I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 52



Lea terus berlari mendekati Jihan, ia tidak peduli dengan Mirna yang menodongkan pistol ke arahnya.


Dor!!!!!


Dor!!!


"Lea!!! " teriak Arvan memanggil Lea, langkah kakinya terhenti, tubuh Lea tersungkur tepat di samping Jihan. Lea tidak terkena tembakan dari Mirna, Alviro jauh lebih cepat darinya. Sehingga pistol yang ada di tangan Mirna jatuh seketika saat peluru dari pistol Alviro melayang ke tangannya.


Lea beringsut mendekati adiknya yang sudah tidak sanggup bergerak lagi Mirna benar-benar sudah menyiksa Jihan.


"K-kak L-Lea.. " lirih Jihan susah payah, karena perutnya terasa tertekan akibat pukulan yang tadi Mirna berikan padanya.


"Sial! " Mirna semakin marah, ia tidak terima gagal menembak Lea. Ia kembali mengambil pistolnya dan menodongkan pada Alviro.


"Sudahlah Mirna!! menyerah saja! " bentak Liem.


"Diam kau!! aku tidak ada urusan dengan mu" belas Mirna berteriak. Anak buahnya terpisah 5 orang lagi.


"Kau sungguh licik Mirna, sejak dulu kau selalu menghancurkan hidup ku!!! " teriak Alviro, kakinya terus melangkah sembari menodongkan pistol ke arah Mirna. Ia semakin menyudutkan Mirna yang berjalan Mundur.


"Kau dan keluarga mu yang membuat keluarga ku hancur!! " balas Mirna. Tanpa sepengetahuan Alviro, Mirna memberikan kode pada Anak buahnya.


"Kau salah Mirna!!! justru, keluarga ku yang menyelamatkan mu dari kehancuran yang sebenarnya!! " tukas Arvan.


"Omong kosong!!!! kau Jangan mengarang cerita! " bantah Mirna.


Anak anak wolf dan juga kedua sahabat Jihan hanya diam saja, mereka tahu ini adalah permasalahan keluarga, jadi mereka lebih baik diam.


Teg..


Tiba-tiba samua kembali menggelap, tangan Jihan yang sejak tadi berada di atas perutnya, tergerak memegang tangan Lea. Jihan sangat takut, dadanya mulai sesak. Cepat cepat Lea menghilang ponselnya dan menghidupkan flash.


"Lo aman, gue ada di sini" ucap Lea menenangkan adiknya. Jihan pun mengangguk. Ia memeluk kakaknya sangat erat.


"Cepat tekan saklar nya Liem! " titah Alviro.


Liem pun dengan meraba raba dinding mencari saklar.


Teg.


Lampu kembali menyala, semua sudah kembali terang. Namun Mirna dan anak buahnya sudah menghilang.


"Sial! mereka kabur! " umpat Arvan.


Mereka semua mendekat pada Jihan, Alvido langsung menggendong tapi buh Jihan ke pangkuannya.


"Jihan, lo dengar gue? " tanya Alvido menepuk nepuk pipi Jihan pelan.


"Sakit bodoh" balas Jihan dengan nada ketus, ia merasa sangat senang. Akhirnya mereka bisa menyelamatkan nya. Meskipun ia tidak bisa membuka mata, setidaknya ia bisa membalas ucapan Alviro.


"Syukur lah " mereka bernafas lega, Jihan tidak apa apa, meskipun kondisinya terlihat sangat menyedihkan.


"Ayo bawa Jihan pergi dari sini" ujar Lea khawatir.


"Baik" jawab Alviro, ia langsung, mengangkat tubuh Jihan dan membawanya keluar dari gedung tua itu.


Cukup lama mereka di perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu rumah sakit terdekat.


Alviro berlari masuk ke dalam rumah sakit, langkahnya menggema terdengar di lorong rumah sakit yang sudah terlihat sepi. Karena sekarang sekarang sudah tengah malam.


"Dokter!! Dokter?!! " teriak Lea memanggil dokter yang berjaga malam.


Seorang dokter dan beberapa suster menghampiri mereka. Salah satu dari suster meraih brankar dan mendorong nya ke arah Alviro.


"Silahkan baringkan pasien di atas sini" ucap suster itu memberitahu. Alviro langsung menurutinya, Jihan yang sudah tidak sadarkan diri di baringkan secara perlahan oleh Alviro.


