I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 114



"Sial" Alviro mengumpat, mata nya menatap tajam pada layar monitor yang sedang menayangkan rekaman CCTV 1 jam belakang.


Di sana terlihat jelas seseorang dengan wajah tertutup mendekati mobil Alviro dan membukanya. Kemudian dengan sangat kasar orang itu menarik paksa Jihan keluar dari dalam mobilnya. Alviro semakin menggeram ketika tangan orang itu dengan seenaknya memeluk pinggang Jihan dan menyeretnya. Kemungkinan terbesar Jihan pasti merasakan sakit di bagian perutnya akibat kuatnya orang itu memeluk perut Jihan dan menariknya.


"Apakah itu wanita yang anda cari? " tanya bapak security.


Alviro hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari bapak security. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku buku tangannya memutih.


Pak security langsung mengambil buku dan pena, ia mencatat no plat mobil, kemudian menyerahkannya pada Alviro.


"Coba lacak mobil ini, saya yakin mereka masih belum jauh! " ucap pak Security memberikan kertas itu. Alviro pun menerima nya, lalu ia mengucapkan terimakasih dan pergi dari sana. Ia harus segara menemukan Jihan. Apapun yang terjadi, Jihan dan calon anak nya harus selamat.


Alviro berlari mendekati mobilnya, kemudian masuk dan melaju dari sana.


Selama di perjalanan, Alviro menghubungi mencoba menghubungi Ringgo.


Drrrttt.....


Drrtttt...


Ringgo yang sedang fokus mendengar penjelasan Zidan dan Lidia merasakan ada getaran di dalam sakunya. Ia pun meronggoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.


"Alviro? " gumam Ringgo.


Zidan yang tengah bicara langsung terdiam dan menoleh kepadanya. Begitu juga dengan yang lain, fokus mereka pada Ringgo sekarang.


"Halo Al, ada apa? "


"Ring, suruh Eldi melacak no plat yang udah gue kirim ke Eldi. " Suara Alviro terdengar ngosngosan.


"Buat apa Alviro, lo ada masalah? " tanya Ringgo mulai panik.


"Jihan di culik, kalian harus bantuin gue! "


"Apa?? Jihan di culik?? "


Mereka yang ada di sana langsung syok, Zidan langsung merebut ponsel dari tangan Ringgo.


"Kenapa bisa Jihan di culik? bukannya dia sama lo? "tanya Zidan dengan suara tidak percaya.


" Iya kak, ceritanya panjang banget!! kalian semua harus bantuin gue! sekarang gue menuju ke basecamp! "


klik.


panggilan langsung terputus, Zidan menggeram marah.


"Kenapa? Jihan kenapa? " tanya Ria dan Fela panik.


"Dia di culik, Alviro sedang menuju ke basecamp sekarang" jawab Zidan.


"kalau begitu, ayo kita kesana juga!!!! " seru Fela.


Lidia terdiam, ia menduga Mirna yang melakukan semua ini.


"Lo jangan mikir yang aneh aneh yah" Rasya memegang tangan Lidia, membuat gadis itu tersadar dari pikiran nya. Lidia tersenyum pada Rasya, ia tidak mau Rasya mengkhawatirkan dirinya lagi.


"Lo tenang aja"


Mereka semua bergegas menuju ke Basecamp, Fela dan Ria ikut ke mobil Babas dan Albi. Sementara Rasya dan Lidia ikut ke mobil Zidan. Dan Ringgo, Liem, Eldi masuk ke dalam satu mobil. Mereka semua melaju dengan kecepatan yang terbilang tidak sedang.


"Malang banget sih nasib Jihan" gumam Liem berbicara sendiri, namun di dengar oleh Eldi dan Ringgo.


"Yah mau bagaimana, ini sudah jalan hidupnya dia" Ringgo menghela nafas, ia juga merasa sangat kasian sama Jihan.


"Tahan perasaan lo boy, jangan sampai lo kembali terpuruk karena perasaan lo pada Jihan" Eldi mengusap bahu Liem, ia tahu Liem masih menyimpan rasa pada Jihan.


"Tenang aja, gue udah bisa kendalikan kok"


Eldi mengangguk mengerti, ia kembali berkutat dengan laptopnya. Ia berusaha untuk melacak no Plat yang Alviro kirim kan.


