
Cahaya menyilaukan terbit di salah satu jendela yang membuat mata seorang gadis memicing. Ia penasaran pada cahaya itu, namun ia juga tidak bisa melihat nya karena terlalu silau.
"Cahaya apa itu? " gumam nya.
Gadis itu kaget, ia melihat sepasang wanita dan pria muncul di balik cahaya yang menyilaukan mata. Lama kelamaan wajah orang itu terlihat sangat jelas.
"Momy.....Dady.... " Gadis itu mulai terisak, kaki nya bergetar namun di paksa untuk melangkah mendekat pada sepasang suami istri yang tersenyum padanya.
"Lidia, putri momy"
"Momy.... " Mereka langsung saling berpelukan.
Yah, gadis itu adalah Lidia. Gadis yang saat ini memeluk kedua orang tua nya yang sudah lama meninggalkan nya.
"Lidia sayang, Dady bangga sama kamu.
Apa yang kamu lakukan memang sudah sangat tepat" ucap pria yang di panggil dady oleh Lidia.
"Hiks.. Hiks... Akhirnya kalian menjemput ku" kata Lidia terisak.
Namun kedua orang tuanya menggeleng pelan sembari tersenyum.
"Tidak Lidia, ini belum saat nya. Masih ada yang harus kamu lakukan. " kata momy Lidia.
"Iya nak, ada yang sedang menunggu kamu di sana.. " sambung dady Lidia menunjuk ke arah belakang Lidia.
Lidia pun berbalik untuk melihat siapa yang sedang menunggu nya. Alis nya berkerut, ia melihat Zidan tengah menunduk dengan air mata mengalir pelan.
Lidia menggeleng pelan, "Momy aku hanya ingin ikut bersama mu" ucap Lidia kembali berbalik menghadap pada kedua orang tuanya.
Namum, mereka sudah tidak ada.
"Momy!!! Dady!!!! " melirik ke sana kemari di ruang hampa tanpa apapun yang ada di sana. Ruangan itu terlihat putih bersih.
Lidia menoleh pada cahaya tempat orang tuanya muncul. Cahaya itu masih ada.
"Momy!!!!! " teriak Lidia berlari ke arah cahaya yang perlahan memudar. Lidia melihat Dady dan Momy nya berdiri sembari melambaikan tangannya dengan senyum hangat.
"Kami menyayangi mu! " teriak Dady nya.
"Tidak!?! aku ingin ikut bersama kalian!!! "
"Momy!!! Dady!!!! "
Lidia berhasil sampai ke cahaya itu, namun tiba-tiba cahaya itu menghilang.
"Momy... hikss... Hiks... Aku ingin ikut.
Jangan tinggalkan aku... " Lidia terhenyak di lantai, ia menangis dengan kedua tangannya memeluk lutut nya sendiri.
"Ada yang sedang menunggu mu sayang" Lidia menoleh pada kaca yang memperlihatkan seseorang yang sedang menunduk dengan kedua bahu nya bergetar.
"Zidan.. " Lidia menghapus air matanya, ia segera bangkit dan berlari ke arah kaca yang dady nya tunjuk tadi.
Langkah demi langkah, tiba-tiba semuanya menggelap dan Lidia hilang arah.
Di dalam ruangan rawat inap VVIP, Zidan mulai panik melihat tubuh Lidia bergerak tak beraturan.
"Lidia, kami kenapa? " Zidan mulai panik.
"Suster!!!!! Suster!!! " teriak Zidan sembari menekan tombol kecemasan yang ada di dinding atas kepala ranjang Lidia.
"Bertahan lah sayang" Gumam Zidan menggenggam erat tangan Lidia.
Dokter dan suster masih belum datang, Zidan melihat tubuh Lidia sudah tidak bergerak, ia tidak bergetar. Zidan melirik alat pendeteksi detak jantung Lidia.
"Berjalan normal! " Gumam Zidan.
"Dokter!!!! Dokter!!! " teriak Zidan keras, ia semakin marah karena dokter tak kunjung datang.
Zidan ingin berlari keluar, namun tangannya tertahan oleh sebuah tangan.
"Kak Zidan... " lirih Lidia lemah.
Pergerakan Zidan langsung berhenti, ia perlahan berbalik menghadap pada Lidia. Seakan tak percaya ia melihat Lidia perlahan membuka matanya. Satu tangan Lidia yang lain di gunakan untuk memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Aduh.. Sakit banget" erang Lidia.
