
Jihan masuk ke dalam kamarnya, ia terus menggerutu melampiaskan kekesalannya pada Alviro dan juga bundanya.
"Enak saja gue di bilang calon istri tu cowok" gerutu Jihan duduk di tepi ranjangnya sembari membuka sepatu sekolah.
Blam~ Bunyi pintu lemari sepatu yang di tutup Jihan dengan hempasan keras. Untung itu lemari mahal, jika tidak. Mungkin pintu lemari itu sudah jatuh dari tempatnya.
Jihan memakai sendal rumahnya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dari kamar mandi, Jihan di kagetkan dengan kehadiran cowo yang sejak tadi ia maki di dalam hati.
"Bundaaaa!!!! " Pekik Jihan sedikit terhuyung ke belakang, untung ia cepat bisa mengendalikan ekspresi nya.
Alviro dengan santainya duduk di tepi ranjang Jihan, ia menatap Jihan dengan senyum melebar.
"Ngapain lo di sini? gak sopan banget" gerutu Jihan sembari berjalan santai dari kamar mandi, kemudian berdiri di depan Alviro dengan kedua tangan bertumpuh di pinggang.
"Emang gak boleh? gue masuk ke kamar calon istri gue? " jawab Alviro santai.
Jihan mengerucutkan bibirnya, matanya menatap tajam ke arah Alviro.
"Calon istri, calon istri. Gak usah bermimpi deh lo. "
Ingin rasanya Jihan menyeret cowo menyebalkan itu keluar dari dalam kamarnya. Apalagi melihat tampang konyol Alviro yang sejak tadi tersenyum padanya. Bukannya apa apa, tetapi hal itu mampu membuat Jihan sakit jantung. Ia takut, jika lama lama Alviro bersikap seperti itu kepadanya, maka jantung nya akan terlepas dari tempat nya.
"Emang lo gak suka sama gue? " tanya Alviro lugas, membuat Jihan tertawa seketika. Pertanyaan macama apa itu? udah kaya anak SMP aja. Jihan masih sibuk dengan tawanya, tanpa menyadari Alviro sudah berdiri dari duduk nya.
"Lo pikir tampang lo selevel sama selera gue? gak kali" Jihan masih tertawa, ia baru berhenti ketika menyadari Alviro maju mendekatinya.
"Ma-Mau ngapain lo? " tanya JJiha terbata, kakinya melangkah mundur seiring dengan langkah maju Alviro.
"Lo yakin gak suka sama gue? " ulang Alviro lagi.
"Ga-k mungkin lah Gue suka sama lo" jawab Jihan kekuh Jihan.
"Lalu, kenapa lo gugup seperti ini? "
Jihan sudah tak bisa bergerak lagi, tubuhnya sudah mentok pada dinding, matanya melebar kuat karena Alviro berada di tidak jauh darinya. Hingga jarak mereka tersisah hanya beberapa centi lagi.
"Minggir Alviro! " ujar Jihan berusaha mendorong dada bidang Alviro. Namun entah apa yang terjadi, Alviro seakan seperti pohon besar. Sangat sulit untuk di dorong.
Sekarang wajah Alviro semakin dekat dengan Jihan, Alviro sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Alviro. Deru nafas Alviro dapat di rasakan oleh Jihan, menerpa wajah nya. Hingga semakin dekat dan dekat, Jihan tak sanggup lagi, ia menutup matanya tak sanggup menentang mata Alviro.
Fyuuuu...
Alviro meniup wajah Jihan, membuat gadis itu semakin menutup matanya. Entah apa yang terjadi Jihan malah diam membisu, jantung nya berdetak cepat, berpacu dengan deru nafas yang mulai tak beraturan.
Cukup lama Jihan menutup matanya, ia tidak merasakan deru nafas Alviro menerpa wajahnya lagi.
"Hahahaha"
Seketika Jihan membuka matanya karena mendengar tawa Alviro.
"Katanya gak suka, tapi kenapa nutup hm?? "
"Ihhhh Alviro!! nyebelin deh!!! pergi sana" Jihan menarik tangan Alviro, kemudian menyeretnya keluar dari kamarnya.
"Dasar cowo nyebelin!!! " teriak Jihan kesal.
Blam~
Jihan memegangi kedua pipinya yang terasa memanas, ia sangat malu karena terbuai oleh Alviro.
"Dasar Jihan bodoh! " maki Jihan pada dirinya sendiri.
Sementara Alviro tertawa geli membayangkan ekspresi Jihan tadi, ia menuruni anak tangga rumah Jihan.
"Loh Alviro? kamu kenapa nak, kok memegangi perutnya? " tanya Tia dengan nada khawatir.
"Biasa lah tu bun, palingan Alviro mengerjai Jihan lagi" sahut Lea.
"Alviro pamit bun" ucap Alviro mencium punggung tangan Tia, kemudian tangan Burhan yang baru saja memasuki pulang.
"Mau kemana Al? " tanya Burhan.
"Mau pulang Om" jawab Alviro.
"Kok cepat sekali, belum ngobrol lo sama om" ujar Burhan.
Alviro tersenyum kikuk, "Alviro udah sejak tadi di sini om, kasian teman teman udah nunggu"
"Oh yaudah, lain kali. Kamu harus ngobrol sama om yah"
"Siap om!! " balas Alviro cepat.
Setelah sedikit bercengkrama, Alviro pamit pulang. Ia harus menyelesaikan urusannya dengan Mirna.
