
Jantung Jihan berdegup kencang, ia sangat trauma di bentak oleh seorang guru killer. Dulu pernah Jihan di bentak dan di beri hukuman hingga gadis itu pingsan. Alhasil, guru itu langsung masuk penjara dan di cabut haknya sebagai seorang guru.
"Lo tenang yah" bisik Ria pelan, tangannya menggenggam erat tangan Jihan agar gadis itu tetap tenang dan tidak panik. Ria tahu pasti bagaimana perasaan Jihan sekarang. Fela pun begitu, ia sejak tadi memperhatikan Jihan, ia takut Jihan kembali pingsan seperti dulu.
"Tatap saya!!! " bentak pak Johan sedikit lebih keras.
"Maaf Pak, salah kami apa yah. Kok malah di bentak? " tanya Fela memberanikan diri. Ia tidak tahan lagi dengan penindasan ini. Bukannya murid yang melakukan penindasan terhadap murid baru, malah guru yang melakukannya.
"Hahaha... " Pak Johan tertawa ringan. Membuat ketiga siswi baru dan juga murid lain menatapnya heran. Ini kali pertama nya mereka melihat pak Johan tertawa, setelah sekian lama mereka mengenal pak Johan.
"Bagus, saya salut dengan keberanian kamu! " ujar pak Johan menepuk bahu Fela. Ia cukup kagum melihat keberanian Fela.
Sejujurnya Fela masih bingung, ia hanya mengangguk pelan menerima pujian dari pak Johan.
Sementara Jihan sudah mulai tenang, ia sudah terlihat lebih santai. Jihan bersyukur memiliki Ria dan Fela di sisinya, mereka berdua memang yang paling mengerti Jihan.
"Sekarang, perkenalkan diri kalian" titah pak Johan lagi, namun dengan nada biasa saja. Bahkan pak Johan memamerkan senyum nya pada ketiga siswi itu.
"What?? pak Johan senyum? " pikir Alviro terkejut.
"Seperti nya pesona ayang Fela benar-benar melunturkan kegarangan pak Johan" decak Babas kagum pada Fela, ia merasa semakin ingin memiliki gadis itu.
"Lebai lu" cibir Albi.
"Nama saya Fela pak" ucap Fela memulai perkenalan diri pada pak johan.
"Saya Ria pak"
"Dan saya... Ji.. Han Pak" ucap Jihan, ia masih sedikit gugup.
"Tidak masalah Jihan, kamu jangan terlalu takut sama saya. Tadi saya hanya ingin test keberanian kalian dan kejelian kalian dalam menelaah keadilan. Bagus, terkhusus untuk kamu, saya sangat mengapresiasi kamu" jelas pak Johan, di akhiri dengan senyum manis pada Fela. Kemudian menyuruh mereka bertiga kembali ke kursi masing-masing.
"Ahh Sumpahh gue greget banget" gumam teman sekelas Jihan yang lain.
"Oke anak anak, kita akan melanjutkan materi sebelum nya. " ucap Pak Johan mulai membuka buku pedomannya, untuk melihat sampai mana materi minggu lalu.
Jihan berkali kali menghela nafas, ia benar-benar sangat ketakutan tadi. Bukan karena ia penakut, tetapi tiba-tiba saja dada nya sesak dan pikiran nya kalut.
Selama pelajaran pak Johan, Geng Jihan tampak antusias dalam belajar. Bahkan ketika pak Johan melemparkan pertanyaan pertanyaan kepada murid muridnya, Jihan dan kedua teman teman nya Bergantian menjawab.
Alviro melirik Jihan, ia melihat gadis itu tengah tersenyum sembari mengerjakan soal yang baru saja pak Johan berikan. Terlihat dari ekspresi Jihan, gadis itu bisa menjawab soal dengan mudah. Berbeda dengan Alviro yang tidak melakukan apapun.
Deg.
Merasa ada yang menatap nya, Jihan pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah orang yang menatapnya. Ia mendapati Alviro yang sedang menatap kearahnya.
Tatapan itu.....
Jantung Alviro berdetak lebih kencang, ia merasa tidak asing dengan tatapan Jihan. Cepat cepat Alviro mengalihkan pandangan nya ketika pak Johan mendatangi meja nya dan ringgo.
"Dasar cowo aneh!! " gumam Jihan meledeki Alviro yang sudah tidak melihat ke arahnya lagi.
"Bagaimana Alviro, apa kamu sudah menyelesaikan nya? " tanya pak Johan memeriksa buku tulis Alviro.
Pak Johan menghela nafas berat, di sana tidak ada tertulis apapun. Bahkan goresan pena pun tidak ada di buku Alviro.
"Berhenti saja lah kamu lagi, otak kosong gini buat apa sekolah" omel pak Johan pada Alviro, kini pak Johan beralih ke meja Jihan.
Dari semua muridnya, hanya Jihan yang terlihat mengerti dengan soal latihan itu.
"Nah, bagus Jihan. Kamu anak baru tapi sudah bisa menyesuaikan dengan materi yang sudah banyak terlewatkan" puji Pak Johan sembari melihat hasil jawab Jihan. Semua soal di jawab dengan sempurna, Jihan benar-benar bagus di mata pak Johan.
