I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 85



Jihan terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang menempel di dinding.


"Sudah pukul 5.30" gumamnya.


Jihan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum turun dari ranjang ia melirik suaminya terlebih dulu.


Alviro tidur menyamping menghadap pada dirinya, Jihan mengusap pelan pipi suaminya. Meskipun sudah sah menjadi suami istri, namun Alviro tidak pernah memaksanya untuk memberikan hal nya. Jihan merasa bersyukur memiliki suami seperti Alviro.


Setelah puas menatap wajah Alviro, Jihan beranjak ke kamar mandi. Lalu, setelah mandi Jihan langsung keluar dari kamar dan mencoba membuatkan sarapan untuk suaminya.


"Aku harus membuatkan apa yah untuk Alviro? "


Jihan menatap bingung isi kulkas. Semuanya ada di sana, ikan, daging, semuanya tersedia di sana. Namun, Jihan malah bingung ingin memasak apa. Ia tidak memiliki satupun ide, karena Jihan tidak pandai memasak.


"Ah roti, lebih baik aku memberinya roti saja" Jihan tersenyum lebar, kemudian meraih roti dan slay kacang kesukaan kak Yen, ia berpikir jika Alviro juga akan menyukainya.


"Ah, masa aku memberikan dirinya roti saja. Apa ini tidak terlalu simple? " jihan mendesah putus asa, ia benar-benar bingung akan memasak apa untuk suaminya.


"Aku akan mencoba membuat nasi goreng" gumam Jihan. Ia mengeluarkan semua bahan bahan yang ia ketahui termasuk kedalam bumbu untuk membuat nasi goreng.


"Ok Jihan, perlihatkan keahlian lo dalam memasak. Lo pasti bisa memasak lebih enak dari suami lo" gumam Jihan menyemangati dirinya. Tanpa ia sadari sejak tadi Alviro memperhatikannya dari balik tembok. Bibirnya tertarik membentuk lengkungan sabit.


"Dia kok gumuz banget sih" geram Alviro menahan diri agar tidak menghampiri istrinya, ia harus melihat bagaimana proses istrinya memasak.


Jihan mempersiapkan semuanya, ia meracik bawang bawang dan mengulek cabe. Karena tidak biasa, Jihan merasa sedikit kesulitan.


"Ini apa ini yah, lebih dulu masuk" Jihan menatap bawang dan cabe bergantian.


"Ah ini saja lah" Ia malah memasukkan kedua benda itu secara bersamaan. Kemudian ia mengambil 2 mangkok nasi, dan memasukkannya langsung ke dalam kuali tanpa membiarkan bawang dan cabe sedikit mateng.


"Setelah ini, garam. " gumam Jihan, ia mengambil garam dan langsung menaburkannya keatas nasi tanpa menakarnya.


"Gue yakin, rasanya pasti sangat asin" batin Alviro menepuk jidatnya.


Jihan sibuk menyiapkan piring, ia membiarkan nasi goreng di dalam kuali tanpa mematikan apinya terlebih dahulu.


"Humm.. Kok bau ada yang gosong yah" Gumam Jihan, ia mencari cari dari mana asal bau gosong itu berasal. Hingga Jihan tak sengaja melihat api kompor masih menyala dan warna nasi goreng nya sudah mulai menghitam.


"Astaga!!!! " pekik Jihan, ia langsung mematikan api kompornya.


"Yahhh gosong, hikss... hiks.. "


"Humm.. Jihan bodoh!!, masa masak ini aja gak bisa!! " maki Jihan pada dirinya, terpaksa hari ini ia memberikan suaminya sarapan roti.


Jihan menghapus air matanya, ia kembali membereskan dapur dan menata roti kedalam piring dan meletakkannya di atas meja. Nasi goreng gosong di letakkan kedalam mangkok besar. Ia tidak akan memberikan alviro makan nasi goreng gosong.


"Kasian sekali istri ku" gumam Alviro menahan kegemasan. Alviro kembali ke ke kamarnya sebelum Jihan melihat nya di balik tembok, ia akan pura-pura belum bangun dan membiarkan Jihan membangunkannya.


Ceklek~


Jihan berjalan memasuki kamarnya dan Alviro secara perlahan. Ia mendekati Alviro yang masih tertidur di atas ranjang.


"Bangun woy!!!! " ucap Jihan menggoyang goyangkan lengan Alviro.


