I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 115



WARNING!!!! 17 KEBAWAH MOHON JANGAN BACA YAH.


"Lama tidak berjumpa gadis manis"


"Siapa kau, aku tidak pernah bertemu dengan mu sebelum nya" balas Jihan terus beringsut ke belakang. Ia mencoba mengingat siapa pria ini, namun tetap tidak bisa.


"Mungkin kau lupa, karena kita hanya bertemu sekali. "


Pria itu adalah Anji, lawan balab Alvaro dan Ringgo waktu itu. Apa kalian semua lupa? .


"Aku adalah pria yang tertarik pada mu ketika balapan malam itu. Sayang sekali, pria bodoh itu tidak memberi ku cela untuk menang! " Anji mendesah kesal.


Sementara Jihan terus mengingat pria ini, dan yah dia mulai mengingat pria yang mencoba kurang ajar padanya ketika di parkiran area mereka balapan.


"Melihat dari ekspresi mu, kau mulai mengingat ku bukan? " Anji tersenyum meremehkan ketidak berdayaan Jihan ketika gadis itu menepis tangannya.


"Apa yang kau inginkan dari ku!!! " tanya Jihan dengan nada penuh penekanan. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi, tubuhnya terjatuh ke atas ranjang.


"Stttt..... Tenang lah Jihan, kamu tidak perlu takut kepada ku. Aku tidak bermaksud jahat kepadamu! "


"Jika tidak ada niat jahat, mengapa kau menculik ku! " mata Jihan melotot tajam.


"Uuuuu Kau sungguh pemberani sayang, aku semakin tertarik kepada mu"


cih... Jihan meludah ke samping ketika mendengar panggilan sayang dari Anji.


"Jangan sekali kali kau memanggil ku dengan panggilan menjijikan itu! " sinis Jihan.


Anji malah tertawa, ia merasa lucu meskipun itu menyakiti harga dirinya.


"Lepas!! " Jihan meronta ketika Anji dengan kasar memeluk tubuhnya dari samping dan mencengkram dagu Jihan kuat.


"Jika aku sudah tertarik pada satu titik, maka titik itu harus menjadi milik ku. Dan kau sekarang berada di posisi titik itu. " Anji berbicara tepat di telinga Jihan.


"Aku tidak akan pernah menjadi milik mi, sampai mati pun aku tidak akan sudi! "


"Terserah kau saja, setelah anak ini lahir. Kau akan menikah dengan ku"


"Tidak!!! aku sudah menikah. Jadi aku tidak akan menikah lagi dengan mu!! " teriak Jihan berusaha mendorong tubuh Anji jauh darinya. Namun pria itu jauh lebih kuat, dekapan Anji semakin erat.


"Kau harus menjadi milik ku, jika kau tidak mau aku nikahi, maka aku akan memperkosa dirimu, hahahaha" tawa Anji menggelegar di dalam kamar itu.


Bruk~


Tubuh Jihan terhempas di atas ranjang, dengan cepat Anji menghimpit tubuhnya.


"Minggir!! "


"Tolong!!!! "


"Biadap!! "


Jihan terus berusaha lepas dari Anji yang berusaha menjamah tubuhnya. Ia tidak akan membiarkan pria lain menyentuhnya. Namun seakan menginginkan, Jihan merasa tubuhnya memanas, ia merasakan ada hal lain di tubuhnya.


"Apa kau sudah merasakan nya? " bisik Anji membuat tubuh Jihan menegang. Pria itu sangat licik, ia sudah menyuntikkan obat perangsang ke tubuh Jihan.


Tidak, Jihan menggeleng kuat. Ia harus terbebas dari Anji saat ini juga.


"Nikmatilah sayang, malam ini kita akan bersenang senang... "


Jihan tak berhenti di situ saja, ia terus memberontak, air mata sudah bercucuran mengalir di pelipis matanya. Obat itu sudah mulai bereaksi, Jihan semakin merasa gelisah. Pikirannya terus meminta agar pria itu menjauh, sementara tubuhnya meminta.


"Ahh... " satu ******* lolos di bibir Jihan. Dan hal itu sukses membuat Jihan mengutuk dirinya sendiri.


