I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 90



Lea dan Arvan duduk di sofa, keduanya terlihat tidak tahu malu bermesraan di rumah orang.


"Jihan, siapa yang datang? " ucap Alviro keluar dari kamar, ia baru saja selesai mandi. Wajah Alviro langsung muram, ternyata yang mengganggu dirinya dan Jihan adalah dua manusia es batu yang semakin membeku karena mereka menyatu.


"Kenapa? " ujar Arvan melirik Alviro.


"Sayang, kenapa kamu membukakan pintu untuk mereka" ucap Alviro, ia duduk di samping Jihan yang menatap pada Arvan dan Lea yang bermesraan.


"Males banget, aku tu gak membukakan pintu, tapi mereka yang me nyelonong masuk"


"Jihan, gue haus. Ambilin minum dong " titah Lea seenaknya.


"Tuh liat, nyebelin kan! " dengus Jihan seraya beranjak ke dapur. Kemudian kembali lagi dengan membawa nampan berisi air putih.


"Nih minum, rumah sederhana kami hanya punya air ini doang" sungut Jihan meletakkan nampan itu ke atas meja dengan kasar.


"Yahh... Sayang, adanya cuma air putih" rengek Lea pada suaminya.


"Yaudah sayang, kita cari minuman lain yah" bujuk Arvan.


Jihan merasa ingin muntah melihat Lea dan Arvan bermesraan. Tidak sesuai dengan tampangnya, Arvan dan Lea yang biasa dingin dan cuek. Aneh ketika mereka manja manja dan bermesraan seperti ini


"Yaudah deh, kita pulang aja " ujar Lea.


Mereka pun pergi begitu saja keluar dari apartemen Jihan dan Alviro. Seakan akan mereka tidak melihat Jihan dan Alviro di ruangan ini.


Setelah kedua manusia tidak tahu malu itu pergi, Jihan dan Alviro saling menatap.


"Maksud mereka apa? " gumam Alviro, Jihan menjawab dengan mengangkat bahu.


Lea dan Arvan hanya numpang promosi kemesraan pada mereka berdua, bahkan mereka tadi sempat berpelukan mesra di depan Jihan sebelum Alviro datang.


Sementara di apartemen sebelah, Lea dan Arvan bertos riah. Mereka berhasil menjahili Jihan dan Alviro. Mereka sengaja datang ke apartemen adik adiknya hanya untuk mengerjai mereka dan pamer kemesraan seperti yang Jihan pikirkan tadi.


"Gimana yah ekspresi Alviro sekarang" gumam Arvan.


"Ahh gue gak berani liat muka dinginnya tadi, gue rasa tadi mereka sedang *** ***"


"Kok sayang bisa kepikiran begitu? " Arvan menjadi bingung.


"Tadi gue lihat sih Jihan gak pake daleman, trus di lehernya ada banyak tanda merah yang aku yakin itu dari Alviro"


"Ya kali milik Aku" sahut Arvan yang langsung dihadiahi cubitan maut dari Lea.


"Aduh sakit sayang, kan bercanda doang" ucap Arvan mengusap perutnya bekas cubitan Lea.


"Emang enak" ujar Lea.


Arvan dan Lea masuk ke dalam kamar, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setelah menggosok gigi dan mencuci tangan. Lea langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi tidur.


Arvan yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerut melihat istri nya sudah berbaring di atas ranjang dengan setengah tubuhnya sudah di selimuti oleh selimut tebal. Arvan berjalan mendekati ranjang dan ikut berbaring di samping istrinya.


"Sayang, kok langsung tidur sih" ujar Arvan, ia menarik bahu Lea yang berbaring miring membelakangi nya.


"Kenapa sih sayang, aku ngantuk nih" Lea kembali ke posisi semula, membelakangi suaminya.


"Dedek nya kangen lo beb, masa langsung tidur sih" ucap Arvan memeluk Lea dari belakang. Ia ikut masuk ke dalam selimut, kemudian menyelipkan tangannya di antara lengan Lea dan perut Lea.


