
Jihan dan Lea berjalan menuju parkiran. Sebenarnya Lea sudah sejak tadi di ijinkan pulang, karena anak kelas toga tidak terlalu efektif lagi belajar nya. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk ujian akhir, setelah itu mereka akan bebas dan hanya menunggu hasilnya.
"Kak, siapa kepala sekolah baru? " tanya Jihan. Seraya berjalan Lea menoleh pada adiknya.
"Gue juga gak tahu. Tapi, dengar dengar sih, om Brian meminta pak Johan dengan pak Kio yang menjadi wakilnya. "
"Eh pak johan? seperti nya itu pilihan yang bagus" gumam Jihan. Lea mengangguk, ia juga setuju jika pak johan yang menjadi kepala sekolah. Selain bijaksana, pak johan adalah orang nya pak Brian.
Jihan dan Lea tiba di parkiran, mereka hendak masuk kedalam mobil. Namun, tiba-tiba Arvan datang dan menarik tangan Lea. Pintu yang sudah terbuka kembali tertutup.
"Eh kak Arvan! " kaget Jihan, ia tidak jadi masuk ke dalam mobil.
"Ada apa ini? " tanya Jihan bingung, seraya mengitari mobil Lea untuk mendekati mereka.
"Lepas brengsek!!! " Lea menarik tangannya dari cengkraman tangan Arvan, namun cowo itu tidak mau melepaskannya.
"Kita harus bicara Lea! " Arvan kembali menarik tangan Lea.
"Hei, kalian ini. Gak malu apa? di liatin banyak orang tahu" tegur Jihan mendengus kesal. Arvan dan Lea adalah panutan di sekolah ini, tapi sikap merela malah seperti ini.
"Jihan, lo pulang sendiri dulu. Ini kuncinya" ujar Arvan merebut kunci di tangan Lea, kemudian melemparnya pada Jihan.
"Eh, kok-"
"Udah, lo pulang sendiri aja. Gue ada urusan sama gadis nakal ini! " ujar Arvan, ia kembali menarik Lea masuk ke dalam mobil miliknya. Lea hendak berontak, tetapi Arvan memberikan sedikit ancaman. Membuat Lea tidak bisa berkutik lagi.
"Jika lo, berani kabur. Jangan salahkan gue yang mencium dan membuat semua orang melihat keganasan gue sama lo! " Lea terdiam, ia menggeleng cepat. Ia tidak bisa membayangkan dirinya di lecehkan oleh Arvan di depan orang banyak. Tidak, ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Tapi, jika ia tetap mengikuti pria ini?. Tamatlah riwayatnya, sesuatu yang lebih dari bayangannya akan terjadi. Lea menjadi bingung, antara takut dan ingin pergi.
Arvan masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan sekolah.
Jihan hanya menatap nanar kepergian kakaknya, kini tinggal lah dirinya yang harus menyetir sendiri.
"Apes banget" Gumam Jihan, kemudian masuk ke dalam mobil Lea. Jihan mulai menjalankan mobil Lea, meninggalkan sekolah.
Sementara itu seseorang tersenyum miring di balik masker yang menutupi wajahnya. Hanya sorot mata yang terlihat jelas di wajahnya.
Setelah Jihan keluar dari gerbang sekolah, orang misterius itu pun ikut pergi. Entah apa rencananya, dan entah siapa dirinya.
Sementara itu, di dalam mobil Arvan, Lea terus menatap pria itu dengan sorot mata kebencian Tidak ada kata kata yang keluar dari bibirnya, hanya sorot matanya saja yang berbicara.
"Gak usah liatin gue seperti itu, gue gak bakalan takut! " sontak Lea langsung, memalingkan wajahnya dari Arvan.
"Lo kenapa sih, selalu saja gangguin hidup gue. Emang gak ada apa, kerjaan lain, selain mengganggu hidup gue? "
"Gue udah peringatkan lo, jangan deketin gue dan juga adik gue. Salah gue apa sih, bisa bisanya hidup gue di hantui oleh cowo seperti lo. "
Citttt....... Cittt....
Tubuh Lea terhuyung ke depan, beruntung ia memakai sabuk pengaman. Jika tidak, mungkin tubuh Lea terhempas ke depan. Ia menoleh pada Arvan, menatap cowo itu dengan sinis.
"Lo mau bunuh gue? belum cukup hancurin hidup gue? dan sekarang, lo mau bubuh gue? iya? "
Arvan tak bereaksi, tangannya mencengkam erat stir mobil. Saking kuatnya, buku buku tangan nya terlihat memutih.