"Baiklah, kalian tunggu di luar" ucap sang suster lagi, sembari menutup pintu. Mereka semua menunggu di luar.


"Semoga Jihan gak kenapa kenapa"harap Fela.


" Iya fek, gue berharap juga begitu" sahut Ria.


"Usah, kalian tenang aja. Jihan bakalan baik baik saja" ujar Arvan tersenyum meyakinkan mereka.


"Jihan.... " lebih Lea terduduk di lantai, lututnya sudah tak sanggup menompang tubuhnya. Airmata nya mengalir sangat deras. Lea sangat khawatir, ia takut jika Jihan kenapa kenapa.


Arvan menghela nafas berat, ini memang berat untuk Lea. Ia tahu jika Lea sangat menyayangi adiknya. yah, walaupun mereka terlihat sering bertengkar. Namun, jauh di lubuk hati mereka, ada hati yang saling menyayangi.


"Lo yang sabar yah Lea, gue yakin. Jihan pasti sembuh kok. Jihan hanya mengalami syok" ujar Arvan.


"Iya kak, gue yakin Jihan baik baik aja" sambung Alviro. Sebenarnya ia juga merasakan kekhawatiran untuk Jihan.


"Alviro!!!! " gumam Lea, suaranya terdengar tajam dan penuh penekanan.


"Yah Kak? " jawab Alviro dengan nada suara tenang.


"Jika terjadi sesuatu pada adik ku, maka lo yang akan bertanggung jawab" tekan Lea.


"Maksud kakak? " tanya Alviro tidak mengerti apa yang Lea maksud.


"Lea" lirih Arvan, ia sama dengan Alviro, tidak mengerti dengan apa yang Lea katakan. Suasana mendapat menegang, anak anak wolf ikut merasakan ketegangan ini.


"Kaki lo berdarah" kaget Arvan. Ia langsung memeriksa lutut Lea, namun langsung di tepis oleh gadis itu. Lea mereka atap tajam ke arah keduanya. Lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka.


"Apa yang terjadi? mengapa kak Lea bersikap seperti itu? " gumam Babas. Albi dan yang lain mengangkat bahu bingung.


Sementara di rumah, Burhan, Tia, Leni dan Brian ikut merasakan ke legaan setelah mendengar kabar dari Arvan, bahwa Jihan sudah di temukan.


"Syukurlah Jihan putri ku selamat" ucapan Tia bernafas lega. Matanya sudah terlihat membengkak karena sejak tadi menangis.


"Iya Tia, semoga Jihan tidak kenapa kenapa" balas Leni.


"Ayo kita kerumah sakit sekarang" ajak Burhan, di balas anggukan cepat dari ketiganya.


Mereka pun bergegas pergi menuju ke rumah ssaki. Arvan sudah mengirimkan alamatnya pada mereka. Hanya menggunakan 1 mobil keempat orang tua itu sampai ke rumah sakit dalam waktu 1 setengah jam.


...----------------...


"Aaaakkkkkkkkk"


Brak!!!!


Prank!!!!


Semua barang barang di lempar oleh Mirna ke sembarangan arah. Dalam waktu beberapa menit, ruangan kerjanya kembali berantakan.


"Nugrah!!!!! keluarga Nugrah!!!! aku akan menghancurkan kalian!!!!! "


prank!!


Sebuah Vas bunga melayang jatuh setelah menubruk dinding. Mirna sangat merasa kesal, emosinya memuncak. Rencana yang sudah ja susun bertahun-tahun hancur berantakan!.


Mirna sudah ketahuan, ia harus kembali menyembunyikan identitas nya. Sekarang dirinya sudah ketahuan. Keluarga Nuhrah pasti akan menangkapnya. Tidak, ia harus kembali ke London untuk sementara waktu. Mirna harus bersembunyi terlebih dahulu. Semua masalah yang ia lakukan di sekolah pasti akan segera hadir di husut.


Mirna meraih ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk mengatur penerbangan nya ke London. Ia harus segera berangkat secepat nya. Jika tidak, keluarga Nugrah pasti akan menangkapnya Tidak, Mirna tidak kn menyerah begitu saja.


"Aku akan kembali dan memastikan semua ini akan berakhir seperti yang aku inginkan? " tekat Mirna, matanya menatap lurus pada foto keluarga Nugrah yang masih terpampang jelas di dinding ruangan kerjanya.


...----------------...