
Dua mangkok bakso porsi jumbo, kuah nya sudah seperti kuah cabe pedas. Jihan tersenyum menyeringai, seperti nya sebuah ide cemerlang menghampiri otak nya.
Alviro dan Zidan yang sudah merasakan aurah penderitaan pura-pura hendak pergi.
"Oh iya, gue kan ada janji"
"Gue harus pulang karena sudah di tungguin bunda dan ayah" Sahut Alviro.
Jihan mengertakkan giginya, menatap kedua pria yang akan beranjak pergi.
"Satu langkah bergerak, harus menghabiskan semua ini sendiri! " Ancam Jihan.
Glek.
Alviro dan Zidan kembali duduk, menatap dua mangkok bakso penuh dengan tatapan horor. Alamat akan mondar mandir toilet abis makan ini. Pikir keduanya.
Jihan tersenyum lebar melihat kepatuhan keduanya. Ia pun menyeret mangkat bakso satu persatu ke depan Zidan dan Alviro.
"Nah, gue sudah buatin kalian Bakso super enak. Special " Ujar Jihan senang.
Special apanya, buat mati iya. Sahut Zidan dan Alviro di dalam hati.
"Ayo di makan, masa di liatin aja"
Zidan dan Alviro pun mau tidak mau mulai mencicipi bakso dari Jihan.
"Uwueeeekk"
"Minum!!! Minum!!!! " Teriak Alviro mencari cari gelas air minum setelah menyendok kuah bakso ke mulutnya. Alviro merasa lidahnya langsung terbakar.
"Enak kan? " Tanya Jihan polos.
"Enak banget sayang" Jawab Alviro berbohong. Ia tidak mau Jihan menambahkan lagi cabe jika ia menjawab tidak enak.
"Ayo di makan lagi" Ujar Jihan, ia memperhatikan Zidan dan Alviro memakan bakso buatannya dengan wajah senang. Bukan karena berhasil menyiksa Zidan dan Alviro, namun Jihan merasa senang aja merek makan seperti itu. Entah apa namanya, namun Jihan memang merasakan perasaan seperti itu.
"Huaaaaaaa!!!! " teriak Zidan membuka mulutnya lebar lebar. Jika di dalam animasi, mungkin dari mulut Zidan ketika berteriak akan terlihat semburan api panas saking pedas yang ia makan.
"Mimpi apa gue semalam, sampai punya adik sangat kejam" Lirih Zidan memegangi perutnya yang mulai terasa memanas.
"Kak, gue gak tahan lagi. Ayo cepat bawa Jihan pulang! " titah Alviro. Mereka harus membawa Jihan pergi dari warung bakso itu, jika tidak. Maka mereka akan merasakan siksaan kasih sayang dari Jihan.
Pengunjung bakso lainnya hanya menggeleng melihat aksi Alviro dan Zidan yang harus memakan bakso pedas buatan seorang wanita.
Ada di antara mereka yang mencoba untuk bertanya, namun Jihan menjawab jika ini merupakan keinginannya. Orang itu pun menyimpulkan bahwa Jihan seperti orang ngidam.
Namun, hal itu tidak di gubris oleh Jihan dan kedua pria itu. Mereka hanya sibuk memikirkan bagaimana cara menghabiskan bakso pedas itu dan pergi dari sana.
"Huaa.. Yes habis, cepat kak bayar. Gue akan menggendong Jihan ke mobil! "
"Oke" Zidan pun bergegas mendekati penjual bakso, ia mengeluarkan beberapa lembar uang tukaran seratus. Lalu pergi begitu saja.
"Mas, ini terlalu berlebihan!! " Teriak mas bakso, karena uang yang Zidan berikan terlalu banyak.
"Tidak apa apa, ambil aja" sahut Zidan, kemudian masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Alviro.
"Ihh kalian ini kenapa sih! Kan belum selesai makan bakso nya! " rengek Jihan memukul mukul Zidan, namun mereka tidak menggubris nya lagi. Jihan sudah terlalu berlebihan.
"Bundaaa!!!!! Huaaaa hikss. . " Tangis Jihan pun pecah. Ia terus menangis isteris seperti orang di siksa.
Alviro pun tetap melajukan mobil menuju ke rumah mertuanya, karena di sana sudah berkumpul semua keluarga termasuk papa dan mamanya.
Karena lelah menangis dan memukul zidan, akhirnya Jihan pun tertidur di pelukan kakak sepupunya itu. Membuat Zidan dan Alviro bernafas lega.
