
"Al, udah belum? "
Babas terus memantau jalur masuk ke ruang guru, jantung nya berdegup kencang. Babas merasa sangat malang di beri tugas yang menegangkan seperti ini.
Awalnya Babas sudah menolaknya, ia meminta tugas menahan bu Mirna, mun Alviro menolak. Jika mereka yang melakukan tugas menahan bu Mirna, maka semua nya akan terbongkar. Mulut Ember Babas akan keceplosan ketika bu Mirna membentak nya.
"Al, masih lama gak?? Alviro dah chat gue. Katanya bu Mirna udah mau ke sini" desak Babas lagi, ia merasa sangat tegang sekarang.
"Iya iya, ini udah mau selesai" sahut Albi dari dalam. Albi sedang menempelkan benda kecil untuk memantau setiap gerak gerik Mirna.
"Sudah siap" gumam Albi tersenyum puas menatap ke benda benda kecil itu sudah tertempel di tempat yang aman. Albi yakin Mirna tidak akan bisa melihatnya.
"Yuk bas" ajak Albi.
"Bu Mirna" panggil seseorang.
Albi dan babas kembali menutup pintu, mereka tidak jadi keluar dari ruangan Mirna.
"Mampus, wanita itu sudah ada di sini" bisik Babas.
"sttt"
Albi mencoba mengintip di cela pintu, terlihat Mirna tengah berbicara dengan seseorang yang tak jauh dari ruangannya. Beruntung posisi Mirna membelakangi ruangannya.
"Iya Pak Johan, ada apa? "
"Begini bu, saya ingin membuat sebuah acara yang meriah untuk pesta kelulusan anak anak nanti" jelas pak Johan.
"Oh begitu, jadi apa yang bisa saya bantu pak? " tanya Mirna berbasa-basi, sebenarnya ia sangat malas untuk meladeni nya.
"Ayo bas" ajak Albi, mereka dengan segera hadir keluar dari ruangan Mirna, berlari ke arah yang berlawanan.
Sementara itu, pak Johan terus mengajak bu Mirna untuk membicarakan acara yang masih sangat lama.
"Yah sudah pak, saya ke ruangan dulu" pamit bu Mirna. Ia sudah sejak tadi jengah berbicara dengan Johan.
Entah mengapa, Johan malah menghalangi langkahnya. Mirna melangkah cepat, ia tidak mau ada lagi orang yang berniat menghalanginya, seolah olah mereka memang sengaja menghentikannya agar lebih lama berada di luar.
Ceklek.
Mirna langsung memeriksa setiap sudut ruangannya, ia mencurigai ada yang masuk sekarang diam diam ke ruangan nya. Ia tidak akan melepaskan siapa saja yang sudah berani masuk ke dalam ruangan nya ini.
"Sial! ada yang masuk" umpat Mirna, ia mendapati jejak sepatu seseorang di berbagai lantai yang di alasi oleh karpet tebal dan berbulu. Terdapat pasir yang membentuk jejak sepatu di sana.
Mirna memeriksa segala sesuatu yang ada di meja dan di laci meja kerjanya. Ia takut ada sesuatu yang hilang atau malah bertambah.
"Aman, semunya aman. Apa yang sedang ia cari di dalam ruang ku? " pikir Mirna mencoba menebak siapa yang sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Ummm, apa ini jejak kaki Cio? tapi... Ah sudah lah. Aku hanya terlalu parnoan" jawab Mirna atas pertanyaannya sendiri.
Sementara itu, Albi dan babas terus berlari menuju ke kelasnya.
Hufff..
"Untung pak Johan membantu kita" ujar Albi sembari mengatur nafasnya.
"Iya, gue nanti bakalan ajak tu si tua bangka duel" kekeh Babas.
" hahaha, yuk masuk. Seperti nya udah mulai masuk"
Albi dan babas kembali ke kelas, di sama sudah terlihat Anggota Wolf lainnya udah masuk ke kelas lebih dulu, termasuk Alviro.
