!
"Awww... " pekik Ria keras. Membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa Ria? "tanya pak johan.
" Tidak papa pak, saya hanya kaget tadi" kila Ria tersenyum kikuk. Pak johan mengangguk pelan, kemudian kembali menghadap ke papan tulis.
"Issss Fela, lo apa apaan sih. Sakit tahu"
"Ya.lo sih, apa hubungannya coba. Alviro sama Jihan yang gak masuk! " gerutu Fela mencibiri Ria yang meringis akibat jitakan dari nya.
"Ya kali aja mereka bolos bareng" balas Ria kesal.
"Boro boro bolos bareng Ria, jumpa aja mereka selalu berantem" Kelu Fela. Ria mengangguk pelan, ada benar nya juga perkataan Fela.
"Ria Fela!!!! silakan keluar!! "
"Eh, tapi pak! " kaget Ria dan Fela. Keduanya tidak sadar jika pak Johan memperhatikan mereka sejak tadi.
"Saya tidak butuh siswi yang berisik di pelajaran saya! silakan keluar sekarang" ucap Pak johan lagi.
"Yahh... " Ria dan Fela menghela nafas gusar, mereka malah kena hukuman dari Pak Johan.
"Pak, saya mau keluar juga" sahut Babas dan Albi bersamaan.
"Keluar!! sekarang! dan jangan harap nilai kalian akan keluar" ujar pak johan tegas. Albi dan Babas duduk kembali ke kursinya.
"Eh, seperti nya tidak jadi pak"
Pak Johan menghela nafas, ia menggeleng melihat tingkah anak IPA satu. Ia menjadi meragukan sistem penilaian sekolah ini. Mengapa anak anak seperti mereka bisa lulus masuk kelas IPA satu, kelas unggulan.
"Kembali perhatikan saya!! " ucap pak Johan sembari memukul papan tulis, seketika mata siswa dan siswi tertuju padanya.
"Ck, dasar Albi dan Babas" kekeh Eldi menggeleng. Wajah kedua sahabat nya itu di tekuk, mereka sangat ingin menemani kedua gadis idamannya di luar.
Sementara itu, Jihan Dan Alviro tengah membersihkan toilet. Mereka di bagi menjadi 2 bagian. Jihan toilet cewe, sedangkan Alviro toilet Cowo.
"Iuu..... Siapa sih yang buang pembalut sembarang!! jorok banget!!! " pekik Jihan jijik. Ia sudah tidak kuat menahan gejolak di dalam perutnya. Toilet cewe biasanya terlihat bersih, tapi hari ini malah terlihat sangat kotor. Jihan jadi meragukan kebersihan sekolah ternama ini.
Sementara Alviro sudah hampir selesai membersihkan toilet cowo. Bukan karena wc nya tidak kotor, tetapi. Alviro terlihat sudah ahli dalam mengerjakan tugasnya. Ini bukan kali pertama nya Alviro mendapatkan hukuman seperti ini.
Alviro mantap setiap sudut toilet, oa harus memastikan toilet ini benar-benar bersih sebelum ia keluar dan melapor.
"Bersih sudah semuanya! " gumam Alviro tersenyum puas. Jika dirinya adalah tukang bersih bersih, maka ia yakin jika dirinya akan mendapatkan gaji yang besar. Karena pekerjaannya yang sangat memuaskan.
Alviro berjalan memasuki toilet cewe, ia harus memastikan Jihan sudah selesai membersihkan toilet cewe. Barulah ia bisa pergi melapor pada anggota OSIS. Mereka harus melapor bersama, jika tidak. Maka mereka tidak akan bisa istirahat sampai pulang.
"Gimana? " tanya Alviro pada Jihan.
"Tuhh, satu itu lagi. Ada beberapa pembalut di situ. Gue jijik! " kelu Jihan dengan ekspresi ingin muntah.
"Alah itu doang!! " ketus Alviro, ia mengambil alih sapu di tangan Jihan, kemudian melangkah masuk ke dalam bilik toilet.
Hanya butuh waktu 5 menit, Alviro sudah selesai membersihkan bilik yang tersisa.
"Nah, udah siap! " ujar Alviro sembari memberikan sapu nya kembali pada Jihan. Gadis itu mengintip ke dalam bilik nya, memastikan apakah Alviro benar-benar sudah membersihkannya atau tidak.
"Wahhh, bersih semua" takjub Jihan. Ia tersenyum senang pada Alviro. Baru kali ini ia menatap Alviro dengan senyuman.
"Apa?? Kamu mau kesini!!! "
Alviro dan Jihan Kaget. Seseorang masuk ke dalam toilet dengan suara bentakan. Seperti nya orang itu sedeng menelfon, karena mereka hanya mendengar satu langkah saja.
Alviro menarik Jihan masuk ke dalam bilik yang Alviro bersihkan tadi. Kemudian menguncinya dari dalam.
"Tidak!!! kamu tidak boleh pindah kesini! "
"Tapi Kak, aku tidak tahan di sini sendirian! " balas seseorang dari sebrang sana.
"Pokoknya kamu tetap di sana, setidaknya hingga bulan depan! " tegas orang itu. Ia tidak menyadari jika di salah satu bilik ada Alviro dam Jihan
Orang itu adalah Mirna, guru muda yang sangat Alviro benci. Meskipun Mirna termasuk guru kiler, namun Alviro tidak pernah menganggap guru itu ada. Bahkan Alviro tidak pernah mengerjakan tugas atau mengikuti ujian tentang materi yang Mirna ajarkan.
Permasalahan antara Alviro dan Mirna sudah tidak rahasia lagi, semua orang sudah tahu. Hanya saja mereka tidak tahu penyebab nya apa.
"Kenapa kita di sini? " bisik Jihan bingung pada Alviro. Tapi pria itu malah membekap mulut Jihan, kemudian mencoba mengintip dari lubang kunci.
Alviro melihat Mirna tengah berkaca di cermin, ia masih berbicara dengan seseorang yang entah siapa itu Alviro tidak tahu. Tapi, Alviro jadi pemasaran. Apa yang wanita itu tunggu hingga bulan depan.
...----------------...