
"Sudah! Cukup Arvan! lepasin tangan gue!!! " bentak Lea, ia menarik tangannya yang di cengkram oleh Arvan. Dengan tanpa rasa takut, Lea menatap Arvan dengan tatapan menantang. Tidak ada lagi tatapan takut dan wajah memerah karena malu di wajah Lea.
"Lea, tenangkan diri lo Lea!! " ucap Arvan.
"Kenapa? kenapa gue harus tenang mengadapi orang seperti lo!!! " teriak Lea.
"Sudah cukup!!! dan Jangan mendekati gue lagi!!!. Lo hanya buat hidup gue semakin berantakan!!!!" teriak Lea. Ia terus berteriak di hadapan Arvan, hingga kesabaran Arvan pun habis.
Arvan menarik kedua lengan Lea, sehingga tubuh Lea tertarik ke depan dan menubruk dada bidang Arvan. Dengan cepat pria itu membekap bibir Lea dengan bibirnya.
"Hmm..." Lea mendorong tubuh Arvan, ia berusaha melepaskan diri dari Arvan Namun tenaga Arvan jauh lebih kuat dari nya. Arvan menahan pinggang Lea, satu tangannya yang lain menekan tengkuk Lea agar bisa lebih memperdalam ciumannya yang kini mulai memanas.
Alviro dan Jihan yang berada di balik tembok, melongo menyaksikan aksi Arvan dan Lea. Bahkan Jihan masih melebarkan matanya, ia tidak menyangka akan melihat hal ini secara langsung.
Alviro menyadari jika Jihan terkejut, ia langsung menutup kedua mata Jihan dengan telapak tangannya.
"Apaan sih! " dengus Jihan menyingkirkan tangan Alviro yang menghalangi pandangan nya.
"Sttt... " desis Alviro memperingatkan Jihan agar tidak berisik, jika Arvan dan Lea dengar? tamat lah riwayat mereka. Mereka akan terkena musibah 2 x, selain hukuman dari Arvan, mereka juga akan terkena musibah dari Lea.
Jihan dan Alviro masih setia menonton aksi Lea dan Arcan di balik tembok. Mereka masih belum menyadari keberadaan keduanya.
Tlek. ~
Jihan menunduk, melihat ke bawah dekat sepatunya. Alviro pun, juga melakukan hal yang sama. Mata keduanya membesar, seekor cicak jatuh tepat di atas sepatu Jihan sebelah kiri.
Alviro menggeleng, menahan agar Jihan tidak berteriak. Namun, apa yang hendak di kata. Jihan tidak bisa menahan rasa geli dan takut di hatinya.
"Cicak!!!!!!!!!! " teriak Jihan sembari melompat lompat dari tempat persembunyian nya.
Lea dan Arvan kaget, Lea langsung mendorong dada Arvan. Ia sempat mulai terbuai oleh permainan Arvan.
Bug~
Tubuh Arvan terhenyak di lantai, sementara, Lea menatap Jihan dan Alviro dengan nafas tersengat akibat dari ciuman nya dengan Arvan.
"Jihan!"
"Alviro! "
Ucap Lea dan Arvan bergantian. Wajah keduanya memerah, merasa malu karena tertangkap basah oleh Jihan dan Alviro mereka sedang berciuman. Yah walau pun itu tidak bisa dikatakan sepenuhnya berciuman. Karena Arvan melakukannya secara paksa.
Jihan menghentikan aksi loncat loncat nya, ia langsung berbalik menghadap pada Lea dan Arvan yang sudah berdiri di samping Lea.
"Hehehe... Kak Arvan, Lea" cicit Jihan sembari nyengir.
"Maaf udah ganggu" ujar Alviro dengan raut wajah menyesal, kemudian menarik tangan Jihan untuk segera pergi dari sana.
"Jihan!!! " seru Lea.
Jihan pun menghentikan langkah kakinya, keduanya menoleh ke belakang sembari tersengih kuda.
"Ada apa kak? kita mau masuk ni! " ujar Jihan.
"Iya kak, sebentar lagi pak Johan masuk" sambung Alviro.
"Tidak usah banyak omong!! " Lea melangkah mendekati keduanya, lalu menarik Jihan agar jauh dari Alviro. Kemudian menyembunyikan Jihan di balik tubuhnya.
"Gue udah peringatkan sama lo! jangan deketin adek gue lagi!! " bentak Lea menunjuk wajah Alviro.
