I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 6



KRINGGGH!!!!!!!!


"Ahh Berisik!!! " erang Jihan kesal, tanpa membuka mata ia meraba raba ke sumber suara yang membuat tidurnya terganggu.


Brak~


Jam waker yang masih berdering seketika berderai tak berbentuk lagi setelah menghantam dinding kamar.


Jihan kembali merebahkan tubuhnya, menarik sedikit selimut nya agar tidur nya lebih terasa nyaman.


Tak berapa lama, pukul 6.40. Lea mengetuk ngetuk pintu kamar Jihan, sembari berteriak memanggil nama adiknya.


"Jihan!!!! Jihan!!!!. "


Tuk!!! Tuk!!!


"Bangun woy!!! dah siang!! "


Lelah berteriak, namun tak ada sahutan dari dalam. Lea yakin jika adiknya masih molor. Tanpa berpikir lagi, Lea berjalan menuruni anak tangga, kemudian meminta kunci ganda kamar Jihan kepada bundanya.


"Bun, kunci ganda kamar Jihan mana? "


Tia tampak kaget, untuk apa Lea meminta kunci cadangan kamar adiknya?. Apa terjadi sesuatu?. Tia seketika terlihat panik.


"Ada apa sayang? kenapa kamu meminta kunci ganda kamar adik kamu? apa pintunya tidak bisa di buka? atau bagaimana? "


"Aduh bundaa.. Satu satu ih nanya nya. Lea kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu" kelu Lea, Tia terkekeh pelan.


"Maaf sayang, bunda hanya khawatir"ucapan Tia sembari memberikan kunci ganda kamar Jihan.


"Lea mau bangunin si kebo itu, sampai sekarang dia belum bangun juga. Padahal hari ini adalah hari pertama Jihan sekolah. Tapi Dia, malah mengunci kamarnya dari dalam" jelas Lea sembari berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Jihan. Tia tersenyum lega, ia pikir anak bungsu nya kenapa kenapa di dalam kamar, makanya Lea meminta kunci cadangan.


"Dek!! Astagaaaa, Jihan!!!!!! " teriak Lea melengking. Sudah hampir jam 7 Jihan masih saja bergelung di bawah selimut. Jam weker yang sengaja Lea stel di atas nakas samping ranjang nya juga sudah hancur tak berbentuk di lantai.


Jihan menggeliat pelan, suara bising kakaknya mengusik tidurnya.


"Aduhhh kak, ngapain sih ribut ribut di kamar Jihan"


"Ngapain ngapain. Bangun cepat!!! hari ini lo kan masuk sekolah bege!!! " teriak Lea menahan geram. Ia membuka gorden jendela kamar Jihan, kemudian menarik selimut Jihan agar gadis itu tak lagi bisa bersembunyi di balik selimut nya itu.


"Lo mau gue siram lagi? " ancam Lea sembari membuat ancang ancang hendak ke kamar mandi.


"Ehh iya iya.... Gue bangun!!! " pekik Jihan. Ia tidak mau di siram lagi, Jihan gak mau air kembali masuk ke telinganya gara gara Lea menyiram tanpa melihat posisi kepala Jihan.


"Bagus, sekarang lo mandi! gue tunggu di bawah"


"Iya, tapi beresin kamar gue" gumam Jihan memeberi syarat.


"Enak aja! beresin sendiri" tolak Lea, kemudian bergegas keluar dari kamar adiknya sembari menutup pintu kamar asal.


Baru aja Jihan akan merebahkan tubuhnya kembali, Tiba-tiba pintu kamar nya kembali terbuka, membuat Jihan kaget dan langsung turun dari ranjang.


"Jangan sampai gue balik lagi dan menenggelamkan kepala lo di dalam bathtub" ancam Lea terdengar mengerikan. Kemudian kembali menutup pintu kamar.


"Astaga,, Bagaimana mungkin gue bisa punya kakak yang sangat kejam!!! " teriak Jihan kkesa sembari menghentak hentakan kakinya mengungkapkan rasa kesalnya.


Jihan masuk ke kamar mandi setelah merapikan tempat tidurnya. Tidak membutuhkan butuh waktu yang lama. Cukup 15 menit saja, Jihan sudah rapi dengan segala perlengkapan sekolahnya. Ia terlihat sangat cantik, pesonanya pasti akan membuat para siswa di sekolah barunya tergila gila padanya.


"Perfect" Gumam Jihan pada pantulan dirinya di cermin besar yang menempel di dinding kamarnya.


