
Malam pun telah tiba, Jihan menatap layar, ponselnya yang terdapat pesan singkat dari Alviro. Pesan singkat itu hanya berisi tentang alamat tempat mereka balapan, dan juga sepatah kata menyuruh Jihan hati hati.
Pukul 7 malam. Jihan sudah rapi dengan penampilan sederhana nya. Kali ini Jihan tidak mengikat tinggi rambutnya, ia membiarkan rambut nya tetap terurai lurus.
"Widihhhhh, ada bidadari nih" Burhan bersiul, seperti menggoda wanita cantik yang lewat di hadapannya.
"Ih ayah, " seru Jihan menjadi malu.
"Wah, anak bunda cantik banget. Mau kemana? " tanya Tia.
Mereka yang sedang menonton TV di ruang tamu, di kejutkan oleh penampilan Jihan yang berbeda. Lebih ke peminim Jihan malak ini, persis seperti icha.
"Mau kemana lo dek? "
Lea menuruni anak tangga, kemudian berjalan mendekati adiknya.
"Gue mau keluar sama Ria dan Fela kak" jawab Jihan jujur. Lea tidak akan percaya begitu aja, matanya menyipit meneliti wajah Jihan, mencari cari jejak kebohongan di sana.
"Ayah Seneng liat kamu seperti ini" ujar burhan tersenyum, tangannya melingkar di pinggang istrinya.
"Bunda juga, putri bunda terlihat sangat cantik" tambah Tia.
Lea ikut duduk di samping bundanya, mereka bertiga menatap ke arah Jihan. Seperti bakal seorang model yang tengah di beri komentar.
Tenn!!!!! Tenn!!!!
"Nah tu mereka sudah datang" gumam Jihan tersenyum lebar. Lalu berpamitan dengan ayah dan bundanya.
"Jihan pergi dulu yah ayah, bunda"
"Hati Hati sayang"
"Ehh!!! gue kok gak di salim!!! " teriak Lea. Namun Jihan sudah berlari keluar, ia sengaja tidak mau salim dengan kakaknya yang super menyebalkan.
Tiba di luar rumah, Ria dan Fela tak berkedip melihat Jihan yang berjalan anggun ke arah mereka. Lagi-lagi mereka mendapat, kejutan hari ini.
Jihan dengan penampilan casual, tapi lebih terlihat peminim dengan rambut lurus tergerai.
"Ini beneran Jihan sahabat gue? " Gumam Fela bertanya.
"Gue gak terlalu yakin Fela" sahut Ria.
Jihan mencebik, kedua sahabat nya terlalu berlebihan. Jihan hanya tidak mengikat rambut nya saja, tapi mereka sudah kaget seperti itu. Apa jadinya jika Jihan memakai rok atau dress.
"Udah ah cabut, keburu udah selesai entar" ucap Jihan masuk lebih dulu ke dalam mobil Fela.
Jihan duduk di kursi belakang, sedangkan Ria duduk di kursi samping kemudi. Fela dan Ria masuk ke dalam mobil, kemudian berlalu melaju meninggalkan rumah Jihan.
Selama perjalanan, Jihan tidak mengeluarkan suara, begitu juga dengan Ria. Mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Fela mencebik kesal, ia merasa dirinya adalah nyamuk belantara. Kedua sahabat nya malah sibuk dengan urusan masing-masing.
"Oh God!!!! kenapa gue harus punya dua sahabat seperti ini!!! " gumam Fela sedikit lebih keras, membuat Jihan dan Ria menoleh padanya. Mereka berdua saling menatap, lalu kemudian tertawa bersama.
"Sorry sorry, gue terlena balas chat grup kpop" kila Jihan berbohong, padahal dirinya tadi sedang asik membalas chat dari Alviro.
Fela beralih melirik Ria, gadis itu tampak bingung. Ia harus menjelaskan apa.
"Gue..... Lagi.. Balas chat Albi" jawab Ria jujur. Di antara mereka bertiga, Ria lah yang paling tidak bisa berbohong, namun dia juga yang paling peka.
"Udah jadian? " tanya Fela penasaran. Ria menggeleng pelan.
"Belum, kan masih tahap pendekatan. Ya kali buru buru jadian" lirih Ria.
