
Tahun ajaran baru. Sebelum memasuki tahun ajaran baru, setiap sekolah pasti melakukan masa orientasi siswa terlebih dahulu.
Begitu juga dengan Sekolah menengah Atas Arya Jaya. MOS kali ini di ketua oleh Liem, dengan sangat terpaksa dirinya menghendle semuanya.
Di lapangan sudah berkumpul seluruh siswa baru dengan membentuk barisan yang rapi dan tertib.
Liem dan anggota panitia MOS sudah siap berbaris di depan siswa baru. Mereka memberikan sedikit arahan dan membacakan aturan aturan yang harus siswa baru perhatikan dan patuhi.
"Baiklah, kalian silakan masuk ke kelas masing-masing. Nama kalian sudah di tempel pada dinding pintu kelas. " jelas Liem.
"Siap kak! " jawab murid baru dengan serempak.
"Oke, silakan! "
Kumpulan murid baru langsung berhamburan menuju ke kelas yang sudah Liem dan panitia siapkan.
Di dalam kelas, sudah terdapat mentor masing-masing di tiap kelasnya.
"Gue mentorin kelas mana? " tanya Liem pada Kekia, sekretaris acara.
"Kelas 3" jawab Kekia. Semua murid baru sudah di bagi menjadi 10 kelas. Mereka masih tergabung tanpa di pisahkan antara IPA dan Ips.
Liem mengangguk pelan, lalu berjalan menuju ke kelas 3.
Bug~
Seseorang tanpa sengaja menubruk punggung Liem.
"Aduhhh, kalo jalan tu liat liat dong! " hentak seorang siswi kesal, ia sibuk membersihkan rok dan beberapa barang barang nya yang terjatuh.
Liem tidak bergeming, ia hanya menatap gadis yang ia pastikan adalah siswi baru di sekolah ini.
"Lain kali hati hati lo! " ucap siswi baru itu lagi melihat pada Liem dengan kesal sembari berlalu begitu saja.
Namun, Liem tidak membiarkannya begitu saja. Ia menarik tali tas siswi itu sehingga terhenti.
"Heh! ada apa lagi sih? lepasin! " bentak Siswi itu menoleh pada Liem dengan kesal.
"Lo baru datang? " tanya Liem menarik tali tas itu sekali sentak, sehingga gadis itu langsung terhuyung padanya. Beruntung semua orang sudah masuk ke dalam kelas, jadi mereka tidak perlu menjadi sorotan.
Sudah cukup Liem menjadi sorotan ketika berpidato di depan ketika memberikan arahan. Banyak yang bersorak memuji ketampanan dirinya. Bukannya bangga, akan tetapi itulah kenyataannya.
Banyak yang masuk ke sekolah elit ini di karenakan iKON nya adalah anak anak Wolf. Berharap menjadi jodoh salah satu dari mereka.
"Heh! mau gue telat atau gak. Itu bukan urusan lo! " kata gadis itu lagi.
Liem berani bersumpah gadis ini menyebalkan sekali. Sebenarnya tanpa Liem tanya pun ia sudah tahu jika gadis itu terlambat. Karena, jika ia ikut bergabung ketika pengarahan tadi, gadis itu akan tahu siapa dirinya.
"Lepasin! bege. Gue harus masuk nih!!! " rengek gadis itu sembari menarik paksa tali tas nya dari genggaman tangan Liem.
"Dasar, menyebalkan. " siswi itu mendelik kesal pada Liem. Kemudian berlari masuk ke dalam kelas yang sudah ia pastikan ada namanya di sana.
"What?? dia benar-benar sudah gila? " gumam Liem tak percaya melihat tingkah junior nya.
Liem menggeleng pelanggan, kemudian kembali melanjutkan langkah nya menuju ke kelas 3.
Sementara itu, di dalam kelas 3 terdapat keributan yang sangat heboh. Para cewe cewe nya kegirangan mengetahui siapa yang menjadi mentor mereka.
"Hai, nama gue Jasmin. " ucap gadis yang berperawakan cantik, rambut ikal namun panjang tergerai. Ia mengulurkan tangan pada Cantika Larasati, gadis tomboy yang terlihat acuh dengan area sekitar.
"Gue Cantika" jawab nya tersenyum.
