I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 38



Hari ini Jihan sudah merasa lebih baik, ia yakin sudah bisa masuk sekolah. Bundanya sebenarnya masih khawatir, bagaimana jika kejadian itu terulang lagi. Tia bahkan meminta suaminya untuk mengutus beberapa bodyguard untuk menjaga putri kesayangan nya. Namun, Jihan dengan tegas menolaknya.


"Bunda, Jihan pamit yah" ucap Jihan seraya mengecup punggung tangan bundanya. Ia hanya berpamitan kepada bundanya, karena ayahnya sudah berangkat pagi pagi sekali. Entah apa alasannya, Jihan tidak mau memikirkan nya.


"Hati-hati yah Kak, jangan pernah sendirian. Ajak Ria, atau Fela kemanapun kamu pergi" ucap Tia dengan suara yang khawatir.


Jihan tersenyum membalas ucapan bundanya, ia tahu Bunda nya pasti sangat khawatir. Apalagi hal ini sudah terjadi 2 kali, dan ini juga terjadi kepada kakaknya.


"Dah Bunda... " ucapan Jihan melambailan tangan, kemudian berlalu masuk ke dalam mobil.


"Jalan pak" titah Jihan pada pak supir yang sejak tadi sudah siap untuk mengantar jihan kesekolah.


Setelah beberapa waktu berlalu, Jihan akhir nya tiba di sekolah. Kali ini dia tidak terlambat lagi.


"Wah, neng Jihan kesambet apa ni? " ujar Pak satpam tercengang melihat Jihan yang datang lebih awal dari yang biasanya.


"Ah pak satpam bisa aja, meledeknya kurang tajam pak" balas Jihan.


Kemudian Jihan berlalu menuju kelasnya. Baru beberapa langkah Jihan berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara memanggil namanya.


"Jihan!!!!!!! "


Ria dan Fela berlari menghampirinya, nafas mereka terputus putus karena efek dari berlari. Jihan menatap horor kedua temannya.


"Kalian kenapa berlari? kaya udah di kejar setan aja " omel Jihan.


"Ini mah, lebih parah dari setan ji" balas Fela.


"Mamangnya apa? "


"Lihat lo datang lebih awal" jawab Ria setelah berhasil mengatur nafasnya.


"Kurang asem lo" ketus Jihan, kemudian berbalik meninggalkan kedua sahabat nya begitu saja.


Memang benar, ini kali pertama nya Jihan datang lebih awal dari biasanya. Pantes banyak yang menatap Jihan dengan berbagai ekspresi. Mereka terkejut melebihi melihat hantu.


"Yah ngambek tu bocah" ujar Ria. Kemudian berlari menyusul Jihan.


Mereka masuk ke dalam kelas, di sana sudah ada babas dan Albi. Kedua pria itu langsung menghampiri cewenya masing-masing.


"Eh kok nempel sih! " ucap Jihan kaget, melihat kedua sahabat nya nempel sama teman teman Alviro.


"Gue ketinggalan apa? " selidik Jihan menatap Ria dan Fela penuh intimidasi.


Ria dan Fela hanya bisa tercengir, tidak tahu mau jawab apa.


"Kita udah jadian Jihan" jawab Babas Santai.


"Emang lo doang yang boleh jadian sama Alviro? " sambung Albi. Entah sejak kapan pria itu mulai berani banyak bicara di depan Ria.


"What? Jihan dan Alviro udah jadian? "


Jihan dan teman teman nya menoleh ke arah pintu. Di sana Lika dan kedua kacung nya berdiri mendengar ucapan Albi. Mereka masuk dengan langkah cepat.


"Heh! " lika mendorong bahu Jihan.


"Apaan sih lo! " sungut Ria hendak membalas lika, namun di tahan oleh Jihan.


"Lo itu pendatang baru! gak usah rebut milik orang lain! " ucap Lika tanpa tahu malu mengklaim Alviro sebagai miliknya. Jihan tersenyum miring.


"Sejak kapan Alviro jadi milik lo? " sahut Babas.


"Eh diam lo! " bentak Lika cepat.


"Tahu ih, ikut campur aja! " ujar Lilie.


"Lo yakin Alviro milik lo? atau lo cuma penggemarnya doang? " Johan tertawa mengejek, membuat Lika semakin geram dan menatap Jihan kasar.


"Lo bener bener buat gue marah yah! " ujar Lika maju semakin dekat dengan Jihan.


"Lo pikir gue takut? gue udah cukup bersabar menghadapi lo!. Dan gue rasa 3 bulan sudah cukup untuk lo bersenang-senang menindas gue! " tekan Jihan.


Ria dan Fela tersenyum miring, Jihan sudah menunjukkan taring nya. Siswa siswi yang ada di kelas itu pun terkejut melihat Jihan.


"Udah kaya training kerja aje" kekeh Babas merasa lucu dengan ucapan Jihan.


"Cih, lo pikir gue takut! lihat saja nanti! " ucap Lika, kemudian memberikan kode pada teman temannya untuk pergi dari sana. Para siswa lain melihat perdebatan terakhir Jihan dan Lika adalah seperti pembukaan pengibaran bendera perang.


"Seperti nya sekolah kita bakalan jadi arena pertempuran" bisik bisik siswa lain.


"Bakalan ada yang keluar seperti nya"


"Eh udah udah, entar kedengaran sama Jihan. dah bosan idup apa? " lerai siswa yang lainnya.


Kringggggg!!!!!!!


Sementara Alviro, ia berjalan santai di lorong kelas. Alviro hari ini tidak terlambat, ia tidak perlu takut bertemu dengan anggota OSIS.