"Ahh.. Beb, aku ngantuk lo" lirih Lea menahan gejolak yang mulai mengusai dirinya.


"Dedek kangen" bisik Arvan di telinga Lea ketika ia mengecup dan menjilatnya. Arvan membuat Lea semakin menjadi jadi, perlakuan Arvan sangat lembut. Sangat sulit bagi Lea untuk menolak Arvan jika sudah begini.


"Ahhh" lenguh Lea, membuat Arvan semakin semangat dan bernafsu. Dengan cepat Arvan membalikkan tubuh Lea menghadap ke arahnya. Lalu, Arvan langsung mencium Lea tanpa ampun. Arvan terus menyerang nyerang titik sensitif Lea. Bahkan ciuman Arvan sudah turun ke leher dan semakin turun ke buah dada.


"Beb.. " lirih Lea serak, suaranya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Nikmati sayang, i'm Yours " Arvan semakin menggila, begitu juga dengan Lea. Mereka sama sama menikmati penyatuan mereka.


...----------------...


Fela dan Ria tiba di cafe Cuanlo, semenjak Jihan menikah mereka selalu terlihat berdua. Bukannya Jihan tidak peduli pada mereka, tapi mereka bisa memaklumi jika Jihan sudah tidak sebebas dulu lagi.


"Sepi yah, kalo gak ada Jihan" lirih Fela sedih.


"Yah, mau bagaimana lagi Fel. Jihan udah nikah, dia tidak bisa seenaknya pergi tanpa seijin kak Alviro" balas Ria.


"Yaudah deh, yuk turun" ajak Fela. Mereka pun keluar dari dalm mobil Fela. Keduanya langsung masuk dan menuju meja biasa yang mereka tempati.


"Hallo ladies, selamat datang di cafe CUANLO" sambut Rendi dengan senyum lebar. Namun, Ria dan Fela tidak menanggapinya, mereka malah dengan lesuh duduk di meja yang berlabel Wolf.


"Loh loh, kok kalian pada lesu gini sih. Dan lihat, kalian datang kesini hanya berdua saja, kemana yang lain? "tanya Rendi.


" Gak tahu deh kak, mereka akhir akhir ini sangat sibuk" jawab Ria.


"Lahh kasian sekali kalian gak di ajak sibuk" ujar bercanda.


"Aduhh kak, kita gak lagi becanda tahu. Orang kita lagi lesuh" gerutu Fela.


"Anjir, itu sih nenek lampir bermuka dua" pekik Ria.


"Kenapa" kaget Fela dan Rendi penasaran.


"Itu lihat, Lidia berpelukan sama om om. oh Anjir, berani bener dia" ucap Ria, Fela pun ikut kaget. Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang ketika melihat siapa yang sedang bermesraan dengan Lidia.


"Fela,, dia-" ucapan Ria terhenti karena Fela sudah beranjak dari duduknya. Ria langsung mengikuti Fela dari belakang, begitu juga dengan Rendi yang masih bingung, namun tetap mengikuti keduanya menghampiri pelanggannya yang lain.


Mata Fela memanas, kedua tangannya mengepal kuat. Emosinya sudah di ubun ubun sekarang.


"Papa!! " lirih Fela dengan suara tertahan.


"Papa? " beo Rendi menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Sama dengan Rendi, pria setengah baya dan juga gadis yang tidak Rendi kenali terlihat kaget.


"Fela" kaget pria tua itu melihat putrinya yang berdiri dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Papa tega yah sama mama!!! " teriak Fela. Ria memegangi tangan Fela agar tidak mengamuk. Terlihat pelanggan yang ada di cafe itu menatap kearah mereka. Namun Fela tidak peduli lagi. Matanya menatap Lidia tajam.


"Gue gak nyangka yah, gadis yang pura-pura polos dan bermuka dua seperti lo, ternyata pelakor juga! " ucap Fela sinis. Ingin rasanya ia menghajar Lidia sekarang juga.


"Ini bukan urusan lo! " bentak Lidia menatap Fela tak kalah tajam.


"Lo gak tahu malu banget yah Lidia" ucap Ria.