"Dari mana aja lo Al? " tanya Jihan.
"Dari luar" jawab Albi sekenanya.
Jihan yang udah duduk kembali berdiri dan menghampiri Babas dan Albi.
"Lo serius? tumben banget lo bedua gak ngekor sama curut itu" ujar Jihan lagi.
"Lebih tumben lagi, lo yang tiba-tiba kepo sama kita" balas Babas, membuat jihan diam seketika.
"Selamat siang anak anak"
Fyuuuu. Jihan bernafas lega, pak johan datang di saat yang tepat.
"Lo hutang penjelasan sama gue! " ujar Alvaro ketika Jihan baru saja duduk di samping nya. Jihan melirik Alviro yang sudah fokus pada pak Johan.
Apa yang dimaksud oleh Alviro? apa dia sudah tahu apa yang sedang Jihan pikirkan?. Jihan menggeleng pelan, Alviro tidak mungkin tahu.
...----------------...
"Lea! "
"Lea!! "
Arvan mengejar Lea yang berjalan cepat, gadis itu tidak menghiraukan panggilan dari Arvan, ia terus berjalan lurus.
"Lea!!!!!!! " teriak Arvan seraya menarik tangan Lea, dan membuat gadis itu berbalik ke belakang dan menubruk dada bidang Arvan.
Lea langsung mendorong dada bidang Arvan, ia menatap benci kepada Arvan.
"Lo mau apa lagi sih, gue udah tau semua nya!!! " teriak Lea.
"Lea, hei. Kok lo ngomong gitu sih. Tahu apa? "
Lea mendecih pelan, ia tidak akan tertipu lagi dengan ucapan manis Arvan.
"Lo pikir gue sebodoh itu? lo pikir gue, -" Lea menahan nafas, ia tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
"Mulai sekarang, lo jangan temui gue lagi! "
"Tapi Lea, adalah gue apa? "tanya Arvan tidak mengerti.
" Salah? lo pikir aaja sendiri!!! "teriak Lea, ia berlari sekencang mungkin agar Arvan tidak bisa mengejarnya.
Lea masuk ke dalam mobilnya dan langsung menguncinya dari dalam.
Brak!!! Brak!!
" Lea!!! buka Lea!! gue bakalan jelasin?!! "
"Lea!!! "
"Lea!!!! "
brmmmm....
"Lea!!?! " teriak Arvan keras, ia tidak peduli lagi dengan tatapan siswa siswi yang ada di sekitar parkiran. Mereka semua kaget mendengar teriakan Arvan.
Ada apa dengan Lea? mengapa dia bersikap seperti itu, dari sorot matanya, Lea sangat kecewa. Arvan bertekat akan menenangkan Lea setelah pulang sekolah nanti.
"Kasihan yah, di tinggal sama kekasihnya sendiri"
Arvan menoleh ke belakang, di sana Lika sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Matanya mengikuti arah pandangan Arvan pada mobil Lea yang sudah menjauh.
"Apa yang lo katakan sama Lea!? " bentak Arvan dengan suara tertahan. Arvan mendekati Lika, ia sudah sangat geram dengan gadis ini.
"Lo nanya sama gue? harusnya gue yang nanya sama lo! " balas Lika dengan suara yang lebih kuat dan tegas.
"Apa? lo itu kenapa sih."
"Lo pikir aja sendiri, dan ingat, walau bagaimana pun, gue gak akan biarin lo, deketin siapapun!!?? " tekan Lika menatap Arvan tegas. Kemudian ia berlalu pergi begitu sja. Meninggalkan Arvan yang di landa oleh rasa bingung.
Sebenarnya apa sih yang tu cewe mau? Alviro di kejar, Gue di ganggu. Gak bapak, gak anak sama saja.
Arvan beranjak dari area parkir, ia kembali ke ruang OSIS. Masalah demi masalah kembali muncul. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kekacauan seperti ini.
"Hmm.... Gue rasa, gue harus lebih berhati hati" batin Arvan.
...----------------...