I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 31



Tia mondar mandi di ruang tengah rumah nya. Ia sejak tadi merasa gelisah, hatinya mendadak tidak karuan. Tia menunggu kepulangan putri putrinya yang seharusnya sudah pulang sejak tadi, tapi sampai sekarang jihan dan Lea belum kembali.


"Aduh.. Mereka kemana sih, kok belum pulang juga" duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Entah lah, Tia tidak tau harus bagaimana. Ia sudah mencoba menghubungi kedua putrinya. Namun, tidak ada satu pun yang menjawab panggilan darinya. Membuat Tia semakin khawatir.


Sementara di lorong rumah sakit, Alviro berlari dengan langkah besar menggendong Jihan. Lea dan yang lain menyusul di belakang nya.


"Dokter!!! dokter!!!! " teriak alviro menggemah.


Dua orang suster yang mendengar teriakan dari Alviro, langsung berlari ke arah nya.


"Kenapa ini dek? " tanya salah satu dari suster itu, dan yang satu lagi menarik brankar dan mendorong nya pada Alviro agar membaringkan Jihan di atas nya.


"Tolong teman saya Sus, seperti nya dia pingsan" ujar Alviro dengan deru nafas yang tidak beraturan.


Mereka mendorong brankar Jihan hingga ke depan ruang UGD, tiba di sana suster melarang mereka ikut masuk. Seperti dokter tampak setengah berlari dan masuk ke dalam ruangan yang Jihan masuki bersama suster tadi.


"Ya ampun... Semoga Jihan baik baik saja" lirih Lea, tangannya saling menggenggam menahan rasa gelisah dan ke khawatiran.


Alviro berjongkok di samping pintu ruang UGD, bersandar dengan kedua telapak tangannya menangkup pada wajahnya.


"Kak Lea, yang sabar yah. Jihan pasti baik baik saja kok" ujar Fela menenangkan Lea, ia memalukan tubuh Lea, di ikuti oleh ria. Mereka tak kalah khawatir nya dengan Lea.


"Aneh yah, kok bisa Jihan terkunci di dalam toilet. Lampunya mati lagi" gumam Albi keheranan.


"Ini di sengaja ni, gue rasa ada yang sengaja melakukan semua ini pada jihan" sahut Babas.


Ringgo dan eldi tembak diam, mereka memikirkan siapa kemungkinan yang melakukan semua ini pada Jihan.


"Ini seperti kebetulan, atau memang di sengaja" ujar Ringgo. Keempat temannya menoleh padanya. Dengan ekspresi serius, ringgo mulai menjelaskan.


"Lo berpikir gak sih, kenapa sekolah tiba-tiba di bubarkan? aneh gak sih? "


"Ya aneh lah" celetuk Babas.


"Kita selalu anak IPA, jam nya kosong aja, gak di bolehin pulang. Apalagi hanya karena rapat dadakan. Suatu hal yang mustahil, sekolah melakukan hal ini" jelas Ringgo.


Liem yang sejak tadi hanya menjadi pendengar mulai menunjukkan pemikiran nya.


"Kita harus menyelidiki nya" ucap Liem. Mereka mengangguk setuju.


Alviro yang sejak tadi hanya diam saja, membiarkan teman temannya berdiskusi.


Tab Tab Tab.


Arvan menghampiri mereka semua, ia menatap satu persatu adik kelas yang ia kenal sebagai teman Alviro.


"Dimana Jihan? apa yang terjadi? " tanya Arvan tanpa basa basi.


"Ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Jihan, ia sengaja mengurung Jihan di dalam toilet rusak, kemudian memadamkan listrik nya. " Jelas Ringgo sesuai hasil pemikiran mereka tadi, dan itu memang benar ada nya.


"Apa? siapa yang melakukan nya? " kaget Arvan, matanya melirik pada Lea yang menangis di pelukan Ria dan Fela.


"Kami tidak tahu kak, tapi yang jelas ini ada kaitannya dengan di bubarkan nya sekolah kita" jawab Liem.


Arvan mengerut, bagaimana mungkin hal ini bisa berkaitan dengan cepatnya sekolah bubar. Jika itu memang benar, maka yang melakukannya bukanlah orang sembarangan Pasti ada hubungan nya dengan dewan guru atau staf lainnya.


Alviro adalah pria keras seperti batu, tetapi hatinya lemah, rapuh, sangat mudah sedih. Jika semua itu bersangkutan dengan 2 wanita. Yang pertama yaitu mama nya, dan yang ke dua adalah Icha. Alviro sangat tidak bisa melihat orang orang yang ia sayang tersakiti.


