I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 91



Mentari bersinar terang, cahayanya berusaha menyelinap masuk di cela ceka jendela yang gorden nya sedikit terbuka.


Lea dan Arvan masih menikmati mimpi indah setelah pergulatan panjang mereka semalam. Tubuh Lea terasa sangat remuk, sehingga membuat Lea malas untuk bangun.


Alarm terus berbunyi, ia berusaha untuk membangunkan 2 insan yang saling mencari cari kenyamanan dalam tidur nya.


"Sayang, alarmnya matiin!!! " ucap Lea tanpa membuka mata, ia menggeliat dan beralih posisi menjadi membelakangi suaminya yang masih memeluknya. Lea sedikit kesusahan, karena Arvan memeluknya sangat erat.


Lea merasakan dinginnya AC ketika kulit putih mulusnya terbuka dan membuat aurah dinginnya AC langsung menyentuh permukaan kulit nya. Lea langsung menarik selimut tebalnya dan kembali ke dunia mimpinya.


Sangat beruntung bagi keduanya menikah setelah ujian berlangsung, jadi mereka tidak perlu memikirkan bagaimana lelahnya belajar setelah menikah. Apalagi untuk membuat generasi, Lea dan Advan tinggal menyalakan mesin dan langsung berproses. Tidak seperti Alvaro dan Jihan, mereka masih tidak bisa memproses mesin penambah generasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fela masuk ke dalam kelas, ia datang sedikit terlambat hari ini. Fela tidak pergi ke sekolah bersama Ria, ia mengatakan pada Ria jika dirinya akan berangkat sendiri.


"Fela... " Lirih Ria, Fela duduk di samping nya. Tidak ada kata yang keluar dari bibir Fela, ia hanya menunduk dan meratapi dirinya dan kehidupannya.


"Ada apa ini? kenapa Fela murung? " tanya Jihan heran. Ia melepaskan tangan Alvaro yang menggenggam tangannya dan langsung menghampiri Fela dan Ria.


"Ria, Fela kenapa Ria? " tanya Jihan lagi.


"Panjang Ji, ceritanya. " jawab Ria membuat jihan semakin penasaran.


"Ayang Fela, kok ayang Fela menjadi pendiam gini???? " ujar Babas yang baru saja memasuki Kelas, ia kaget melihat Jihan berdiri di depan meja Fela, dan ia juga kaget melihat wajah muring Fela.


"Ria, emang nya dia kenapa? " tanya Alviro ikut penasaran.


Ketika mereka semua saling bertanya, tiba tiba Lidia memasuki kelas, dan hal itu tak luput dari pandangan Fela.


"Jihan, Alviro! " gumam Fela, ia berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam kearah Lidia. Yang mana Lidia terlihat tidak peduli apapun dan berjalan santai menuju ke bangkunya. Lidia merasa ada yang menatapnya, ia merasa sedikit risih. Lidia pun berhenti dari langkahnya, ia melirik pada Fela dan teman temannya yang kini juga menatap ke arahnya.


"Alviro, ini sekolah milik keluarga lo kan?. Gue mau gadis itu keluar dari sekolah ini! " ucap Fela dengan lantang. Semua siswa siswi yang mendengarnya pun kaget. Mereka menatap kearah Fea dan Lidia. Gadis itu juga bukan main kaget.


"Jihan, kenapa lo bilang seperti itu? " tanya salah satu siswa yang kaget.


"Karena dia adalah Adiknya Mirna! Wanita yang berselingkuh dengan kepala sekolah! Dan bahkan Adiknya tidak jauh berbeda dengan kakaknya" jawab Fela, matanya menatap lurus pada Lidia.


"Kenapa lo bicara seperti itu Fela" sahut Lidia, ia mulai berakting dan meminta belas kasihan dari siswa siswi lain, ia akan berdrama seolah olah apa yang Fela katakan itu adalah salah dan menyakitinya tanpa alasan.


"Fela, gue gak ngerti. Sebenarnya ada apa sih ini" Jihan semakin heran, ia merasa sudah banyak tertinggal beberapa hal penting dari kedua sahabat nya. Di tambah lagi air mata mengalir deras dari sudut mata Fela, matanya memerah, kedua tangannya mengepal.