"Gue gak akan pernah maafin lo, jika terjadi sesuatu sama gue! " ucap Lea lagi. Ia semakin geram karena tidak ada respon sama sekali dari Arvan.
Cup..
Cup..
Hanya suara ciuman Arvan yang terdengar di dalam mobil yang di berhentikan Arvan secara mendadak di pinggir jalan. Beruntung jalan itu sedang sepi.
Lea tidak berdaya, kecupan yang selama ini ia rindukan di berikan oleh Arvan. Sejujurnya Lea sangat merindukan Arvan, namun sakit di hatinya membuat rasa rindu berubah menjadi rasa benci.
Merasa tidak ada perlawanan, Arvan tersenyum tipis. Ia semakin menekan tengkuk Lea untuk memperdalam ciumannya. Mereka larut dalam kemesraan yang sama sama mereka rindukan. Meskipun selama ini Lea terlihat jual mahal di hafalan Arvan, namun Arvan tahu, Lea juga merindukannya. Hanya karena kesalah pahaman, membuat Lea benar-benar membenci Arvan.
Tampa Lea sadari, ia mengeluarkan ******* ketika bibir sexy Arvan mengapit bibir ranum nya.
"Ahh.. " lenguh Lea. Arvan semakin bringas, bahkan ia sudah membuka sabuk pengaman Lea dan menarik tubuh Lea naik keatas tubuhnya. Karena larut dalam nafsu, Lea pun tidak menyadarinya. Gadis itu pun turut membalas perlakuan yang Arvan berikan.
Tenttt!!!!!! Tentt!!!!?!
Keduanya sama sama terlonjak kaget. Mata Lea terbuka lebar, kesadaran mulai menguasai pikiran nya. Ia sangat kaget menyadari ke kekhilafan dirinya yang kini berada di atas musuhnya. Lea hendak beranjak, namun Arvan menahannya.
Arvan melirik ke arah spion mobil, matanya melebar melihat antrian kemacetan yang di sebabkan oleh mobilnya yang agak memakan jalan, jadi ketika mobil besar lewat, mereka tidak bisa melampaui mobil Arvan.
"Astaga" dengan cepat Arvan menghidupkan mesin mobilnya dan melaju tampa menyuruh Lea pinda ke kursi penumpang. Arvan malah menarik tubuh Lea agar merapat ke dadanya, sehingga Arvan bisa leluasa melihat jalan.
"Lo mau mati? " ucap Lea dengan nada mengancam, namun ia tidak berusaha beranjak dari sana. Lea merasakan kenyamanan di posisi ini. Apalagi kecupan hangat yang Arvan daratkan di leher jenjang nya.
"Lo jangan macam macam! " ancam Lea lagi, namun masih tidak bergerak. Bibir menolak tapi tubuh meminta.
...----------------...
Jihan tiba di rumah, Tia cukup kaget melihat putri bungsunya pulang sendiri.
"Lo sayang, mana kakak kamu? kok kamu sendiri yang pulang? "
Jihan menghela nafas, kemudian mendekati bundanya yang sedang menyiram bunga di halaman depan rumah. Terlihat mawar, mawar sedang bermekaran.
"Kak Lea di bawa kak Arvan bun. Terpaksa deh, Jihan nyetir sendiri" jelas Jihan jujur.
Tia meletakkan selang air yang ia gunakan untuk menyiram bungan bunganya, kemudian mendekati putri cantiknya.
"Oo begitu, ya sudah. Kamu masuk gih, bersihin tubuh. Abis itu makan yah"
"Iya bun, tapi temenin yah. Jihan gak suka makan sendiri " pinta Jihan manja, membuat Tia tertawa mendengar nya.
"Iya Iya, ini bunda juga udah selesai menyiram bunganya. Sekarang buruan mandi"
Cup.
Jihan mengecup pipi wanita yang paling ia sayang, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Tia menggeleng kan kepala nya melihat sikap manja Jihan, ia merasa senang akhirnya ia bisa memanjakan putrinya seperti dulu lagi.
Setelah merapikan selang air, dan beberapa peralatan yang tadinya ia butuhkan. Kini Tia masuk kedalam rumah menyusul Jihan. Ia langsung menuju ke dapur, mencuci tangan dan juga kakinya. Baru setelah itu Tia menyiapkan makan siang untuk putri nya.
...----------------...