Sejak icha pergi, Alviro mulai berubah, ia menjadi pendiam, dan bahkan ketika SmA Alviro tinggal di apartemen nya sendiri. Ia tidak mau tinggal bersama keluarga nya.


Ia mencari icha kemana mana, namun tidak di temukan. Hingga ia mendapat kabar dari teman sekolah icha, bahwa icha sudah pindah sekolah. Kesalahan fatal dari kedekatannya dengan icha adalah, mereka tidak saling tahu rumah masing-masing, bahkan orang tua masing-masing. Yang mereka tahu hanya bertemu di taman bermain dan menghabiskan waktu di sana. Karena mereka adalah orang kaya, pulang pergi sekolah di antar oleh supir.


"Jangan seperti banci dong! Jihan malu kalo tahu lo seperti ini" ucap Arvan memancing Alviro. Namun tetap saja Alviro tidak memberikan respon apa apa. Hingga suara pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.


Alviro langsung bangkit dan menghampiri dokter dengan wajah yang tidak menentu. Lea dan kedua sahabat Jihan pun langsung mendekati dokter.


"Dokter gimana keadaan Jihan dok? " tanya Alviro.


"Tenang dek, teman kalian tidak apa apa. Ia hanya mengalami trauma saja. Setelah beristirahat beberapa jam, pasien sudah di perbolehkan untuk pulang" jelas sang dokter.


"Terimakasih" gumam Alviro bernafas lega. Ia baru merasakan nikmatnya bernafas, sebelumnya ia merasa sangat sulit untuk menghirup udara.


"Syukur deh Jihan gak kenapa kenapa" Gumam Albi, di angguk oleh anak anak wolf lainnya.


Liem tersenyum kecut, ia menyadari perasaannya sekarang. Apalagi ketika melihat Alviro begitu care pada Jihan. "Apa gue harus membuang perasaan ini? " batin Liem.


Arvan ikut merasakan lega, calon adik iparnya tidak apa apa.


Jihan di masukkan ke ruangan umum, menjelang gadis itu sadar, ia harus di rawat dulu di rumah sakit ini.


Sekat mereka sudah berada di ruangan Jihan di rawat, ruang itu di gabungkan dengan pasien pasien yang lain nya. Ada sekitar 6 pasien dalam satu kamar. Bukan karena tidak mampu membayar ruang VIP tetapi, Jihan hanya sementara di sini.


Lea menghampiri Alviro, ia ingin berbicara pada Alviro empat mata.


"Al, ikut gue" ujar Lea dengan nada datar. Mereka yang mendengarnya menjadi deg degkan. Mereka berpikir Lea akan menghabisi Alviro.


Ria dan Fela saling melirik, melempar tatapan penasaran. Lalu kedua nya saling bergidik bahu, pasrah menunggu dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Anak anak wolf masih setia berada di ruangan itu, sampai sampai pasien yang juga ada di dalam sana tersenyum malu. Mereka merasa sangat senang melihat kumpulan pria tampan ada di ruangan rawat mereka. Apalagi di dalam sana pasiennya wanita semua.


Babas dan Albi bergidik ngeri, ketika seorang ibu ibu yang sudah memiliki uban di kepalanya mengedipkan satu mata pada mereka berdua.


Arvan sudah pergi sejak tadi, ia mengatakan pada Lea dan Alviro ada sesuatu yang harus di urus, entah apa itu, Arvan tidak menjelaskannya.


...----------------...


Di dalam ruangan nya, Mirna tatawa lepas. Ia sangat senang ketika menyaksikan wajah kalut Seorang Alviro. Senyum menyeringai terukir di wajah Mirna. Ia akan membuat seluruh kelupaan nugraha hancur berantakan seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap keluarga nya.


"Nantikan saja Brian Nugraha! anak anak mu tidak akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang kau inginkan!!!! "


"Aku bersumpah untuk itu!! "


Tap!


Mirna melempar satu anak panah yang mengenai wajah Brian. Foto yang terpampang di dinding ruangan kerjanya.


Mirna tidak sia sia menggoda kepala sekolah agar, mau menuruti permintaan nya agar sekolah bubar. Meskipun ia harus rela terlihat seperti wanita ****** di hadapan kepala sekolah mesum itu. Sedikit belaian, mampu membuat kepala sekolah itu tunduk pada nya.


...----------------...