
Tap! Tap! Tap!
Bola terus memantul ketika Liem men dribel nya kesana kemari. Setengah berlari Liem mendribel bola menuju ring.
Yhap.
Liem sedikit melompat dan kemudian memasukkan bola ke ring. Bola masuk dengan sempurna, membuat senyum indah dan rasa kebahagiaan terpancar di wajah tampannya.
Prok!! Prok!!!
Jihan dan kedua sahabat nya bertepuk tangan setelah menyaksikan aksi Liem menembak bola. Mereka tidak sengaja lewat di depan ruangan olahraga dan melihat Liem, teman sekelasnya sedang latihan sendiri.
Liem menoleh ke arah ketiga gadis yang bertepuk tangan untuk nya. Seulas senyum semakin melebar, Liem senang melihat Jihan menyukai permainan nya.
"Lo pinter juga main nya" puji Jihan. Ia melangkah mengambil bola, kemudian men dribel nya ke arah Liem.
"Rebut kalo bisa " tantang Jihan.Membuat Liem langsung mendekatinya.
Keduanya terlibat aksi pertandingan bola basket, dengan penonton setia, yaitu Ria dan Fela.
"Jihan!!! Jihan!!! " Sorak keduanya.
Tap Tap Tap.
Jihan berlari sembari mandrible bola menuju ke ring. Jihan tidak memberikan Liem kesempatan untuk merebut bola darinya.
"Lo jago juga mainnya" ucap Liem di sela sela aksi mereka yang saling berhadapan. Bola berada di tangan Jihan.
"Lo atlet basket? " tanya Liem penasaran. Jihan menggeleng.
"Tidak, gue cuma main sekedar iseng"
Shooottt...
"Yeeeeee!!!!! " sorak Ria dan Fela ke girangan. kemudian berlari menghampiri keduanya.
"Lo mainya hebat kok Liem. Tapi gak sehebat Jihan" kekeh Ria meledek Liem.
"Gue malu sebagai kapten" balas Liem ikut terkekeh.
Mereka duduk di lapangan membentuk lingkaran. Liem dan jihan meluruskan kakinya, keduanya tampak terengah dengan keringat bercucuran di pelipis dan leher jenjang Jihan. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Tapi mereka tidak perlu takut, karena pelajaran selanjutnya adalah olahraga.
Liem menatap Jihan lekat, senyum kekaguman terukir di sana. Ada rasa bahagia ketika Jihan mengajaknya bermain tanpa ia yang harus mengajak terlebih dulu.
Wahh seperti nya ni cowok naksir Jihan ni.
"Liem! " panggil Ria.
"Woy Liem!!!!!! " teriak Fela kuat. Membuat pria itu kaget dan tersenyum kikuk. Karena ketahuan memperhatikan Jihan.
"Ada apa? "
"Lo ngelamunin apa? sambil liat Jihan lagi" tanya Ria dan fela tertawa. Jihan hanya menggeleng kepala melihat tingkah kedua sahabat nya. Bisa bisanya mereka berkata seperti itu. Jihan melirik kearah Liem, melihat ekspresi apa yang pria itu tunjukkan.
"Gue hanya kagum aja, kok bisa cewe seperti Jihan jago main basket" jawab Liem santai, ia tidak mau terlihat bodoh di depan ketiga gadis ini, Liem harus bersikap cool dan berwibawa. Apalgi di depan Jihan.
"Yah iyalah, lo gak tahu? abang sepupu Jihan, calon imam gue, kapten basket di kampusnya" jelas Fela percaya diri.
"Lo punya abang sepupu? trus si Lea? " tanya Liem kaget.
"Eh lo pikir, kalo gue punya kakak, trus gak boleh gitu, gue punya abang sepupu? " decak Jihan heran, Liem seperti tidak pernah melihat seseorang memiliki abang sepupu. Hal biasa kali, gak perlu kaget juga. pikir Jihan.
"Yah bukan gitu sih, tadinya gue mau nanya hubungan lo sama Lea" kekeh Liem. "Tapi salah pake ekspresi".
" Huh? " Jihan dan kedua sahabat nya melongo. Bisa begitu yah? salah pake ekspresi. Udah kaya pake topeng aja.
"Make topeng? ampe salah begitu" celetuk Fela.
Liem tak menjawab lagi, ia hanya terkekeh melihat ekpresi ketiga gadis itu.
Kring!!!!!!!!!!!
Bel masuk pun berbunyi, Liem, Ria dan Fela segera bangkit dari duduknya. Sementara Jihan malah tetap betah duduk di lantai sembari bermain game di ponselnya.
"Yuk Jihan, kita harus segera berganti pakaian" ajak Ria.
