I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 119



Fela Rasya dan Ria tiba di kediaman Rafier. Mereka meminta pak satpam untuk membantu mengangkat Jihan masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati pak" kata Ria khawatir ketika pak satpam menggendong Jihan.


Dari dalam Tia keluar karena mendengar suara ribut di depan rumah nya. Ketika tiba di luar Tia langsung histeris dan berlari mendekati pak satpam.


"Jihan!!!!


Ada apa dengan putri saya"


"Maaf tante, nanti kita bakalan jelasin. Bawa Jihan masuk dulu" jawab Fela.


Tia mengangguk setuju, mereka langsung bergegas membawa Jihan langsung ke kamarnya. Pak satpam dengan sangat hati hati membaringkan Jihan di atas ranjang.


"Pak, tolong panggilin dokter" titah Tia.


"Sayang, Bunda di sini nak.


Kenapa bisa jadi seperti ini sih.. "


Tia menangis terisak melihat kondisi putrinya. Baru beberapa hari yang lalu putrinya keluar dari rumah ini bersama suaminya. Sekarang ia tiba-tiba datang dalam kondisi yang sangat buruk.


Fela mendekati bunda Jihan.


"Maaf tante, kita juga sangat kaget dengan kondisi Jihan.


2 hari yang lalu, Jihan di culik oleh seseorang yang kami juga tidak tahu siapa. Tapi Lidia menolong Jihan, dan sekarang malah Lidia yang di tahan oleh Mirna" jelas Fela.


"Apa? Lidia? " Lea masuk ke dalam kamar Jihan. Matanya membesar melihat adik kesayangan nya terbaring lemah di sana.


"Kak Lea" gumam Ria.


"Jelasin sama gue!!! "


Lea mengepalkan kedua tangannya, ia melirik Rasya yang ia kenal dekat dengan Lidia.


"Lo pasti sekongkol kan sama wanita itu!! " bentak Lea.


"Kak Lea apa apaan sih, tidak kah kakak mendengar penjelasan Ria. Lidia yang menyelamatkan Jihan, bukan dia yang mencelakai nya! " balas Rasya tidak terima Lea menyalahkan Lidia.


"Gue gak percaya dengan Lidia, dia itu wanita ular! "


"Tapi nyatanya Lidia yang menyelamatkan Jihan kak! " sahut Fela.


Lea tak bicara lagi, ia kembali menatap Jihan yang masih belum membuka matanya.


"Permisi" ucap seorang dokter yang baru saja masuk ke dalam kamar Jihan bersama pak satpam. Tia langsung menyambut dokter itu, lalu memintanya untuk menyadarkan putrinya.


"Tolong selamatkan putri saya dok" lirih Tia. Sang dokter pun mengangguk. Lalu memeriksa kondisi Jihan.


Tia dan yang lain tampak khawatir, mereka bergerak gelisah melihat sang dokter memeriksa Jihan.


"Bagaimana dok? " tanya Tia.


"Nona Jihan hanya kelelahan saja, seperti nya ia terkontaminasi dengan obat perangsang berdosis yang cukup tinggi. Di tambah lagi nona Jihan tidak ada mengkonsumsi makanan seharian. " kata dokter menjelaskan hal yang menyebabkan Jihan pingsan.


Tia menutup mulutnya, ia tidak menyangka hal berat seperti ini akan menimpa putri nya.


"Ya ampun Jihan... " Ria tak percaya dengan apa yang di dengar nya.


"Lalu dok, bagaimana keadaan janinnya? " tanya Lea.


Ria dan Fela langsung saling pandang, mereka masih belum tahu soal ini.


"Jihan hamil? " ucap mereka serempak.


"Kondisi janin nya baik baik saja, meskipun sekarang dalam keadaan lemah.


Nanti setelah nona Jihan sadar, mohon berikan obat ini" dokter memberikan 2 tablet obat berbeda jenis.


"Terimakasih dok" jawab Tia menerima obat itu.


"Baik lah, kalau begitu saya permisi dulu "pamit sang dokter. Pak satpam yang berdiri dekat pintu pun langsung bergerak mengantar sang dokter.


Lea mendekat pada bundanya. Ia mencari cari keberadaan adik iparnya. Di saat kondisi Jihan seperti ini, seharusnya Alviro ada di sini.


