
Malam yang indah, bintang berkelap kelip menghiasi langit malam. Jihan tersenyum ringan, menatapi langit malam yang terlihat sangat indah, seakan mewakili hatinya yang sedang bahagia.
Jihan sudah tahu sekarang, apa yang selama ini hilang di hatinya. Meskipun tak semua ia tahu, setidaknya, dengan kembali bersama keluarga nya, ia mampu merasakan hangatnya kehidupan.
Bukan berarti Jihan di Amerika tidak bahagia, ia juga sangat bahagia hidup bersama aunty Rima. Tetapi jauh di hatinya, ia merasa lebih bahagia jika bersama keluarga nya seperti saat ini. Jihan baru sadar, keputusan kabur ke Amerika adalah keputusan yang salah.
"Jihan!!!! "
Suara teriakan Lea membuyarkan lamunan Jihan, gadis itu menghela nafas gusar menatap kakaknya yang sudah berdiri di hadapan nya.
"Aduh kak Lea, bisa gak sih. Gak usah teriak teriak manggil nya"
"Aduhhh Jihan, lo harus nemenin gue ke cafe Cuanlo." Pinta Lea sembari menarik tangan Jihan agar segera bangkit dari duduk nya.
"Malas" tolak Jihan.
"Ihh Loh harus temenung Gue Jihan!! gak pake nolak! " ucap Lea maksa, ia kembali menarik Jihan dan menyeretnya masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian.
"Aduhh kak, gue gak mau pergi... Lo kok maksa banget sih" gerutu Jihan. Namun ia tetap bergerak menuju kamar mandi. Walaupun mulutnya tak berhenti menggerutu.
"Gue tunggu di bawah!! " teriak Lea, kemudian berlari kegirangan keluar dari kamar Jihan.
Cafe Cuanlo, sedang mengadakan konser amal. Rendi sengaja setiap akhir bulan mengundang artis artis ternama untuk mengisi acara di cafe nya. Rendi mengadakan acara ini adalah untuk mengumpulkan donasi se iklas nya dari para penonton, dan uangnya akan ia sumbangkan pada beberapa panti asuhan yang membutuhkan dana.
Jihan dan Lea sudah berada di dalam mobil, mereka pergi ke cafe Cuanlo di antar oleh supir. Seperti yang ayah nya arahkan. Jika keluar malam dan sedikit jauh dari rumah, maka harus di antar oleh supir. Apalagi yang pergi adalah kedua putri kesayangan nya.
"Dih, Senyum dikit napa sih dek" ucap Lea melirik Jihan yang sejak tadi memanyunkan bibirnya.
"Emangnya apa sih yang kakak ingin lihat di cafe itu, besok kan juga bisa"
"Gak bisa dek, harus pergi malam ini" sahut Lea tersenyum lebar.
"Kenapa? ada pacar kaka?.. " ucap Jihan ngasal.
"Tinggal suruh aja kerumah buat jemput lo, ngapa sih" kelu Jihan, lama ke lamaan kesabaran Lea pun semakin menipis.
"Aduhhh Jihan.... Lama lama lo banyak omong yah. Mau gue Laban mulut lo, iya? "
"Lah, lo yang buat gue kesal. Orang pengen santai, malah di ajak ke cafe. "
"Lo gak tahu gak,di sana sekarang bakalan ada konser amal" jelas Lea berbinar, ia tidak sabar bertemu dengan idolanya.
"Siapa sih artisnya? "
"Loh gak akan percaya Jihan, malam ini special artis Korea. Mereka akan mendatangkan Dong kyungsoo dan juga IU. Gilak gak tu? "
"What?? kak Rendi seberani itu??? "
"Kaget lo kan, makanya gue maksa banget buat ajakin lo. Ini tu rahasia tau. Mereka akan kasih surprise. Fans Do kyungsoo aja kagak tahu. " jelas Lea lagi.
Memang benar, Jihan adalah fans berat Do kyungsoo, dan dirinya juga termasuk fans fanatik.
"Lo seriusan kak?? gak bohong kan? " Jihan menggigit bibirnya, antara percaya dan tidak percaya.
Tak berapa lama kemudian, Lea dan Jihan tiba di Cafe Cuanlo. Supir sudah membuka kan pintu untuk majikannya.
"Silakan turun nin" ucap supir.
"Ayok Jihan, udah ramai tuh" desak Lea tidak sabaran.
"Sabar dong kak" balas Jihan, ia mengambil ponselnya yang terjatuh di bawah jok mobil.
"Terimakasih pak" ucap Jihan pada supir.
Jihan menatap cafe Cuanlo sudah sesak di penuhi oleh pengunjung yang menanti nantikan kejutan apa lagi yang Rendi, selaku pemilik cafe berikan pada mereka.
Jihan mengikuti langkah cepat kakaknya, mereka berjalan melewati kursi kursi yang sudah di susun serapat mungkin. Tidak ada lagi meja meja yang biasa tersusun rapi.
"Kita duduk di depan!! " ucap Lea menarik tangan adiknya agar berjalan lebih cepat. Keduanya duduk di kursi VIP yang selalu Rendi sediakan untuk Lea, karena ia tahu Jihan ada di Indonesia, maka Rendi sengaja menyediakan dua kursi kosong di barisan paling depan.
