I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 33



Jihan perlahan membuka matanya, ia mulai menatap semua orang yang juga sedang menatap nya. Kening Jihan mengeluh, kepalanya terasa sangat ngilu.


"Aku ada di mana? " lirih Jihan pelan, sembari berusaha untuk bangkit.


"Sayang, kamu berbaring aja yah. Kamu baru sadar sayang" ucap Tia kembali membaringkan tubuh Jihan.


"Jihan di mana bunda? " tanya Jihan, ia berusaha mengingat dimana ia terakhir kali berada.


"Gelap" gumam Jihan.


"Stttt.... Nak, sekarang kamu tidak boleh memikirkan apapun yah, istirahat yang banyak" ujar Burhan yang berdiri di samping Tia.


Jihan menghela nafas pelan, matanya mengedar ke seluruh ruangan. Di sana ada dua orang tua yang tidak asing di mata Jihan. Dia adalah Leni dan Brian.


"Sayang, kamu ingat tante kan? " ucap Leni tersenyum hangat pada Jihan.


Jihan mengangguk pelan, bagaimana ia bisa lupa dengan sahabat bunda nya yang selalu main ke rumah.


"Jihan ingat kok tante, lama tak bertemu tante" sapa Jihan.


Sebenarnya, Jihan sangat penasaran apa yang sudah terjadi pada nya. Namun, ia tidak mau membuat ayah dan juga bundanya semakin khawatir. Ingatan Jihan, ia terakhir kali melihat ke gelapan, ruangan toilet yang mendadak menggelap. Setelah nya Jihan tidak tahu lagi apa yang terjadi, bahkan mengapa ia bisa berada di rumah sakit pun Jihan tidak tahu.


Jihan melirik kiri dan kanan, seperti mencari seseorang. Di dalam ruangannya hanya ada kedua orang tuanya, Lea dan pasangan suami istri sahabat bunda dan juga ayah nya. Ruangan Jihan bukan lagi, ruangan pasien umum.Burhar sudah memindahkan Jihan ke ruangan VVIP. Jadi ruangan rawat inap Jihan persis seperti Kanara pribadi.Sangat luas,dan lengkap dengan perabotan lainnya.


"Lo cari siapa? Ria sama Fela sudah pulang. " ujar Lea. Jihan hanya membalasnya dengan tatapan malas. Bukan mereka yang ia cari, tetapi suara panggilan seseorang yang ia dengar sebelum kesadarannya benar benar hilang.


Apa gue berkhayal? atau itu hanya halusinasi gue yang ketakutan?.


Jihan masih berharap jika suara itu benar-benar milik sosok yang selama ini ada di hatinya, meskipun rasa kecewa lebih besar ketimbang rasa cinta.


Malam pun berlalu, berganti dengan siang. Ayah bunda dan Lea memutuskan untuk tidur di rumah sakit. Jadi mereka berangkat sekolah dan kerja dari rumah sakit kali ini.


Jihan sudah mulai pulih, ia hanya butuh beristirahat sebentar di rumah sakit. Jadi sekolah ia sudah bisa masuk sekolah.


"Kamu yakin sayang? bisa masuk sekolah sekarang? " tanya Tia meyakinkan kan putrinya, karena sejujurnya Tia masih belum yakin. Ia khawatir jika orang itu kembali berbuat buruk pada Jihan.


"Iya bun, Jihan gak papa kok, gak ada yang para juga" jawab Jihan meyakinkan bundanya.


"Kalo ada apa apa, langsung kabarin bunda yah! "


"Iya bunda!!! " balas Jihan lagi.


Hari ini Jihan dan Lea di antar oleh bundanya bersama supir. Tia sangat memaksa ketika Lea menolak di antar oleh bundanya Jika dia di antar, maka akan di pastikan Arvan yang akan mengantarnya pulang.


Mobil yang mengantar Jihan, Lea dan Tia pun tiba di depan gerbang. Lea turun lebih dulu dari dalam mobil, setelah menyalami bundanya.


"Nak.. Kamu gak jadi sekolah? " tanya Tia heran, karena Jihan masih duduk di jok samping Tia duduk. Ia memeluk lengan bundanya.


"Bun, Jihan gak jadi masuk deh. Mendadak Jihan merasa pusing" jawab Jihan memejamkan matanya.


"Yuk dek! " ajak Lea dari luar.


"Sayang, seperti nya adik kamu masih trauma, bunda rasa Jihan tidak usah masuk dulu" jawab Tia.


Lea mengangguk pelan, ia mengerti keadaan adik nya sekarang.


"Yaudah bun, Lea masuk dulu" pamit Lea melambaikan tangan, langsung di balas oleh Tia.


"Belajar yang rajin sayang" teriak Tia.


Setelah memastikan Lea masuk ke gerbang sekolah, Tia memberikan perintah pada supirnya untuk segera berangkat.


"Jalan pak"


"Baik nyonya."