Alviro masuk ke dalam mobilnya, sebelum melaju. Ia mengirimkan pesan singkat pada teman temannya.
Dari balkon kamarnya, Jihan melihat kepergian mobil Alviro hingga tidak terlihat lagi. Ada segaris lengkungan yang terukir di bibir Jihan. Entah apa maksud nya, Jihan menyembunyikan sesuatu.
Di tempat lain, Ringgo, Babas dan Albi di tugaskan oleh Alviro untuk memantau Mirna di sebuah Apartemen. Sekarang mereka sudah tahu apa alasan Alviro tidak menyukai Mirna. Mereka juga baru tahu apa masalah Alviro di masa lalunya. Semua itu sudah di jelaskan oleh Ringgo atas ijin Alviro.
"Gue gak habis pikir, kenapa guru sebaik bu Mirna bisa melakukan hal itu" gumam Babas menatap ke apartemen dimana salah satu jendela nya masih terlihat terang.
"Terkadang wajah tidak bisa di ambil pedoman, baik di muka, belum tentu baik sampai isi dalamnya baik. " ucap albi dramatis.
"Widihhhh, gak nyangka gue. Albi gue sedewasa ini" decak Babas menepuk nepuk bahu Albi.
"Biasa aja kali" balas Albi.
Mereka bersiap untuk mengikuti Mirna yang baru saja keluar dari basement apartemen nya.
"Ikuti sekarang" titah Albi pada Babas yang duduk di kemudi.
"Kemana wanita itu pergi? " gumam Ringgo yang duduk di kursi belakang sendiri.
Mereka sedang mengikuti Mirna secara perlahan. Hingga wanita itu masuk ke sebuah hotel berbintang.
"Ngapain coba dia ke sini? " ujar Babas. Ia memajukan mobilnya semakin mendekat ke basement hotel, agar mereka bisa semakin jelas kemana Mirna pergi, apakah ia masuk ke dalam hotel, atau malah hanya bertemu seseorang di sana.
Benar apa yang mereka duga, Mirna tidak masuk ke dalam hotel. Melainkan bertemu dengan seseorang yang tak asing di mata mereka.
"Anjir, Kepsek? " pekik mereka serentak.
"Gila bener, pake peluk peluk lagi.. ihhh" Babas merasa jijik melihat Mirna yang terkenal guru cantik, anggun dan juga berwibawa. Sekarang terlihat hina di mata mereka setelah melihat semua ini di depan mata kepala mereka sendiri.
"Pantes, tu cewe bisa sesuka hatinya di sekolah" ujar Ringgo.
Cling~
Sebuah masuk ke ponsel Ringgo.
Alviro Wolf
[Bagaimana? apa lo pada dapat sesuatu? "]
Ringgo Wolf
[Udah, kita dapat sebuah fakta yang mengejutkan. ]
Tak berapa lama kemudian, Alviro kembali membalas pesan dari Ringgo.
Alviro Wolf
[Kumpul di kafe Cuanlo]
Ringgo mengangguk pelan setelah membaca pesan dari Alviro, ia hendak menyimpan ponselnya kedalam saku, namun ponselnya kembali berdering. Membuat Ringgo mengurungkan niatnya.
Alviro Wolf
[Batalkan nongkrong bareng anak anak, gue gak mau, Jihan sampai tahu soal ini]
"Yuk Cabut" ujar Ringgo.
"Serius nih? kita gak rekam dan sebar kebusukan mereka? " tanya Babas, ia sangat ingin membongkar siapa Mirna dan kepsek bajingan.
"Alviro bilang kita di suruh ngumpul di cafe cuanlo, " jawab Ringgo.
"Yaudah yuk cabut" seru Albi. Babas mengangguk, kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya dan melaju pergi dari sana.
...----------------...
"Lah, kok di batalin sih!" gumam Jihan merespon percakapan Ria dan Fela di dalam chat grup.
Ria
[Katanya ada urusan mendadak]
Fela
[Suntuk woy]
^^^^^^Jihan^^^^^^
^^^^^^[Padahal gue udah siap siap nih]^^^^^^
Ria
[Albi bilang gitu, ada urusan mendadak]
Cling~
Cling~
Jihan tak lagi memperdulikan isi chat grup nya, ia sudah terlanjur kesal karena janji nongkrong di batalkan.
"Tau gini, gue mending nonton drakor" gerutunya.
"Jihan!!!!!! turun nak!!! makan malam!!! " teriak Tia dari bawah.
"Iya bun!!!! " sahut Jihan sembari melangkah keluar kamarnya setelah kembali berganti pakaian.
Di meja makan sudah ada ayah dan juga Lea, bundanya sedang mengambil lauk di dapur. Jihan menarik satu kursi di samping Lea.
"Gak jadi keluar? " tanya Lea.
Jihan menggeleng pelan, kemudian mulai menghilang nasi dan meletakkan ke piring nya.
"Ayah, malam ini kemana? ada acara gak sama bunda? " tanya Jihan menoleh pada ayahnya.
Burhan yang sedang makan menoleh kepada, putrinya. "Gak ada sayang, emang nya kenapa? " ucap Burhan balik tanya.
"Gak ada nanya doang" balas Jihan.
Mereka makan dengan hikmat, setelah bundanya datang dan mebgomeli mereka karena makan sambil berbicara.
...----------------...