"Kak... "
"Diam Jihan!! Lo harus jauhin dia! " potong Lea melirik Jihan sebentar, kemudian kembali menatap tajam pada Alviro yang tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sudah cukup kalian membuat hidup kita hancur! " balas Lea menatap Arvan nyalang. Selain karena permasalahan Alviro dan Jihan, Lea juga merasa di permainkan karena permainan Arvan.
"Kak, kenapa sih!! " ucap Jihan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman kakaknya. Namun, di saat Lea emosi. Ia menjadi lebih kuat dari biasanya, apalgi mengingat kejadian yang sudah menimpa Jihan.
"Ikut gue!! gue gak akan membiarkan lo deket sama cowo itu lagi!! " ucap Lea sembari menarik Jihan pergi dari sana.
"Kak, lo kenapa sih! lepasin kak!! "
"Alviro!!! Alviro!!! "
Jihan terus memberontak dan menatap kearah Alviro yang tidak bisa berbuat apa apa. Alviro hanya bisa menatap Jihan nanar. Semua ini memang ke salahannya.
"Alviro!!! " teriak Jihan, namun Lea terus menarik tangannya.
Hufff...
"Maafin gue Jihan" lirih Alviro.
"Lo kenapa bisa ada di sini sih? " tanya Arvan.
Alviro tak menjawab, ia hanya diam sembari terduduk di lantai atap.
"Al" panggil Arvan ikut duduk di samping adiknya.
"Gue gak bisa jaga dia kak, Lea memang benar" gumam Alviro. Ia benar-benar merasa semua ini karena kesalahan nya, padahal ini semua hanya karena kesalah pahaman para tetua.
"Al, ini semua bukan salah lo. Lea hanya salah paham. Lo harus berjuang Al. Bukan menyerah seperti ini! " ujar Arvan.
"Enggak kak, jika gue gak deketin Jihan. Maka semua bencana ini tidak akan menghampirinya. " tukas Alviro. Arvan langsung menggeleng cepat, ia tidak Terima dengan pemikiran Alviro.
"Lo salah Al!!! semua ini takdir!!! . Takdir yang gak bisa di elak kan! " tutur Arvan. Ia memegangi kedua bahu Alviro, membawa pandangan mata Alviro agar menatap lurus padanya.
"Lo harus berjuang Al. Lo harus yakinkan Lea kembali, supaya mempercayai lo seperti sebelumnya! " jelas Arvan meyakinkan Alviro.
"Tapi kak.. "
"Lo Alviro Raiyen Nudlgrah! , tipe pria pantang menyerah. Buktikan pada Lea jika lo bukan pria pembawa bahaya, tetapi pria pelindung untuk Jihan! " potong Arvan.
Alviro menghela nafas, di alihkan nya pandangan matanya ke lain arah. Alviro sekarang merasa serba salah, hatinya sangat ingin bersama Jihan, tetapi di sisi lain ada Lea yang menyadarkan dirinya, bahwa Jihan selalu dalam bahaya karena dirinya.
Sementara itu, di sisi lain. Lea terus menarik Jihan pergi bersamanya. Suasana sekolah sedang sepi, karena memang sedang jam pelajaran di mulai.
"Kak, lepas!! "bentak Jihan menghempaskan tangan Lea yang menariknya. Lea sedikit terhuyung ke samping, ia kembali hendak meraih tangan Jihan, namun di elak kan oleh Jihan.
" Kaka kenapa sih, tiba-tiba bersikap seperti ini!. Kakak lupa? Alviro yang udah nyelamatin gue!!! Kalo bukan karena mereka, mungkin kita tidak akan bertemu lagi kak!! " ucap Jihan menatap Lea dengan tatapan tidak percaya.
"Jihan!! pokoknya, gue gak mau lihat lo dekat dekat lagi sama Alviro!! ataupun dengan teman teman nya!! " tegas Lea.
"Tapi kenapa kak, jelasin alasannya!! "
"Pokoknya dengerin apa yang gue bilang!! " bentak Lea. Perdebatan kedua adek kakak itu semakin sengit, untung mereka berada di taman belakang, jadi tidak ada yang mendengar perdebatan mereka.
"Pokoknya, gue bakalan deketin Alviro terus, sampai kakak jelasin apa alasannya!! " ucap Jihan ngotot. Membuat Lea semakin tersulut emosi.
"Lo gak tahu apa, Alviro itu adalah -"
"Lea!! Jihan!!! " suara seseorang menghentikan ucapan Lea.
...----------------...