I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 54



Pagi yang cepat cerah, sinar matahari menelusup masuk melalui celah celah jendela rumah sakit. Burhan sengaja memilih kamar inap untuk putrinya berhadapan dengan taman rumah sakit yang bisa membuat mata segar ketika melihatnya dari atas.


Jihan mulai membuka matanya, ia mengerut dan memperhatikan sekeliling nya. Di mana dirinya sekarang?. Jihan duduk, menatap dinding putih ciri khas rumah sakit. Ia bersyukur ruangannya tidak beraroma obat obatan karena kamarnya yang elit.


"Gue di rumah sakit? " pikir Jihan. Perlahan gadis itu berjalan mendekati jendela. Di bukanya jendela itu perlahan.


"Indah banget" gumam Jihan tersenyum tipis. Pemandangan taman yang terdapat bunga bunga yang tampak bermekaran. Banyak pasien pasien yang tengah menikmati indahnya suasana taman pagi ini. Ada yang menggunakan kursi roda, ada yang memegangi tongkat, bahkan ada yang duduk saja di sana tanpa apa apa.


"Nak, kamu sudah bangun sayang? " ujar Tia melihat putrinya sudah berdiri di tepi jendela. Tia baru saja kembali setelah membeli bubur di kantin rumah sakit. Ia hafal betul, jika Jihan tidak suka makanan rumah sakit.


Jihan berbalik, ia mendekati bundanya sembari merentangkan tangannya.


"Bunda, Jihan kangen banget sama bunda" ucap Jihan semakin memeluk erat tubuh bundanya. Ia bersyukur, masih di berikan kesempatan bertemu dengan keluarga nya. Jihan sempat berpikir Mirna akan mengakhiri hidupnya, bahkan ketakutan itu masih menyelimuti hati dan pikiran Jihan.


"Sayang, kamu aman sekarang. Jangan mikirin yang enggak enggak lagi yah nak. Bunda mohon" balas Tia.


Jihan tak menjawab lagi, ia hanya memeluk bundanya semakin erat.


"Kak Lea mana bun? "tanya Jihan teringat dengan kakaknya.


" Gue ada di sini" sahut Lea. Ia batu saja memasuki ruangan Jihan. Lea langsung berjalan mendekati bunda dan adiknya.


"Gue senang lo udah gak syok lagi" ujar Lea.


"Kak, Alviro gimana? dia baik baik aja kan? " tanya Jihan menatap kakaknya menunggu jawaban.


Ekspresi wajah Lea langsung berubah, suasana hatinya berubah menjadi tidak enak.


"Gue mau urus administrasi lo dulu" balas Lea datar, Lea beranjak dari hadapan Jihan.


"Kak! lo kok gitu sih? " tanya Jihan bingung, kakaknya terlihat sangat aneh ketika ia mengatakan nama Alviro.


"Nak, kamu masih syok. Istirahat dulu yah" bujuk Tia, ia tahu suana hati Lea saat ini tidak baik.


"Gak bun, Jihan mau jumpa Alviro. Dia yang udah selamatin Jihan. " ucap Jihan melepaskan pegangan tangan bundanya. Ia berjalan cepat melewati kakaknya, namun Lea tidak membiarkan Jihan begitu saja.


"Tidak Jihan!! gue gak akan membiarkan lo bertemu lagi sama dia! " cegat Lea.


"Apa? " Jihan menatap kakaknya dengan tatapan kaget. "Kakak kok larang gue jumpa Alviro"


"Pokoknya, gue gak mau lo jumpa sama cowo itu lagi! " balas Lea.


"Kenapa? apa alasan kakak larang gue jumpa sama orang yang udah selamat kan gue!! " ucap Jihan menghempaskan tangan Lea yang menahan tangannya.


"Lo celaka karena dia!! lo harus tahu itu Jihan!! Sadar!!!!!! " teriak Lea mulai kehabisan kesabaran. Jihan menggeleng pelan, ia tidak menyangka dengan apa yang kakaknya katakan.


"Kak! kakak kenapa bicara seperti itu! dia yang nolongin gue kak!! kakak yang harusnya sadar!! " balas Jihan.


Tia memegangi kepala, ia pusing melihat pertengkaran kedua putrinya. Tadi malam Lea dan Arvan, dan sekarang malah mereka berdua. Tia benar-benar bingung dengan sikap kedua putri.


"Jihan!!! Lea!!! " teriak Tia keras, untung ruangan ini adalah ruangan VVIP, jadi mereka berteriak keras pun tidak terlalu keras terdengar ke luar.


Ceklek.


"Jihan!!! " Fela dan Ria langsung berlari mendekati Jihan. Mereka memeluk Jihan sangat erat.


"Gue seneng lo selamat" ujar Fela tersenyum senang.


