I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 22



Lea pulang kerumah nya dengan di antar oleh Arvan. Karena Arvan membawa Lea ke sebuah desa yang lumayan terpencil, membuat Lea merasa tubuhnya sangat remuk. Desa itu tidak terlalu jauh, namun jalannya yang sudah tidak layak di lalui, membuat mereka sedikit lama tiba di tempat tujuan. Bahkan Arvan bilang pada Lea, bahwa mereka belum sampai di desanya, mereka hanya mengunjungi kantor kelurahan yang menaungi desa itu saja.


Lea tidak bisa membayangkan hidup selama 1 minggu di desa terpencil seperti itu. Namun, dengan hati yang terpaksa, hati yang di paksa iklas harus menerima nya. Lea harus menyiapkan hati dan mental untuk 2 minggu lagi. Setelah beberapa ujian selesai, maka program itu akan Arvan jalan kan.


Lea turun dari mobil Arvan, sejak meninggalkan kantor kelurahan itu, hingga tiba di depan rumahnya. Arvan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Berbeda ketika mereka berada di luar, di depan orang lain. Arvan akan membuat Lea kesal, dan membuat dirinya terlihat jahat di depan orang lain.


"Makasih" ucap Lea ketus, kemudian berbalik masuk ke rumah nya.


Arvan tidak memperdulikan Lea, ia malah fokus meneliti sebuah mobil yang terparkir di samping mobilnya.


"Mama di sini? " Batin Arvan. Kemudian ikut melangkah di belakang Lea. Membuat gadis itu menoleh kepadanya.


"Eh kok lo ikutan masuk, kan gue gak ada ajak lo masuk! " gerutu Lea. Namun Arvan tidak memperdulikan apa yang Lea ucapkan. Ia terus melangkah masuk memastikan dugaannya benar.


Arvan sudah biasa datang ke rumah Lea, setiap membuat acara perkumpulan keluarga, Arvan dan Lea lah yang sering menghadirinya. Itu pun cuma 2 kali, karena insiden kepergian Jihan dan perubahan sikap Alviro. Namun Arvan tetap sering datang ke rumah Lea, karena mengantar Leni.


"Nah, seperti dugaan Aku. Mama di sini" gumam Arvan tersenyum lebar, ia menghampiri Leni dan duduk di sebelah nya setelah salim dengan Tia.


"Eh udah pulang" ucap Tia tersenyum. Ia menarik putrinya yang hanya berdiri dengan ekspresi kesal.


"Kamu itu yah, selalu saja cemberut" omel Tia. "Senyum dikit! "


"Au ah malas" kesal Lea manja, kemudian berbaring di samping bundanya dengan paha Bunda nya di jadikan bantal.


Leni terkekeh melihatnya, Lea masih saja terlihat manja seperti waktu kecil.


"Gak malu sama nak Arvan? " bisik Tia menggoda putrinya.


"Ih bunda... "


Arvan hanya menggeleng melihat tingkat Lea, Udah gede masih aja manja, pikir Arvan.


"Oh iya Len, mana foto yang katanya mau kamu tunjukin ke aku" ujar Tia. Membuat Leni ingat dengan foto yang ia temukan di kamar Alviro.


"Foto apa ma? " tanya Arvan penasaran.


Lea yang berbaring, berganti duduk di samping bundanya. Ia juga penasaran dengan foto yang mamanya Arvan bawa.


"Ini Tia, aku lupa lupa ingat. Jadi aku mau memastikannya sama kamu" ucap Leni sembari memberikan foto itu kepada Tia.


"Eh itu kan foto Jihan, kenapa ada sama tante. " ujar Lea kaget.


"Huh? jadi itu beneran Jihan? " kaget Leni, ternyata betul dugaannya.


"Iya Leni, ini Jihan waktu SD. " jawab Tia.


Leni menghela nafas berat, ia bingung harus melakukan apa. Jika begini jadinya, akan sangat sulit untuk mengembalikan Alviro. Karena Jihan tak kalah kerasnya dengan Alviro.


"Bentar bentar, Arvan masih bingung" ujar Arvan mencerna dari semua ini.


"Lemot banget sih loh. Nge hukum aja cepat! " Sungut Lea.


"Gak usah curhat! " balas Arvan.


"Gadis yang ada di foto ini, yang sering Alviro panggil di mimpinya " jelas Leni.


