
Keesokan pagi nya, Jihan dan Lea kembali membuat keributan. Lea terus menggebrak gebrak pintu kamar Jihan, hingga pintunya terbuka lebar. Lea tidak mau berurusan lagi dengan Arvan, cukup sudah selama ini pria itu terus mencari cari masalah dengan nya. Jadi Lea harus membuat Jihan bangun lebih awal dan berangkat tepat waktu.
"Jihan!!!!! " teriak Lea tidak sabaran di depan pintu kamar adik nya,namun tak kunjung di Sayuti oleh Jihan. Cukup lama Lea berdiri di sana, hingga pintu kamar Jihan terbuka dan menampilkan wajah kesal Jihan.
Senyum tipis terusir di wajah Lea, Jihan sudah rapi dengan seragam sekolah nya.
"Bisa gak sih, sehari saja gak ganggu tidur nyenyak gue! " gerutunya.
"He, lo pikir gue melakukan ini karena pengen ganggu lo"
"Trus apa lagi! " ketus Jihan sembari berlalu ke ruang makan.
"Yah karena gue gak mau berurusan sama ketos sialan itu" jawab Lea sekenanya. Namun Jihan tak begitu tertarik mendengar jawaban Lea, ia malah berjalan lebih dulu ke ruang makan.
"Pagi bunda, "
"Pagi ayah"
"Pagi juga sayang" jawab Tia dan Burhan serempak.
"Ada apa sih, pagi pagi udah ribut begini" ujar Tia pada kedua anak anaknya yang sama sama terlihat cemberut.
Jihan menarik kursi di samping bundanya, lalu mendudukinya. Sementara Lea duduk di samping Jihan.
"Tau tuh bun, kak Lea ribut di depan kamar Jihan" aduh Jihan cemberut.
"Gak papa sayang, kan kak Lea bangunin kamu yang tidur kaya kebo" sahut burhan dengan nada bercanda. Membuat bibir Jihan semakin mengerucut, ayahnya malah ikutan membela Lea.
Lea tersenyum lebar, "Lihat tu yah, bibirnya kaya Bebek"
"Ihhhh bundaa... Belain Jihan kek, kak Lea di belain ayah tu" rengek Jihan pada Tia yang hanya ikut tertawa saja.
"Sudah sudah, jangan merengut lagi. Sekarang mari makan, keburu telat nanti" ucap Tia menutup aksi ledek meledek suami dan anak anak nya.
10 menit Jihan dan Lea habiskan untuk sarapan pagi, sekarang mereka sudah siap berangkat ke sekolah. Jihan dan Lea berpamitan kepada kedua orang cara mereka dengan mengecup punggung tangan kedua nya secara bergantian.
"Lea sama Jihan berangkat bun, yah" ucap Lea pamit.
"Dah Bun, ayah" pamit Jihan pula.
"Hati-hati yah sayang, jangan ngebut!! " teriak Tia menatap kepergian kedua putri nya yang sudah menghilang di balik pintu.
Jihan dan Lea masuk ke dalam mobil Lea, Jihan belum berminat untuk pergi ke sekolah membawa mobil sendiri. Mungkin setelah kak Lea lulus saja nanti.
"Sudah siap? " tanya Lea melirik ke arah Jihan lalu kembali menatap ke depan setelah mendengar sorakan dari Jihan.
"Lets go!! " sahut Jihan bersorak. Lea langsung menginjak pedal gas, kemudian melaju meninggalkan rumah. Kekesalan mereka rasakan tadi, sudah menguap begitu saja. Kini mereka sudah terlihat sangat akur dan seperti tidak pernah terjadi perdebatan di antara mereka. Itulah yang di ajarkan oleh Tia dan Burhan kepada anak anak mereka. Jika terjadi selisih paham, maka harus diselesaikan secara baik baik, kemudian melupakan masalah itu jika sudah terselesaikan. Sehingga tidak ada lagi rasa dendam yang menghinggapi di hati mereka.
Setibanya di sekolah, Jihan dan Lea langsung keluar dari mobil. Seketika itu pula, perhatian murid murid yang berada di parkiran tertuju kepada mereka berdua.
Mata para siswa yang melihat kakak beradik itu tak berkedip. Jihan terlihat sangat cantik ketika rambut panjang nya di ikat tinggi dan tergerai di samping bahu. Sementara Lea terlihat sangat anggun dengan rambut panjang yang tergerai begitu saja. Semakin cantik ketika angin menerpa rambutnya, sehingga berterbangan memperlihatkan leher jenjangnya.
"Sempurna" decak Babas dan Albi yang baru saja tiba bersama anak anak wolf.
"Apanya yang sempurna, biasa saja" ucap Alviro ikut berkomentar.
