
Setibanya di apartemen, Jihan dan Alviro langsung masuk ke dalam. Jihan membawa tas ransel dan Alviro membawa koper.
Jihan berdiri di depan 2 kamar yang masih tertutup rapat. Ia tidak tahu yang mana kamar yang akan ia tempati.
"Loh, kok berdiri aja? " tanya Alviro bingung melihat Jihan yang hanya berdiri di depan kamar.
"Gue gak tahu yang mana kamar gue" jawab Jihan jujur.
"Astaga Jihan sayang, kamar kita yang ini. Aku sengaja gak kunciin pintunya" ujar Alviro membukakan salah satu pintu kamar yang tidak terkunci.
"Yuk masuk" kata Alviro.
"Ehm, kita sekamar? " cicit Jihan ragu ragu.
Alviro berbalik, mendekati Jihan yang masih berdiri di tempat. Mengusap lembut kepala Jihan.
"Kita kan udah nikah, kenapa harus tidur terpisah? " tanya Alviro.
"Gue... "
"Aku Jihan" potong Alviro cepat.
"Ehm Aku, tidak terbiasa" kata Jihan meralat panggilan nya.
Alviro tersenyum, "Mari kita coba ji. Aku yakin kita bisa"
"Tapi... " Jihan menghentikan ucapannya, Alviro malah memeluknya erat.
"Kamu jangan pikir kan apapun, semuanya akan baik baik saja. Aku akan selalu melindungi kamu. Istri ku, sampai kapan pun, tetap akan menjadi istri ku" kata Alviro.
Jihan tak bergeming, Alviro lagi lagi membuat janji dan membuat hati Jihan melayang ke udara. Namun, rasa takut di tinggalkan seperti 7 tahun yang lalu masih ada di hatinya. Jihan takut, Alviro sama aku seperti kak Yen nya.
"Terimakasih" lirih Jihan. Lalu, mereka masuk ke dalam kamar. Jihan mulai merapikan barang barangnya. Jika Alviro mencoba untuk menerima pernikahan ini, maka Jihan akan mencoba untuk menerima nya juga. Entahlah, Jihan merasa ada yang salah, eh bukan. Tetapi merasa ada yang kurang di pernikahan ini. Namun, ia mencoba menepikan pemikiran seperti itu.
DRTTT.. Clingg~
Alviro mengalihkan pandangan matanya dari Jihan ke ponsel yang bergetar di atas meja. Ia pun meraihnya, kemudian membaca isi pesan dari Ringgo. Dahinya mengerut, tumben sekali Ringgo memberi perintah seperti ini.
"Ada apa? " tanya Jihan menghampiri Alviro. Ia ikut duduk di samping Alviro.
"Gak ada apa apa kok sayang, tapi si ringgo ajak ngumpul"jelas Alviro memperlihatkan bukti pesan yang Ringgo kirim.
" Yaudah pergilah"
"Gak papa ini? atau kamu mau ikut? " tawar Alviro.
"Gak, aku mau istirahat ajah. Capek juga pindahan rumah" tolak Jihan sembari terkekeh pelan.
Duarrrr...
Bukan main, Alviro merasa sangat senang. Jihan terlihat seperti sudah menerima pernikahan mereka.
"Yaudah sayang, aku bakalan pulang cepat" Alviro bangkit dari duduknya, kemudian mengecup dahi Jihan penuh kasih sayang.
Jihan mendadak kaku, perlakuan Alviro sungguh membuatnya merinding. Hati Jihan semakin tidak karuan.
Kenapa ini, gue harus bagaimana. Alviro semakin membuat gue luluh.
"Aku pergi sayang" pamit Alviro, menyadarkan Jihan dari lamunannya.
"Baiklah" salut Jihan. Ia menatap Alviro yang baru saja selesai mengenakan jaket nya, lalu Alviro keluar dari apartemen nya.
Kini, tinggalah Jihan sendiri di dalam apartemen itu.
"Humm... Sepi juga" lirihnya.
Sementara itu, di basecamp. Anak anak wolf masih setia menunggu kedatangan Alviro. Ringgo mengatakan, jika Alviro sebentar lagi pasti akan datang.
"Nah itu dia" ujar Ringgo. Mereka semua langsung menoleh ke arah pintu.
"Akhirnya lo datang juga" kata Babas.
"Loh, kok sendiri? Jihan mana? " tanya Ria heran, ia hanya melihat Alviro datang sendiri.
"Jadi kalian udah pindah? kemana? " sahut Fela bertanya, namun Alviro tidak menjawabnya. Alviro malah mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang ingin lo bicarakan? " tanya Alviro menatap pada Ringgo.
