
"Apa yah? Nikah?. Ayah gak salah ngomong kan? " Jihan menatap ayah nya dengan tatapan tidak percaya. Bisa bisanya ayahnya kepikiran untuk menikahkan dirinya di usia yang sangat muda. Enggak, Jihan menggeleng kuat. Ia tidak mau menikah begitu cepat, di tambah lagi pria nya tidak jelas.
"Jihan gak mau yah, bun. Jihan belum siap menikah" tolak Jihan.
Burhan dan Tia saling melempar pandangan, mereka memang sudah menduga hal ini akan terjadi. Maka dari itu, mereka sudah menyiapkan rencana untuk membuat Jihan menerima perjodohan ini.
"Jihan, kamu dengerin dulu penjelasan Ayah ya nak. Semua ini demi keselamatan kamu nak" bujuk Tia, ia beralih duduk. Awalnya Tia duduk di samping suaminya, kini ia duduk di samping Jihan.
"Gak bun, Jihan belum mau menikah. Masih banyak impian yang harus Jihan capai. "
"Lagian, ini kan bukan zamannya perjodoh jodohan yah, bun. Kenapa harus nikah nikah sih" Jihan menatap ayah dan bundanya secara bergantian.
"Ayah sudah tua Jihan, dan bahaya masih banyak yang mengintai keselamatan kamu. Jadi Ayah mau ada yang menjaga kamu "
"Tapi yah, gak nikah juga. Belum tentu kan, mereka tulus. Apalagi Jihan gak kenal, ngejagain dari mana nya? " ucap Jihan, ia terus berusaha untuk menolak permintaan ayahnya.
"Tidak sayang, kamu kenal kok sama dia. Kalian saling kenal sayang" sela Tia. Jihan semakin mengerut, siapa pria yang ia kenal dan akan di jodohkan oleh ayahnya dengan dirinya.
"Siapa bun? " tanya Jihan penasaran.
"Alviro, anak nya tante Leni dan om Brian" jawab Burhan.
Bukan kepalang, Jihan sangat kaget mendengar jawaban ayahnya. Alviro? cowo nyebelin yang baru ia kenal selama 3 bulan belakangan ini. Jihan menggeleng, ia tidak bisa menikah dengan Alviro. Meskipun keluarga mereka sangat akrab, dan juga saling baik. Tetap saja, Jihan tidak bisa menikah dengan Alviro.
Sejujurnya, Jihan masih sangat berharap dengan pria di masa lalunya. Ia mengakui, Alviro sangat baik, walaupun sedikit menyebalkan dan berbuat sesukanya.
Jihan menggeleng pelan, "Gak bun, Jihan gak bisa"
"Loh, kenapa sayang. Kamu tahu kan nak Alviro itu sangat baik orang nya. Dia juga udah nyelamatin kamu dari kejahatan Mirna" jelas Tia keheranan. Burhan masih diam, ia membiarkan istrinya membujuk Jihan.
"Gak bisa bun, Jihan sama Alviro hanya temenan. Lagian Jihan benar-benar tidak mau menikah muda bun. Kenapa harus nikah sih" gerutunya.
"Ayah gak mau tahu Jihan, besok adalah acara pertunangan kamu dan Alviro! " ucap Burhan tegas.
"What?? besok?? "
"Ayah! kenapa sih maksa banget Jihan nikah sana Alviro. Jihan bisa kok jaga diri sendiri" Jihan berdiri dari duduknya, menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. Ia tidak mempercayai Ayah nya yang bijak sana, kini bersikap egois dan pemaksa.
"Jihan!!! Jihan!!!! " teriak Burhan memanggil putrinya yang bergizi begitu saja.
"Ayah akan tetap menikahkan kamu sama Alviro! kamu harus menyiapkan diri! " teriak Burhan. Jihan yang masih berada di pertengahan anak tangga mendengar dengan jelas ucapan ayahnya. Namun, Jihan tidak berniat untuk berhenti. Jihan terus menaiki anak tangga semakin cepat. Lalu masuk ke dalam kamarnya dengan menghempaskan pintu dengan sangat keras.
