
Keesokan paginya pukul 8 pagi. Jihan dan Alvaro masih bergelut manja dengan mimpi masing-masing. Dengan posisi Alviro memeluk tubuh mungil jihan yang seolah olah sedang mencari kenyamanan di dada bidang itu.
Hingga cahaya matahari yang menyelinap masuk ke dalam kamar mereka, mengusik tidur Jihan.
"Engggg...... "
"Bangun!!!!! Bangun!! Udah siang ini" ucap Jihan menggoyang goyangkan lengan Alviro tanpa membuka mata. Ia berkata seola olah ia menyadari bahwa Alviro sedang tidur bersamanya sebelum ia mengetahui fakta yang membuatnya kecewa pada suaminya itu.
"5 menit lagi sayang" Balas Alviro semakin menarik tubuh Jihan ke dalam pelukannya. Jihan pun merasa semakin nyaman, ia kembali terlelap di dalam dekapan suaminya.
Sementara itu, di ruang makan para ibu ibu sudah bersiap menunggu anak dan menantunya turun. Namun sudah hampir 1 jam mereka menunggu, mereka tak kunjung turun.
"Mereka masih atau gimana sih! "
"Tau ih, dari tadi capa menunggu" sahut Tia.
"Biasalah ma, bun. Mereka itu kan biang telat di sekolah. Yah wajarlah mereka belum bangun sampai sekarang"
"Huh, aku aja sampai lelah menghukum mereka" kata Arvan.
"Wahhh, Jodoh itu gak jauh beda yah sifatnya" Cibir Zidan menyindir Lea dan Arvan yang sama sama nyinyir dan jutek.
"Nyindir bilang bos! " Balas Lea mendelik kesal. Zidan pun membalasnya.
"Merasa bilang boss!! "
Mereka semua pun tertawa bersama. Di sela sela tawa mereka, ada rasa panik yang menghinggapi kepala kedua orang tua ini. Mereka adalah Burhan dan Brian. Pagi pagi sekali, kedua pria hampir tua ini sudah berangkat ke kantor masing-masing. Mereka sekarang harus secepatnya menyelesaikan proyek itu dengan sangat baik.
Di tengah sibuknya Burhan memeriksa berkas, sebuah panggilan telfon masuk ke dalam ponselnya. Dengan segera, Burhan pun meraih ponselnya dan menekan tombol hijau setelah melihat nama besan sekaligus rekannya itu terpapar jelas di layar ponselnya.
"Selamat yah Burhan, proyek ini permanen milik kita"
"Serius kamu Brian, aku belum mendapat kabar apapun lo"
"Sesuai yang kita diskusikan tadi malam, semuanya berjalan sesuai rencana kita"
"Wahh bagus ini, minggu ini adalah minggu kebahagiaan bagi kita. Proyek dapat, cucu pun dapat"
Lalu mereka tertawa bersama.
"Kita harus merayakan ini Brian"
"Tentu saja, kita harus menyambut kebahagiaan ini dengan sangat baik"
"Yasudah, sampai jumpa di rumah"
"Oke"
Klik.
Burhan menggenggam ponselnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Akhirnya ia dan Brian sahabat nya mendapatkan proyek ini secara permanen.
Di sisi lain, di waktu yang tidak jauh berbeda. Seorang wanita mengamuk pada anak buahnya yang telah gagal menghancurkan rencana perebutan proyek di tangan kedua musuhnya.
"Bodoh!!! "
"Dasar tidak berguna!! "
"Bisa bisanya kalian gagal!! "
Mirna menatap semua pegawainya yang menunduk takut kepadanya. Tak ada yang berani menyela atau hanya sekedar menjelaskan. Mereka semua bergetar ketakutan.
"Kamu! "
"Yah saya boss" Jawab seorang pria yang di tunjuk mirna. Pria itu langsung berjalan mendekati bossnya.
"Jelaskan mengapa semua ini terjadi!! "
Dengan suara bergetar, pria itu mencoba menjelaskan semuanya.
"Mereka berhasil mengelabui kita bos. Apa yang kita rencanakan, berbanding terbalik dengan apa yang mereka lakukan. Seperti nya mereka mengetahui jika informasi mereka telah bocor dan dengan cepat mereka mengubah strategi"
"Sial! " Umpat Mirna semakin marah.
"Pergilah, kembali ke pekerjaan kalian masing masing! "
"Baik bos! " Jawab mereka serempak, lalu menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan kerja Mirna.
"Akkkkk!!!!!!! Dasar bodoh!!! Kenapa kalian selalu bisa mengalahkan ku!! "
"Karena mereka memang tidak bersalah! "sahut seseorang yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangannya. Mirna menatap tajam kearah orang itu yang tak lain dan tidak bukan adalah Lidia. Gadis kecil yang dulu pernah ia bawa dan ia didik menjadi gadis yang licik.