Mobil pun mulai melaju membelah jalan raya. Jihan masih memejamkan matanya, ia memeluk lengan bundanya erat. Seakan akan takut di tinggal kan oleh bundanya.


Sedangkan Lea, ia memutuskan untuk mampir ke kelas IPA 1 untuk memberi kabar kepada teman teman Jihan, bahwa hari ini Jihan tidak masuk sekolah.


"Nah karena itulah akakak ke sini" balas Lea.


Ria dan Fela saling keliling, kemudian kembali menatap pada Lea.


"Jihan kenapa kaka? bukan nya dia udah keluar pagi ini, dari rumah sakit? " tanya Fela heran, bertepatan dengan seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas nya. Tanpa sengaja siswa itu mendengar oembjcaraan Lea dan kedua sahabat Jihan. Siswa itu mengukir Lengngkungan sabit di bibirnya.


Itu hanya permulaan. batin nya. Kemudian berlalu menuju ke kursinya


"Iya, tapi Jihan merasa masih pusing, jadi bunda gak ijinin dia masuk sekolah hati ini" jelas Lea. Fela dan Ria mangut mangut mengerti.


"Oh yaudah kak, nanti kita sampein ke guru." balas Ria.


Lea tersenyum senang, Jihan beruntung memiliki teman teman seperti Fela dan Ria. Mereka sangat baik dan setia kawan.


"Yaudah, kakak ke kelas dulu" ujar Lea sembari berlalu pergi.


"Kasian yah Jihan" gumam Ria pelan. Naik masih terdengar oleh telinga Fela.


"Gue rasa, kejadian kemarin ada hubungan nya dengan kejadian seragam Jihan di robek" ujar Fela. Ria mengangguk pelan, ia juga memiliki pemikiran seperti itu.


...----------------...


"Pah!, "


Brian berbalik, menatap keponakan yang sudah di anggap seperti putra kandung olehnya. Ia melebarkan senyumnya pada Arvan.


"Duduk nak" ujar Brian lembut. Sembari menuntun Arvan duduk ke sofa yang ada di ruangan kerja nya.


"Ada apa papa manggil Brian? " tanya Arvan penasaran. Jarang jarang papa nya memanggil nya seperti ini kw ruangan.


"Begini nak, kamu sudah besar, jadi papa harus memberitahu mu" ucap Brian. Arvan masih mendengarkan dengan serius.


"Kedua orang tua mu meninggal bukanlah karena kecelakaan biasa"


"Apa ada seseorang yang sengaja melakukannya? " tanya Arvan penasaran.


Brian mengangguk, papa dan mama Arvan meninggal karena ada seseorang yang sengaja merusak rem mobil mereka. Sehingga ketika melewati jalur yang sangat curam, dan sempit membuat mobil yang di kendarai oleh Adik Brian melesat jatuh ke dalam jurang.


"Siapa yang melakukan nya? " kedua tangan Arvan sudah mengepal, ia akan membalas perbuatan orang yang sudah membuatnya kehilangan dua orang yang paling ia sayang.


"Papa membicarakan ini dengan mu bukan untuk hal seperti ini Arvan. Kamu tidak boleh gegabah. Papa hanya ingin memberitahu nj sesuatu" jelas Brian, ia tidak suka melihat Arvan yang cepat terpancing emosi. Ia tidak mau musuh mampu mempengaruhi Arcan hanya dengan membaca ekspresi wajahnya dan juga sikapnya.


"Tapi pa"


"Sudah lah Arvan, kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Yang terpenting sekarang kamu harus berhati hati. Karena mereka sedang mengincar keluarga kita! "


"Maksud papa? "


"Orang itu masih belum puas dengan kehancuran hidup papa dan mama mu, Mereka menginginkan kehancuran generasi ku" gumam Brian. Suaranya tertahan, seperti sedang menahan sesuatu.


"Tolong jaga sikap mu terhadap Lea, jangan sampai mereka menjadikan Lea sebagai kelemahan mu! " tegas Brian menatap lekat pada Arvan.


Arvan tertegun, ia tidak membalas apa yang papanya katakan. Pikirannya melayang pada kejadian Jihan. Arvan mulai mengait ngai tkan semuanya.


"Pah.Apa mereka ada di antara pegawai sekolah? "tanya Arvan penasaran.


Brian mengangguk, membuat dugaan Arvan semkin benar.


" Mereka sudah menunggu lama nak, kamu harus berhati-hati, Siapapun bisa jadi musuh Kamu harus berhati-hati " ujar Brian terus mengingatkan Arvan agar tetap berhati-hati.


"Jihan adalah salah satu contoh nak. Seperti nya mereka sudah tahu jika Alviro sangat menyayangi Jihan. Alviro sudah kalah telak oleh mereka" ujar Brian.


Rahang Arvan semakin mengeras, ia berani bersumpah. Akan menemukan siapapun yang mengusik keluarga nya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga nya lagi.


...----------------...