"Kau menolak ku, tapi tubuh mu meminta ku sayang" Anji tertawa menang. Ia terus menggerayangi tubuh Jihan. Satu persatu pakaian Jihan mulai terlepas dari tubuhnya.


"Memang indah, pantas saja pria brengsek itu tidak mau melepaskan kamu. Bahkan dirinya menikahi kamu lebih cepat"


Jihan menggeleng, ia berusaha menjauhkan payudara nya yang terpampang bebas di depan mata Anji.


Ketika pria itu menjulurkan lidahnya ke puncak gunung nya, Jihan merasakan sesuatu yang nikmat. Ia mulai tidak terkendali, permainan Anji hampir sama seperti Alviro. Bahkan ketika Anji dengan sengaja mempermainkan *********** dengan menjilat ujung gunung nya kemudian menjauh begitu saja, Jihan seolah olah membusungkan dadanya agar Anji kembali ke sana.


"Hahaha... Gimana sayang, apa permainan ku lebih hebat dari suami mu? "


"Aku mohon... Ahh... Lepaskan.... Aku"


Anji semakin tertawa lebar mendengar ucapan Jihan, mulutnya menolak tetapi tubuhnya meminta.


"Ahhh... Hentikan" desah Jihan, Anji dengan sengaja menggigit manja area perbukitan itu.


Kini tubuh Jihan sudah setengah bugil, baju seragamnya entah pergi kemana. Hanya tersisa rok abu abu nya saja. Berbeda dengan Anji yang masih lengkap dengan pakaian nya.


Satu tangan Anji bergerak menyingkap rok abu abu Jihan, sementara mulutnya masih sibuk di antara dua gunung itu.


Antara sadar dan tidak, Jihan menepis tangan Anji. Namun tepisan itu tidak bertahan lama, Akhirnya Jihan pasrah dan membiarkan nya saja. Ia akan sangat membenci dirinya sendiri karena sudah terbuai oleh pria asing ini. Darah muda dan efek dari obat perangsang itu membuat Jihan tidak bisa terkontrol.


"Ahh.... Ssshhh.. Ahh... Aku ahh.. Mohon, lepaskan aku"


"Kau milik ku, kau akan menjadi milik ku" tekan Anji, ingin rasanya dirinya memasuki Jihan saat ini juga. Karena sejujurnya Anji merasa sangat terangsang sekarang. Tubuh Jihan sangat indah, benar benar seperti yang ia dambakan.


Namun, semua itu di urungkan oleh Anji. Ia tidak mau memasuki gadis yang sedang hamil.


Jihan terkulai lemas, Anji benar-benar membuatnya tidak berdaya. Di lihatnya pria itu menjauh dari tubuhnya. Ia terlihat mengambil sebuah alat yang Jihan sendiri tidak tahu alat apa itu.


"Kau harus menikmatinya sayang, belajar lah untuk bertahan lama sebelum bermain dengan ku" bisik Anji.


...----------------...


Alvido dan teman temannya tiba di sebuah rumah tua yang terletak di pinggiran kota. Seperti yang Eldi katakan. Plat nomor itu terlacak si sana.


Mereka berdiri menatap rumah tua itu was was, alih alih takut ada orang yang menguntai dari dalam.


"Berhati-hati lah, mereka pasti tidak akan mudah untuk di kalahkan" kata Zidan. Mereka mengangguk paham. Lalu dengan berhati hati mereka masuk ke dalam rumah itu.


"Mobilnya memang ada di sini, merek pasti sudah tahu jika kita melacak merek" ujar Eldi. Mobil yang membawa Jihan terparkir di dalam garasi itu.


Babas dan Albi pergi ke lantai atas untuk memeriksa apakah Jihan di sekap di sana atau tidak. Sementara Zidan dan Alvido memeriksa lantai dasar.


30 menit berpencar, mereka kembali ke titik awal.


"Mereka tidak ada di rumah tua ini. Jejak pertanda Jihan pernah ke sini tidak ada! "kata Ringgo.


" Benar, di lantai atas tidak ada jejak orang mendatangi rumah ini" sahut Babas.


"Sial! mereka menipu kita! " umpat Alviro, mereka masuk ke dalam perangkap musuh.