I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 50



Alviro mengikuti arah GPS Jihan, mobilnya membela hutan yang terletak jauh dari Kota. Alviro semakin yakin, jika Mirna pasti akan mencelakai Jihan. Sempat hal itu terjadi, maka Alviro tidak akan mengampuni Mirna. Akan Alviro pastikan Mirna mendapat balasan yang setimpal.


"Jihan, tunggu gue" gumam Alviro berharap Jihan dapat mendengar nya.


Sementara di belakang mobil Alviro sudah terdapat beberapa mobil yang mengikutinya.


Arvan sudah menggerakan beberapa anak buah nya untuk mengikuti mereka mencari Jihan. Arvan yakin semua ini sudah di susun oleh Mirna sebaik baiknya. Jadi, untuk berjaga jaga Arvan membawa anak buahnya sedikit lebih banyak.


"Arvan! sebenarnya lo mau bawa gue kemana? "


Lea sudah tidak tahan lagi, ia ketakutan ketika melihat mobil Arvan memasuki area hutan. Tadi pria itu mengatakan akan menyelamatkan Jihan, tapi mengapa sekarang ia malah membawanya ke pelosok belantara yang Lea sendiri tidak tahu dimana.


"Arvan!! " seru Lea lagi. Ia menoleh pada pria itu dengan tatapan tajam, emosinya semakin tak terkendali.


Arvan juga salah, ia tidak sempat, menjelaskan apapun pada Lea, ia terus menggunakan otak cerdasnya untuk menyusun strategi. Sejak dari rumah Lea hingga mereka sudah berada di dalam hutan, Arvan tidak ada mengeluarkan suaranya. Ia terus diam dan fokus mengemudi.


Namun, suara Lea yang sejak tadi berteriak dan mengganggu konsentrasi Arvan. Tanpa sadar Arvan membalas Lea dengan bentaran keras dan tatapan tajam.


"Lo bisa diem gak! Gue lagi mikir. Jihan sedang terancam!! " bentak Arvan


Ia tidak bisa menahannya, Lea membuatnya tersulut emosi


Lea kaget, baru kali ini Arvan berani berbicara keras padanya. "Lo bentak gue? "


"Lea please, sekarang Jihan dalam bahaya. Mirna membawanya jauh ke dalam hutan" jelas Arvan, nada suaranya sudah melembutkan.


"Apa? Jihan di tahan? "


Arvan mengangguk, ia meraih tangan Lea dan menggenggamnya.


"Lo tenang yah, kita akan menyelamatkan Jihan. Tapi tolong tenang, dan diem. Gue lagi memikirkan strategi untuk melawan Mirna" ucap Arvan meyakinkan Lea.


"Lo serius? adik gue dalam bahaya? " ulang Lea masih belum percaya.


"Iya, nanti gue akan jelasin semuanya sama lo. Sekarang lo tenangin dulu diri lo" bujuk Arvan. Lea pun terdiam, ia tak mengeluarkan suara lagi.


Sementara itu Mirna di kagetkan oleh informasi yang di bawa oleh anak buahnya.


"Apa?? Alviro dan anak buahnya sudah tiba? " ucap Mirna kaget.


"Iya bos, mereka sudah berada di depan" balas anak buah Mirna.


"Sial." umpat Mirna, ia memang ingin mereka semua datang ke sini, tetapi tidak saat ini. Masih ada rancangan yang lain yang belum di jalankan.


"Kau pikir mereka tidak akan bisa menemukan mu? " decak Jihan tertawa dengan nada mengejek pada Mirna.


"Diam kau! " serga Mirna.


"Seret gadis sialan ini ke lantai atas, ikat dia di dekat jendela! " titah Mirna pada anak buahnya.


"Baik bos! " mereka pun langsung menyeret tubuh Jihan menuju ke lantai atas gedung, kemudian mengikat Jihan tak jauh dari jendela sesuai dengan permintaan Mirna.


Sementara itu, Mirna membawa anak buahnya yang lain untuk menyiapkan rencana keduanya. Mereka harus menyiapkan sebaik mungkin, meskipun ini terlalu cepat dan tidak sesuai dengan rencana awal.


"Bos, semua nya sudah siap. Mereka juga sudah mulai bergerak masuk ke dalam boss" jelas pria yang bertubuh besar pada Mirna.


"Bagus" Mirna tersenyum menyeringai.


"Mirna!!!!?! "


"Mirna!!!!! keluar kau!!! "


Mirna segera bersembunyi, suara Alviro mulai bergemah di dalam gedung.


"Bersembunyi terlebih dahulu. Biarkan mereka masuk semua, lalu tutup pintu utama setelah mereka sudah masuk. " jelas Mirna dengan suara yang pelan.