"Aku panggilin dokter yah sayang, Kamu jangan banyak cetak dulu"
Zidan langsung bergegas keluar dari kamar Lidia, berteriak memanggil dokter yang entah pergi kemana.
Tak lama kemudian, dokter pun datang bersama Zidan. Di sana juga sudah ada Rasya dan Eldi.
Dokter langsung memeriksa kondisi Lidia, gadis itu sudah sadar , ia terlihat bingung dengan situasinya saat ini.
"Bagaimana dok? " tanya Zidan.
"Kondisi pasien sudah normal, hanya di perlukan beberapa hari lagi di rawat, baru setelah nya pasien bisa pulang. " Jelas sang dokter, lalu kemudian pamit keluar.
"Terimakasih dok" kata Eldi.
Zidan langsung mendekat pada kekasihnya, ia mengecup seluruh wajah Lidia mengungkapkan rasa syukur nya.
"Gue bersyukur banget lo akhirnya siuman Lidia" kata Rasya penuh rasa syukur.
"Sayang, apa ada yang sakit? " tanya Zidan perhatian.
"Aku harus" kata Lidia sembari berusaha untuk duduk, namun rasa nyeri terasa di perut nya.
"Akh... " pekik Lidia.
"Sayang... " Zidan langsung khawatir.
"Perut ku sangat sakit" keluh Lidia memegangi perutnya.
"Luka bekas operasinya belum mengering, sebaiknya kamu berbaring saja yah" Dengan hati hati Zidan memperbaiki posisi tidur Lidia.
"Iya Lidia, kamu baru siuman. Jadi kamu harus mengurangi bergerak yah" kata Rasya mengusap kepala Lidia.
Lidia menghela nafas, ia mengamati sekeliling nya. Di dalam ruangan ini hanya ada mereka berempat, namun yang ia tahu hanya Zidan dan Rasya. Sementara Eldi, ia lupa dengan namanya. Lidia hanya tahu jika Eldi adalah temannya Alviro.
"Ini sayang, minum lah" kata Zidan sembari membantu Lidia meminum air mineral yang ia ambil dari atas nakas.
"Terimakasih" lirih Lidia tersenyum manis.
"Berapa hari aku tidak sadar? " tanya Lidia menatap Zidan, kemudian beralih menatap Rasya.
"Sekitar satu minggu" jawab Rasya.
Zidan tak bersuara, ia menunduk dengan kedua tangan menggenggam tangan Lidia.
"Kak zidan kenapa? " tanya Lidia bingung. Namun Zidan masih tetap menunduk.
Rasya merasa tidak enak berada di ruangan Lidia, ia memberikan kode pada Eldi untuk keluar dari sana. Zidan dan Lidia pasti menang. butuhkan waktu berdua.
"Yaudah Lidia, kak Zidan. Kita pamit keluar dulu yah" kata Rasya tersenyum manis, kemudian menarik Eldi yang terlihat bingung keluar.
Setiba nya di luar, Eldi menatap Rasya bingung.
"Kita kan baru sampai, kenapa harus keluar? " tanya Eldi. Rasya menggeram kesal, eldi benar-benar pria bodoh yang membuat masalah dengan dirinya.
"Lo itu bodoh atau bagaimana sih. Gak lihat, Lidia sama kak Zidan itu membahas hal pribadi. " ketus Rasya melotot pada Eldi.
"Lalu apa salah nya! " masih belum paham.
"Dasar bodoh, kita tidak boleh ada di sana. Kita harus memberikan mereka ruang! "
"Ah, lo benar-benar pria terbodoh yang pernah gue temuin! " hentak Rasya kesal, ia pergi begitu saja meninggalkan Eldi yang terus menerus memancing emosi nya.
"Apa salah gue? kan cuma nanya doang" Gumam Eldi.
"Rasya tunggu!! " teriak Eldi mengejar calon kekasihnya.
Kenapa calon? karena eldi masih belum bisa menaklukkan hati Rasya. Meskipun begitu, Eldi merasa sangat senang karena Rasya mau di antar dan jemput oleh nya.
Yah, meskipun dalam jalur paksaan. Rasya tidak bisa mengelak ketika Eldi datang ke rumah nya dan meminta ijin pada kedua orang tuanya. Rasya merasa Eldi adalah pria licik yang sengaja mendekati orang tuanya.
...----------------...
Jangan lupa yah, kasih bintang untuk I HATE YOU, BUT I LOVE. di Carinival toon. Ayo lindungi Cerita ini jika kamu menyayangi Alviro dan Jihan
Aku tunggu yah, Terima kasih😘💕