I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 62



"Selamat siang bunda... " sapa Arvan, ia masuk begitu saja ke dalam rumah Lea tanpa permisi terlebih dulu.


Lea yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, langsung bangkit dan menghampiri Arvan dengan emosinya yang langsung memuncak.


"Heh, ngapain lo datang lagi ke rumah gue!!, Gue jan udah peringatkan lo. Jangan datang dan dekati keluarga gue lagi!!! "


Arvan tidak bereaksi, ia hanya menatap datar Lea yang terus mengoceh di depannya.


"Gue gak ada waktu untuk melayani lo" balas Arvan, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Lea.


"Heh!!! Arvan!!! Arvan!!! " teriak Lea mengikuti Arvan yang malah pergi ke taman belakang rumah Lea. Di keluarga Rafier, terdapat berbagai taman. Ada taman bunga, buah dan juga kebun yang di bentuk seperti taman.


Arvan pergi ke taman bunga, ia ingin menemui bunda Tia. Ia ingin berbicara sesuatu yang mungkin bisa menjadi alasannya untuk datang ke rumah ini.


"Arvan!!! " bentak Lea sembari menarik tanggal Arvan dan menghentikan langkah nya.


"Lo kenapa sih Lea, gue datang kesini mau menemui bunda, bukan mendekati lo. Jangan ke geeran deh! " ketus Arvan menepis tangan Lea, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Arvan!!! Arvan!!! " Lea masih tidak mau menyerah, ia bertekat untuk tetap mengusir Arvan dari rumah nya, belum lagi adik Arvan yang tengah berada di dalam kamar Jihan. Lea mulai merasa pusing karena kakak adik ini.


"Arvan, Lea. Kalian kok ribut sih. Ganggu bunda lagi bersantai aja" ucap Tia.


"Ini bun, cowo brengsek ini masuk ke rumah kita" adu Lea melirik sebal pada Arvan.


"Enak aja, gue cuma mau nemuin bunda, kenapa lo yang sewot" balas Arvan.


"Ihh sutttttttt.... Kalian ini yah, sedetik aja gak ribut gak bisa kah? bunda jadi pusing mau dengerin siapa. Ini ngomong itu ngomong. Au ah pusing" ucap Tia mengibas ngibaskan tangannya, lalu pergi begitu saja.


"Yah, bun. Baru juga mau ngomong" rengek Arvan ingin mengejar Tia, namun Lea menahannya.


"Apa lagi sih, lo gak ganggu hidup gue apa tidak bisa? " ucap Arvan meniru gaya bicara bunda Tia. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Lea, ia menyusul Tia.


"Loh, kok gue yang ganggu dia sih. Harusnya kamu, gue yang bilang begono aama tu anak! "Gumam Lea, malah dirinya yang bingung. Lea menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara di kamar Jihan, tepatnya di balkon kamar Jihan. Genk Wolf dan sahabat Jihan tengah asik menonton TV. Proyek yang menjadi alasan untuk mereka, agar bisa berkumpul.


" Eh udah sore nih, gue harus balik" ujar Fela sembari melirik jam tangannya. Hari ini kedua orang tuanya pulang dari China jadi Fela harus berada di rumah sebelum keduanya sampai di rumah.


"Iya, gue juga" sahut Babas ikut ikutan dengan Fela. Membuat gadis itu mendeliki tajam.


"Yaudah, kita balik aja. Besok kan bisa ngumpul lagi" jawab Jihan.


Mereka pun bersiap untuk pulang, tugas yang tadinya di buat sudah di masukkan ke dalam sebuah kitak yang memang sudah Albi persiapkan.


Jihan mengantar semua teman teman nya ke depan, tanpa ia sadari. Tangannya dan Alviro masih saling bertautan.


Sebelum pulang, Jihan membawa semua temannya keruang keluarga untuk berpamitan pada bundanya.


"Bun.. Temen temen Jihan mau pamit" ujar Jihan, mengundang Lea yang sedang cemberut karena ulah Arvan menoleh pada mereka. Matanya melebar ketika melihat pemandangan yang sangat sangat memancing emosi.


"Eh" Jihan dan Alviro kaget, tiba-tiba Lea langsung menarik tangan Jihan dari genggaman Alviro.


