
" Ria, Fela" Panggil Lea. Kedua gadis itu pun berbalik. Tersenyum pada Lea yang berjalan cepat menghampiri mereka.
"Kak Lea" sapa Ria.
"Loh, kalian kok berdua aja? Jihan mana? " tanya Lea, ia tidak melihat adiknya di mana pun. Lea juga baru tiba di sekolah, ia tidak tahu insiden yang membuat Jihan berada di ruang UKS.
"Iya kak, Jihan.. Hm. Jihan" Ria melirik Fela, ia ragu menjawab apa.
"Jihan sama Alviro kak" jawab Fela cepat.
"Ohh... Baguslah, gue pikir kalian ninggalin dia sendirian"
"Oh gak kak, gak mungkin kita biarin Jihan sendirian, apalagi ada si Lidia di sekolah ini" jawab Fela keceplosan.
"Waduh.. " Fela menutup mulutnya.
"Lidia? siapa dia? ada anak baru kah di sekolah kita? " tanya Lea kaget.
"Iya kak, di sekolah memang ada anak baru" jawab Ria tercengir.
"Lalu, apa hubungannya dengan Jihan? apa dia terlibat masalah dengan Jihan? " Lea menatap Fela dan Ria penuh selidik, ia mulai menari kecurigaan pada kedua adik kelasnya ini. Lea yakin mereka menyembunyikan sesuatu.
"Gawat ini... " batin Ria.
"Kalian gak nyembunyiin sesuatu kan dari kakak? "
"Umh... Anu kak, uhm... " Ria ragu.
"Kasian juga yah si Lidia, baru Sebulan di sini udah jadi korban gitu"
"Tapi kan, mereka baik banget. Kok malah sekarang gitu yah"
"Mungkin mereka ada something"
Ria dan Fela saling melirik, kemudian memejamkan mata pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka yakin, kak Lea pasti akan mengamuk.
"Sekarang kalian mau beralasan apa lagi? " desak Lea, sekarang ia sudah sangat, yakin. Kedua teman Jihan berbohong padanya.
"Sebenarnya,,, " Ria masih tidak sanggup menceritakan nya.
"Sebenarnya si Lidia itu adiknya bu Mirna. Dia juga sudah membuat kaki Jihan sakit dan sekarang berada di UKS. "jelas Fela.
" Apa? "
"Kok kalian gak bilang dari awal!! " bentak Lea marah. "Nyesel gue percaya sama kalian! "
Lea pun berlalu dari hadapan Ria dan Fela.
"Kak Lea!!!!! " panggil Ria.
"Yah, gimana ini? kak Lea pasti marah banget" gumam Ria.
"Udah gak papa, nanti juga bakalan baik lagi" jawab Fela menenangkan Ria. Mereka pun pergi ke kelas.
Sementara itu Lea masuk ke dalam UKS, ia melihat Jihan duduk di brankar di temani oleh suaminya.
"Jihan! "
"Kak Lea" sahut Jihan. Ia kaget melihat kakaknya ada di sini.
"Kakak kok tahu gue ada di sini? "
"Siapa yang udah lakuin ini sama lo? hm!! " ucap Lea memeriksa kaki Jihan.
"Aduh, sakit tahu kak" sungut Jihan, Lea terlalu kuat memegangi kakinya.
"Sorry" lirih Lea.
"Maaf kak, gue teledor. Ini terjadi ketika gue dan teman teman gue gak ada di kelas" ucap Alviro merasa bersalah.
"Gak kok, lo gak salah. Gue udah denger cerita nya dari Ria dan Fela" balas Lea.
"Lo itu harus hati hati. Banyak musuh yang mengincar kita. Apalagi Ayah menang tender, perusahaan ayah mendapatkan proyek yang di minati oleh berbagai perusahaan. " jelas Lea. Sebenarnya itulah tujuannya datang ke sekolah, ia ingin mengingatkan Jihan dan juga Alviro.
