
Alviro dan yang lain nya tiba di jalur yang Lidia katakan. Mereka terus berjalan mengikuti jalur itu, hingga sebuah mobil berhenti dan mengklakson pada mereka.
Alviro langsung berhenti, begitu juga dengan anak wolf yang lain. Mereka keluar dari mobil dan menghampiri mobil hitam yang memunculkan seseorang dari dalam sana.
"Gue Alviro! " ucap Alviro pada pria itu. Di dalam pesan itu Lidia juga mengatakan hal itu, mereka harus menyebutkan namanya terlebih dahulu agar anak buahnya yakin siapa mereka.
"Baik tuan, nona Jihan ada di dalam" kata supir itu. Alviro pun langsung membuka pintu nya.
Terlihat lah Jihan yang dengan kondisi lemah bersandar di jok mobil.
"Jihan... "lirih Alviro. Ia langsung masuk dan membawa Jihan keluar dari dalam mobil itu. Alviro merasa sangat sedih melihat kondisi Jihan yang terlihat sangat berantakan.
Ria dan Fela langsung mendekati Alviro yang menggendong Jihan keluar dari mobil itu.
" Ji... Bangun ji... "lirih Ria
"Ji.... " panggil Fela.
Alviro sibuk di dalam mobilnya, sementara anak anak wolf dan Zidan menghampiri anak buah Lidia.
"Di mana Lidia? " tanya Zidan.
Hufff...
"Kenapa? apa dia dalam bahaya? " tanya Eldi.
"Boss kami sedang menghadapi Mirna. Aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang" lirih anak buah Lidia, suaranya terdengar pasrah. Ia tahu bahwa Lidia tidak akan menang.
"Sial! " umpat Zidan. Ia berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan kekasihnya.
"Kak!!! " Alviro keluar dari dalam mobil, berjalan cepat mendekat pada mobil Zidan.
"Ada apa? "
"Aku ikut, aku harus membalas budi kepada Lidia"
"Tidak perlu, kau harus mengurus istri mu! " tegas Zidan. Namun Zidan tetap bersikeras ingin ikut.
"Ria, Fela, Rasya, tolong jaga istri gue. Bawa dia ke rumah bunda" titah Alviro, lalu ia masuk ke dalam mobil Zidan.
"Baiklah" sahut ketiga gadis itu, lalu mereka bergegas masuk ke dalam mobil Alviro dan melakukan mobil meninggalkan lokasi itu.
Rasya menatap Jihan iba, ia merupakan salah satu fans Jihan. Entah mengapa hidup gadis itu sangat malang, di usianya yang masih muda ia harus menghadapi kehidupan seperti ini.
"Fel, lebih cepat dong" pinta Ria.
"Iya ini udah cepet Ria"
Zidan dan yang lain tiba di lokasi pertempuran Lidia dam Mirna. Namun mereka tidak menemukan Lidia di mana pun.
Zidan mendekati salah satu anak buah yang tergeletak di tanah. Ia melihat orang itu masih bergerak, itu tandanya ia masih hidup.
"Tolong!! " lirih pria itu. Alviro memperhatikan apa yang Zidan lakukan.
"Tolong bantu boss kami, Mirna membawanya" lirih pria itu. Dia meminta Zidan untuk menolong Lidia, itu tandanya dia adalah anak buah Lidia.
"Kemana mereka membawa Lidia!? "
"Uhuhkk" pria itu terbatuk, ia terlihat tidak kuat lagi namun tetap memaksakan untuk berbicara.
"Lacak ponsel Lidia, dia sudah mengaktifkan GPS. Mirna tidak akan mengetahui tentNg hal itu" ucap pria itu susah payah.
"Cepat lah, uhuhkk... Jangan menunggu lagi" pria itu mendorong Zidan agar segera pergi.
Eldi langsung bergerak cepat melacak lokasi Lidia.
"Ketemu! mereka masih belum jauh! " kata Eldi.
"Ayo kak" seru Alviro. Zidan mengangguk, mereka bergegas masuk kembali ke dalam mobil.
...----------------...
Bruj~
Tubuh Lidia di lempar ke lantai yang berdebu tebal, ia sedikit terbatuk ketika debu itu menguap dan masuk ke dalam hidungnya.
