
Matahari bersinar sangat terang, akhirnya cahaya itu kembali bersinar menerpa kehidupan Jihan Aisyah Rafier. Setelah berbagai macam gemuruh ke gelapan mengurung dirinya pada titik terdalam kehancuran.
Enggg..... "Jihan merenggangkan tubuh nya, ia merasa sesuatu di perut nya menahan pergerakannya.
" Apa sih? "pikir Jihan, lalu ia melirik ke bawah. Astaga, ia langsung kaget dan mulai mengingat bahwa dirinya bukan lagi lajang. Ada suami dan juga calon buah hati mereka yang sedang berkembang di perutnya.
Jihan mengusap perut nya, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap pada Alviro yang sedang tertidur lelap sembari memeluk nya.
Wajah tampan itu terlihat damai, Jihan melihat guratan senyum di bibir suaminya ketika tangannya membelai pipi suaminya.
" Morning kiss" gumam Alviro tanpa membuka mata.
"Huh? " cemgoh Jihan, ia kaget mendengar suara Alviro yang terlihat masih tertidur pulas.
Tak lama kemudian Alviro membuka matanya dan langsung bertatap mata dengan Jihan.
"Morning Kiss" ulang Alviro dengan nada, merengek seperti anak kecil minta permen.
Jihan menggigit bibirnya, ia merasa sangat gugup sekarang. Jika di teliti baik baik, di pipi Jihan terdapat semburat kemeran, seperti seseorang sedang make Blushon.
Cup.
"Eh" kaget Jihan, Alviro sudah nyosor duluan.
"Kamu lama sih, dah kangen juga" rengek Alviro lagi.
Lagi lagi Jihan hanya bisa cengoh, menatap ke wajah Alviro.
"Sayang, " meluk Jihan.
"Aku seneng, kamu kembali lagi seperti semula. Aku berharap kamu bahagia selamanya bersama aku" kata Alviro menggunakan nada anak kecil.
Jihan menitikan air mata, ia tidak tahu harus ngomong apa. Ia sadar, selama ini ia sudah banyak menyusahkan suaminya. Bahkan kehidupan mereka bakal cerita novel yang setiap masalah seperti di rencanakan.
"Makasih" hanya itu yang mampu Jihan ucap kan di sela sela tangis yang entah mengapa malah muncul di saat mereka dalam suasana bahagia.
Alviro merenggangkan pelukannya, agar bisa menatap wajah istrinya.
"Udah. Jangan nangis yah sayang, kita mulai lagi dari awal" ucap Alviro menghapus air mata yang mengalir di sudut mata istri nya.
Di saat mereka sedang nangis nangisan karena haru, tiba-tiba pintu kamar Jihan dan Alviro di ketuk kuat.
Tuk!!!
Tuk!!!!
"Jihan!! Alviro!!!! kalian udah bangun belom? .
Tuk!!!
" Jihan!!!! Alviro!!! Kalian itu harus sekolah!!! "
Lea terus berteriak di depan pintu kamar Alviro dan Jihan. Ia tidak habis pikir mengapa pasangan suami istri ini hobi banget Bangun terlambat.
"What? " Jihan langsung melirik ke jam dinding yang ada di kamarnya.
"6.50? " pekik Jihan.
Bruk~
Jihan langsung mendorong tubuh Alviro hingga terjungkal ke belakang.
"Aduh maaf sayang" lirih Jihan melirik pada suaminya yang terhenyak di lantai, namun ia tetap melanjutkan tujuannya yang hendak ke kamar mandi untuk segera mandi.
"Yahhh,,, adegan romantis gue hancur begitu saja" kelu Alviro kesal. Ia bangkit dan membuka pintu.
"Kita udah bangun kak! " Kata Alviro pada Lea, kemudian ia langsung menutup pintunya tanpa mendengarkan balasan dari Lea.
"Ba-" ucapan Lea terhenti ketika melihat pintu kamar kembali di tutup oleh Alviro.
"Dasar adik ipar gak ada ahklak!! Gak budiman, awas aja lu!! " maki Lea menggerutu lalu pergi membawa hati yang sangat gondok.
Lea terus menggerutu hingga ke ruang makan. Suaminya Arvan tampak kaget melihat kedatangan istri nya yang mendumel sendiri.
"Gak usah nanya nanya!! " hentak Lea kesal, kemudian berlalu ke dapur untuk membantu bunda nya.
Sementara Arvan malah bingung dengan sikap istri nya yang tiba-tiba marah pada nya.