"Lagi malas ah"
"Eh, Jihan. Ini bukan Amerika yah. Lo gak bisa seenak lo di sini" omel Fela. Ia menjelek telinga Jihan yang sering malas malasan kalo pelajaran olahraga.
"Aduhh aduhh... dduu Fela Fela... Sakit bege!! " pekik Jihan memegangi telinganya yang masih di jewer oleh Fela. Gadis itu tidak akan melepaskan jewerannya, sebelum Jihan beranjak dan ikut berganti pakaian.
Liem tetap di ruang olahraga, karena ia sudah berganti pakaian sejak tadi.
Mereka bertiga tiba di kelas. Kening ketiganya mengerut bingung. Sudah tidak ada siapa siapa lagi di kelasnya.
"Pada, kemana? " ujar Ria bingung. Biasanya, mereka akan berkumpul terlebih dahulu di dalam kelas, baru berolahraga di lapangan.
"Udah pada ganti pakaian mungkin" jawab Jihan sekenanya. Ria mangut mangut, kemudian mengambil pakaiannya dari dalam tas.
Jihan membuka tasnya, kemudian mengeluarkan seragam olahraga yang tadi pagi ia simpen di dalam tas ranselnya.
Ketika Jihan mengembangkan cela olahraga nya, ia melihat pesak celananya suka sobek seperti bekas guntingan.
"Eh, kok celana olahraga gue sobek sih! " ujar Jihan kaget.
"What? " Ria mengambil alih, memastikan matanya tidak salah.
"Gue yakin, ada seseorang yang mencoba mengibarkan bendera perang sama kita" gumam Ria.
"Kita harus cari tahu orang nya Jihan"
"Tidak, kita gak boleh cepat terpancing" cegah Jihan. "Kita biarkan dulu mereka menampakkan diri. Setelah sudah ketangkap orang nya, gue yang akan turun tangan menghajar tu orang"
Fela dan Ria mengangguk pelan. Mereka paham apa yang Jihan maksud. Mereka harus tahu siapa musuh mereka sebenarnya.
Mereka bertiga keluar dari kelas, Fela dan Ria sudah berganti pakaian. Sementara Jihan masih mengenkan seragam putih abu abu dengan jas merah nya.
Di sekolah ini, terdapat dua lapangan bola basket, ada yang di luar dan ada yang di dalam ruangan olahraga. Jika yang di luar, sering di pake oleh murid murid yang memiliki waktu kosong, atau kadang ketika turnamen, anggota basket akan membutuhkan lapangan secara khusus. oleh karena itu sekolah yang terkenal paling elit ini menyediakan 2 lapangan.
Ketiga gadis itu masuk ke ruang olahraga, semua mata tertuju kepada mereka. Terlihat di sana teman teman sekelasnya masih memencar, karena guru olahraga belum hadir.
Ria dan Fela menatap satu persatu orang yang ada di sana. Mencari siapa yang pantas di jadikan target kecurigaan mereka.
"Lo gak ganti pakaian Ji? " tanya Liem berjalan menghampiri ketiganya. Di ikuti oleh anggota wolf, kecuali Alviro. Pria itu duduk di bangku penonton dengan bola basket memutar di ujung jari telunjuk nya.
Jihan menggeleng, wajahnya di sengaja di buat terlihat sangat pucat.
"Dia sakit seperti nya" ujar Ringgo mengamati wajah Jihan. Seketika Jihan merubah ekspresi nya menjadi seperti orang lemes.
"Iya, Jihan merasa perutnya sakit" jawab Fela.
"Loh, kok gak di bawa ke UKS, kenapa malah di bawa kesini? " tanya Eldi.
"Perut gue hanya gak nyaman dikit, gak perlu ke UKS" jawab Jihan cepat. Ia tidak mau di bawa ke sana, bisa bisa sakit beneran jika ia sampai masuk ke UKS.
"Yaudah, lo istirahat di kelas aja" saran Liem penuh perhatian.
"Ehm.. Gue di sini aja, gue gak suka sepi" jawab Jihan lagi, sembari melangkah menuju bangku penonton, kemudian duduk di sana. Tak jauh darinya duduk, ada Alviro.
Pria itu terus memutar mutar bola di tangannya, ia hanya melirik Jihan dengan ekor matanya.
"Ck, sakit apaan" gumam nya, hingga terdengar di telinga Jihan. Membuat gadis itu menoleh pada nya.
"Udah deh, lo diem aja! "
"Ck, dapat apa kalo gue diem?" ucap Alviro lagi. Ia terdengar seperti memalak Jihan sekarang.
