I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 82



Jihan berjalan di Koridor sekolah, kedua temannya di panggil pak Johan. Banyak siswa siswi berpapasan dengan Jihan, dan mereka semua tersenyum senang. Karena Jihan membalas sapaan mereka dengan senyuman.


"Jihan! "


Merasa ada yang memanggil namanya, Jihan pun berbalik. yah benar saja, Lidia berjalan cepat kearahnya. Jihan menyebut Lidia dengan senyum manis.


"Ada apa Lidia? " tanya Jihan.


"Hemm.. Gue mau ngomong sama lo" ucap Lidia.


"Ya ampun Lidia, ngomong aja" balas Jihan kembali tersenyum.


"Tapi gak di sini Jihan, ini benar-benar privasi" jelas Lidia. Jihan tampak berpikir sejenak, kemudian menerima ajakan Lidia.


Mereka pun pergi ke taman belakang sekolah, entah bagaimana tempat ini selalu di jadikan ajang pertemuan dan tempat berbicara sesuatu yang rahasia. Padahal tempat nya tidak terlalu sepi.


"Lo mau ngomong apa? " tanya Jihan. Namun Lidia tak kunjung berguna, ia malah menunduk seakan sedang mempersiapkan sesuatu.


"Apa hubungan lo sama Alviro? "


Jihan mengerut, kenapa tiba-tiba Lidia menanyakan hal itu. Jihan berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.


"Kenapa lo tanya itu, lo suka sama Alviro? " tanya Jihan iseng.


"Gue udah lama menyukainya, gue udah lama mendekatinya, sejak kecil! " Lidia malah terbawa suasana. Jihan pun keterangan, ia tidak mengerti apa yang di maksud Lidia.


"Bagaimana mungkin lo menyukainya, sementara lo tinggal di London"


"Gue menyukainya sejak kecil, sejak kecil lo selalu menghalanginya" tuding Lidia, ia menatap Jihan tajam.


"Apa? lo kalo ngomong jangan ngaco Lidia! gue udah berusaha untuk membuat lo terlihat baik di depan semua orang. " balas Jihan, ia berusaha mengatur emosinya. Jihan memang sudah merasakan sesuatu aneh dari gadis ini, mulai dari ketika gadis ini selalu saja mencoba mendekatinya. Lagi pula, Jihan pernah melihat foto Lidia di mobil dan ruangan Mirna. Karena tidak mau berburuk sangka dan ingin melihat apa rencana gadis itu, Jihan memilih untuk diam.


"Cih, gadis bodoh seperti lo apa yang lo tahu!! " bentak Lidia.


"Lo yang bodoh, lo sama saja seperti kakak lo. Gue diem bukan berarti gue gak tahu siapa lo"


Deg.


Mata Lidia melotot, jadi Jihan tahu jika dirinya adalah adik Mirna. Lidia pun tersenyum, ia merasa senang jika Jihan sudah tahu. Jadi, ia tidak perlu berpura-pura dan berakting menjijikan seperti sebelumnya.


"Baguslah kalo lo sudah tahu" ujar Lidia tersenyum miring.


"Lo itu benar-benar licik, dan jahat! sama seperti Mirna. Yang rela tidur dengan kepala sekolah demi melancarkan niat jahatnya. " kata Jihan. Lidia menggeram, ia merasa sangat marah mendengar kakak nya di hina seperti ini.


"Kita lihat, lo melakukan apa untuk misi lo kali ini. Apakah lebih dari kakak lo? atau gue harus menyediakan laki-laki untuk kalian! "


Plak!!!


"Lo mau nampar gue kan, tapi sayang. Yang pantes di tampar itu lo. " tunjuk Jihan setelah menampar keras Lidia sebelum Lidia menampar nya. Kemudian Jihan berbalik dan melangkah pergi.


"Lo akan menyesal melakukan semua ini?!! " teriak Lidia. Namun Jihan tetap melanjutkan langkahnya, ia tidak peduli dengan tatapan siswa siswi yang ada di sana menatap mereka aneh.


Setibanya di kelas, kedua sahabat nya sudah menunggu nya di kursi dan anak anak wolf juga ada di sana.


"Lo kemana aja ji? "tanya Fela.


" Gue tadi dari perpus" jawab Jihan asal.


"Bohong, gue ada di perpus, tapi lo gak ada" celetuk Eldi.


"Karena gue gak mau mata jelek lo lihat gue" jawab Jihan asal, membuat semua anak wolf menertawaian Eldi.


"Ngeselin lo! " cibir Eldi.


Sementara itu Lidia masih berada di taman belakang, ia sangat kesal dan sakit hati dengan perlakuan Jihan tadi.