"Apa sih ji, gue masih ngantuk" jawab Alviro pura-pura tidur.


"Ini udah jam 6.15 kami harus bangun, agar kita tidak tekat Alviro!!! " Jihan menarik tangan Alviro dan mendudukkan suaminya agar segera bangun.


"Akan apa? " potong Alviro seraya menarik tubuh Jihan sehingga jatuh keatas tubuhnya. Karena Jihan memang tidak memiliki kesiapan apapun, jadi ia tidak bisa menahan tubuhnya.


"Katakan, apa yang akan kamu lakukan? "


"Gue... uhm.. Alviro lepas" Alviro tidak memberikan kesempatan untuk Jihan melepaskan diri, ia menahan lengan Jihan agar tidak bisa bergerak dan tetap berada di atasnya.


Jantung Jihan berdetak berdetak begitu cepat, ia sampai tidak fokus dengan kalimat yang akan ia ucapkan pada Alviro. Apalagi sekarang Alviro menatap lekat dirinya, sungguh ini yang paling Jihan benci.


"Lo harus mandi, jika tidak kita akan terlambat" cicit Jihan tidak berani menatap ke mata suaminya. Jika ia melakukannya maka, akan Jihan pastikan jantungnya meledak seketika.


"Alviro" kaget Jihan, tiba-tiba Alviro malah membalikkan posisi mereka. Kini Jihan lah yang berada di bawah Alviro, membuat jantung Jihan semakin berpacu lebih cepat dari tadi.


Alviro tetap diam, ia hanya menatap Jihan lekat.


"Alviro.. " lirih Jihan berusaha mendorong dada Alviro agar segera melepaskan dirinya.


"Bibir lo harus di hukum, karena selalu membuat kesalahan"


"Huh? " kaget Jihan tak mengerti, ia tidak bisa mencerna apapun sekarang. Sekuat sistem di tubuhnya seakan berhenti bekerja.


Cup~


Alviro mengecup dan menempelkan bibirnya dengan bibir Jihan. Membuat si empunya bibir manis itu langsung memejamkan matanya. Ia tidak memberikan pergerakan apapun, namun tangannya mencengkram erat kaos yang Alviro kenakan. Entah apa yang merasuki Alviro, ia malah larut menikmati bibir ranum nan manis milik Jihan.


Mereka pun larut dalam hangatnya gairah di pagi itu. Alviro terus menyerang Jihan dengan ciuman bertubi tubi, tanpa memberi jeda untuk Jihan bernafas.


"Alviro, ahh.. " Jihan mendorong sedikit dada Alviro. Membuat pria itu sedikit memberi jarak.


"Ada apa hm? " gumam Alviro, ia beralih menyerang leher Jihan.


"Ahh.. Alviro aku mohon berhenti.. Ahh... Kita akan terlambat jika begini terus" ucap Jihan di sela sela lenguhannya. Dadanya turun naik menahan gejolak yang sudah di bangkitkan oleh suaminya.


"Baiklah, Aku akan mengampuni mu pagi ini, tapi tidak untuk nanti malam"


Cup.


Setelah mengecup sekilas bibir Jihan, Alviro berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Tinggallah Jihan yang masih terbaring di atas ranjang menikmati sisa sisa cumbuan yang Alviro berikan. Jihan sungguh larut, ia tidak bisa mengendalikan dirinya jika Alviro sudah membelainya. Seluruh tubuhnya seakan berkhianat dan tidak mau melakukan yang Jihan perintahkan.


...----------------...


Istirahat pertama pun telah tiba, Jihan dan kedua sahabat nya bersiap untuk menuju ke kantin.


Ketika Jihan hendak melangkah melewati meja Ringgo, tiba-tiba Lidia mendorong kursi Ringgo hingga terjatuh ketika Jihan melewati nya dan membuat Jihan terjatuh.


"Jihan!!! " pekik Ria dan Fela kaget. Lidia tersenyum menang.


Ria membantu Jihan berdiri, sementara Fela menarik tangan Lidia dan mendorong nya ke lantai.


"Lo apa apaan sih" bentak Lidia.


"Lo yang apa apaan!! wanita tidak tahu di untung!!! " bentak Fela.


"Lo gak papa kan Jihan? " tanya Ria khawatir, Jihan menggeleng pelan, ia tidak apa apa. Hanya saja kedua tulang keringnya terasa ngilu karena terbentur ke kaki kursi


...----------------...