Brian dan Burhan bekerja sama untuk mendapatkan proyek itu, dan mereka berhasil. Sebelum setengah dari proyek itu berjalan, Keluarga Rafier dan Nugrah harus berhati-hati. Karena proyek masih bisa jatuh ke perusahaan lain jika proyeknya tidak berjalan sesuai yang mereka inginkan.
"Tenang aja kak, gue pasti akan jaga Jihan " kata Alviro.
"Terimakasih"
"Ya sudah, gue mau cari suami gue dulu. Bawa saja Jihan pulang, nanti gue ijinin ke kepala sekolah" ucap Lea, lalu ia keluar dari ruang UKs.
"Aku makin bingung deh sama hidup ini. Kenapa semakin banyak ancaman yang mengincar kehidupan bahagia ku. " Lirih Jihan.
"Sayang.... Kamu gak usah mikirin itu yah, sekarang kamu istirahat aja. Setelah dokter memeriksa kamu lagi, aku akan membawa kamu pulang" ujar Alviro lembut.
"Tapi, sebentar lagi bakalan ujian. Aku gak mau ketinggalan materi" ujar Jihan.
Alviro tersenyum, ia mengusap kedua pipi istrinya lembut.
"Aku yakin, otak cerdas kamu gak akan pernah membiarkan kamu kehilangan materi. Jihan ku akan menjadi yang terbaik nantinya"
Jihan tersenyum malu, Alviro benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Sejak kapan pintar gombal? "
"Loh kok gombal, itu beneran loh. Aku berkata yang sebenarnya" jawab Alviro.
...----------------...
Kelas 2 IPA 1 di kejutkan oleh kedatangan Lea ke dalam kelas mereka. Tanpa mengucapkan kata, Lea langsung masuk dan menghampiri meja Ringgo.
"Lidia! " Suara Lea menggema di dalam kelas itu, semua mata langsung tertuju padanya.
"Mampus, Kak Lea pasti mengamuk" gumam Ria menggoyang goyangkan tangan Fela yang ada di samping nya.
Suasana kelas mendadak menegangkan, anak anak wolf saja tidak ada yang berani mencegah aksi Lea. Mereka hanya menonton dari bangku masing-masing.
"Alamak" gumam Babas.
Anak anak lain pun mulai berbisik bisik, mereka mengira jika Jihan mengadu pada kakaknya.
"Pasti Lidia bakalan di tampar"
"Di maki tu"
Lea melirik siswa siswi yang berbisik tentangnya. Lidia pun menatap kaget pada Lea, ia tidak kenal dengan gadis yang mengenakan seragam sama dengan dirinya.
"Siapa dia? " pikir Lidia.
Di luar dugaan, Lea malah mengulurkan tangan padanya.
"Hai, gue Lea. Senior di sekolah ini" ucap Lea memperkenalkan dirinya.
Lidia menatap uluran tangan Lea, ia menerka nerka apa tujuan Lea sebenarnya. Dari cara Lea memanggil namanya, dan cara pandang Lea ketika awal masuk ke kelasnya sungguh sangat berbeda.
"Kenapa? lo gak mau kenalan sama gue? jarang loh, gue mengajak seseorang berkenalan" ucap Lea menyunggingkan senyum manisnya.
Semua orang tercengang, ini bukan Lea yang sebenarnya. Sulit di tebak, Lea malah bersikap baik pada Lidia.
Ragu ragu, Lidia menyambut uluran tangan Lea.
"Lidia kak" balas Lidia tersenyum takut.
Lidia menarik kembali tangannya, namun Lea tidak melepaskannya. Senyum nya semakin melebar, namun tatapan matanya sulit di artikan.
"Kak.. " lirih Lidia.
"Oh, maaf" lirih Lea masih dalam senyuman.
"Oh iya, gue punya adik lo di kelas ini" ujar Lea sengaja.
"Benarkah? " sahut Lidia. 'Tapi gue gak peduli'batin Lidia mendongkol.