" Dapat ketenangan, karena gue gak mau ribut sama lo! "ketus Jihan. Ia kembali menatap kearah depan Lama lama menatap pria itu bisa membuat matanya sepet.
Tapi, Alviro malah menggegerkan duduknya lebih dekat dengan Jihan, kemudian menoleh pada gadis itu dengan seringaian menakutkan.
" Yahh!!! gue pikir dapat ciuman" bisik Alviro dengan nada mendesah seperti orang kecewa. Hal itu Sukses membuat mata Jihan Membola. Ia menatap horor Alviro, entah sejak kapan pria ini bersikap seperti ini kepadanya.
"Sejak kapan lo berubah jadi cowo bajingan? lebih cocok jadi cowo berandalan rau" ucap Jihan menatap sinis pada Alviro. Keduanya saling menatap lama.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati tingkah mereka. Kilatan kebencian terpancar di sana. Namun tiba-tiba berubah menjadi datar ketika guru olahraga menyuruh semua muridnya berkumpul.
"Alviro!!! cepat kemari!!! " panggil pak Kio.
"Maaf Pak, saya harus mengantar Jihan ke UKS. katanya sakit perut!! " teriak Alviro asal, kemudian bangkit dari duduk nya. Alviro mengambil ancang ancang hendak menggendong Jihan.
"Eh eh, lo mau ngapain!! " Jihan memukul mukul tangan Alviro yang mulai menyentuh tubuh nya.
"Udah lo diem aja, atau tubuh lo bakalan jatuh! " bisik Alviro di telinga Jihan, ia sudah berhasil mengangkat tubuh ringan Jihan.
"Ya sudah, segera kembali setelah mengantar Jihan" balas Pak Kio.
Alviro mengangguk menjawab ucapan pak Kio, kemudian segera meninggalkan ruang olahraga.
Sementara Liem menatap kepergian mereka, beribu pertanyaan melekat di benaknya, begitu juga dengan murid lain. Sejak kapan Alviro dan Jihan seakrab itu. Bahkan Ria dan Fela ikut bingung.
"Ada seseorang yang kita gak tahu" bisik Fela pada Ria.
"Entar kita gebrek tu bocah" balas Ria. Fela mengangguk setuju.
...----------------...
Leni memasuki kamar putranya, ia mencoba mencari cari sesuatu yangemberinya penjualan dan mengetahui siapa gadis yang bernama icha. Nama yang sering Alviro sebut ketika tidur.
Leni memeriksa setiap tempat yang ada di kamar Alviro, bahkan ia memeriksa kedalam lemari Alviro. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang menunjukkan tentang masa lalu putranya.
"Dimana Alviro meletakkannya! " Leni duduk di meja belajar Alviro. Tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah kotak berukuran 25 x 10 cm.
"Kotak apa ini? " Gumam Leni. Di angkatnya kotak itu lebih dekat dengan nya. Kotak berwarna coklat polos dan ada pita berwarna pink di sudut nya.
Leni membukanya, ia mendapati beberapa lembar foto. Senyumnya terukir ketika melihat foto Alviro yang sedang tersenyum Ambari memegangi gitar kesayangan nya.
Alviro sejak kecil sudah memiliki bakat, ia ingin menjadi penyanyi dan juga ilmuan ternama di seluruh dunia. Namun, semuanya sirna ketika sesuatu terjadi pada nya.
"Sudah tampan sejak lahir" kekeh Leni pelan. Ia beralih ke lembar foto yang di beri tali pengait antara foto satu dengan fotonya yang satunya lagi. Di foto sebelah kiri, seorang gadis sedang tersenyum bahagia memegangi syal merah. namun Leni tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, karena terdaoat lecet di bagian wajahnya. Leni menyipit, ada tulisan di sudut foto.
"My Icha" Gumam Leni membaca tulisan itu. Membuat feeling Leni semakin yakin, jika gadis ini adalah wanita yang putranya panggil ketika mengigau.
Lalu Leni beralih ke foto satunya lagi. Jika foto pertama tidak jelas wajah gadisnya, maka di foto satunya lagi, Leni bisa melihat dengan jelas kedua wajah yang memamerkan senyum bahagia pada kamera.
Tangan Leni gemetar, sekarang ia sudah tahu siapa gadis yang sering di panggil Alviro di dalam mimpinya.
Jadi selama ini ia dan sahabat nya curhat tentang masalah anak masing-masing yang mungkin memiliki masalah yang sama.
Cepat cepat Leni merapikan kembali kotak kenangan milik Alviro, kemudian membawa lembar foto yang di hubungkan oleh sebuah benang, Leni keluar dari kamar Alviro.
...----------------...