"Baik bos"


Mereka pun segera bersembunyi, menunggu semua orang orang Alviro masuk.


"Mirna!!!!! "


"Jihan!!!! "


"Jihan!!!!! "


Lea berjalan di belakang Arvan, tangan kanannya di genggam erat oleh Arvan. Sementara Ria dan Fela berada di sisi Albi dan Babas. Mereka di jaga oleh anak buah Arvan yang mengikuti mereka dari belakang.


"Serem banget deh Ria, gue semakin khawatir sama Jihan. Dia kan takut gelap! " lirih Fela khawatir.


"Semoga Jihan baik baik saja" sahut Ria.


setelah mereka semua masuk ke dalam gedung, tiba-tiba pintu bangunan itu tertutup sendiri.


Brak!!


"Hei!! siapa si sana! " teriak Alviro kuat. Seketika gedung menjadi gelap. Lea memeluk tubuh Arvan, Ria dan Fela bersembunyi di balik tubuh babas dan Albi.


"Santay boy, mereka seperti nya sudah menyiapkan sesuatu untuk kita" ujar Eldi.


"Bas, gue takut" lirih Fela memeluk tubuh Babas dari belakang.


"Udah lo tenang aja, gue gak akan biarin siapapun menyakiti lo" sahut Babas menenangkan Fela. Sementara Albi, ia menggenggam tangan Ria, ia berharap gadis nya tidak merasakan ketakutan.


"Keluar!!!! " tegas Alviro.


Tap.


Tap.


Teg.


Ketukan hak sepatu seseorang terdengar begitu menggemah. Di dalam ke gelapan, mereka hanya bisa mendengar nya saja, tanpa tahu apa itu. Hingga lampu menyala terang. Barulah mereka bisa melihat seseorang yang selama ini mereka anggap sebagai seorang guru yang cantik, anggun, dan juga berwibawa. Ternyata semua yang mereka lihat hanya sebuah topeng penutup kebusukannya.


Mirna berdiri di tepi pagar lantai 2, ia menatap lurus ke bawah.


"Ternyata, memang benar bu Mirna" Ria menutup mulutnya tidak menyangka dengan semua ini. Sama seperti Jihan, Ria sempat care pada, Mirna ketika ia tidak di hargai oleh Alviro sangat beberapa murid lain nya.


"Ternyata ibu sangat jahat!!! tampang cantik ibu sangat penipu!? " maki Fela menunjuk Mirna dari bawah.


"Tahan dirimu Fela! " tegur Ringgo.


"Hahahahaha.Kenapa? apa kalian kaget?. Wow, aku berhasil dong" kekek Mirna dengan nada, mengejek.


"Di mana Jihan? " bentak Alviro.


"Uuuu, sabar sayang, jangan terburu buru. Masih banyak permainan yang harus kita mainkan" balas Mirna. Tawa renyah nya membuat mereka semakin geram dan ingin menyerang Mirna saat ini juga.


Lea berjalan lebih maju, ia menatap Mirna dengan tatapan memelas. Alviro dan Arvan mengerut melihat apa yang Lea lakukan.


"Bu, apa kesalahan adik saya? kenapa ibu melakukan semua ini pada kami? aku tahu, yang mencelakai ku waktu dilab, adalah suruhan ibu" Lea menarik nafas dalam, ia juga memejamkan matanya sebentar.


"tolong lepaskan jihan bu, dia tidak ada urusannya dengan ibu. " mohon Lea, isak tangisnya terdengar semakin jelas.


"Hahahahaha.... Gak ada hubungannya? kamu salah besar Lea, kamu tidak tahu apa apa, tapi Alviro? dia tahu segalanya" ujar Mirna tersenyum penuh arti seraya melirik ke arah Alviro.


"Sial! " umpat Alviro semakin geram dengan Mirna.


"Sudah cukup Lea, jangan memohon pada iblis itu!!! " cegah Arvan, pria itu menarik Lea kembali ke belakang tubuhnya.


"Gue cuma mau Jihan selamat" lirih Lea di sela-sela isak tangisnya.


Mirna semakin menyukainya, ia semakin bersemangat melihat kerapuhan mereka.


"Sekarang, nikmatilah sambutan acara yang akan segera kita mulai"


Prok!! Prok!!


Mirna menepuk duakali telapak tangannya, 6 orang pria bertubuh besar turun dari lantai atas. Ia berjuang menuruni anak tangga, menatap Alviro dan Arvan dengan tatapan tajam.


"Nikmatilah Alviro" ujar Mirna.


"Sial!, hati hati semua nya" peringat Alviro pada semua teman temannya.


"Jangan jauh jauh dari gue! " peringat Arvan pada Lea, yang di balas anggukan kepala olehnya.


...----------------...