"Namanya Jihan, dia adik kesayangan gue" Lea terus berbicara tanpa harus Lidia bertanya lebih dulu. Ia tidak perduli dengan anak anak yang semakin berkumpul memenuhi seisi kelas IPA 1.
"Oh dia" sahut Lidia. Ia baru tahu jikaJihan memeiliki kakak.
"Lo pasti sudah kenalan kan,sama adik gue? " tanya Lea.
"Tentu, kita kan sekelas" jawab Lidia.
"Seperti nya kak Lea belum tahu. " bisik siswi yang menonton.
"Gue yakin ini cara kak Lea membalas" sahut yang lain. Lea mendengar bisikan mereka, namun bukan itu titik fokusnya.
Brak!!!
Seketika seisi kelas menjadi hening, mereka syok mendengar pukulan keras Lea di atas meja Lidia.
Mata anak anak wolf terbelalak melihat aksi Lea yang terlihat sangat mengerikan. Senyum manis sudah tergantikan oleh senyum mengerikan.
"Apa yang kak Lea lakukan? " cicit Lidia ketakutan.
"Kak Lea" lirih Rasya. Ia tidak tahan lagi melihat Lidia di permainkan oleh Lea. Ia sangat kasihan padanya.
"Aduhh maaf yah, gue pasti membuat lo ketakutan" lirih Lea. Ekspresi wajahnya kembali melunak, ekspresi mengerikan kembali berubah menjadi ekspresi malaikat.
"Huh?? " mereka kembali di kagetkan oleh sikap Lea.
"Kak Lea harusnya gak bersikap seperti itu" ujar Rasya, ia berdiri di samping Lea dengan ekspresi kecewa. Rasya adalah salah satu junior Lea yang mengagumi Lea.
"Sorry yah Rasta, lo gak bakalan tahu. So berhenti untuk ikut campur! " ujar Lea.
"Lidia itu anak baru di sini, kakak gak boleh membully dia seperti ini. Apalagi hanya karena tadi Lidia tidak sengaja melukai Jihan! " ucap Lidia panjang lebar.
Lea menghela nafas, ia membelai rambut rasya penuh kelembutan. Bagi Lea, Rasya adalah adik kelas yang cukup menyenangkan di ajak mengobrol. Tapi, jika sudah begini. Lea tidak bisa untuk tetap lembut padanya.
"Lo itu polos, dan lo itu bodoh. Jadi, lo harus belajar untuk lebih pintar lagi. Jangan sampai gue mem blacklist lo dari orang kepercayaan gue! " ucap Lea tersenyum miring.
"Gue yang kecewa sama lo kak, gue pikir lo senior yang paling baik dan pintar" balas Rasya.
Sementara Lidia, ia tertawa di dalam hatinya. Rasya memang sangat bodoh. Ia sudah termakan oleh ucapan ucapannya kemarin.
"Terserah, gue gak peduli! " balas Lea.
Lea beralih menatap ke semua siswa siswi yang berkerumun menonton dirinya sejak tadi.
"Untuk kalian semua. Jika kalian ingin kasian pada dia! silakan, gue gak akan melarang. Perlu untuk kalian berpikir secara cermat." ucap Lea keras, ia melirik Lidia yang hanya menunduk dengan aktingnya si gadis lemah dan polos.
"Kalian sekolah di sekolah ternama, terunggul dari sekolah sekolah lain. Gue yakin, otak kalian juga berkualitas dalam berpikir. " sambung Lea.
"Terkhusus buat lo! " tunjuk Lea pada Rasya. Kemudian Lea pergi begitu saja dari sana.
Seketika ruang kelas IPA 1 terasa seperti pasar, mereka membicarakan apa yang baru saja Lea ucapkan. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.
"Woy, bubar!!!! " teriak Babas, ia menjalankan tugas sebagai ketua kelas. Walaupun sebenarnya sudah telat. Seharusnya Babas sejak tadi melakukan hali. Tapi dia tidak berani melakukan hal itu pada Lea.
...----------------...