"Gue salah apa? jatah gak dapat aja gue gak marah marah. Tapi dia? gak ada angin, gak ada hujan malah marah marah sama gue" Arvan menggeleng mengabaikan sikap istri nya yang sering berubah ubah.
Pukul 7.30 pas, Akhirnya Alviro dan Jihan tiba di sekolah. Mereka dengan tergesa-gesa memarkirkan mobil nya dan berlari menuju ke kelas baru.
Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah setelah berbagai macam masalah yang ada.
Jihan dengan bergandengan tangan dengan Alviro melewati lorong sekolah. Tepat nya mereka melawati deretan kelas anak baru.
"Buset!!! Gue barusan liat pangeran dan ratu gak sih"
"Itu kan kak Alviro"
"Dan itu kak Jihan!! "
"Wahhh, mereka pasangan yang serasi banget yah!! "
Begitu lah komentar setiap siswa siswi melihat Alviro dan Jihan yang berjalan cepat di depan kelas mereka.
Ada yang muji, tentu saja ada yang ngehina. Sama seperti pro dan kontra yah. Tentu saja di setiap kehidupan ada yang seperti itu.
Di antara banyak nya anak baru, masih terselip sedikit banyaknya yang tidak menyukai couple sempurna itu.
Sifat iri dengki itu hal yang wajar yah di miliki oleh manusia. So, ada sekelompok siswi yang menatap sinis kepada Alviro dan Jihan yang semakin menjauh, bahkan mereka sudah menghilang di balik tikungan lorong.
"Jadi itu yang namanya kak Alviro dan Jihan? " tanya Cantika polos. Ia tidak mempermasalahkan apapun, ia hanya baru melihat langsung siapa Jihan yang terus menjadi buah bibir anak anak seangkatannya.
"Lo gak tahu? dia itu gadis beruntung yang mampu menarik perhatian nya cowo tajir melintir dan tampan sejagat raya" jawab salah satu siswi yang juga merupakan pengagum Jihan dan Alviro.
"Biasa aja tuh! " sahut Jasmin. Ia terbilang tidak menyukai Jihan, namun ia merupakan pengagum terberat Alviro. Sejak SMP Jasmin sudah mengidolakan Alviro yang pernah ia lihat ketika SMA Arya Jaya mengadakan berbagai macam kompetisi bakat.
Cantika terlihat biasa saja, ia kembali masuk ke salam kelas nya dan fokus pada materi yang akan ia mereka pelajari nanti.
"Jihan!!!!!! " Teriak Fela dan Ria ke girangan. Mereka berdua langsung berlari dan berpelukan di depan kelas.
Hal itu tentu saja menarik perhatian setiap siswa dan siswi yang melihatnya. Banyak di antara mereka merasa iri dengan persahabatan ketiga gadis itu.
Alviro dan kelima temen nya bergabung, mereka menggeleng melihat reaksi lebay ketiga cewe cewe itu.
"Jadi mau pelukkk" rengek Babas merentangkan tangannya ingin memeluk semua teman temannya. Namun, mereka langsung menghindar dan membiarkan Babas memeluk dirinya sendiri.
"Ihh kalian gak seru, gak ada yang sayang gue! " rengek Babas merajuk seperti banci. Jihan dan semua yang ada di sana tertawa melihatnya. Membuat Babas semakin mengerucutkan bibirnya.
"Ihhh Babas, jangan gitu deh. Aku kan jadi malu! " omel Fela mendekat pada suaminya dan memukul mukul suaminya.
Melihat apa yang Felah lakukan membuat mereka semakin tertawa keras.
Sementara di tempat lain, tempat yang mendapat sedikit cahaya yang memang sengaja di berikan.
Zidan menatap tajam pada Mirna yang kaki dan tangan nya di rantai. Ia sudah tidak berdaya, semua tubuhnya lemah. Sangat lemah, saking lemah nya Mirna hanya mampu menggerakkan matanya saja.
"Bajingan!!!!! "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komen nya yah guys.
ungkapin aja apa yang ingin kalian katakan untuk karya aku. Aku gak papa kok, aku malah seneng. Berasa ada yang suka dan perhatiin gitu. Rasanya bangga banget gitu lo.
Rasa kebahagiaan tak ternilai ketika kalian memberikan respon seperti like atau komen. Kenapa aku bilang begitu, aku jadi tahu bagaimana karya aku sebenarnya.
Makasih banget udah like, dan komen.
Jangan baca aja, tapi ungkapin juga respon kalian. Biar aku bisa jadi lebih baik lagi.
love you all😘😘