Karena merasa kasihan pada Fela, Ria dan Jihan meletakkan ponsel mereka kedalam tas masing-masing, kemudian fokus ke dunia mereka bertiga.
"Makasih yah guys, setidaknya menjelang gue dapat gebetan" Ujar Fela tak enak. Karena dirinya, teman temannya tidak memainkan ponselnya.
"Gak gak!! itu salah Fela. Seharusnya lo marah sama kita.Jika kita ngumpul dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Maka percuma kita ngumpul! " jelas Jihan.
"Maaf yah guys, gue gak bakal ulangin lagi, suer" ujar Ria merasa bersalah.
"Gue juga. " salht Jihan.
"Uuuuuu Sosweet banget sihhh" ujar Fela terharu. Mereka mengulurkan tangan, kemudian saling menggenggam satu sama lain. Fela tetap fokus ke jalan, namun tangannya tetap ikut menggenggam tangan Ria dan Jihan.
"Sahabat sampai mati!!! " ucap mereka kompak.
...----------------...
Alviro menuruni anak tangga, ia melewati ruang keluarga begitu saja. Alviro tidak melirik Papa nya yang sedang duduk bersama Arvan.
"Kemana lagi kamu? " tanya Brian tegas. Membuat Alviro dengan malas menghentikan langkah kakinya. Alviro menghela nafas, berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak teeoancy ketika papanya ceramah.
Perlahan Alviro berbalik menghadap pada papanya yang masih duduk di sofa bersama Arvan.
Arvan hanya duduk di sofa mengamati perdebatan yang sebentar lagi akan di mulai. Sebenarnya Arvan kasian dengan Alviro, namun ia tidak bisa membela Alviro di hadapannya. Arvan akan mencoba memberikan pengertian kepada Papanya ketika Alviro sudah pergi.
"Keluyuran!!! keluyuran!!! " ucap Brian berulang ulang.
Brian bangkit dari duduknya, ia mendekati putranya yang menundukkan pandangannya, Alviro tidak menatap wajah papanya.
"Al suntuk di rumah" jawab Alviro sekenanya. Ia masih setia menunduk, tidak berani menatap wajah papanya.
"Suntuk??? apa gunanya kamu papa sekolah kan!!! jika suntuk, belajar!!! biar otak kamu gak mikir keluyuran terus!! "
Alviro tidak menjawab, ia memilih untuk diam. Membiarkan papanya ceramah sampai selesai, setelah itu baru dia kembali pamit.
Leni yang tadi berada di kamar, langsung ke luar dan berjalan menuju ke ruang tengah rumahnya, ketika mendengar suara kegaduhan suaminya yang sampai terdengar ke dalam kamar.
"Ada apa ini pa? "tanya Leni menatap keduanya.
"Ini. lihat anak mama. Kerjaannya keluyuran saja terus!! " tunjuk Brian pada Alviro. Leni menoleh pada putranya, Ie mengusap pipi Alviro penuh kasih sayang.
"Sayang, kamu mau kemana memangnya? " tanya Leni lembut.
"Al mau ngumpul sama temen mah." jawab Alviro pelan. Ekspresi nya masih tetap sama, datar. Seperti tembok tanpa warna.
"Al pamit" ucap Alviro, lalu pergi begitu saja.
Brian menghela nafas,sikap Alviro benar benar membuatnya kehabisan akal, ia lebih suka Alviro membantahnya dari pada mendiamkan seperti itu. Sejak malam itu, ketika Brian tidak bisa mengendalikan dirinya. Sehingga tanpa sadar Brian menampar pipi Alviro.
Sejak saat, Alviro tidak pernah melawan. Ia hanya diam mendengar papa nya berceloteh, namun apa yang ia pikirkan tetap ia lakukan.
"Dasar anak nakal! " gumam Brian menatap ke pergian putranya.
Brian kembali duduk di sofa, ia melirik Arvan yang sibuk dengan ponsel nya.
"Kamu juga, bukannya belajar. Tapi malah sibuk main ponsel! " omel Brian menepuk paha Arvan. Membuat si empunya paha kaget.
"Aduh papa, walaupun Arvan main ponsel, belajar tetap lanjut kok. " Balas Arvan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya. Sesekali jari jari Arvan menari nari di atas layar ponselnya ketika sebuah pesan masuk.
