I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 86



"Lo apa apaan sih Fela, sakit tahu" Lidia mengusap kaki dan juga lututnya.


"Lo itu kenapa sih, selalu saja mencari masalah dengan Jihan? "


Lidia menggeleng cepat, ia mulai berakting. Apalagi sekarang kelasnya mulai berdatangan siswa siswi dari kelas lain.


"Apa salah gue Fela, kenapa lo malah menuduh gue yang tidak tidak! " bantah Lidia.


"Lo gak usah berakting, lo sengaja kan dorong kursi Ringgo dan mengenai Jihan yang akan lewat? "


"Ayo ngaku! " desak Fela penuh emosi, ia sudah muak dengan drama yang Lidia mainkan.


"Lo bicara apa sih Fela, Gue gak ngerti! " balas Lidia masih berakting.


Sementara Ria membantu Jihan yang meringis kesakitan di tulang kering kakinya. Sisi kaki kursi mengenai kaki Jihan.


"Lo gak papa kan Jihan" ucap Ria khawatir.


"Gue gak papa kok, tapi kaki gue sakit banget" Jihan bergerak pelan dan duduk di kursi Fela.


"Ada apa sih, kok mereka ribut sama anak baru"


"Gak tahu tuh, seperti nya ada insiden dengan Jihan. Lihat aja tu, Jihan kesakitan"


"Lidia yang lakuin? "


"Atau siapa sih, gue gak ngerti deh"


Siswa siswi mulai berbisik bisik. Mereka menerka menerka apa yang terjadi sebenarnya.


Lidia menatap Fela dengan tatapan memohon, ia berakting bahwa dirinya lah korban di sini.


"Lo kok jahat banget sama gue Fela, gue gak lakuin apapun. Tapi lo terus saja menuduh gue! " Lidia mendekati Fela, ia memegang kedua tangan Fela yang langsung di tepis oleh Fela.


Fela sangat yakin, tepian tangannya sangat pelan, bahkan ia hampir tidak menyentuh tubuh Lidia. Tapi, gadis itu malah melempar tubuhnya seakan akan Fela mendorong nya kuat.


"Eh Fela, kok lo kasar sih" ucap salah satu siswi, ia membantu Lidia berdiri. Mata Fela melebar, Lidia benar-benar ular berbisa.


"Kalian lihat sendiri kan, gue gak menyentuhnya! " ucao Fela membela diri.


"Gue salah apa sih sama kalian? kenapa kalian selalu saja menindas gue. Padahal gue hanya ingin berteman sama kalian" lirih Lidia terisak.


Fela semakin emosi mendengar ucapan Lidia, ia hendak menghadang Lidia. Namun Jihan menahan tangannya.


"Udah gak usah di ladeni Fela, bangkai gak akan bisa di simpan lama lama. Pasti akan kecium juga" ujar Jihan. Matanya menatap tajam pada Lidia.


Fela dan Ria membantu Jihan berjalan keluar dari kelas, membela kerumunan yang memenuhi kelasnya. Masih untung anak anak OSIS kebanyakan kelas 3. Jadi mereka tidak terlalu ketat dalam pengawasan sekolah akhir akhir ini.


"Lo gak papa kan? " tanya siswi yang membantu Lidia tadi.


"Gue gak papa kok, makasih yah udah belain gue"


"Kenalin Gue Rasya, kelas IPA 2" ucap Rasya memperkenalkan dirinya.


"Gue Lidia" balas Lidia menyambut uluran tangan Rasya.


"Lo gak usah khawatir yah sama Jihan, mereka itu baik kok. Hanya saja, mungkin mereka lagi kesal sama lo" jelas Rasya. Membuat Lidia menggerutu di dalam hatinya karena Rasya masih saja membela Jihan.


"Iya, gue tahu kok" balas Lidia tersenyum paksa. Setidaknya ia memiliki seorang teman untuk di ajak berkomplot. Lidia yakin, Rasya sangat muda untuk di ajak berkerjasama. Apalgi Rasya sangat muda percaya sama orang lain.


Sementara itu, Jihan dan kedua sahabat nya pegi ke UKS. Mereka harus memeriksa tulang kering kaki Jihan. Takutnya nanti akan berakibat fatal jika tidak di pastikan.