"Cih cih cih... Gimana? masih mau melawan Jihan? lo pikir dia masih gadis polos dan lemah lembut seperti dulu? " Alviro memandang jijik pada Lidia. Ternyata sejak tadi Alviro bersembunyi memperhatikan apa yang di lakukan Lidia pada Jihan. Ia cukup kaget mendengar percakapan mereka, dan Alviro berdecak kagum melihat Jihan lebih dulu menampar Lidia.


Lidia cukup kaget, namun ia cepat cepat mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia tidak mau musuh menebaknya melalui reaksi wajah.


"Alviro ku sayang, kita lihat saja nanti. Setelah Jihan tahu siapa lo sebenarnya, apakah Jihan akan tetap mau melihat lo? " Lidia berdiri tepat di depan Alviro.


"Bersiap siap lah sayang" tangan Lidia membelai wajah Alviro, namun cepat di hindari oleh pria itu.


"Alviro Alviro, lihat saja nanti. Gue pasti akan menghancurkan hidup kalian!! "


"Coba saja" balas Alviro menantang.


"Bersama sabar sayang, kita lakukan secara perlahan yah" kekeh Lidia, ia berhasil membelai pipi Alviro. Meskipun hanya sebentar, Alviro langsung menepis tangannya.


"Lo selalu saja tampan seperti dulu" gumam Lidia menghirup aroma di tangannya bekas wajah Alviro.


"Dasar murahan! " Alviro berlalu dari sana, ia tidak tahan lagi melihat wajah menjijikan Lidia. Rasa benci pada wanita itu masih sangat besar. Karena wanita itu, dan kakaknya. Jihan membencinya, Jihan malah pergi dari hidup nya.


Setibanya di kelas, Alviro di sambut oleh tatapan aneh dari Jihan.


"Kenapa? " tanya Alviro polos.


"Dari mana aja? "


"Dari luar" jawab Alviro singkat.


"Iya gue tahu lo dari luar, jawaban lo itu ambigu! " kesal Jihan. Bukannya membujuk, Alviro malah semakin kesal mendengar Jihan masih pake lo gue.


"Terserah! " balas Alviro kesal. Mereka saling membuang muka, hingga guru masuk pun mereka tidak mau melirik satu sama lain.


"Kenapa tu, curut curut di belakang? " Gumam Fela pada Ria. Mereka melirik keduanya sebentar.


"Gak tahu deh, pasangan labil itu selalu seperti itu" balas Ria.


"Huhh,, begini kalo masih sma usah di nikahin" ujar Fela.


Bug..


Fela merasakan kursinya si tendang dari belakang.


"Jangan gosipin gue! " kata Jihan datar.


"Yahh, dia dengar" kekeh Fela dan Ria cekikikan.


Bug...


Kini kursi Ria yang si tendang dari belakang, dan pelakunya bukan Jihan.


"Kenpa? " tanya Ria pura-pura kaget.


"Jangan tertawa" larang Alviro meniru gaya Jihan.


Ria dan Fela menutup mulut mereka agar tidak tertawa. Alviro dan Jihan sungguh sangat lucu. Sementara itu, Lidia menatap tidak suka pada mereka berempat. Kedua tangannya mengepal kuat.


"Jangan berpikir lo bisa mengganggu mereka lagi" bisik Ringgo di telinga Lidia. Membuat gadis itu merasa cukup kaget.


"Jangan ikut campur! " balas Lidia.


"Urusan mereka berdua, adalah urusan gue dan teman teman gue juga" balas Ringgo.


...----------------...


"Bunda, kok bunda tega sih gak ngabarin Zidan. Mama juga, gak ada ngasih tahu" omel Zidan pada mama nya dan juga bunda Jihan.


"Semuanya mendadak Zidan, bunda mau ngabarin gimana. Orang ponsel kamu gak aktif" jelas Tia.


"Itu mah alasan bunda saja! " balas Zidan tidak menerima alasan dari mereka.


"Sudahah kak, tidak usah di ladeni. Dia memang seperti itu! " ujar Rima.


"Mama... " rengek Zidan. Tanpa malu malu ia bergelayut manja di lengan mamanya. Padahal dirinya sudah sangat dewasa untuk hal ini.


"Dasar manja" dengus Tia.


Zidan tidak perduli, ia tetap bergelayut di lengan mama. Zidan tersenyum senang melihat kedua wanita itu kesal padanya.


Sudah sangat lama zidan berkeinginan datang ke Indonesia dan tinggal bersama keluarga disini agar mamnya tidak kesepian.


Kebetulan sekali, setelah lulus kuliah, Zidan meneruskan perusahaan papanya. Dan sekarang ia harus menangani anak cabang perusahaan papanya di Indonesia. Ini kesempatan Zidan untuk membawa mamanya ke Indonesia. Ia sudah tidak tega melihat bundanya terus terusan bekerja.