"Papa juga, kerjaan nya ngomel......... Terus. Gimana anak mau berpikir. Setiap hari di ceramahi, bukannya ngomong baik baik, tapi malah langsung marah! " gerutu Leni menatap kesal pada suaminya.
"Mama jadi mikir mikir kalo papa minta jatah" sambung Leni, ia duduk di sofa seberang Brian dan Arvan duduki.
Jari Arvan yang sedang mengetik di layar ponsel nya menjadi terhenti. Bisa bisanya kedua pasang suami istri ini membicarakan soal jatah di hadapan pria muda seperti Arvan.
"Jangan lah ma, masa papa puasa lagi" rengek Brian, ia berpindah ke sebelah istrinya. Tampang sangarnya sudah hilang, apalagi melihat wajah kesal istri nya. Bisa bisa gak dapat jatah sebulan.
"Ma pa, gak usah khawatir yah. Alviro hanya ngumpul sama teman temanya dan juga sama Jihan" ujar Arvan memberitahu keduanya. Aksi manja manja Brian jadi terhenti. Pandangan keduanya tertuju pada Arvan.
"Jadi mereka sudah dekat? " tanya Leni penasaran. Arvan mengangguk menjawab pertanyaan mamanya. Sesuai gosip yang telah beredar, banyak yang mengatakan jika Alviro dan Jihan sudah jadian. Ada pula yang mengatakan jika Alviro sudah jinak. Arvan tertawa geli membaca komentar komentar pada sebuah postingan yang mengunggah foto Alviro tengah menggendong Jihan.
"Jihan itu siapa? " tanya Brian.
"Dia itu anaknya Tia pa, putri bungsu Brian" jelas Leni.
"Yang sekolah di Amerika? "
Leni mengangguk, ia merutuki dirinya karena lupa memberitahu pada suaminya.
"Pa, kemarin mama menggeledah kamar Alviro. Terus mama dapat foto tentang gadis yang terus Alviro sebut ketika tidur" jelas Leni.
Brian mendengarkan istrinya bercerita dengan serius, sejujurnya ia juga penasaran. Sementara Arvan yang sudah tahu informasi nya, malah iseng mengirim pesan lewat whatsapp pada Lea.
"Trus kan pa, ternyata icha itu Jihan. Entah mengapa, tapi itu kenyataan nya. "
"Trus, sekarang mereka bertemu. Apa tidak berkelahi? " tanya Brian semakin penasaran.
"Berkelahi.Taoi bukan karena masa lalu. Mereka saat ini tidak saling mengenal pa. Makanya mama takut, Jihan kabur lagi. Kasian Tia nanti"
"Ma, tadi Lea cerita sama Arvan. Katanya permasalahan Jihan dan Alviro hanya kesalah pahaman. Sehingga mereka cekcok dan membuat Jihan kabur ke Amerika. Hal itu pula yang merubah gadis lemah gemulai menjadi ganas dan dingin" sahut Arvan menjelaskan panjang lebar.
"Nah lo, bahaya ini. Jika mereka mulai sadar satu sama lain" ujar Brian.
"Nah itu dia pa. Takutnya Jihan yang kabur. Kalo Alviro, seperti nya engga. Soalnya mama dengar ngigau nya Alviro. Anak kita menyesal, dan mengharapkan Icha kembali. "
"Trus gimana dong? "
Leni dan Arvan menggeleng pelan, mereka juga bingung. Jalan satu satunya adalah mengikuti saran Lea.
"Kabar gembira nya, Alviro sudah tidak bolos semenjak Jihan masuk. Tapi hari ini dia bolos bersama Jihan" jelas Arvan lagi, ia baru saja membaca laporan tentang rekap absen siswa siswi di sekolah nya.
Leni terlihat sangat senang, ia berharap putranya kembali seperti dulu. Tapi, kini bukan itu ambisi Leni. Ia malah berharap Jihan dan Alviro kembali dekat dan menikah Sehingga keluarga nya dan Tia semakin erat. Bukan hanya sekedar persahabatan saja lagi, tapi sudah ada ikatan antara Alviro dan Jihan.
...----------------...