"Loh, Jihan. kamu kenapa? " tanya dokter khusus yang berkerja di sekolah ini.


"Ya sudah, ayo bawa ke sini" Dokter menuntun Jihan duduk ke kursi yang sengaja di desain untuk orang orang yang memiliki cidera di kaki. Dokter pun mulai memeriksa kaki Jihan.


"Kaki kamu tidak mengalami cidera yang serius, ini hanya sebuah memar yang terjadi karena sebuah benturan yang sedikit lebih kuat. Sehingga kamu merasakan sakit dan ngilu ketika kamu berjalan " jelas sang dokter. Jihan dan kedua sahabat nya bernafas lega.


"Jihan!!! Jihan!!! " Alviro masuk ke dalam ruangan UKS dengan nafas memburu. Ia berlari sekencang mungkin ketika mendengar keributan yang terjadi di kelasnya, dan mendapat ini jika istrinya cidera.


"Kamu gak papa? " tanya Alviro khawatir. Ia memeriksa sekujur tubuh Jihan mencari bagian yang sakit.


"Aduh Alviro, aku gak papa kok. Hanya memar dikit doang" ucap Jihan menenangkan suaminya.


"Syukurlah, gue sangat khawatir jika terjadi sesuatu sama kamu" kata Alviro bernafas lega.


"Cieee..... " Fela mulai deh dengan sikap centil nya. Ia mencolek colek pinggang Ria karena malu melihat kehangatan diantara Alviro dan Jihan.


"Ih Fela, lo apa apaan sih, kalo lo mau. Bilang noh sama Babas, gue yakin dia akan membuat lo lebih berharga" celetuk Ria panjang lebar.


"Ihhh Ria apaan sih" sungut Ria memantulkan bibirnya, ia terlihat sangat lucu jika berdandan seperti itu


Baiklah Jihan, saya pergi dulu. Sebaiknya kamu istirahat dulu dan jangan banyak bergerak! " saran dokter dan berpamitan.


"Makasih dok" balas Jihan.


Setelah dokter pergi, Alviro kembali mendekati istrinya. Ia penasaran siapa yang telah melakukan semua ini Jihan.


"Bilang sama aku, siapa yang udah lakuin semua ini? "


"Siapa lagi kalau bukan Lidia, si anak baru bermuka dua! " jawab Fela, ia masih sangat kesal dengan Lidia.


"Lidia? " beo Alviro, lalu kemudian terdengar gertakan gigi dari mulut Alviro.


"Sayang, jangan" cegat Jihan ketika Alviro akan keluar dari ruang UKS untuk menemui Lidia dan memberikan perhitungan padanya.


"Kamu manggil apa? " tubuh Alviro mendadak kaku, panggilan Jihan kepada dirinya sungguh sangat berpengaruh padanya.


"Sayang, jangan balas Lidia yah. Kasian, dia tidak memiliki teman di sini" kata Jihan membujuk.


"Baiklah, asa manjain aku" Alviro mentok Jihan penuh Arti.


"Ini sekolah bodoh! " tukas Jihan membuat Fela dan Ria salah arti.


"Umh.. Yaudah deh, kita pergi dulu." Gumam Ria, ia menarik Fela ke luar dari sana.


"Eh eh, kok kalian malah pergi sih. Woy!! " teriak Jihan.


"Dah ji.... " Sahut Fela melambaikan tangannya pada Jihan.


Kini tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu. Jihan bergerak gelisah, ia takut Alviro akan melakukan hal yang sama seperti tadi pagi.


"Alviro.. " lirih Jihan.


"Kenapa sayang? apa kamu menginginkan sesuatu? " tanya Alviro. Jihan menggeleng cepat, ia tidak menginginkan apapun selain terbebas dari pesona Alviro. Ia terlihat sangat tampan hari ini.


"Gue mau kembali ke kelas" lirih Jihan.


"Gak Jihan, kamu masih sakit, dokter bilang kamu tidak boleh bergerak terlalu banyak. Kamu tolong dengerin aku ya" Alviro merengkuh tubuh Jihan, dan memeluknya Erat.


"Good Girl" Gumam Alviro mengecup pucuk kepala Jihan.


...----------------...