"Kak Lea! " kaget Jihan. Ia sedikit terhuyung ke samping.


"Mau tugas atau segala macam. Gue gak peduli?!? jangan coba coba untuk mendekati Jihan dan keluarga gue lagi! " bentak Lea menunjuk ke wajah Alviro.


"Ya ampun" Gumam Ria dan yang lain ikut kaget, mereka hanya bisa menutup mulut melihatnya.


"Lea, kamu ini apa apaan sih! " tegur Tia ikut berdiri, ia mencoba menenangkan putrinya Ini sudah kesekian kalinya Lea bersikap ke kelewatan..


"Gak bun, Lea gak akan biarin Jihan deket dengan pria itu lagi!! "


"Lo apa apaan sih Kak, bikin gue malu aja, tau gak! " Jihan menatap Lea dengan tatapan tidak percaya, kakaknya masih memperlakukannya seperti anak kecil lagi.


"Diem!! pokoknya lo gak boleh deket sama dia! " tegas Lea.


"Oke! Jika itu mau kakak, gue gak akan deket siapapun, Alviro, Arvan, siapapun. Gue gak akan mendekatinya. Termasuk kakak!!! gue benci sama lo. "


"Gue benci sama lo!!! " teriak Jihan.


Suasana semakin menegang, Jihan berderai air mata. Ingin sekali Alviro mendekati Jihan, namun Lea menatapnya tajam. Membuat Alviro mengurungkan niatnya.


"Seperti nya, kembali ke Indonesia adalah pilihan yang paling buruk!!!! " gumam Jihan, ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Lea menggeleng pelan,"Jihan, Lo mau kemana! "Lea mengejar Jihan yang sudah berlari menuju kamarnya.


"Gak apa apa kok tante, kita maklum kok. Lagian itu semua demi ke baikan Jihan juga" sahut Ria mewakili teman temannya. Tia pun bernafas lega, ia takut teman teman Jihan malah berpikiran yang tidak tidak pada Lea nantinya.


"Syukur lah"


Tia melirik pada Alviro, seperti nya Alviro merasa tidak enak. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang murung.


"Nak Alviro, kamu gak usah sedih yah. Nanti Lea bakalan baik lagi kok. Ia hanya trauma melihat kondisi Jihan kemarin" jelas Tia.


"Iya bun, Al ngerti kok bun" balas Alviro sedikit di paksakan tersenyum.


"Yaudah tante, kita pamit pulang dulu. Udah sore juga" ucap Ringgo pamit. Mereka salim dengan Tia secara bergantian.


"Kalian hati hati yah"ucap Tia mengantar mereka ke depan.


" Iya tan"


"Dah tante.... "Ria dan Fela melambaikan tangannya pada Tia sebelum melakukan mobilnya.


"Dahh.. " balas Tia. Ia menghela nafas berat. Sikap putri sulungnya memang sudah keterlaluan pada Jihan. Ia harus membicarakan semua ini pada suaminya. Tia tidak mau jihan kembali merasa tertekan dan ingin kembali ke Amerika.


Sementara itu di kamar jihan, dengan penuh emosi dan derai air mata jihan meraih kopernya. Jihan membuka lemari pakaian, lalu memindahkan baju baju nya ke dalam koper.


Lea pun datang, ia mengeluarkan kembali seluruh isi koper jihan dan membuangnya ke lantai.


"Jihan!!! lo ngapain sih! " ucap Lea.


"Ini kan yang kakak mau, Gue gak kuat hidup di bawah kungkungan tidak jelas dari lo! "


"Tapi gak gini Jihan, gue lakuin semua ini demi lo!! " balas Lea, di raihnya kedua tangan jihan dan membawanya duduk ke tepi ranjang.


"Lo selalu bilang demi gue, demi gue. Tapi lo sendiri gak mikirin perasaan gue!! gak tahu gimanaa perasaan gue yang terus lo atur ini dan itu" ucap Jihan, air matanya terus mengalir semakin deras. Dan kea tidak tahan melihat nya, ia benar-benar terluka melihat adiknya menangis seperti ini


"Jihan, gue sayang sama lo. Gue gak mau lo celaka lagi" jelas Lea, suaranya melemah, Di rengkuh nya tubuh jihan, di peluk nya tubuh lemah Jihan yang bergetar karena menangis.