"Wahhhh, seperti nya hari ini adalah hari teristimewa sedunia" ujar pak satpam tersenyum bangga. Pria dengan baju seragam satpam itu baru saja dari toilet pegawai, ia tidak sengaja berpapasan dengan Alviro.


"Bapak kenapa sih? " gumam Alviro cuek.


"Tadi saya bertemu dengan neng Jihan, ia juga datang lebih awal dari yang biasanya. Sama seperti den Alviro" ucap Pak satpam lagi dengan senyum yang masih mengembang. Ia merasa bangga dengan anak tuannya ini. Selain jadi satpam, pria itu merupakan kaki tangan keluarga nugrah.


"Lah, Jihan udah dateng? " kaget Alviro, ia segera berlari meninggalkan pak satpam yang menggeleng melihat tingkahnya.


"Dasar anak muda sekarang, sejak dua orang itu berdamai, tidak ada lagi si tukang telat legen di sekolah Arya Jaya.


Alviro tiba di dalam kelas, ia mendekati meja Jihan. Kemudian duduk di sebelah Jihan yang masih kosong.


" Eh kok duduk di sini? "kaget Jihan menatap Alviro heran.


" Kenapa? kan gak ada yang punya " balas Alviro acuh, ia menggantungkan tas ranselnya di belakang kursi yang ia duduki.


Ringgo dan anak anak wolf menoleh pada Alviro, mereka hanya bisa menggeleng melihat tingkah Alviro. Semenjak pria itu Damai dengan Jihan, tingkahnya semakin konyol dan sesukanya kepada Jihan.


Sementara Liem, tersenyum tipis. Ia harus mengubur perasaannya pada Jihan. Cinta itu memang buta, tetapi cinta juga tidak harus memiliki. Liem dengan berbesar hati merelakan Jihan bersama Alviro, sahabat nya sendiri.


Tak lama kemudian pak Johan masuk ke dalam kelas. Babas langsung menyiapkan semua murid dan mengucapkan salam kepada pak Johan.


"Alviro! " panggil pak Johan menatap Alviro yang sudah berpindah duduk di samping Jihan.


"Saya pak? " jawab Alviro.


"Kenapa kamu pindah tempat duduk? " tanya pak Johan tegas.


"Maaf Pak, saya ingin belajar sama Jihan, dia bilang ingin mengajari saya" jawab Alviro asal. Jihan melongo mendengar alasan Alviro. Sementara murid lain hanya mencebik. Itu hanya akal akalan Alviro saja.


"Bagus, bapak sedikit merasa senang kamu mau belajar" ucap Pak Johan. Kemudian pak Johan melanjutkan materi kemarin.


Selama pelajaran berlangsung, Alviro sama sekali tidak memperhatikan pak Johan yang berkoar di depan. Ia malah sibuk menatap Jihan yang fokus mendengarkan dan sesekali menulis beberapa hal penting di buku catatannya.


Merasa risih di perhatikan oleh Alvido membuat Jihan menoleh pada Alviro. Benar saja, Alviro tengah menatap kearahnya dengan senyum manis.


"Heh, guru menerangkan di depan. Jadi, lo harus liat ke depan! " bisik Jihan.


"Lebih menarik pemandangan di samping dari pada di depan" balas Alviro tanpa mengalihkan pandangan nya dari Jihan.


Jihan memutar bola matanya bosan, Alviro terlalu berlebihan. Ia kembali fokus pada pak johan.


"Alviro!! " panggil pak Johan. Namun tidak di tanggepi oleh Alviro.


"Alviro!!! " panggil pak Johan sedikit lebih keras, bersamaan dengan Jihan yang menyikut lengan Alviro. Sehingga Pria itu kaget dan secara spontan berdiri dari duduknya.


"Saya pak! " jawab Alviro cepat.


Murid murid lain menahan tawa, ekspresi Alviro saat terkejut sangat menggemaskan.


"Kamu ini, bukannya memperhatikan saya. Malah melamun di sana! " omel pak Johan sembari berjalan ke meja Alviro.


"Sekarang kerjakan soal no 6"


Pak johan memberikan spidol pada Alviro, mau tidak mau Alviro harus maju ke depan.


"Rasain" ledek Jihan.


Alviro menatap soal matematik yang sudah di tulis oleh pak johan. Kini Alviro tinggal menuliskan jawabannya.


"Soalnya sangat, mudah" pikir Alviro. Kini saat nya Alviro menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya sangat pintar. Ia akan membuat pak Johan sedikit terkesima dengan kepintarannya.


Butuh waktu 3 menit bagi Alviro menuliskan jawaban di papan tulis, lalu ia kembali ke bangkunya dan mengembalikan spidol pada pak Johan.


"Wahhh,,, Alviro bisa menjawabnya" gumam murid murid lain, mereka berdecak kagum. Ini kalo pertamanya Alviro menjawab dengan benar.


"Hasilnya benar" ujar Liem.


"Cih, sudah mulai menunjukkan diri" pikir Ringgo.


"Wahhhh Alviro hebat, baru duduk satu jam dekat Jihan saja sudah sepintar itu" ujar Babas bertepuk tangan.


"Bagus Alviro, kamu sudah memiliki banyak perkembangan" puji pak Johan setelah memeriksa jawaban Alviro.


"Terimakasih pak" balas Alviro tersenyum bangga.


"Eleh, baru gitu aja bangga" cibir Jihan menggeleng pelan.


"Biar, yang penting gue bisa lihat bidadari syurga" balas Alviro tersenyum lebar. Membuat Jihan memalingkan wajahnya, ia tidak mau Alviro melihat pipinya memerah. Walaupun itu hanya candaan oleh Alviro, tetapi Jihan tetap merasa malu dengan pujian itu.


...----------------...