"Lo di sini ada temen? atau cuma lo doang yang masuk ke sini? " tanya jasmin.
"Gue sendiri, teman temen gue pada ke luar kota" jawab Cantika seadanya.
Jasmin mengangguk pelan, kemudian menarik satu kursi di samping Cantika.
"Silahkan" jawab Cantika.
Jasmin terus mengoceh, ia menceritakan semua tentang dirinya pada Cantika. Ia juga menanyakan semua hal tentang Cantika, meskipun gadis itu tidak menceritakan tentang dirinya jika Jasmin tidak bertanya.
"Semoga kita menjadi teman yang baik yah" ujar Jasmin yang di balas dengan senyum oleh Cantika.
"Itu kak Liem datang!!!! " sorak siswi yang mengintip di balik pintu.
Satu kelas langsung heboh dan duduk di tepat masing-masing.
"Ada apa sih? " tanya Cantikan bingung.
"Lo gak tahu?, Kak Liem si ketua panitia yang cakep itu bakalan jadi mentor kita" kata Jasmin.
"Gue gak tahu" balas Cantika acuh.
"Yahh kok lo gak tahu, kan tadi yang pembukaan. Hmm... Pasti lo telat? " tebak Jasmin. Cantika hanya tercengir menjawab nya.
"Pantesan lo gak tahu kak Liem yang tampan. Meskipun gak setampan kak Alviro" kekeh Jasmin.
"Lah, Alviro siapa lagi? " tanya Cantika heran. Baru masuk aja Jasmin sudah tahu banyak tentang sekolah ini sekaligus orang orang nya.
"Di sekolah ini ada yang namanya geng Wolf. Mereka terkenal tampan tampan dan tajir banget. Banyak yang masuk ke sekolah sini tu karena mereka" kekeh Jasmin lagi, karena dirinya adalah salah satu yang seperti itu.
"Selamat siang! "
Liem masuk ke dalam kelas 3, ia langsung berdiri di depan menatap satu persatu juniornya.
"What? " pekik Cantika tertahan, ia menutup bibirnya agar tidak terdengar oleh Liem. Jasmin yang berada di sampit nya ikut kaget melihat reaksi Cantika ketika melihat seniornya.
"Jadi dia ketua panitia? pria yang mereka puja puja? " batin Cantika. Ia tidak berani mengangkat kepalanya takut terlihat oleh Liem.
"Baiklah semua nya, kita akan memulai dari tahap perkenalan diri dulu" kata Liem. Semua siswa siswi taman bersemangat, terutama kaum hawa.
Liem menatap satu persatu wajah junior nya, hingga tatapan matanya terhenti pada satu siswi yang sejak tadi menundukkan kepalanya.
"Oh jadi dia di kelas ini, huh liat aja nanti"batin Liem, sebuah ide masuk ke dalam benak Liem. Entah mengapa jiwa kalemnya mendadak berubah ketika melihat gadis itu.Namun, Liem masih belum menyadarinya.
"Di mulai dari kamu! " tunjuk Liem pada Cantika.
Karena tidak memperhatikan ke depan, Cantika tidak tahu jika Liem menunjuk dirinya. Hingga Jasmin menyikut lengan Cantika.
"Ada apa? " tanya Cantika dengan suara pelan.
"Kak Liem nyuruh lo maju ke depan tu" kata Jasmin.
"What?? " kaget, Cantika melebarkan matanya mendengar ucapan Jasmin.
"Hei!! kamu. Apakah kamu tuli? " ucap Liem tegas, membuat siswa siswi menjadi terdiam dan menurut pada apa yang Liem katakan.
"Saya kak? " tunjuk Cantika pada dirinya sendiri.
"Gak, tapi sama monyet! " jawab Liem kesal membuat seluruh seisi kelas tertawa renyah mendengar jawaban Liem yang menatap Cantika dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Oh syukurlah kalau gitu" balas Cantika polos dan lugu.
"What?? " batin Liem menjerit menghadapi wanita seperti Cantika, ia benar-benar kehabisan akal.
...----------------...
Ini khusus Liem yah, kasian gak dapat pasangan di bab yang lalu. Jadi aku buat episode yang khusus tentang dia.
Terimakasih semuanya. 😘