" Bun, Alviro mana? "


"Dia membantu Zidan menyelamatkan Lidia kak" jawab Fela. Lea tak bersuara lagi, ia malah fokus pada Jihan.


Engg....


"Nak, sayang.... " Tia mendekati putrinya.


"Sayang, kamu baring aja dulu. Jangan bergerak terlalu banyak.


Lea, ambilin air dan makanan" titah Tia pada Lea yang langsung bergerak cepat.


"Jihan... "


Jihan menoleh pada Fela yang memanggilnya, ia juga melirik Ria dan Rasya.


"Lidia mana, apa dia baik baik saja? " tanya Jihan mulai cemas. Apalagi teman temannya tidak ada yang mau buka mulut, itu berarti Lidia dalam masalah.


"Lidia dimana bun,


Kak Lea. Apa Lidia berhasil di selamat kan? " Jihan beralih menatap kakaknya.


"Lidia masih di selamatkan oleh suami kamu dan.. " ucapan Lea terhenti karena suara ponselnya.


"Dan Suami kakak juga" lanjut Lea. Arvan baru saja mengiriminya pesan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi Alviro.


"Semoga mereka berhasil" gumam Jihan mendoakan.


"Sayang, yuk makan dulu biar kamu segera pulih" kata Tia sembari menyuapi Jihan nasi yang di bawa Lea.


Jihan pun tidak menolak, ia menerima setiap suapan yang bundanya berikan. Perlahan air mata menetes di pelupuk mata Jihan, hal itu membuat bunda Tia dan yang lain menatap Heran.


Sementara di tempat yang lain, Lidia menangis dalam diam. Melihat orang yang berniat melindungi nya tergeletak tak bernyawa.


Dalam hati Lidia terus merutuki dirinya, memaki dirinya yang telah menyebabkan banyak orang menderita.


"Hikss... Mama... Papa... kenapa kalian gak jemput Lidia. Kenapa kalian malah seneng lihat Lidia sendiri seperti ini"


Lirihan hati Lidia terdengar memilukan. Di tambah lagi dengan kondisinya yang benar-benar tidak bisa di katakan baik baik saja.


Ceklek...


Pintu gudang kembali terbuka, Lidia tak sanggup untuk menoleh lagi. Ia memejamkan mata acuh, terserah siapapun yang datang untuk menyiksa dirinya.


Lidia mendengar deru langkah kaki seseorang yang bersahutan. Langkah itu terdengar semakin mendekat padanya.


"Heh bangun!!! " ucap orang itu membangunkan Lidia dengan cara menendang kakinya.


"Heh bangun!!! "


"Akk.. " Lidia melenguh sakit, tubuhnya di paksa untuk bangun. Ia dapat mendengar retakan suara tulang belulang nya yang kelelahan.


"Dasar pemalas!! " bentak orang itu lagi.


Lidia mencoba untuk menatap wajah seseorang yang ternyata adalah mantan anak buahnya. Dia adalah anonim, wanita yang menantang Lidia karena merasa tidak adil.


"Anonim.. " panggil Lidia hampir tak terdengar.


"Cih, kau masih ingat ternyata padaku" Anonim tersenyum miring, ia merasa sangat senang melihat orang yang selama ini sangat ia benci.


"Dulu kau boleh memerintah ku seenak nya, tapi sekarang.


Kau tidak berdaya! "


Anonim menarik rambut Lidia dengan sangat kuat, dendam yang selama ini terpendam dapat ia balaskan.


"Kau iblis, kau tidak tahu siapa yang sedang kau bawa bersekutu! ." ucap Mirna.


Plak!!


"Sudah tidak berdaya kau masih sempat berkata seperti itu!.


Kau bisa saja aku bunuh sekarang juga! "


kecam Anonim menggeram. Bukannya takut, Lidia malah tertawa mendengar nya.


"Kau pikir aku takut? hahahaha,


Tidak Anonim, uhuhuhkkk....


Kau salah besar, aku tidak takut apapun! Jika kauembunuh ku, aku akan sangat bahagia.


Dan Aku... Akan tertawa di atas sana melihat penderitaan mu setelah kau tahu siapa wanita yang kau agung agungkan sekarang"


"Cih.. Kau wanita gila! "


Brak!


"Kau tunggu saja kehancuran yang akan kau rasakan" Anonim pergi begitu saja meninggalkan Lidia setelah rombongan nya memindahkan mayat mayat itu.