"Jadi, Alviro berubah karena Jihan, si anak baru itu? " tanya Arvan.


"Kemungkinan seperti itu, tapi kita tidak tahu apa yang menjadi permasalahan di antara mereka. Tante juga baru tahu, kalau Jihan dan Alviro deket " ucap Tia. Ia benar-benar kaget mengetahui fakta ini.


"Sejujurnya Lea sudah tahu sejak awal" cicit Lea. Membuat Arvan, Tia, dan Leni menoleh padanya.


"Kenapa kamu gak bilang sayang? "tanya Leni.


" Maaf tante, Lea ragu. Karena Jihan dan Alviro tidak saling mengenali. "


"Mereka selalu berantem setiap kali bertemu" timpal Arvan. Lea mengangguk membenarkan apa yang Arvan katakan.


"Lah, bagaimana ini. Aku takut jika Jihan mengetahui siapa Alviro sebenarnya, Jihan akan memilih pergi lagi" gumam Tia.


"Kita harus melakukan sesuatu Tia, sebelum mereka menyadarinya"


"Kamu benar Leni" sahut Tia.


"Biarkan saja dulu ma, tante. Arvan yakin mereka tidak akan lari dari masalah lagi. Arvan yakin, Jihan akan lebih bijak lagi"


"Tapi Ketos lebay, lo gak tahu gimana sikap adek gue! "


"Gue tahu, gue bisa melihat dari sorot mata Jihan. Bagaimana cara ia menatap Alviro. Meskipun mereka tidak menyadarinya, tapi hati mereka pasti sadar" jelas Arvan.


"Kita harus membuat mereka kembali dekat, karena satu satunya yang bisa membuat Alviro kembali menjadi anak yang hangat, rajin, pintar, hanya Jihan. " jelas Leni.


"Untuk sementara kita biarkan saja mereka dulu, setelah mereka saling menyadari satu sama lain. Maka kita buat saja suatu ikatan di antara kedua nya" usul Lea.


Tia dan Leni terdiam untuk beberapa waktu, Di butuhkan beberapa menit bagi wanita yang sudah berumur seperti mereka untuk mencernanya.


"Maksud kamu, menjodohkan mereka? " tanya Tia.


"Iya bun, tante. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa saling meninggalkan. Lea yakin, lambat laun mereka akan saling memaafkan dan kembali bersama"


"Apa kamu yakin mereka saling mencintai? " tanya Arvan.


"Seperti yang lo bilang tadi, mungkin mereka tidak menyadarinya, tapi hati mereka? " ucap Lea mengulang kalimat Arvan tadi.


"Benar juga, Jika Alviro tidak mencintai Jihan. tidak mungkin Alviro masih menyimpan kenangan ini" sahut Leni.


"Jihan juga masih menyimpan gitar itu" ucap Lea menunjuk gitar yang ada di genggaman Alviro di dalam foto itu.


"Baiklah, semoga semua nya berjalan lancar" gumam Tia. Mereka semua mengangguk pelan, hati mereka sama sama berharap.


"Lalu bagaimana dengan nasib ku ma? " rengek Alviro manja.


"Kamu? " beo Leni. Arvan menunjuk Lea dengan soroy matanya. Membuat Leni tersenyum lebar.


"Bagaimana Tia, seperti nya putra pertama ku menyukai putri sulung mu" ujar Leni. Membuat Lea melotot padanya.


Arvan sudah di anggap oleh Leni dan Brian sebagai putra pertama, Nama Arvan juga sudah di pindahkan ke dalam daftar keluarga Brian. Jadi, Arvan terdaftar menjadi putra sulung keluarga nugrah.


"Eh gak gak, jangan bercanda tante. Lea gak mau sama ketos lebay seperti dia" tolak Lea. Membuat Leni dan Tia tertawa keras. Apalagi melihat wajah Arvan yang menekuk, di tolak mentah mentah oleh Lea.


Lea bertanya dalam hati, kemana hilangnya wajah dingin Arvan? sikap menyebalkan yang selalu ia tunjukkan di sekolah. Ia melihat Arvan yang berbeda di depan keluarga. Sebuah getaran hangat menjalar di hati Lea, membuat pipinya mulai memerah mengingat kata kata manja Arvan kepada tante Leni tadi.


...----------------...