Mirna berjongkok di hadapan nya, senyum merendahkan terlihat jelas di mata Lidia.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak melawan ku!,
Tapi kau selalu saja mencoba melawan ku! "
Cuih..
Plak!!!
"Berani sekali kau ******!! " bentak Mirna.
Lidia tidak merasa takut, dirinya memang sudah lemah. Tapi Lidia tidak akan pernah menunduk lagi kepada Mirna.
"Kau boleh menang sekarang, tapi ingat!
Selagi aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan kamu menghncurkan kehidupan mereka yang tidak bersalah! "
"Apa yang kau tahu soal rencana ku!!
Kau tahu bukan, bagaimana sakitnya hidup sendiri! " Mirna mencengkram dagu Lidia.
"Tentu saja aku tahu, kau membunuh keluarga ku!! " teriak Lidia.
Plak!!!
"Jangan berteriak pada ku! "
"Kenapa? kau hanya sampah!! Sampah!! " balas Lidia.
Plak!!!
Lagi dan lagi, entah tamparan yang ke berapa mendarat ke pipi yang sudah terlihat lebam.
"Mereka lebih dulu yang menghancurkan kehidupan ku!! "
"Tidak! tapi keluarga iblis mu lah yang penghancur! " jawab Lidia cepat.
Plak!!!!!
"Seperti nya berbicara dengan mu tidak lagi seru" Mirna bangkit, ia menatap Lidia menyedihkan.
"Beri dia hukuman yang setimpal! "titah Mirna pada anak buahnya sebelum ia keluar dari ruangan itu.
" Baik bos!! "mereka menunduk hormat, lalu mendekati Lidia yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai yang kumuh.
Sebenarnya mereka tidak tega, namun mereka tidak berani melawan perintah Mirna.
" Lakukan saja, aku tahu kalian tidak tega pada ku! "titah Lidia, ia bisa membaca keraguan dari tingkah mereka bertiga. Mereka merupakan orang kepercayaan Mirna, namun mereka pernah hampir di habisi oleh Mirna. Namun Lidia datang dan menyelematkan mereka.
"Tidak nona, kami tidak akan berani" jawab salah satu pria itu.
"Lakukan saja!! ini perintah! "
"Tapi! "
"Cepat!!!! " teriak Lidia.
ke tiga pria itu pun dengan tangan gemetar mengambil cambuk dan menggenggamnya. Mereka sungguh tidak berdaya, keselamatan keluarga nya ada di tangan Mirna. Dan Lidia juga merupakan orang yang menyelamatkan hidup mereka.
"Lakukan!!!! " titah Lidia.
Mau tidak mau mereka terpaksa mengayunkan cambuk itu ke tubuh Lidia. Air mata terus mengalir setiap kali cambuk mengenai tubuh Lidia. Mereka sungguh tidak tega.
Brak..
"Aku tidak sanggup! " ucap pria itu sembari melempar cambuk itu ke sembarang arah. Lalu ia memeluk tubuh Lidia seperti memeluk tubuh putri nya sendiri.
"Maafkan saya, maaf" lirih pria itu penuh penyesalan.
Ti.. Dak. Apa apa" balas Lidia lemah.
Dua pria yang lain ikut menangis, mereka terhenyak di lantai. Kaki mereka mendadak lemah melihat kerapuhan Lidia. Gadis belia yang sudah teraniaya sejak kecil.
Dorr!!!!
Dorr!!!
Dorr!!!
Ketiga pria itu langsung tumbang tak bernyawa. Mirna dengan sadisnya menghabisi ketiga pria itu karena sudah mengkhianati nya.
"Dasar tidak berguna! " desis Mirna.
Sementara Lidia hanya bisa memejamkan mata menahan gejolak kemarahan di dalam hatinya. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi, Mirna memang iblis yang selalu membunuh setiap orang yang menyayanginya.
Lidia tidak bisa berbuat apa apa, tubuh nya sangat lemah saat ini Ia tidak mampu untuk melawan wanita itu.
"Nikmati lah kebersamaan mu yang terakhir dengan mayat ini! " ujar Mirna tersenyum miring. Lalu ia melangkah keluar dari ruangan kumuh itu dan menguncinya sendiri. Ia tidak akan percaya kepada siapapun lagi.