"Lo juga! " tunjuk Lidia pada Ria.


Plak!!!!


Tangan Fela melayang ke pipi Lidia dengan sangat keras. Ria tidak menahan Fela lagi, ia membiarkan Fela melakukan apapun untuk melupakan emosinya.


"Fela!! " bentak papa Fela. Fela pun kaget, papanya membentak dirinya karena membela pelacur seperti Lidia. Fela menatap nanar pria yang selama ini ia anggap seperti super hero tanpa sayap. Ia dulunya sangat memuja papanya.


"Papa, jadi ini yang papa bilang lembur, ini yang papa bilang sama mama sibuk dengan client meeting? "


"Ini pa??!!!! " Fela mulai histeris, ia memukul mukul dada papanya yang menahan dirinya agar tidak menyerang Lidia.


"Lo emang gak tahu diri yah Lidia, bisa bisanya lo jadi selingkuhan om om. Emang gak ada apa pria lain yang lebih muda dari papa Fela? " ucap Ria menatap tidak percaya pada Lidia, ia sungguh kaget dengan semua ini.


"Dasar wanita murahan!!! gak punya otak!!! " teriak Fela, ia mendorong tubuh papanya dan menjambak rambut Lidia.


"Fela, lo apaan sih! " teriak Lidia merasakan sakit di kepalanya. Jambakan Fela semakin kuat ketika papanya malah membantu wanita ular itu.


"Sudah cukup Fela! , kita pulang sekarang! " lerai papa Fela, ia menyeret putrinya keluar dari cafe.


"Wah dasar yah anak zaman sekarang, mainnya om om"


"Penting duitnya"


Orang orang yang menyaksikan pertengkaran itu memandang rendah pada Lidia.


"Murahan lo! " ucap Ria, kemudian menyusul Fela yang sudah di bawa oleh papanya keluar.


Rendi menatap wajah wanita yang masih SMA itu dengan seksama, ia merasa pernah melihat wajah itu, tapi dimana?.


"Mirna? " gumam Rendi ketika terlintas nama wanita bejat di otak nya.


"Dia sangat mirip dengan mirna, gue rasa dia adiknya mirna" gumam Rendi semakin yakin.


"Ambil rekaman CCTV kirim ke gue yang kejadian hari ini" titah Rendi pada pelayannya.


"Siap bos" jawab pelayan itu, kemudian pergi melaksakan perintah Rendi.


Sementara itu tiba di luar, Fela menghempaskan tangan papanya yang menariknya keluar.


"Jangan pegang Aku lagi!!! Aku muak sama papa, ternyata mama selama ini menangis karena kelakuan papa!!! mama menangis bukan karena sakit kepala!! Fela benci sama papa!! " Fela berlari kearah mobilnya, kemudian masuk tanpa menoleh lagi kebelakang.


"Fela" panggil Ria, ia menyusul Fela masuk kedalam mobil. Ia mendapati Fela menangis dengan kedua tangannya terlipat di stir mobil dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangan.


"Fela... " lirih Ria, ia mampu merasakan sakit yang sedang Fela rasakan, sehingga tanpa ia sadari Ria malah ikut menangis melihat Fela menangis pilu.


"Ria... Dia bukan papa gue Ria, papa gue gak mungkin melakukan itu kan Ria. Hikss.... Mama gue Ria, siapa pasti sedih banget hikss.. "


Ria menarik tubuh Fela, lalu memeluknya erat. "Lo jaim nangis lagi dong, gue kan ikutan nangis. Udah dong Fela... "


"Tapi gue lagi sedih Ria, kenapa lo malah larang gue" gerutu Fela.


"Yaudah, lanjutin aja" balas Ria, ia juga masih terisak.


"Apaan sih, lo malah becandain gueee..... " rengek Fela semakin mengencangkan suaranya. Detik detik seperti ini, masih saja Ria mengajaknya bercanda.


"Sttt.... Jangan kencang kencang nangisnya huwaaaa, nanti suara cempreng lo hilang!! " ujar Ria merengek.


...----------------...