"Baca ini Al" kata Eldi, ia memberikan semua informasi yang sudah mereka selidiki.
Mata Alviro tak berkedip membaca lembar demi lembar kertas itu. Terlihat pancaran ke marahan dari aurah wajahnya.
"Sial! " umpat nya.
"Dari awal kita sudah mulai curiga, karena Lidia bersikap aneh. Apalagi ketika dia duduk di samping gue. Lidia selalu melirik ke arah lo dan Jihan. Bahkan dirinya mencoba untuk mendekati lo" jelas Ringgo.
"Dia mengincar Jihan Al, dia berusaha membuat Jihan dekat dan percaya padanya" sambung Eldi.
"Gue gak akan biarkan dia menghancurkan keluarga gue! " Rahang Alviro mengeras, kedua tangannya mengepal meremukkan lembaran kertas yang berisi tentang informasi tentang Lidia.
"Tunggu dulu, sebenarnya ada apa ini. Kalian membicarakan apa?" tanya Fela bingung. Otak lola nya kembali lagi.
"Sayang, si Lidia itu adalah orang yang membuat Alviro dan Jihan berantakan. Sehingga membuat Jihan melarikan ke Amerika dan membenci Alviro kecil. " Jelas Ria.
"What?? Gue udah merasa sejak awal melihat gadis itu memang tidak baik. " geram Fela.
"Tenang semaunya, kita tidak boleh gegabah. Kita harus terus memantau nya, melihat apa yang sedang di rencanakan oleh wanita kicik itu" jelas Liem.
"Yah, kau memang benar Liem. Aku setuju dengan pendapat mu" sahut Albi.
"Kenapa mereka selalu ingin menghancurkan kehidupan lo? " tanya Ria pada Alviro. Membuat Fela mengerut bingung, menurut Fela ini semua bukan untuk menghancurkan Alviro, tetapi untuk membuat Jihan menderita.
"Sudah Fela, tidak usah berbicara. Gue tahu apa yang mau lo ucapkan! " potong Ria ketika melihat Fela akan membuka mulut untuk berbicara.
" hhmm" Fela mengerut kesal. Mereka semua terkekeh melihat tingkah lucu Fela.
"Mirna dan adiknya ingin menghancurkan keluarga Alviro. Mereka mengira keluarga nya hancur karena keluarga Alviro." jelas Ringgo.
"Lalu, kenapa malah Jihan yang di serang? " Fela masih belum mengerti.
"Tuh kan, oon nya kambuh" decak Ria mulai jengah dengan sikap Fela.
"Mereka menyerang Jihan, karena mereka tahu bahwa Jihan merupakan kelemahan Alviro." jelas Babas lembut pada kekasihnya.
"Kalian pernah denger gak? Arvan dan Lea itu musuh bebuyutan? " tanya Eldi, Fela dan Ria mengangguk cepat.
"Arvan tidak mau jika musuhnya malah menyerang Lea. Hal itu di lakukan sebelum mengetahui siapa musuh mereka. " Jelas Eldi lagi.
"Kurang ajar! " geram Fela, ia kink telah mengerti dari kisah hidup Jihan.
Alviro masih diam, ia tidak bereaksi apapun. Hanya sorot mata yang bereaksi menunjukkan kemarahannya.
"Gue balik sekarang! Kalian pantau terus pergerakan dia! gue yakin Mirna juga ada di balik hadis licik itu! " ujar Alviro sebelum beranjak pergi.
...----------------...
"Huaammm.... " Berkali kali Jihan menguap, ia merasakan sangat mengantuk. Namun Jihan tidak bisa memejamkan matanya. Entah mengapa ia tidak bisa tidur.
"Ada apa ini? kenapa gue malah gak bisa tidur? kemarin perasaan gue bisa tidur nyenyak dengan begitu cepat. Apalgi tubuh gue sangat lelah" gumam Jihan bingung, ia kembali menguap.
Ting Tong...
"Aduh!! Siapa sih yang bertamu jam segini! " dengan malas Jihan beranjak dari kamar menuju ke pintu. Ia benar-benar merasa malas sekarang, tetapi ada saja yang mengganggunya.
"Siap-" ucap Jihan terdiam melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan nya. Kedua matanya membulat, kakinya mundur selangkah.
...----------------...
Ayoooo, ada yang bisa menebaknya gak? siapa yang datang ke apartemen Jihan dan Alviro???
Yuk main tebak tebakan.
Jangan lupa like, komen dan vote yah. Dukung terus supaya Author semakin semangat nulisnya. love you all.