Sementara di sekolah, Jihan masih berada di dalam gendongan Alviro. Karena takut jatuh, terpaksa Jihan mengalungkan tangannya pada leher Alviro.


"Turunin gue bego!!! " maki Jihan. Namun Alviro tetap tidak menurunkannya. Hingga mereka berada di depan pintu masuk ke atap. Jihan yang merasa malu pada siswa siswi lain, memilih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alviro, kemudian menutup matanya. Ia tidak sadar ketika Alviro menaiki tangga. Jika ia tahu, maka Jihan akan meminta Alviro untuk menurunkannya.


Alviro menurunkan Jihan ketika mereka sudah berada di atap. Dengan perlahan Jihan mulai membuka matanya. Ia kaget, bukannya melihat UKS, ia malah melihat pemandangan seluruh sekolah dari atas ini.


"Wahh... indah banget. Gue baru tahu ada tempat seperti ini di sekolah kita " gumam Jihan. Ia berjalan ke tapi pagar atap. Alviro pun ikut berdiri di samping nya.


"Gue Sering bolos dan bersembunyi di sini" Gumam Alviro. Jihan terpancingenoleh padanya, ia melihat sesuatu yang lain dari Alviro.


"Tempat ini cocok untuk menenangkan diri dari berbagai tekanan" lanjut Alviro lagi sembari membalas tatapan Jihan. Mereka saling menatap.


"Lo pikir gue lagi tertekan? "


"Tidak juga, entah lah. Gue cuma mau bawa lo kesini " ujar Alviro menghela nafas. Pria itu mengalihkan pandangannya, kemudian duduk sembari menjuntai kan kaki dari sela sela pagar trali atap.


Jihan melakukan hal yang sama, ia ikut duduk di samping Alviro. Ia masih kaget, sejak kejadian di taman bermain waktu itu. Sikap Alviro mulakgi sedikit berubah padanya.


"Lo gak lagi baik baikin gue kan? lo gak lagi masang taruhan sama teman lo, biar bisa dapetin gue, trus mendapatkan mobil atau segala macam taruhan kan? " ucap Jihan melempar berbagai pertanyaan yang terjadi di berbagai macam novel yang pernah ia baca.


Alviro berdecak, ia tidak menyangka jika gadis seperti Jihan memiliki pemikiran seperti itu.


"Lo lucu banget yah, mana mungkin gue melakukan hal itu. "


"Seperti yang gue bilang di kantin tadi, harta gue berlimpah. Untuk apa gue bermain taruhan konyol seperti itu. Yang endingnya , si pria jatuh hati pada wanita taruhannya" Alviro terkekeh pelan.


"Trus... Kenapa lo berubah? ini harus di curigai! " ujar Jihan lagi. Alviro tidak menjawab, ia hanya menatap lurus ke wajah Jihan.


Gue hanya berharap, jika lo benar-benar icha yang gue tunggu selama ini. Lo bisa merasakan perasaan gue yang hancur sejak kepergian lo. bukan malah membuat pertengkaran yang membuat lo semakin membenci gue!.


Jika lo bukan Icha. Tidak apa apa, mungkin hati gue terlalu berharap bahwa gue bakalan ketemu icha yang memiliki beberapa kemiripan sama lo.


"Hei!! yahh malah melamun!! " gerutu Jihan sembari melambai lambaikan tangannya di depan wajah Alviro.


"Eh iya" Alviro tersadar dari lamunannya.


"Kita bertengkar hanya karena kesalahan pertemuan saja" ujar Alviro tersenyum simpul.


Jihan tertegun, ia sulit mempercayai ucapan Alviro barusan. Apakah pria ini benar-benar sudah bertaubat ? atau bagaiamana hanya tipu muslihat nya saja. Jihan benar-benar bingung sekarang.


...----------------...


Halo semuanya, sesuai permintaan. Aku up lagi lagi lagi dan lagi. Setiap episodenya lebih dari 1000kata.Di mohon dukungannya yah. Biar aku lebih semangat lagi


Tekan like, jika kamu suka dengan cerita ini, tekan tombol favorit, jika kalian menantikan kelanjutan nya. Lalu shere ke semua teman teman kalian. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, berilah komentar yang membangun untuk aaku. Manusia tidak pernah lepas dari silap dan kesalahan.


Terimakasih.