"Terimakasih pak" balas Jihan tersenyum simpul.
"Wahhh bagus Jihan" ujar Ria dan Fela bersorak menyemangati.
"Eeee Dasar loh, gue pikir lo beneran muji" gerutu Jihan pura-pura jutek.
"Bodo amat" balas Fela acuh.
Setelah pak Johan kembali ke depan, Fela langsung, melihat isi jawaban Jihan. Bukan isinya, tetapi melihat bagaimana langkah yang Jihan buat untuk mendapatkan hasil. Fela sedikit kesulitan menelaah soal, jadi dirinya selalu meminta penjelasan dari Ria, atau pun Jihan. Bukan berarti dia bodoh. Fela hanya butuh keterangan nya saja.
"Alah, palingan juga dia menghubungi Lea" cibir Alviro sedikit lebih keras agar di dengar oleh Jihan.
Benar saja,Jihan mendengarnya. Ia langsung menoleh pada Alviro. Dada Jihan mendadak terasa sesak, emosi nya mulai naik, Ingin sekali ia mencakar cakar wajah menyebalkan Alviro saat ini juga. Namun niatnya itu harus terpendam karena masih ada pak Johan di depan.
"Iri bilang aja! " ketus Jihan.
Kringg!!!!!!!!!!!!
Hembusan nafas lega terdengar dari murid murid yang sejak tadi menunggu suara bel berbunyi. Lama-lama belajar sama pak Johan bisa membuat siswa siswi struk berat. Tekanan nya lebih kuat dari pada memakan makanan yang mengandung kolesterol tinggi.
"Baiklah anak anak, materi kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya" ucap Pak Johan menutup pembelajaran hari ini, kemudian keluar dari kelas.
Jihan menyusun buku bukunya ke dalam tas, ia merasa sangat lelah dan lapar. Berpikir keras mampu menguras seluruh tenaga yang ia miliki.
"Yuk ke kantin! " ajak Jihan pada kedua sahabat nya.
"ayuk" sahut Fela dan Ria yang langsung menggandeng tangan Jihan kiri dan kanan.
Sementara Geng Wolfs sudah keluar lebih dulu dari pada mereka. Ria dan Fela menghela nafas lega, setidaknya tidak ada perdebatan sejauh ini.
...----------------...
"Lea!!! " panggil seseorang.
Lea menghentikan langkah nya,ia membalikkan tubuhnya karena panggilan itu terdengar dari arah belakangnya. Seketika ekspresi Lea berubah menjadi datar, ternyata Arvan yang memanggil dirinya.
"Ada apa? " tanya Lea ketus.
"Selow Lea, gue ke sini mau mendiskusikan sesuatu sama lo" jelas Arvan tersenyum manis.
"Langsung aja ke intinya" ucap Lea.
"Gak di sini, kita harus bicara di ruang OSIS" jelas Arvan meraih tangan Lea, kemudian menariknya menuju ke Ruangan OSIS. Jantung Lea seakan berhenti berdetak, ketika tangan hangat Arvan menyentuh pergelangan tangannya. Ada getaran asing yang menghampiri hati Lea.
"Ruang OSIS? " gumam Lea mulai tersedar. Ia menggeleng pelan, tidak lagi. Lea tidak mau terjebak lagi bersama Arvan di sana.
"Gue gak mau" tolak Lea menarik tangannya dari genggaman tangan Arvan. Ia hendak segera pergi, namun sayang. Mereka sudah berada di depan ruang OSIS yang pintunya sudah di buka oleh Arvan. Terlihat di dalamnya sudah berkumpul beberapa siswa siswi dari anggota OSIS dan beberapa dari perwakilan kelas.
"Kenapa Lea? " tanya Arvan tersenyum miring. Dari ekspresi Lea, Arvan mampu menebak apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu.
Lea tercekat, pemikiran nya salah. Ia merasa sangat malu sekarang. Lea berbalik hendak pergi, tapi di tahan oleh Arvan.
"Masuk sekarang, atau apa yang lo pikirkan tadi jadi kenyataan" bisik Arvan tepat di telinga Lea. Mau tidak mau, Lea terpaksa menurut apa yang di inginkan oleh pria yang sangat menyebalkan ini.
Perlahan Lea kembali berbalik dan memasuki ruangan OSIS. Ia duduk di samping Mutia, teman satu kelasnya yang menjadi sekertaris OSIS.
"Lo di paksa lagi sama Arvan? " tanya Mutia sembari terkikik pelan. Melihat wajah cemberut Lea, Mutia merasa pertanyaan darinya tidak perlu di jawab lagi oleh Lea. Tentu saja jawaban nya Ya.
Di depan, Arvan mulai menjelaskan progres dan tujuan di kumpulkan nya anak anak yang Arvan pilih sebagai perwakilan kelas masing masing. Ia berencana ingin membuat kegiatan Bansos di sebuah desa yang membutuhkan bantuan.
...----------------...
Hai Hai, balik lagi. Author semakin rajin up nih, mohon bantuannya yah. buat semangat, dengan komentar komentar, ekspresi kalian tentang cerita yang author publish.
Biar makin semangat upnya. 😁😁dukungan kalian adalah penyemangat bagi author. 😘😘Terimakasih sudah mau setia mendukung author.