"Akhirnya dia tidur" Gumam Zidan yang di angguki oleh Alviro yang sejak tadi selalu melirik ke belakang untuk melihat kondisi istri nya.
Jauh di dalam lubuk hati, Alviro mengucapkan syukur berkali kali. Ia tidak menyangka bisa kembali bertemu dengan istri nya yang sudah beberapa hari tidak bertemu. Yang lebih membuat Alviro bersyukur adalah Jihan yang tidak menatapnya dengan tatapan benci.
Setelah mengemudi selama 20 menit, akhirnya mereka tiba di rumah besar keluarga Rafier. Kecepatan yang Alviro gunakan terbilang tidak sedang. Karena itu mereka bisa tiba dengan sangat cepat di rumah.
Alviro langsung turun dari mobil, kemudian membantu zidan untuk menggendong Jihan secara perlahan.
"Hati-hati" Ujar Alviro, ia tidak mau tidur Jihan terganggu karena kecerobohan mereka.
"Engggg... " Jihan mengerang dalam tidurnya, seketika itu Alviro dan Zidan langsung mematung. Mereka tidak bergerak sedikit pun agar Jihan tidak terbangun.
Jihan yang berada di gendongan Alviro merasa sedikit tidak nyaman. Ia pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Alviro dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher suaminya mencari kenyamanan. Merasa sudah nyaman, Jihan kembali tertidur lelap.
"Huh.... Ayo bawa masuk" Ujar Zidan. Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, semua keluarga tampak kaget melihat kondisi Jihan. Mereka hendak mendekat, namun dengan cepat Zidan memberi isyarat agar tidak mendekat dan tidak menimbulkan suara.
Lea yang penasaran mencoba bertanya pada Zidan dengan gerakan mulut, namun Zidan tidak memberikan jawaban. Mereka hanya fokus membawa Jihan masuk ke dalam kamar dan membaringkan nya dengan sangat hati hati.
"Huh.. akhirnya" Zidan bernafas lega.
Alviro membaringkan Jihan secara perlahan ke atas ranjang. Setelah Jihan berbaring dengan nyaman ia hendak pergi keluar untuk menemui keluarga nya. Namun tiba-tiba tangan Jihan menahan lengan Alviro.
"Jangan pergi, aku takut sendiri" Lirih Jihan tanpa membuka mata. Alviro melirik pada Zidan.
"Tidurlah bersamanya, gue akan menjelaskan pada semuanya" Ujar Zidan mengangguk agar Alviro tetap menemani istrinya.
"Baiklah" Balas Alviro.
Setelah Zidan keluar dari kamarnya, Alviro pun langsung ikut berbaring di samping Jihan. Memeluk erat istri yang sangat ia rindukan. Jihan pun malah semakin menempel pada Alviro, seolah olah hanya pada, Alviro ia mendapatkan kenyamanan.
Sementara itu, di ruang tamu. zidan menjelaskan pada keluarga nya tentang perubahan sikap Jihan.
"Jadi, sejak dia pingsan di kamar hotel. Jihan mendadak berubah? " Tanya Lea.
"Iya Lea, bahkan Jihan tidak mau di periksa oleh dokter. Ia seakan membenci dokter" jelas Zidan. Keluarga nya terdiam, mereka menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Jihan.
"Jika di analisa dari sisi lain, seperti nya Jihan mengalami masa ngidam. " Ujar Arvan.
"Ngidam? " Ulang Tia dan Leni.
"Kemungkinan besar itu terjadi pada Jihan, soalnya semua yang ia lakukan dan inginkan sangat berbanding terbalik dengan sikap Jihan yang sebenarnya. Arvan rasa Jihan sedang hamil muda" Jelas Arvan lagi.
"Kalau memang benar begitu, wahhhh kita punya cucu" Sorak Leni dan Tia senang.
"Tapi, Jihan kan masih sekolah ma, bun. Apa kata orang orang nanti" Lirih Lea khawatir, ia tidak mau adiknya di tindas dan di hina.
"Sayang, kamu tenang saja. Buat apa kita punya banyak uang. Kita bisa lakukan homeschooling untuk Jihan" Ujar Brian.
"Benar Lea, yang terpenting adik kamu baik baik saja" timpal Burhan.
"Sekarang kita harus membujuk Jihan untuk melakukan pemeriksaan oleh dokter. Agar semuanya pasti dan tidak menerka nerka saja" Ujar Zidan yang di angguki setuju oleh mereka semua.