"Katarak lo boy" sahut babas.
"Udah ayo masuk" ajak Ringgo menarik kedua kerah baju albi dan Babas, kemudian menyeretnya menuju kelas.
Lea dan Jihan hendak melangkah menuju ke kelas masing-masing, namun tiba-tiba Lika dan kedua kacungnya menghadang mereka.
"Heh, Anak baru! "
"Aduh, nenek lampir dari mana sih ini" gumam Jihan menatap malas pada lika dan kedua kacungnya.
"Sembarangan yah mulut lo! ngatain kita nenek lampir" ujar Lilie tak Terima di sebut nenek lampir oleh Jihan.
"Lika, lili, jejei, ngapain sih kalian hadang kita" tanya Lea heran, ia mulai tidak suka dengan anak kepala sekolah ini. Lika terlalu semena mena pada setiap murid hanya karena ayahnya kepala sekolah.
"Udah deh, Kak Lea pergi aja dari sini. Kita gak punya urusan sama kak Lea" ucap Lika mengusir Lea.
"Tau ih, dah mau lulus juga. Malah ikut campur urusan adik kelas" sahut Lilie lagi.
"What? ikut campur? "
"Heh Jihan! lo itu baru di sini, jangan coba coba sok ambil perhatian Alviro yah! " bentak Lika mengabaikan Lea yang berdecak kesal padanya.
"Alviro? " ulang Jihan. Ia mengingat ingat siapa yang bernama Alviro itu. Lagi pula untuk apa dirinya mendekati pria sialan itu. Sedangkan bertemu saja selalu bertengkar, bagaimana mungkin ia bisa mencari cari masalah hanya untuk mendekati nya. Jihan kemudian tertawa sinis, pemikiran lain muncul di benaknya.
"Kenapa lo tertawa? " tanya Lilie. Mereka bertiga menatap Jihan Heran.
"Jadi, lo merasa tersaingi sama gue? "
"Hahahaha" kini giliran Lea yang tertawa.
"Lika ...Lika, tampang seperti nenek lampir begini, gak mungkin bisa menyaingi kecantikan adek gue!! " ujar Lea masih tertawa, ia merasa lucu pada sikap adik adik kelasnya.
"Udah ah yuk Dek, cabut" ucap Lea menarik tangan Jihan.
"Percantik dulu wajah lo" bisik Jihan ketika melewati Lika. Kemudian berlalu bersama kakak nya menuju ke kelas masing-masing. Kelas Lea dan Jihan lumayan jauh. Kelas tiga terletak di lantai dua di gedung ketiga sekolah ini. Sementara Lea di gedung kedua lantai paling bawah.
Jihan tiba di depan kelasnya, senyumnya semakin lebar, ketika melihat Fela dan Ria melambaikan tangannya dari dalam.
"Selamat pagi guys" sapa Jihan pada keduanya.
"Kenapa? " tanya Albi ikutan bingung.
"Gue nyapa temen gue, bukan lo cunguks" jelas Jihan.
"Lah, kita kan sekelas, berarti teman dong" kekeh Albi.
"Betul" sahut Babas setuju.
"Lah, nambah lagi satu cunguks" kesal Fela. Ia masih ingat kejadian kemarin, Babas dengan percaya diri menghampiri dirinya dan mengatakan sayang tanpa permisi. Dan hal itu membuat Fela merasa sangat kesal.
"Bebs, jangan cemberut dong. Makin imut tahu gak"
"Ihhhh amit amit deh, " Fela mencak mencak kegelian ketika mendengar godaan dari Babas.
"Hahaha... parah lu bas" sorak Eldi.
"Namanya usaha" ucap Babas masih dengan senyum manis menatap kearah Fela.
Sementara di samping Ringgo, Alviro tampak acuh dengan keadaan kelasnya yang riuh oleh tingkah Babas. Alviro lebih memilih membaca novel ketimbang mendengarkan hal hal yang tidak penting itu. Apalagi ada Jihan di sana, entah mengapa Alviro sangat kesal dengan gadis itu.
"Al, entar malem si Anji pengen ajakin kita balapan! "
"Di mana? " tanya Alviro tanpa menoleh, matanya fokus pada buku, tapi telinganya mendengarkan Liem.
"Tempat biasa" jawab Ringgo, ia cukup antusias jika bersangkutan dengan balapan. Ringgo yang kalem, memiliki hobi yang cukup ekstrem.
"Oke, Terima saja"
"Sip bos... "
Tak berapa lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Pak johan pun langsung, memasuki kelas dua IPA 1. Seketika ruangan yang tadinya berisik, mendadak menjadi sepi. Lebih sepi dari pada pemakaman umum di malam hari.
