I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 105



Zidan dan Jihan sudah berkeliling mencari bakso yang Jihan ingin kan. Bahkan mereka sudah mengelilingi kota ini. Namun tidak ada bakso yang menggugah selera Jihan.


"Sebenarnya, lo mau bakso yang seperti apa sih Jihan? " tanya Zidan. Ia sudah sangat lelah membawa Jihan berkeliling. Bukannya mendapat bakso, Jihan malah merengek dan mengatakan jika bakso yang mereka datangi tidak enak. Padahal ia belum mencicipi nya.


"Maaf kak, tapi gue pengen bakso yang ada di kota kita " lirih Jihan menyebut bakso yang sejak dulu sering ia kunjungi bersama Alviro.


"Maksud lo? kita balik ke rumah gitu? "


Jihan mengangguk pelan, entah mengapa ia sangat menginginkan bakso itu sekarang.


"Yaampun Jihan, makan bakso yang ada di sini aja dulu. Besok kita pulang"


"Gak kak, aku maunya sekarang. Huaaaaaaa" Jihan malah menangis histeris, membuat Zidan menjadi panik.


"Baiklah baiklah, kita akan pulang sekarang. Tapi berhenti lah menangis" ucap Zidan pasrah.


Barulah Jihan menghentikan tangisnya, Zidan benar-benar di buat kacau oleh Jihan.


Huh, Alviro. Lo harus membayar mahal untuk hal ini. Geram Zidan.


Zidan mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Jodi untuk mempersiapkan penerbangan Jet pribadinya.


Setelah itu, Zidan langsung membawa Jihan kembali ke hotel untuk mengemasi barang barangnya.


"Loh, kita mau kemana kak? " tanya Jihan melihat kaget arah jalur mobil Zidan pergi.


"Kita balik ke hotel dulu, sebelum ke bandara" jawab Zidan.


"Gak! gue gak mau ke hotel itu. Aku mau, kita langsung ke bandar!! " putus Jihan.


"Tapi Jihan, adik sepupu gue yang paling manis. Gue harus mempersiapkan semua barang barang gue dulu. Baru pulang" lama lama Zidan semakin geram melihat tingkah Jihan. Entah mengapa tiba-tiba sikap Jihan berubah menyebalkan seperti ini. Biasanya Jihan akan sangat penurut padanya.


"Gak mau, pokoknya langsung ke bandara. Untuk barang barang lo, kan bisa di suruh asisten lo yang urus. Atau suruh orang lain kek" ucap Jihan seenaknya.


"Tapi.. Ah sudah lah! " Zidan akhir nya melajukan mobilnya menuju ke bandara. Persetan dengan barang barangnya, keinginan Jihan lebih utama saat ini.


Sesuai keinginan Jihan, setelah melakukan berbagai proses mempersiapkan Jet pribadinya. Akhirnya Zidan dan Jihan tiba di kota mereka pukul 9 malam.


Tanpa basa basi, Jihan langsung mengajak Zidan pergi ke penjual pinggiran yang biasa ia kunjungi dengan Alviro.


Zidan tidak banyak bicara, ia hanya menuruti kemana Jihan membawanya. Ia cukup duduk di samping Jihan, karena mereka di jemput oleh orang suruhan Zidan.


Sekitar 30 menit, akhirnya mereka tiba di depan gerobak penjual pinggiran. Zidan menatap Jihan dengan seksama. Seakan tidak percaya dengan apa yang adiknya idamkan. Di kota pelariannya tadi, Zidan membawa Jihan ke berbagai penjual bakso yang berkualitas dan berkelas. Tapi Jihan menolaknya, ia malah membawa Zidan ke tempat penjual pinggiran.


"Dek, lo yakin mau makan di sini? " tanya Zidan memastikan. Jihan pun mengangguk cepat dengan ekspresi yang sangat senang.


"Baiklah, jika itu yang lo inginkan" Zidan pun turun dari mobil, di ikuti oleh Jihan yang keluar dari pintu yang sama dengan Zidan.


Di tempat yang sama, Alviro mencium aroma khas tubuh Jihan. Ia menghirup udara sedalam dalamnya, seakan akan takut aroma itu akan menghilang.