"Mas, gimana ini? Jihan menolak nya" Tia mulai khawatir, ia kembali beralih duduk di samping suaminya.
"Kamu tenang aja sayang, Jihan pasti mau kok. Semuanya pasti akan baik baik saja" jawab Burhan menenangkan istri nya. Padahal dia sendiri juga takut jika Putrinya kembali kabur dan meninggalkan mereka.
"Kalau Jihan memutuskan untuk pergi lagi gimana? "
"Ssttt.... Udah, sekarang kamu tenang aja yah, semua itu gak bakal terjadi kok. Jadi stop mikir yang aneh aneh gitu" Tia mengangguk pelan, meskipun ia berusaha tidak memikirkannya, namun ia tetap saja kepikiran.
"Ya sudah sayang, mas mau keruang kerja dulu. " Burhan beranjak ke ruangan kerjanya, ia harus berdiskusi dengan Brian tentang penolakan putrinya. Ia juga harus memastikan, apakah Alviro juga menolak atau malah menerima nya.
Menurut feeling Burhan, Alviro pasti menerima nya. Apalagi Alviro sudah mengetahui siapa Jihan sebenarnya.
"Halo" sapa Burhan, ia menghubungi Brian melalui telfon.
"Iya Burhan. Apa kamu sudah memberitahu Jihan? " tanya Brian langsung ke intinya.
"Sudah.Tapi,, " Burhan menggantung ucapannya, membuat Brian penasaran.
"Tapi apa Burhan? kamu jangan membuat saya penasaran dong" Brian terdengar kesal di sebrang sana, membuat Burhan terkekeh pelan.
"Kamu ini masih sama seperti dulu yah, gak sabaran banget" ledek Burhan.
"Kamu tahu, tapi malah membuat aku semakin penasaran. Dasar" decak Brian.
"Ok oke, aku serius sekarang"
"Jihan menolak perjodohan ini, dia tidak mau menikah dengan Alviro" ucap Burhan serius.
"Apa? kenapa bisa begitu? bukannya mereka sudah dekat? bahkan ketika Lea melarang mereka untuk tidak bertemu, tapi tetap saja mereka bertemu" terdengar helaan nafas dari sebrang sana. Burhan yakin, Brian juga merasakan pusing sama seperti dirinya.
"Memang nya Alviro sudah menerima nya? " tanya Burhan.
"Sudah han, putraku menerima nya" jawab Brian lagi.
huff. Mereka sama sama menghembuskan nafas gusar.
"Lalu bagaimana dengan Lea? " tanya Brian. Burhan menggeleng, meskipun ia tahu jika Brian tidak melihat gelengan kepala nya.
"Lea belum pulang, entah kemana perginya putri sulung ku itu" jawab Burhan.
"Sama, Arvan juga belum kembali" ujar Brian.
"Ya sudah Brian. Kita lanjutin pembicara ini nanti. Aku akan berusaha meyakinkan putri ku"
"Ok Burhan, semoga rencana kita berhasil"
"Amin"
Klik. Panggilan pun terputus, Burhan menghela nafas berat. Ia tidak tahu harus bagaimana caranya membuat Jihan mau menerima perjodohan ini. Ia sangat hafal sikap keras kepala Jihan. Ia bisa melakukan apapun demi mengikuti apa yang ia inginkan.
Sementara itu, di dalam kamarnya. Jihan tampak frustasi, ia melempar seluruh barang barangnya ke sembarangan arah.
"Aarggggg!!!!!!!! "
"Kenapa gue harus mengalami hal ini!!!! Kenapa!!! " teriak Jihan histeria.
Brak!!!!
Prank!!!!
"Gue gak mau menikah muda! tapi bagaimana dengan pria brengsek itu!!! gue belum bertemu dengan nya!! gue belum melihat penderitaan nya!!! " gumam Jihan, pria yang ia maksud adalah Kak yen. Laki-laki di masa lalu nya. Jihan berniat akan membalas kejahatan pria itu. Jihan ingin pria itu merasakan bagaimana hancur hidupnya selama ini.
