
Jihan menggeleng melihat Anji kembali mendekat kepadanya. Sebuah alat yang seperti nya akan membahayakan dirinya di bawa oleh Anji.
"Jangan" suara lemah Jihan.
"Hahahahah.... Kenapa? apa kamu sudah siap? " Anji kembali mendekat, ia bersiap akan menancapkan benda itu pada surga dunia Jihan. Benda itu akan secara otomatis begerak seperti layaknya pusaka laki-laki yang keluar masuk di dalam sana.
Sekuat tenaga Jihan merapatkan paha nya, namun Anji jauh lebih kuat.
Dor!!!!!
Dor!!!!
Tiba-tiba terdengar banyak ledakan dan suara tembakan pistol. Anji menghentikan gerakannya.
"Sial! " Umpat Anji.
"Jangan coba coba kabur! " ancam Anji sebelum berlalu keluar.
Sementara dari luar, anak buah Anji sudah tumbang dan ada sebagian yang meregang nyawa. Dengan beraninya seorang gadis berdiri di depan barisan pria yang memakai baju serba hitam kas seorang bodyguard.
Anji melebarkan mata nya, semua anak buahnya sudah tumbang.
"Hei siapa kau! " Menatap sinis pada gadis yang langsung melangkah mendekat pada nya.
"Bos, dia lah pemimpin nya" ucap salah satu anak buahnya.
Lidia tersenyum miring. Yah, gadis itu adalah Lidia. Gadis yang sengaja pergi diam diam dari teman temannya setelah mendapat informasi dari salah satu anak buahnya yang memang di utus untuk mengawasi Jihan.
"Di mana Jihan!! "
Cih.
Anji terkekeh misterius, ia berdiri santai menatap pada Lidia.
"Apa yang kau bicarakan? aku tidak tahu siapa itu Jihan" jawab Anji licik.
"Gak usah pura-pura lo!! " bentak Lidia. Sorot matanya tidak bersahabat.
"Gelada gedung ini!!! " perintah Lidia. Pasukannya langsung bergerak cepat.
"Pengawal!!!! Pengawal!!!! " teriak Anji memanggil anak buah nya. Namun tidak ada satu pun yang datang.
"Cih, mereka tidak akan datang pria lemah, karena saat ini mereka sedang meregang nyawa" ucap Lidia dengan senyum meremehkan. Saat ini ia persis seperti Mirna, semua didikan mirna sudah ia dalami. Sebagian pasukan Mirna juga sudah Lidia kendalikan. Sejak ia tinggal di London, Lidia mulai diam diam mendalami ilmu bela diri, mendalami semua perbisnisan gelap, semua yang sedang Mirna lakukan sudah ia pelajari.
Sementara di dalam salah satu kamar tempat Jihan di sekap, ia berusaha mengendalikan dirinya dan berusaha untuk kembali memakai pakaian nya. Suara ribut di luar sana terdengar sangat jelas, apalgi ledakan pistol semakin dekat.
*Bagaimana ini, apa aku akan mereka bunuh?. Ya Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan diriku kotor bersama pria itu. Alviro, selamat kan aku.
Brak~
Brak~
Jihan melirik ke arah pintu, sepertinya ada seseorang yang berusaha mendobrak pintu dari luar.
Brak~
Satu hempasan kuat membuat pintu yang terkunci langsung terbuka lebar. Jihan memejamkan matanya takut, ia sudah tidak berdaya ngapa ngapain lagi. Jihan sudah pasrah menerima semuanya.
"Lidia? " Jihan kaget, yang muncul bukannya alviro suaminya, tapi malah Lidia musuh yang selama ini selalu membuat bencana di kehidupan nya.
Lidia mendekati Jihan, ia tersenyum kepada Jihan dan hendak membantu Jihan berdiri. Belum sempat tangannya menyentuh tangan Jihan, gadis itu sudah lebih dulu bergerak menjauh.
"Jihan, gue datang ke sini buat nolongin lo. Please percaya sama gue" ucap Lidia meyakinkan Jihan. Namun tetap sama, Jihan tidak percaya dengan Lidia.