Di saat ketegangan yang terjadi, seorang siswi pembuat gosip masuk ke dalam kelas, ia tidak tahu bahwa ada pertengkaran di dalam kelas. Ia merasa sangat senang, berita yang baru saja ia bawa sangat sangat hot, jadi ia tidak sabar untuk memberitahu kepada semua orang.


Siswi itu menatap semua orang heran, ia juga baru merasakan suasana tegang di kelasnya.


"Eh Si pelakor" Gumam siswi itu ketika matanya menangkap sosok Lidia. Ucapan siswi itu membuat semua yang ada di sana menjadi terkejut.


"Iya Jihan, anak baru itu tertangkap oleh seseorang di cafe Cuanlo sedang berkencan dengan om om, dan yang memergoki itu adalah anak dari om om ituuu.... " ucap siswi pembuat gosip itu histeris..


Rasya yang mencari Lidia ke kelas IPA satu syok mendengar penuturan pembuat gosip itu.


"Lo kalo ngomong yang bener dong, jangan asal bicara! " serga Rasya.


"Lo gak lihat berita gosip? gak baca berita hot pagi ini. Ya ampunn Rasya, gue bicara yang sebenarnya. Tidak ada gosip yang gue sebarin itu yang palsu, semuanya ori" balas siswi itu.


"Benar, dia sangat benar! " jawab Fela membenarkan apa yang siswi itu bilang Rasya merasa sangat aneh. Geng Jihan memang selalu saja membuat masalah dengan Lidia.


"Kalo lo gak percaya sama gue, tanyain aja sama temen lo! " Ucap Fela.


Rasya berjalan mendekati Lidia, ia menatap lekat pada siswi yang udah berteman baik dengannya.


"Lidia, kenapa lo gak bicara apapun. Kenapa lo membiarkan mereka menindas mu! " desak Rasya.


"Lidia!! Jawab lah!!! "


"Rasya, semua itu tidak benar. Kemarin gue sama paman gue, dia memaksa gue untuk ikut bersamanya ke Amerika, tapi gue menolak. Sehingga terjadi perdebatan yang dikira oleh orang orang kita bertengkar" jelas Lidia meyakinkan Rasya, ia tidak mau kehilangan satu satunya wanita yang mau berteman dengan nya.


"Om? " Fela melangkah mendekati kedua gadis itu.


"Sejak kapan Bokap gue jadi paman lo!!! " lanjut Fela.


"What?? jadi om om itu papa Fela? " Gumam Jihan kaget, pantes aja Fela menjadi sangat murung dan matanya sangat sembab. Jihan sempat mikir jika semua itu disebabkan oleh Babas. Tapi ketika melihat Babas ikut kaget, Jihan jadi membuang pikiran nya itu.


"What what what, jadi om om itu bokap lo Fela? " tanya tukang gosip, fela tidak menjawab, ia malah menatap Lidia tajam.


"Kenapa lo diem aja, kenapa gak membela diri lagi? " Ucap Ria, ia kini sudah berdiri di samping Fela. Mereka semua menatap Lidia penuh tanda tanya.


"Rasya... " panggil Lidia, ia tidak peduli dengan siswa siswi lain, ia hanya peduli dengan Rasya. Gadis itu satu satunya siswi yang mudah di perdaya.


"Jelasin aja Lidia, lo gak perlu bicara apapun! " ucap Rasya, ia menepis tangan Lidia ketika memegang lengannya.


Lidia melirik semua orang yang ada di kelasnya, mereka menatap tidak suka padanya. Meskipun Lidia adalah gadis yang licik, gadis yang tidak memikirkan apapun asalkan rencana nya berhasil. Tapi tetap saja, Lidia adalah anak remaja kelas 2 SMA, ia tetap merasa tertekan dengan situasi seperti ini.


"Lidia!!!! Lidia!! " teriak Rasya. Lidia malah pergi begitu saja dari kelas. Lidia sudah tidak bisa berkata apapun lagi.


"Kejar sana, temen setia lo" ujar Fela pada Rasya, namun gadis itu tidak bergerak. Ia merasa sudah di bohongi sekarang. Rasya tidak menyangka jika Lidia memanfaatkan kebaikannya.


"Lo yang sabar yah Fela, gue baru tahu" Jihan memeluk sahabat terbaiknya.


"Gak papa Jihan, gue gak papa kok" balas Fela. Mereka kembali ke meja masing-masing. Babas juga sudah membubarkan kerumunan.


...----------------...