"Tidak.Gue gak boleh menikah dulu. Gue harus membalas dia lebih dulu!!! "teriak Jihan, ia mengambil vas bunga yang terletak tak jauh dari anya. Kemudian, di lempar nya ke dinding.
Prank!!!!!
Bertepatan saat itu Tia memasuki kamar, putrinya, Ia sangat kaget. Kamar Jihan terlihat sangat berantakan, kaca serpihan vas bunga dan gelas berserakan di lantai. Dengan hati hati, Tia melangkah mendekati putrinya.
" Ya ampun Jihan, apa yang kamu lakukan nak? "Tia menatap putrinya dengan tatapan tidak kaget, bingung dan heran. Jihan tak merespon, ia hanya menangis dalam diam.
Tia merengkuh tubuh putrinya, di peluknya erat tubuh Jihan. Kemudian di bawanya duduk di tepi ranjang.
" Udah sayang, jangan nangis lagi yah. Bunda di sini untuk kamu" Tia mengelus kepala dan menepuk oelan bahu Jihan agar merasa lebih tenang.
"Bunda... " lirih Jihan. Mereka saling memeluk erat, Jihan menumpahkan tangisnya di dalam pelukan sang Bunda. Tiada tempat yang paling nyaman, selain pelukan seorang ibu.
Cukup lama Jihan menangis di pelukan bundanya, hingga kini ia malah tertidur di pangkuan Tia.
"Maafin Bunda nak, semua ini harus kamu lalui. Karena beginilah takdir mu sayang" Tia mengecup kening Jihan lembut, begitu besar kasih sayang yang Tia curahkan dalam kecupan lembut nya. Di perbaiki nya posisi tidur Jihan, di selimutinya tubuh Jihan dengan selimut tebal. Secara perlahan Tia mulai membereskan semua kekacauan yang terjadi di kamar Jihan.
"Semoga hidup kamu selalu bahagia nak" gumam Tia sebelum benar-benar meninggalkan kamar Jihan.
...----------------...
"Apa? di jodohkan??? nikah muda??? " ulang Lea kaget. Ia kini tengah duduk di sofa ruang tamu apartemen Arvan. Mereka sudah berbaikan, sudah memperbaiki kesalah pahaman yang membuat keduanya menjauh Bahkan Lea sudah mengerti dan tidak melarang Alviro dan Jihan berdekatan lagi.
"Iya Lea, kita udah di jodohin sama kedua orang tua kita, mereka sudah membuat rencana ini" jelas Arvan. Lea masih belum bisa mempercayainya, bukannya Lea menolak menikah dengan Arvan. Namun ini terlalu cepat dan terlalu dini untuk dirinya dan Arvan membentuk sebuah keluarga.
"Tapi Arvan, ini terlalu cepat. Mengapa mereka begitu ngebet buat nikahin kita berdua" heran Lea.
"Bukan hanya kita, tapi Alviro dan Jihan juga" imbuh Arvan. Hal itu sukses memuat mata Lea membulat besar, seakan akan matanya akan melompat dari sarangnya.
"Lo gak asal bicarakan Van? mana mungkin Jihan mau menikah dengan Alviro. Lagi pula, kalaupun Jihan mau, dan mereka menikah. Gue gak bisa membayangkan nantinya Jihan tahu siapa Alviro sebenarnya" Ucap Lea bergidik ngeri. Arvan mengusap pipi kekasihnya ups, kekasih ni ye, mereka kan udah saling mengungkapkan, jadi boleh dong bilang kekasih.
"Lo lihat aja nanti, ketika lo pulang kerumah. Om Burhan akan mengajak lo bicara dan mengatakan semuanya" ujar Arvan sembari mencubit cubit pipi chubby Lea.
"Sakit dodol" sungut Lea menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Arvan. Namun, pria itu malah menarik tubuh Lea dan mengecup pipi Chubby Lea, ia tidak lagi mencubit nya. Entah mimpi apa semalam, Lea merasa sangat bahagia saat ini.
...----------------...