"Alviro gak jahat, justru dia yang udah nyelamatin gue. Gue berhutang budi sama dia kak"lirih Jihan dalam tangis.


" Gak Jihan, justru jika lo terus berdekatan sama dia, lo akan mendapat masalah dan musuh musuh alviro akan mengincar lo, karena lo. -" ucapan Lea terhenti. Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Karena apa kak? " desak Jihan, ia merenggangkan pelukan Lea, kemudian menatap wajah kakaknya yang tampak gelisah.


"Kak.. " panggil Jihan lagi, ia sudah tidak menangis, di ganti dengan rasa penasaran.


"Karena dia menyukai lo" jawab Lea asal, namun benar adanya. Alviro memang sangat menyukainya.


"Nah kakak tahu, Alviro menyukai gue. Dan pasti dia akan melindungi gue"


"Tapi Jihan, lo tetap aja gak boleh deket deket sama dia. Gue gak mau lo jadi incaran musuh Alviro, karena lo adalah kelemahan Alviro. Lo wanita di masa kecilnya" gumam Lea di dalam hati. Ia tidak akan mengatakan hal itu pada Jihan sekarang. Lea yakin Jihan akan merasa terpukul.


"Apa lo menyukai Alviro juga? " Lea menatap lekat wajah adiknya, mencari sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi. Namun, harapan Lea telah pupus. Wajah Jihan berubah memerah, seperti nya Jihan juga menyukai Alviro. Memang, hati takan akan pernah bohong. Jika pemikiran seseorang bisa melupakan sesuatu, namun tidak dengan hati. Meskipun Jihan tidak mengingat wajah kecil Alviro, namun hatinya pasti masih mengingat siapa Alviro.


Lea sangat tahu, jika Jihan sangat menyukai kak Yen. Hanya karena ingin berjumpa dengan pria remaja itu, Jihan tidak pernah menghadiri acara perkumpulan keluarga nya dan keluarga sahabat orang tuanya. Yang ternyata adalah keluarga Alviro. Tampa mereka sadari, ternyata keluarga mereka sudah sangat dekat.


"Gue tidak tahu kak, sejujurnya gue masih belum bisa melupakan rasa sakit di hati gue" jawab Jihan sembari menghembuskan nafas gusar.


"Lo harus segera move on. Jalanilah kehidupan lo yang sekarang. Berjanjilah sama gue, apapun yang terjadi di masa depan, lo gak akan lari lagi" Lea memegang kedua tangan Jihan untuk berjanji. Namun, Jihan malah menarik tangannya dari genggaman Lea.


"Kakak pikir gue anak kecil lagi? gue udah gede. Gak bakal lari dari masalah! " balas Jihan mendelik kesal pada kakaknya.


Lea menggeleng, ia tetap butuh ucapan janji dari Jihan.


"Pokoknya, lo harus janji sama gue" desak Lea kembali menggenggam tangan Jihan.


"Tapi kakak harus janji, gak ngekang gue lagi" ujar Jihan memberikan syarat. Lea mengangguk pelan, mau tidak mau ia terpaksa mengiyakan.


"Tapi lo harus selalu bilang sama gue, kemana dan kenapa lo. Gue gak mau lo ada rahasia sama gue! "


"Janji... " ucapan jihan menarik tubuh kakaknya dan memeluknya erat.


"Gue sayang sama lo" gumam Jihan. Ia tahu kakaknya melakukan semua ini karena takut dirinya kenapa kenapa, akan tetapi Jihan juga tidak mau kalau kakaknya terlalu over. Ia seperti tidak percaya dengan Jihan dalam melakukan apapun. Oleh karena itu Jihan selalu membantah Lea setiap kali kakaknya itu memberikan larangan ini dan itu.


Dan akhirnya Lea dan Jihan kembali berdamai. Lea harus menahan ego nya, ia tidak mau adiknya kembali pergi. Jika Jihan kembali ke Amerika, maka ia akan jauh dan tidak bisa melindungi adiknya lagi. bundanya juga pasti akan sedih dan merasa kesepian. Lea ikut bahagia melihat bundanya bahagia.


...----------------...