" Apa maksud dari perkataan mu huh!!! "
"Kak, sadar lah. Keluar lah Dati kegelapan ini!!! "
Plak!!!!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi kanan Lidia. Membuat gadis SMA itu langsung memegangi pipi yang terasa memanas.
"Selalu lagi kau mengatakan hal itu, akan aku robek mulut mu!! "
"Kenapa kak!! Kenapa kakak seperti ini. " Teriak Lidia histeris, ia sudah tidak tahan hidup di dalam ke gelapan ini.
"Kenapa? Kamu bertanya kenapa??? "
Mirna berjalan mendekati adiknya, lalu menarik rambut nya dengan sangat kuat. Sehingga membuat Kimia menengadah menahan sakit.
"Ayah dan ibu ku mati karena mereka!!! Keluarga ku hancur karena mereka!!! " Teriak Mirna di dapan wajah Lidia, membuat gadis itu memejamkan mata dengan air mata terus mengalir.
"Kau bahkan tidak memberitahu ku siapa Zidan sebenarnya!! "
"Kau membuat pria itu membenci ku, kau membuat aku terpisah dengan orang yang satu satu memberiku cinta!!!! "
Brak!!
Lidia mendorong kuat tubuh kakaknya, lalu menatap Mirna dengan sengit.
"Cih" Mirna tersenyum miring, ia sudah berhasil mendidik Lidia menjadi gadis yang kuat ternyata.
"Yahh, anggap saja semua itu imbalan dari apa yang telah kamu lakukan pada Jihan dan Alviro. "
"Karma, kamu tahu itu kan. Hahaha"
Lidia menggeleng pelan, ia sudah menyelidiki semua asal usul dendam Lidia. Bahkan dia juga sudah menyelidiki siapa dirinya sebenarnya.
"Kau benar-benar iblis Mirna!!! Seharusnya kau membantu ku. Bukan memberiku siksaan seperti itu. Kau malah tega memperalat ku!!! Kau iblis Mirna!!!!!! Iblis!!!! Aku benci pada mu!!! " Teriak Lidia lantang.
"Jadi kau sudah tahu, hum" Mirna menyeringai, seperti nya Lidia sudah menyelidiki asal usul nya.
"Yah, aku sudah tahu semuanya. Kau sengaja menghancurkan keluarga ku!!! Kau merampas semua milik keluarga ku hanya untuk membalas dendam yang tak tahu apa kebenarannya!!!! " Teriak Lidia.
Plak!!!!
Lagi lagi tamparan keras mendarat di pipi Lidia. Ia menatap nanar wanita yang selama ini ia yakini sebagai wanita yang sangat terbaik di muka bumi ini. Namun ternyata, dialah penyebab kehancuran hidupnya.
Sejak awal harusnya Lidia sudah menyadari bahwa Lidia tidaklah kakaknya. Karena, tidak akan ada seorang kakak mau menerjunkan adiknya ke medan perang, atau malah membuat adiknya menderita karena terpisah dari seseorang yang sangat ia cintai.
Lidia pernah iri pada Jihan, ia merasa iri melihat Lea yang sangat sayang kepada adiknya. Bahkan Lea menelan egonya hanya untuk melihat Jihan bahagia bersama Alviro.
Tidak, ia tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Ia harus memperbaiki semuanya, ia tidak boleh membiarkan Mirna kembali menghancurkan mereka yang tidak bersalah.
Lidia pun bergegas keluar dari ruangan Mirna. Namun, wanita itu seakan mengetahui apa yang akan Lidia rencanakan. Mirna menahan tangan Lidia kuat.
"Mau kemana kamu!!! "
"Itu bukan urusan mu!!! "
"Itu akan menjadi urusan ku, karena kau akan mengacaukan rencanaku!! "
Mirna menarik Lidia secara paksa agar masuk ke ruangan nya lebih dalam lagi. Ia tidak akan membiarkan Lidia pergi begitu saja.
"Lepaskan aku!!! Aku tidak akan membiarkan mu melakukan semua ini lagi!!! "
"Sudah cukup keluarga ku yang kau musnah kan!! "
Lidia memberontak!!, ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Mirna. Tubuh Mirna jauh lebih tinggi dari Lidia, di tambah lagi Mirna sangat ahli dalam ilmu bela diri, sehingga sulit bagi Lidia melawannya.
Bug!
Brak!
"Awhh!!!!! "Teriak Mirna merasakan perih di matanya. Dengan sengaja Lidia menginjak kaki mirna dengan high heels nya lalu mendorong kuat tubuh mirna.
Melihat mirna mengerang kesakitan, Lidia pun menggunakan kesempatan itu untuk lari.