"Umh.. Iya, makasih sudah mau menyelamatkan gue kemarin" ujar Jihan.


"Eh, gak kok Ji. Tapi Alviro yang udah selamatin lo" jawab Ria.


"Gue tau, kalian juga ikut kan" ucap Jihan menatap pada kedua sahabat nya dan juga pada anak anak Wolf yang juga ada di sana.


"Tenang aja Jihan, kita ikhlas kok" sahut babas.


"Halo tante, kita teman teman sekelas Jihan" sapa Liem mendekati bunda Jihan. Tia pun menyambut dengan hangat. Ia senang teman temannya Jihan datang menjenguk putrinya.


"Makasih yah, udah jengukin Jihan"


"Eh kok makasih tante, udah jadi tanggung jawab kita jenguk teman kita sendiri" balas Liem menggeleng kikuk.


"Gak dapat anaknya, emaknya pun di embat" celetuk Babas asal. Liem langsung melirik tajam padanya.


Tia tersenyum mendengar candaan teman teman Jihan, ia bersyukur putrinya memiliki teman teman yang baik seperti mereka.


"Lo itu, mulut nya mesti di jaga" serga Albi menyenggol bahu Babas yang hanya nyengir kuda.


"Sorry, kelepasan" kekeh Babas.


Sementara itu Ringgo dan Eldi hanya diam dan menggeleng kan kepala melihat tingkah Babas yang bar bar.


"Yaudah, kalian ngobrol aja yah, tante mau keluar sebentar" ucap Tia tersenyum hangat.


"Iya tante" balas mereka tersenyum.


"Wah, bundanya Jihan baik banget yah. Mana cantik lagi" ujar Eldi.


"Mau jadi papa tiri Jihan lo? " celetuk Fela. Membuat Eldi langsung manyun.


"Gak gitu juga kali, gue cuma kaget aja. Anaknya udah segede ini, tapi bunda Jihan masih muda aja gitu" jelas Eldi.


Jihan hanya memutar bola matanya mendengar obrolan tidak penting dari mereka.


Mereka mengobrol cukup lama, Jihan tak henti hentinya melirik ke arah pintu. Ia berharap Alviro muncul di sana. Jihan sangat ingin bertemu dengan Alviro. Entah apa ini, namun Jihan tidak bisa memungkiri nya. ia benar-benar ingin bertemu dengan Alviro dan memastikan keadaan pria itu.


"Lo nyariin Alviro? " tanya Ria. Jihan langsung mengalihkan pandangan matanya kearah mereka.


"Ehm.. Tadi Alviro gak masuk. Makanya kita gak bawa dia ke sini" jelas Fela.


"Entar kita bawa Alviro ke sini yah Ji" ujar Eldi.


"Eh gak usah" tolak Jihan, membuat mereka semua menatap heran pada Jihan. Mereka tahu Jihan ingin bertemu dengan Alviro, tapi mengapa Jihan malah menolaknya.


"Kenapa Ji? " tanya Ria penasaran. Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, ia mencari keberadaan kakaknya.


"Kak Lea gak ijinin gue jumpa sama Alviro" jelas Jihan menghela nafas gusar.


"Kenapa? " tanya Ringgo penasaran. Namun pertanyaan terpaksa hilang begitu saja ketika Lea memasuki kamar Jihan. Suasana mendadak hening. Mereka bergidik ngeri melihat wajah datar Lea. Senior galaknya kembali memperlihatkan taring yang selama ini sudah memudar.


"Yaudah deh jihan, kita pulang duluan yah" pamit Eldi sembari memberikan kode pada keempat temannya.


"Ada apa sih ini" pikir Fela. Sudah gue katakan kan, kalo fela ini sangat lama mencerna sesuatu. Lihat aja tuh, mukanya bingung seperti itu. Ria yang melihat wajah bingung Fekaes hanya menggeleng kepala.


"Ji, kapan lo bisa keluar dari rumah sakit? " tanya Ria mencairkan suasana setelah anak wolf keluar dari sana.


"Besok" jawab Lea datar.


glek.. Fela dan Ria saling melirik, ini kali pertama nya mereka melihat Ria sedingin ini.


"Umh.. Bagus lah" balas Ria lagi dengan gugup.


Jihan menatap sebal kakaknya, ia tahu jika kedua temannya merasa sangat takut sekarang. Apalgi lirikan mata kakaknya sangat, mengintimidasi ketika mereka membahas soal Alvaro.


"Yaudah deh Ji, kita balik dulu yah. Besok kita bertemu di sekolah" ujar Fela tersenyum canggung. Lalu mereka buru buru keluar dari kamar inap Jihan.


...----------------...


Hai semuanya, terimakasih sudah mau mampir. Silakan tinggalin jejaknya untuk kita saling dukung. Jangan lupa juga like, vote dan berikan hadiamu. Love kalian semua. Love you more