Tepat waktu, Lea dan Jihan datang pada waktu yang pas. Acara seketika langsung di mulai tanpa mereka merasakan tidak enaknya menunggu acara di mulai.
Seorang host naik ke atas panggung, bukan, dia bukan host, tetapi Rendi. Pemilik Cafe itu sendiri yang memimpin acara berjalan malam ini.
"Halo semuanya!!!! "
"Halo!!!!! " sahut para penonton penuh semangat.
"Sudah siap melihat kejutan dari Cuanlo Cafe????? " teriak Rendi penuh semangat.
"Sudah!!!!!!! "
"Baiklah, Sekarang mari kita sambutttt, bintang tamu kita!!!! "
Semua penonton menahan nafas menantikan ucapan Rendi selanjutnya. Mereka sangat menanti nantikan acara ini.
"Do Kyunggg..... Sooo....... "
Seketika cafe Cuanlo di penuhi oleh teriakan histeris dari para penonton. Semakin histeris ketika Do kyungsoo muncul di atas panggung.
"Annyeonghaseyo, Choneun D. o imnida" sapa D. o kepada fans nya.
"Gila!! ini benar-benar kejutan yang spektakuler!! " teriak mereka yang selalu menanti nantikan acara cafe Cuanlo.
"Oppa!!!!!!! "
"Oppa!!!! " teriak Lea dan Jihan ikut berteriak bersama penonton lain. Tidak sia sia ia ikut bersama kak Lea, meskipun secara terpaksa.
...----------------...
"Icha!!!! Icha!!!! "
"Alviro, bangun nak! hei... "
"Hei... Sayang"
Leni terus menggoyang goyangkan tangan Alviro agar segera terbangun. Leni yakin, Alviro sedang mimpi buruk. Terlihat dari keringat yang mencucur di kening, pelipis dan juga baju Alviro basah oleh keringat.
"Mama.. " lirih Alviro kaget melihat mamanya ada di dalam kamar nya.
"Kamu mimpi buruk nak? " tanya Leni khawatir.
Alviro tak menjawab, nafas nya tersengal tak beraturan. Entah mengapa mimpi itu datang lagi, padahal sudah setahun lebih Alviro tidak di hantui rasa bersalah itu lagi.
"Minum dulu nak" ucap Leni meraih segelas air mineral yang selalu tersedia di atas nakas samping ranjang Alviro.
"Makasih ma" sahut Alviro menerima gelas air itu, kemudian di teguk habis oleh Alviro. Jantung Alviro masih berdetak tak beraturan, meskipun nafasnya sudah mulai teratur.
"Al mandi dulu ma" ucap Alviro sembari bangkit dari ranjang. Ia berjalan memasuki kamar mandinya.
Sementara Leni terdiam di tepi ranjang putranya sembari berpikir siapa Icha? , ia yakin, perubahan sikap Alviro ada hubungan dengan nama yang Alviro sebut sebut di dalam tidur nya.
"Astaga!!! " pekik Leni. Ia segera berlari keluar dari kamar Alviro.
"Eh mama sudah pergi? " gumam Alviro bingung, mama nya sudah tidak ada di kamar nya ketika ia kembali keluar dari kamar mandi. Alviro lupa mengambil handuk yang selalu ia gantung di samping lemari pakaian nya.
Setelah mengambilkan handuk, Alviro kembali ke kamar mandi dan menyelesaikan acara mandinya.
Ddrrrrrrr.....
Drrrrrtttt......
Ponsel Alviro terus berdering, namun tak terdengar oleh pemilik nya. Alviro terlalu asik mandi, tubuhnya yang basa oleh keringat, terasa sangat segar ketika terkena siraman air dari shower.
Drrrttt........
Drrrtttt.......
"Siapa sih, malam malam begini ganggu gue! " gerutu Alviro ketika keluar dari kamar mandi, mendapati ponselnya berdering keras.
Terlihat di layar ponsel nya sudah tertera 25 panggilan gak terjawab.
"Buset... Udah kaya pacar yang lupa di apelin aja ni bocah" Gumam Alviro.
Nama Albi terpampang jelas di layar ponsel Alviro. Entah hal yang kentut atau hanya sekedar iseng, Albi menghubungi nya.
"Hallo!! " ujar Alviro ketika menghubungi Albi kembali.
"Akhirnya lo angkat juga panggilan dari gue"
"Ada apa? " tanah Alviro tanpa basa basi.
"Pake pembukaan kek, malah langsung garang gitu boy"
"Udah buruan!!! ada apa. Atau gue matiin ni! " ancam Alviro, seketika Albi langsung histeris.
"Ehhh iya iya iyaaaa..... "
"Ada yang nantangin main basket tuh" ucap Albi.
"Gak selera gue!! "
"Tapi Al, kita dah terlanjur menerima nya" balas Albi lagi.
"Apa hadiahnya? " tanya Alviro, ia akhirnya terpaksa ikut dengan teman temannya bertanding main bola basket.
"5% saham di perusahaan ayah nya" jawab Albi.
Kening Alviro mengerut, siapa yang berani menantang ketua serigala ini.
"Siapa orang nya?? "
"Musuh Abadi lo" jawab Albi lagi. Alviro mengangguk mengerti, lalu memutuskan panggilan secara sepihak.
"Huh, seperti nya dia masih punya malu untuk kalah dari gue lagi" kekeh Alviro tersenyum menyeringai.
...----------------...