"Pergi!!! apa lo belum puas nyakitin gue? huh, lo kan yang buat gue di lecehkan. Dulu lo yang buat gue di benci sama Alviro, dan sekarang liat buat gue seperti ini" Jihan mulai terisak, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Tidak Jihan, gue gak ada hubungan nya sama penculikan lo ini!! "
"Bohong!!! gue tahu lo siapa!! lo gak akan pernah suka liat gue bahagiakan!! "
"Tidak Jihan, gue emang salah sama lo. Tapi kali ini gue benar-benar ingin menyelamatkan lo" Lidia menatap Jihan dengan tatapan tulus. Ia benar-benar tidak ada maksud lain.
"Ayo ji, sebelum mereka semakin banyak. Kita harus pergi" bujuk Lidia lagi. Ia menggapai tangan Jihan yang masih lemas, Jihan masih terisak dalam tangisnya.
"Ayo pergi" titah Lidia, ia membopong jihan pergi bersama nya. Mau tidak mau Jihan hanya pasrah ikut bersama Lidia.
Ketika tiba di luar, Jihan melihat pria yang sudah melecehkan dirinya terkapar di lantai. Seperti nya Lidia benar-benar sudah menghabisinya.
"Ayo Jihan, suami lo udah nunggu lo di rumah" ujar Lidia sembari berusaha keras membopong Jihan.
"Di rumah? " beo Jihan.
"Dia sekarang lagi panik nyari lo, dia di tipu sama Anji ke suatu daerah. Tapi sekarang seperti nya mereka akan kembali ke rumah, karena kehilangan jejak kami" Lidia masih tetap berusaha menjelaskan agar Jihan tidak salah paham.
Mereka masuk ke dalam mobil, Lidia membantu Jihan yang terlihat sangat lemah.
Setelah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Jihan menatap Lidia yang juga sudah duduk di samping nya. Ia masih tidak percaya jika Lidia benar-benar sudah menyelamatkan nya.
"Gue tahu lo masih ragu sama gue, tapi gue kan buktiin sama lo. Gue akan bawa lo kembali dengan selamat. " Lidia menggenggam tangan Jihan agar gadis sebaya nya itu merasakan ketulusannya.
Jihan mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Lidia. Gadis itu benar menyelamatkan dirinya dari pria bejat itu.
"Jalan! " titah Lidia. Seketika itu mobil langsung berjalan sesuai perintah Lidia.
Jihan melihat ke belakang mobil, ada beberapa mobil mengikuti mereka dari belakang.
"Mereka anak buah gue" jawab Lidia menjawab kebingungan Jihan di dalam pikiran nya.
Setelah ucapan terakhir Lidia, tidak ada lagi yang membuka mulut diantara mereka. Jihan melihat ke luar jendela, ternyata Anji membawa dirinya di tengah kota, bukan di tengah hutan seperti Mirna dulu.
Jihan merasa tubuhnya berkeringat dingin, perutnya sangat sakit. Tulangnya terasa ngilu dan rasanya ingin pingsan. Sejak kemarin Jihan belum menyentuh makanan sedikit pun.
"Lo kenapa? " tanya Lidia panik ketika menoleh pada Jihan dan melihat gadis itu terkulai lemes.
"Cepat!!! cari rumah sakit terdekat!!! " teriak Lidia pada anak buahnya yang mengemudi di depan.
"Bain bos! "
Mobil itu pun semakin cepat, mobil yang mengikuti mereka di belakang pun ikut menambah kecepatan mereka.
Citttttt!!!!! Citttt!!!!!!!
Tiba-tiba anak buah Lidia menginjak rem secara mendadak. Lidia yang tengah memegangi tangan Jihan langsung terhuyung ke depan, satu tangannya menahan tubuh Jihan agar tidak ikut terhuyung ke depan.
Jihan merasakan goncangan itu, antara sadar dan tidak sadar. Ia melihat Lidia sangat, melindungi dirinya. Namun, ia tidak kuasa untuk membuka mata.
"Ada apa ini! " bentak Lidia marah pada, anak buahnya.
"Maaf Boss, di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti! " jawab anak buah nya. Lidia pun melirik ke depan, matanya menyipit melihat siapa yang berani beraninya mengganggu perjalanannya.