Dalam waktu yang bersamaan mereka semua tiba di basecamp. Alviro keluar dari mobil, lalu membawa semua teman temannya masuk ke basecamp.


Alviro menatap serius Eldi yang masih fokus dengan laptopnya. Semua berharap kepda keahlian nya.


"Gimana, ada perkembangan gak? " tanya Alviro. Ia sangat khawatir pada istri nya.


"Seperti nya semua ini bukan karena Mirna, ada orang lain yang mengambil kesempatan dalam kasus ini" jelas Eldi, ia mengcopy beberapa File, kemudian mengirimnya pada Alviro dan grup chat mereka.


Mereka semua langsung memeriksa isi dari file yang Eldi kirim.


"Siapa orang ini? kenapa datanya di sembunyikan? " gumam Ria.


"Aku juga masih mencari tahu siapa dia. Yang jelas, mobil ini berhenti di bagian Barat kota ini. Bertolak belakang dengan gudang yang dulu Mirna gunakan. " jelas Eldi.


"Aku harus menyelamatkan Jihan!! " Alviro langsung bangkit, ia berlari keluar dari basecamp. Menggunakan informasi yang Eldi berikan, ia bisa menyelamatkan Jihan.


"Alviro tunggu!! " teriak Ria dan Fela yang hendak menyusul Alviro.


"Fela, Ria! jangan, ini telalu bahaya bagi kalian berdua. Lebih baik kalian pulang dan beristirahat. Biarkan semua ini kami yang menyelesaikan nya! " Cegat Ringgo.


"Benar, sebaiknya kalian jangan menambah masalah. Jika kalian ikut, maka fokus kami akan terpecah! "sambung Zidan, matanya melirik pada mereka semua. Sapuan matanya tidak menangkap sosok wanita yang di cintainya.


" Kemana Lidia? "


"Dia kan... Eh, kok gak ada. Kapan dia pergi? " Rasya terkejut, karena kekalutan mereka sampai todak menyadari kepergian Lidia.


"Sial! "umpat Zidan.


"Liem, besok lo harus memimpin pertandingan. Lo harus jaga kerahasiaan masalah ini, kalian harus bersikap seperti biasanya. " ujar Ringgo.


"Baiklah" balas Liem.


"Yok Cabut, " Ajak Zidan. Eldi Tinggi, Babas, dan Albi langsung bangkit.


Sebelum pergi Babas menghampiri Fela, memeluk tubuh mungil itu erat.


"Kamu jangan khawatir yah, semua nya akan baik baik saja. "


"Kamu harus pulang dengan selamat dan harus membawa Jihan selamat juga" Fela semakin mempererat pelukan nya pada Babas.


"Gue janji, semua yang istri gue mau akan terkabulkan"


Fela tersenyum, meskipun saat ini ia sedang tidak ingin bercanda.


Di samping Fela dan Babas, Ria menatap dengan haru, ia malah berandai jika dirinya menikah nanti akan seperti Fela dan juga Jihan. Mereka berdua sudah menemukan pria yang tepat, sementara dirinya masih bertahan di tahap pendekatan. Walaupun dirinya dan Albi sudah pacaran, namun Albi masih belum menunjukkan keseriusan nya.


...----------------...


Jihan tersadar dari pingsan, keningnya berkerut berusaha mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


Kasur?


Jihan menebak sekarang dirinya berada di sebuah kamar meskipun ruangan ini terlihat remang rremang Aroma parfum milik orang lain masuk ke indra penciuman nya. Jihan yakin ini bukan kamar miliknya dan Alviro.


Jihan berusaha bangkit dari kasur, ia harus pergi dari sana. Bertepatan dengan itu, sebuah bunyi pintu terbuka membuat pergerakan Jihan yang baru saja turun dari ranjang terhenti.


Ceklek.


Pintu terbuka, sosok pria tinggi muncul bersamaan dengan hidupnya lampu. Semuanya mendadak menyilaukan di mata Jihan. Ia sedikit memicingkan matanya menyesuaikan pencahayaan.


Jihan melihat seorang yang tidak asing di matanya, ia merasa pernah bertemu dengan pria itu.


Jihan mundur ketika pria itu melangkah masuk dan mendekat pada nya.


"Siapa kamu? "


Ayo!! siapa yang bisa menebak nya? Silahkan komen di bawah yah.