"Pagi anak anak! "
"Pagi pak!! "
Pak johan mengedarkan matanya menatap satu persatu anak didik nya. Pandangannya terhenti pada tiga wajah asing. Ia memang sudah mendapatkan laporan jika di kelas dua IPA 1 ada penambahan murid baru, tapi Johan ingin mengetes kesopanan dan juga kepintaran ketiga anak baru ini.
"Kalian bertiga! " tunjuk Johan pada mereka.
"Kami pak? " tunjuk Fela pada dirinya dan juga kedua sahabat nya.
"Iya, siapa lagi yang duduk di sana!! " bentak pak johan kuat. Saking kuatnya membuat jantung setiap siswa siswi yang ada di kelas itu terasa mau jatuh dari tempatnya.
"Maju! " titah pak johan. Buru buru Jihan dan kedua temannya langsung maju ke depan.
Alviro yang mendengar suara keras pak johan langsung meletakkan novel nya, ia tidak mau kembali berurusan dengan guru yang tidak kenal takut dalam mendidik anak muridnya ini. Terakhir kali, pak johan berurusan dengan Alviro berujung maut bagi Alviro. Pak Johan tidak tanggung tangung, ia memanggil kedua orang tua Alviro datang ke sekolah dan memberikan hukuman kepada Alviro. Sejak saat itu, Alviro tidak mau lagi berurusan dengan nya.
Wajah Jihan tampak pucat, tangannya sedikit gemetaran. Ia sangat tidak suka apabila di bentak, Jihan sangat trauma dengan bentakan.
"Siapa nama kamu? " tanya pak Johan pada Jihan.
"Ji... Jihan pak" jawab Jihan terbata.
"Dia pasti takut" gumam Albi, yang terdengar di telinga Alviro. Seketika senyum miring tercetak di bibir Alviro. Ia mendapatkan ide untuk mengerjai Jihan.
Tunggu pembalasan gue, anak baru sialan. Batin Alviro menatap Jihan yang tengah berdiri menghadap pada pak Burhan. Alviro masih belum terima dengan penghinaan yang selama ini Jihan beri padanya. Baru bertemu 3 hari saja, Gadis itu sudah meruntuhkan harga dirinya di hadapan semua orang.
"Al, melamun? " ucap Liem menggoyangkan tangan Alviro, sehingga pria itu tersadar dari lamunannya.
"Ngagetin aja lo" sungut Alviro menatap sinis pada Liem. Padahal Liem hanya menggoyangkan tangannya, tapi reaksi Alviro sangat berlebihan.
Ringgo bertanya pada Liem melalui gerak matanya. Ada apa?
Liem hanya menggidikkan bahunya acuh, pertanda bukan hal yang penting. Mereka kembali menatap lurus kedepan.
Lika dan Kedua temannya sedang mengelilingi lapangan basket. Karena sibuk mengungkapkan kekesalan pada Jihan, mereka sampai tidak mendengar bel masuk berdering. Sehingga Arvan dan anggota OSIS lainnya mendapati mereka yang masih berada di parkiran.
Arham memberikan hukuman pada geng Inces sesuai aturan yang ada. Meskipun Lika adalah anak kepala sekolah sekalipun, Arvan tetap memberlakukan hukuman untuk lika.
"Aduh!!! panas banget" lenguh Lika kelelahan, ia sudah tak sanggup lagi untuk melangkah kan kakinya. Padahal masih adah 5 putaran tersisa.
"Kak Arvan!! gue gak kuat lagi!! " teriak Lika, ambruk di lantai lapangan. Di ikuti oleh Lilie dan Jejei yang juga sudah kelelahan.
"Lika!!! Lilie Jejei!!!! Ayo selesai kan cepat!?! " teriak anggota OSIS yang mengawasi mereka.
"Gue gak sanggup lagi!!! " lirih Lika melambaikan tangan ke atas, Seola sedang dalam permainan.
"Sudah, kalau begitu nanti lanjutin lagi. karena mengambil waktu untuk istirahat, maka putaran nya di tambah 10 kali putaran lagi! " ujar Arvan.
"Apa?? 10 putaran lagi?? " Mata lika dan kedua temannya membola. Tersisa 5 saja sudah tidak sanggup, apalagi di tambah 10 putaran lagi.
Tidak, Lika menggeleng kuat. Ia segera bangkit dan kembali menyelesaikan beberapa putaran yang tersisa.
...----------------...
Haloo guys,,,, up lagi yah. Jangan, lupa vote nya. Like nya. Dan komentar lah yang mampu membangun semangat aku untuk up terus. bukan malah membuat aku downloadðŸ˜
aku sayang kalian, tolong kasih sarannya yah. Perlu kalian tahu, aku selalu membaca komentar dari kalian.
See you 😘😘😘