"Aku terlalu merindukan nya, sampai sampai aroma parfum nya masih melekat di hidung ku" batin Alviro. Ia kembali melanjutkan memakan bakso yang entah sudah mangkok yang keberapa. Nafsu makan Alviro mendadak naik, ia sangat menikmati bakso ini.


Ketika dirinya asik melahap baksonya, tiba-tiba seseorang dari meja di belakang nya memukul punggung nya.


"Maaf mas, boleh minta cabe nya gak? " tanya Jihan.


Seketika tubuh Alviro menegang, suara yang selama ini ia rindukan terdengar dari arah belakang tubuhnya.


Karena merasa tak di respon oleh mas mas yang makan di meja belakang nya. Jihan kembali memukul punggung pria itu sedikit lebih keras. Hingga secara perlahan tubuh itu berbalik.


"Ada apa? " tanya Zidan yang baru saja selesai menghubungi mama nya dan juga bibinya perihal keadaan Jihan. Bahkan Zidan sudah mengatakan bahwa Jihan sekarang sudah kembali ke kota nya.


"Ji-han? " gumam Alviro terbata. Ia memberikan mangkok cabe ke tangan Jihan.


"Terimakasih" balas Jihan menerima mangkok cabe itu. Ia tidak menggubris keterkejutan Alviro ketika melihat dirinya. Ia malah memilih Fokus menikmati Bakso nya.


Alviro berdiri dari duduknya, ia menatap Zidan yang juga merasa terkejut dengannya.


"Lo ada di sini juga? " tanya Zidan kaget.


"Iya kak, gue merasa ingin makan bakso karena teringat pada Jihan" jawab Alviro jujur, matanya tidak beralih dari Jihan yang terlihat sangat lahap.


Zidan mendekati Alviro, ia menarik Alviro sedikit jauh dari meja Jihan.


"Gue bersukur jumpa sama lo di sini, gue sangat lelah mengikuti kemauan Jihan yang semakin kesini semakin Aneh" aduh Zidan.


"Aneh bagaimana? " tanya Alviro ikut bingung.


"Lo tahu gak, gue sudah berkeliling mencari tempat bakso yang Jihan inginkan. Tapi lo tahu apa endingnya? " ucap Zidan menggantung ucapan nya.


"Apa? "


"Jihan malah memilih tempat ini, gue harus membawanya terbang kesini untuk sebuah bakso pinggiran jalan" ujar Zidan tak habis pikir.


"Gue juga merasakan hal aneh kak" sahut Alviro. Ia merasa sangat aneh ketika Jihan malah terlihat acuh ketika melihat dirinya ada di depannya. Bukannya kemarin Jihan sangat marah dan tidak mau melihat nya lagi.


"Kenapa Jihan malah acuh yah, ketika melihat gue. " Gumam Alviro bingung.


"Nah itu dia, sikap dia berubah ubah dalam satu waktu" sahut Zidan.


Setelah berbincang empat mata persoalan Jihan, Zidan dan Alviro kembali ke meja Jihan.


Mereka memperhatikan Jihan yang terlihat acuh dengan kehadiran nya.


Setelah menghabiskan 1 mangkok dengan porsi penuh, Jihan kembali memesan 2 mangkok bakso lagi. Tentu saja hal itu membuat Alviro dan Zidan saling menatap.


"Lo serius dek, bakalan makan semua bakso ini? " tanya Zidan tidak percaya. Namun, Jihan tidak menjawab pertanyaan zidan. Ia hanya melirik Alviro dan Zidan sebentar. Lalu menerima 2 mangkok bakso dengan porsi jumbo dari mas penjual.


"Terimakasih" balas Jihan pada mas nya.


"Wahhh" decak Jihan kesenangan. Ia mengambil mangkok cabe yang terisi penuh dari meja kosong di sebelah nya. Lalu, Jihan menyendokkan beberapa sendok cabe ke dalam 2 mangkok bakso itu.


Glek..


Alviro dan Zidan menelan salivanya susah payah, perasaan mereka mulai tidak enak. Apalagi ketika melihat kuah bakso yang sudah berubah menjadi kuah cabe.


"Jangan sampai Jihan berpikir untuk menyuruh gue memakan itu" batin Alviro dan Zidan sama sama ketakutan.


...----------------...