"Jihan!!! buruan!! udah telat ni!! " teriak Lea dari bawah.


"Iya iya!! sabar "


Jihan bergegas turun, menghampiri bunda dan ayahnya yang sedang menikmati sarapan paginya.


"Pagi bunda, muach"


"Pagi ayah, muach"


Jihan menyapa kedua orang tuanya, kemudian mengecup pipinya secara bergantian.


"Sarapan dulu sayang, bunda udah masakin kamu nasi goreng sama ayam goreng" ucap Tia lembut.


"Udah gak keburu bun, Kak Lea nanti terlambat" tolak Jihan dengan berat hati, karena nasi goreng bundanya itu sangat menggiurkan.


"Yaudah bunda bungkusin yah, biar nanti kamu bisa makan di kelas sebelum masuk" ucap Tia sembari bergegas masuk ke dapur untuk mengambil kotak makan. Kemudian kembali lagi ke ruang makan.


"Nah sayang, udah bunda bungkusin"


"Makasih bunda, jihan pergi sekolah dulu"


Jihan mencium punggung tangan bundanya, kemudian beralih pada ayahnya.


"Jihan berangkat dulu ayah"


"Iya sayang, hati hati. Yang fokus belajar nya" petuah Burhan. Jihan hanya mengangguk sembari tersenyum lebar. Lalu ia langsung berlari keluar rumah.


Jihan masuk ke dalam mobil, Lea dengan wajah kesalnya langsung melajukan mobilnya.


"Sorry kak, gue sedikit terlambat" ujar Jihan membuka suara.


"Sedikit telat, sedikit telat."


"Lo itu udah telat banyak. Lihat ni, sudah jam 7.10" ucap Lea menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jihan tercengir melihat jam yang sudah hampir mendekati waktu bel masuk berbunyi.


"Yahh gue gak tahu kak, untung aja kaka cepat bangunin gue" balas Jihan dengan suara imutnya. Lea serasa ingin memakan Jihan saat ini juga ketika melihat tingkahnya yang sok imut itu.


20 menit berlalu, mobil Lea melesat masuk ke dalam perkarangan sekolah, tepat saat mereka tiba di parkiran, bel masuk berbunyi.


"Ayo buruan keluar, bel udah berbunyi" ujar Lea buru buru keluar dari dalam mobil.


"Santai aja kali kak, kita kan udah sampai di sekolah"


"Aduhhh lo gak bakal tahu, sekarang lo ikutin aja apa yang gue bilang!! " ujar Lea langsung menarik tangan Jihan dan berlari melewati lorong kelas.


"Kenapa sih" gerutu Jihan sembari mengimbangi langkah cepat kaki Lea.


"Ehhhh... " Jihan hampir tersungkur ke lantai ketika Lea tiba tiba menarik tangannya dan langsung berbelok dan bersembunyi di balik tembok. Jihan bingung, sebenarnya kak Lea menghindari siapa.


"Kak.. "


Lea mengintip sedikit, ia mencari cari keberadaan anggota oasis yang tadi sedang patroli.


"Huh, syukurlah mereka sudah pergi" Lea bernafas lega.


"Kak, sebenarnya ada apa sih? " tanya Jihan menatap kakaknya bingung. Keningnya berkerut, Lea benar-benar terlihat aneh.


"Nanti bakal gue kasih tahu. Sekarang, Lo pergi ke arah sana. Di sana lo bakal nemuin ruang guru. " Tunjuk Lea ke arah kiri, tempat ruang guru dan kepala sekolah berada.


"Gue mau masuk dulu, gue gak bisa anter lo ke ruang guru, karena sebentar lagi guru akan masuk ke kelas gue. " jelas Lea lagi.


"Baiklah" sahut Jihan mengangguk mengerti, meskipun ia masih penasaran mengapa kakaknya tampak takut bertemu dengan anggota OSIS.


Lea berjalan santai menuju arah yang Lea katakan, Jihan membaca palang nama di atas konsen pintu ruangan yang luas itu.


[Ruang Guru]


"Nah pasti ini yang kak Lea maksud tapi" gumam Jihan. Kemarin ia tidak sempat sampai di ruang Guru, Lea hanya membawa Jihan ke ruang BK. Kebetulan pengurusan kepindahan siswa ada di sana.


"Jihan!!!! "


Jihan membalikkan tubuhnya mencari sumber suara yang memanggil namanya dari arah belakang. Seketika senyum nya tercetak, Fela dan Ria berjalan cepat menghampirinya.


"Kalian sudah sampai? "


"Udah, kita baru aja sampai" jawab Ria, di anggukki setuju oleh Fela.


"Yaudah yuk nemuin Gurunya" ajak Jihan menggandeng kedua lengan sahabatnya.


"Ayukkk"


Sementara di kelas 2 IPA 1 terdapat keributan. Lebih tepatnya kerumunan, mereka yang masih belum ada guru berbondong-bondong berdiri di depan kelasnya melihat geng wolf lewat.


"Ahhh tampan sekali!!! "


"Kak Al.... Calon masa depan gue"


Teriakan heboh mengikuti langkah kaki anak Wolf menuju ke kelas mereka. Alviro terlihat biasa saja, wajahnya datar tanpa ekspresi. Sementara Albi dan Babas tersenyum lebar sembari melambai lambai bak seperti artis.


Alviro duduk di bangku paling sudut urutan nomor 3. Ia duduk bersama Ringgo. Sementara Babas duduk dengan Albi di baris kedua urutan terakhir. Eldi dan Liem di depan Alviro dan ringgo.


Babas selaku ketua kelas, memeriksa setiap teman teman yang hadir. Sudah menjadi kewajiban Babas untuk menjaga teman teman nya agar tidak terlambat dan sering bolos sekolah. Setidaknya itu adalah nilai plus bagi guru sebagai pertimbangan nilai sikap Babas.


"Guys... Seperti nya kelas kita akan ada penambahan murid baru" ucap Babas memberikan informasi kepada temana temannya yang langsung terlihat antusias.


"Cewe apa cowo? " sahut Albi penasaran.


"Yah pasti cewe lah" jawab yang lain penuh harap.


"Kalo itu sih gue kurang tahu, tapi sesuai yang bu mirna infokan. Ada 3 murid pindahan yang akan masuk ke kelas kita"


"Semoga saja cewe semua nya" celetuk murid laki-laki.


"Cewe aja otak lo" cibir Albi, padahal diri nya juga mengharapkan hal yang sama.


"Kaya enggak aja lo bi" balasnya.


"Kalo kita pengennya sih, murid laki-laki. " sahut salah satu siswi.


"Kenapa? biar ada saingan Gue? " balas Eldi percaya diri.


"Kagak lah, biar gak ada saingan kita buat deketin Al" balas cewe satu nya lagi sembari melirik Alviro dengan senyum genitnya. Ucapannya pun langsung di sambut dengan tawa renyah dari teman temannya yang lain.


"Sudah! sudah tetap tenang! kita sebagai siswa teladan, harus mencerminkan hal hal yang baik kepada siswa lain" ucap Babas sok bijak sana.


"Kali aja pak Somat masuk, lu pasti kabur dah ah bolos" celetuk Liem.


"Apaan sih lu, biarin gue terlihat keren napa" sungut Babas kesal.


Ia terus berbicara di depan teman temannya tanpa sadar jika bu mirna sudah ada di belakang nya.


"Selamat pagi! "


Babas yang masih berdiri di depan teman temannya langsung berlari ke bangkunya. Ia kaget ketika bu mirna tiba tiba sudah ada di belakangnya.


"Kurang ajar lo, ga bilang bilang kalo bu mirna udah datang" gerutnya pada Albi.


"Haha sorry bro"


Babas tidak terima, ia malah memalingkan wajahnya dari Albi.


"Anak anak, kita hari ini kedatangan teman baru. Jadi tolong jaga sikap kalian agar teman baru kalian bisa menyesuaikan diri" jelas bu mirna.


"Baik bu.. "


Alviro tampak cuek, ia tidak terlalu peduli dengan ada atau tidaknya anak baru itu.


"Silakan masuk" titah bu Mirna.


Ketiga siswi cantik itu berjalan masuk ke dalam kelas, kemudian berbaris menatap semua teman teman barunya.


"Anjrit... Cantik banget"


"Wahhhh bakalan jadi motivasi biar jarang bolos"


"Saingan lagi, si Lika masih belum bisa di kalahkan. Yang baru udah dateng" lenguh siswi centil yang mengagumi Alviro.


Sementara Kelima anak wolf melongo melihat siapa yang berdiri di depan sana. Terutama yang berdiri di tengah tengah.


"Bi, itu temannya kak Lea"bisik Babas.


" Gue rasa bukan temannya Bas"


"Siapa dong? "


"Adiknya maybe, atau sepupunya"


"Gadis basket kemarin" batin Liem mengulum senyum.


"Silakan perkenalkan diri kalian" titah bu mirna. Ketiga gadis itu menganggu pelan.